MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Jaya Raya Garment


__ADS_3

Dua orang pria sedang berbincang santai di roof top bangunan club' boxing, mereka sedang membicarakan soal event yang akan diadakan oleh club' boxing milik Jimmy. Dua orang yang berbincang itu tak lain adalah Jimmy dan juga Bobby, yang merupakan salah seorang pelatih di club boxing itu.


" Apa kita masih butuh sponsor untuk event itu, Jim?" tanya Bobby, dia sebagai salah seorang panitia dalam event tersebut.


" Soal itu tidak perlu khawatir, Bob. Sudah ada donatur yang bersedia mendanai untuk event tersebut," ujar Jimmy, karena dia adalah orang kepercayaan Rivaldi, tentu tidak sulit baginya meminta Rivaldi agar mau mengucurkan dananya untuk event yang diadakan oleh clubnya itu.


" Sip lah kalau semua sudah beres, Jim." ucap Bobby.


Ddrrtt ddrrtt


Tiba-tiba suara dering ponsel milik Bobby berbunyi membuat obrolan mereka terhenti, bahkan pandangan kedua pria itu terarah kepada ponsel Bobby yang tergeletak di atas meja.


" Sorry, Jim." Bobby segera bangkit dan berjalan menjauh dari Jimmy, karena dia tidak enak membicarakan soal misi yang ditawarkan oleh Reno kepada dirinya di depan Jimmy. Tak lama dia pun mengangkat panggilan masuk tersebut.


" Halo, gimana, Ren?" tanya Bobby setelah dia mengangkat panggilan telepon yang berasal dari Reno.


" Bob, kira-kira kamu buka tarif berapa? Orang yang harus kamu urus itu ternyata istri simpanan bos perusahaan Mahadika Gautama." Reno menjelaskan siapa orang yang harus 'disingkirkan' oleh Bobby itu.


" Istri simpanan bos?"


Jimmy menoleh ke arah Bobby saat Bobby menyebut kalimat istri simpanan bos. Namun, dia tidak berminat terlalu ingin tahu apa yang sedang dibicarakan Bobby dengan orang dalam telepon genggam Bobby, dia memilih fokus dengan ponselnya sendiri.


" Iya, dia istri simpanan dari bos perusahaan besar," sahut Reno.


" Hmmm, Bobby berpikir sejenak seraya mengusap rahangnya beberapa saat. " Aku minta seratus juta, karena orang yang mesti aku tangani ini suaminya punya jabatan tinggi, pasti tidak mudah untuk menjalankan misi ini." Bobby memberi tarif dengan nominal yang membuat Reno terkaget.

__ADS_1


" Serius seratus juta, Bob?"


" Iya, itu kalau dia mau, kalau keberatan, silahkan cari saja orang yang mau menjalankan rencananya itu. Kau tahu, Ren. Orang yang dekat para bos-bos itu pasti punya bodyguard yang akan melindungi dia, dan aku tidak mau bayaran yang aku terima tidak sebanding dengan resiko yang akan aku dapatkan." Bobby memperhitungkan kemungkinan yang bisa menimpa dirinya, dan dia tidak ingin mengobral jasanya begitu saja dengan bayaran yang menurutnya sangat murah.


" Oke, nanti aku kasih tahu orangnya apa dia mau membayarmu sejumlah nominal yang kamu minta itu, Bob. Nanti aku kabari lagi," sahut Reno.


" Oke." Bobby lalu mengakhiri sambungan telepon dengan Reno, kemudian kembali bergabung dengan Jimmy di meja.


" Ada masalah, Bob?" tanya Jimmy saat Bobby kembali bergabung di meja.


" Itu tadi temanku yang meminta tolong, biasalah ... istri sah ingin menyingkirkan istri simpanan," sahut Bobby asal, dia tidak tahu apakah benar jika orang yang memberi tugas kepadanya itu istri sah atau bukan.


" Menyingkirkan?" Jimmy mengeryitkan keningnya mendengar kata yang mengandung arti negatif itu.


" Iya, menyingkirkan bukan dalam hal menyingkirkan nyawa, Jim. Hanya agar si suami meninggalkan istri simpanannya itu." Bobby menjelaskan agar Jimmy tidak salah paham.


" Tenang saja, Jim. Aku tidak akan bertindak sendiri, dan aku tidak akan membawa nama club ini dengan kerjaan aku nanti." Bobby meyakinkan Jimmy jika dia tidak akan melibatkan nama club boxing milik Jimmy itu dalam misinya.


***


Selepas makan malam, Erlangga mengajak berbincang Kayra dan Ibu Sari membahas rencana mereka untuk pindah ke tempat baru yang sudah disiapkan Erlangga agar Kayra berada di tempat yang aman dan tidak ada yang berani mengusik Kayra lagi.


" Bu, saya ingin mengajak Ibu dan Kayra untuk pindah rumah yang lebih aman untuk ditempati." Erlangga menyampaikan rencananya kepada Ibu mertuanya itu.


" Pindah rumah lagi, Nak? Ke mana? Kenapa harus pindah lagi? Bukankah di sini sudah nyaman?" Ibu Sari sudah semakin nyaman berada di rumah yang dia tempati sejak Kayra menikah dengan Erlangga, dan rasanya dia sudah tidak ingin pindah tempat tinggal lagi.

__ADS_1


" Sudah ada yang pernah mengawasi rumah ini, Bu. Dan orang itu masih berusaha menyelidiki Kayra, apalagi orang itu saat ini tahu Kayra sedang hamil. Saya merasa khawatir karena orang itu berniat bersaing dengan saya, bukan hanya dalam mendapatkan Kayra, tapi dia juga menginginkan perusahaan saya tersingkirkan oleh perusahaannya." Erlangga menjelaskan kepada Ibu Sari agar Ibu mertuanya itu mengerti.


" Ya Allah, kenapa orang itu berbuat jahat seperti itu, Nak?" Rasa cemas seketika menggelayuti hati dan benak Ibu Sari mendengar penjelasan dari menantunya.


Kayra mengusap pundak Ibunya agar Ibunya itu tenang, sebenarnya Kayra sendiri tidak menginginkan Ibunya tahu soal masalah-masalah yang sedang menimpa dirinya juga Erlangga, namun mereka harus menceritakan kepada Ibu Sari agar Ibu Sari memahami dan mau mengikuti rencana mereka untuk pindah.


" Saya sendiri tidak tahu awalnya dia sampai masuk ke dalam perusahaan saya, Bu. Dia begitu lihai sampai kami tidak dapat mendeteksi jika dia itu ternyata anak seorang pemilik perusahaan garmen besar di Bandung yang sedang menyamar untuk memata-matai perusahaan Mahadika." Memang Erlangga sendiri sebenarnya tidak tahu motif di balik kenekatan Rivaldi masuk ke dalam ke kantor Mahadika. Apa murni ingin merebut relasi bisnis dan pasar yang selama ini dikuasai oleh Mahadika Gautama atau apa ada motif lain di balik itu.


" Perusahaan garmen besar di Bandung?" Ibu Sari tertarik soal perusahaan garmen yang disebut oleh Erlangga, karena suaminya pernah bekerja di pabrik tekstil di Bandung.


" Kalau tidak salah nama PT nya Jaya Raya Garment, Bu." Erlangga setelah menyebut nama perusahaan garment milik orang tua Rivaldi.


" Jaya Raya Garment?" Kening Ibu Sari memperlihatkan guratan saat mendengar nama perusahaan yang disebut oleh Erlangga.


" Iya, Bu. Apa Ibu pernah dengar nama perusahaan itu? Menurut informasi, itu salah satu perusahaan garment besar di Bandung." Melihat Ibu Sari terkesiap saat dia menyebutkan nama Jaya Raya Garment, Erlangga menduga Ibu Sari tahu tentang perusahaan itu.


" Ah, tidak, Nak. Ibu tidak pernah mendengar nama itu. tapi di bandung memang banyak perusahaan garment seperti itu." Ibu Sari langsung menepis dugaan Erlangga yang mengira dirinya mengenal nama perusahaan milik orang tua Rivaldi itu.


*


*


*


Bersambung ....

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2