
Kayra mengikuti langkah Erlangga yang masuk ke dalam ruangan kerjanya. Sejak di mobil tadi Kayra berusaha memohon agar Erlangga tidak menceritakan soal pernikahan mereka kepada Wira, karena Kayra takut Wira akan melaporkan hal ini kepada orang tua Erlangga.
" Pak, saya mohon Bapak tidak memberitahu Pak Wira soal status saya ini." Kayra masih terus memohon agar bos yang kini berstatus suaminya itu mengurungkan niatnya membuka tentang status hubungan mereka.
" Kenapa kamu takut sekali Pak Wira tahu tentang hal ini?" Erlangga memutar tubuhnya hingga kini berhadap-hadapan dengan Kayra.
" S-saya bukan takut pada Pak Wira, Pak. Saya hanya takut jika sampai Pak Wira menyampaikan berita ini kepada keluarga Bapak. Saya belum siap, Pak. Keluarga Bapak pasti akan menyudutkan saya dan menganggap saya perebut suami orang." Kayra mengungkapkan alasan ketakutannya jika Wira tahu status dia sebagai istri yang dirahasiakan oleh Erlangga.
" Saya juga merasa malu pada Pak Wira. Bapak dengar sendiri apa yang tadi dikatakan Pak Wira jika Bapak tidak mungkin memiliki hubungan istimewa dengan saya, tapi nyatanya ..." Kayra menggigit bibirnya karena apapun alasannya orang akan menganggapnya adalah pihak yang salah.
" Relasi Bapak tadi Benar, Bapak mempunyai istri yang cantik, dari kalangan atas dan sangat terkenal. Seharusnya Bapak tidak menikahi orang biasa seperti saya. Saya jauh jika dibandingkan dengan Ibu Caroline, saya tidak pantas disandingkan dengan Ibu Caroline sebagai istri Bapak ...." Bola mata Kayra bahkan sudah mulai mengembun bahkan Kayra mengalihkan pandangan tak berani menatap Erlangga.
Erlangga berjalan mendekat ke arah Kayra, dia lalu menangkup wajah Kayra dengan kedua tangannya membuat Kayra terkesiap. Apalagi saat jari Erlangga menyeka air mata yang siap menitik di wajah istri keduanya itu.
" Saya sangat membutuhkanmu, Kayra. Saya mendapatkan apa yang tidak saya dapatkan dari Caroline pada dirimu," Erlangga menatap wajah cantik di hadapannya itu dengan lekat. Bahkan jari Erlangga kini mengusap pelan bibir ranum Kayra, seakan menginginkan kembali menyentuh manisnya bibir ranum Kayra dengan bibirnya. Perlahan Erlangga memangkas jaraknya dengan Kayra dan menempelkan bibirnya dengan milik Kayra, membuat Kayra kembali terkejut ingin menghindar, namun tangan Erlangga dengan cepat menarik tengkuk Kayra hingga Kayra tidak bisa menjauh darinya dan membuat dia bisa bebas melu mat bibir Kayra.
Tok tok tok
" Pak, ini draft yang harus Bapak cek." Dari arah pintu, Wira masuk ke dalam ruangan Erlangga karena pintu ruang kerja Erlangga tidak tertutup.
Tentu saja kehadiran Wira yang tiba-tiba membuat pasangan pengantin baru itu terperanjat. Kayra bahkan dengan cepat mendorong tubuh Erlangga agar menjauh dari dirinya. Kayra pun langsung tertunduk tak berani menatap Wira yang tak kalah terkejutnya saat mendapati adegan in tim antara bos dan sekretaris itu.
" Oh, maaf ..." Wira ingin kembali memutar langkah namun Erlangga memanggil namanya.
" Masuklah, Pak Wira." Jari Erlangga mengusap bibirnya sendiri.
" Duduklah, Pak Wira! Ada yang ingin saya sampaikan," lanjutnya kemudian.
Wajah Kayra memucat saat Erlangga menyuruh Wira masuk dan mengatakan ingin menyampaikan sesuatu. Kayra meremas roknya karena rasa gugup yang menyelimuti hatinya.
" Ada yang ingin saya jelaskan kepada Anda, Pak Wira. Saya harap Anda tidak berprasangka buruk tentang apa yang Anda lihat tadi. Karena sebenarnya saya dan Kayra sudah menikah." Tanpa ada rasa ragu dan canggung Erlangga mengatakan tentang status hubungannya dengan Kayra.
Sontak pengakuan Erlangga membuat Wira tersentak kaget. Pria itu bahkan langsung menoleh ke arah Kayra seolah mencari kebenaran atas pengakuan Erlangga tadi.
Merasa dirinya diperhatikan penuh selidik oleh Wira, Kayra hanya mampu menundukkan kepala. Dia tahu selama Wira selalu respek terhadapnya karena pria itu selalu beranggapan jika dia adalah wanita baik, hingga Wira berencana akan menjodohkan dirinya dengan adik dari Wira. Dan setelah Wira tahu kenyataan jika dirinya adalah istri simpanan Erlangga, Mungkin Wira akan menganggapnya tidak beda jauh dengan wanita penggoda.
" Hmmm, maaf saya agak terkejut dengan berita ini. Kapan Anda dan Kayra menikah, Pak?" Wira menduga penyebab Erlangga bersikap posesif terhadap Kayra beberapa waktu lalu adalah karena status Kayra ternyata istri dari Erlangga.
" Kemarin, sepupumu dan suaminya yang menjadi saksi pernikahan kami." ujar Erlangga kemudian.
Wira semakin terkejut saat mengetahui ternyata Emma pun terlibat dalam peristiwa pernikahan kedua Erlangga.
" Saya harap Anda bisa menyimpan rahasia ini, Pak Wira. Setidaknya untuk sementara waktu jangan sampai ada yang tahu tentang status Kayra termasuk orang tua saya dan juga Caroline." Erlangga memberi amanat kepada Wira agar merahasiakan tentang status Kayra.
" Baik, Pak." Wira menyahuti dan kembali melirik ke arah Kayra yang masih belum berani menatapnya.
" Bersikaplah seperti biasa terhadap Kayra di hadapan karyawan lain, dan jangan sampai menimbulkan kecurigaan. Tapi jangan memberikan perintah kepada Kayra." Erlangga kembali memberi aturan yang harus dijalani oleh Wira.
" Saya mengerti, Pak." sahut Wira.
" Baiklah, taruh saja draft tadi di meja saya, dan Anda boleh kembali ke ruangan Anda, Pak Wira." Erlangga menyuruh Wira kembali ke tempat kerjanya.
" Baik, Pak. Permisi ..." Wira menaruh salinan draft di atas meja kerja Erlangga lalu meninggalkan ruang kerja bosnya itu.
Kayra menarik nafas yang terasa berat dan sesak. Dia tidak tahu siapa lagi nanti yang akan memergokinya saat Erlangga melakukan hal yang tidak sepantasnya dilakukan seorang bos kepada sekretarisnya di kantor itu.
" Pak Wira sudah berjanji akan menjaga rahasia ini, jadi kamu tidak perlu khawatir," melihat Kayra terlihat tidak tenang, Erlangga mencoba menenangkan Kayra.
" Sekarang kamu kembalilah ke mejamu." Selanjutnya Erlangga menyuruh Kayra untuk kembali ke meja kerjanya sementara dia sendiri berjalan menuju kursi singgasananya.
" Baik, Pak." lirih Kayra melangkah meninggalkan ruangan Erlangga.
Kayra memilih pergi ke ruang sholat yang ada di lantai itu, karena dia belum sempat melakukan sholat Dzuhur apalagi waktu sudah mendekati jam dua siang. Kayra butuh menenangkan diri dengan mengadu kepada Sang Kholiq atas semua yang sedang dia hadapi saat ini.
***
__ADS_1
Caroline mende sah seraya menyandarkan punggungnya di sandaran jok mobil. Siang ini dia baru sampai kembali di Jakarta setelah dua hari berada di Bali. Dari bandara, Caroline memilih untuk datang ke kantor Erlangga, karena sejujurnya kata-kata yang diucapkan Erlangga dua hari lalu benar-benar membuat hatinya gelisah. Apalagi selama dua hari ini Erlangga tidak merespon pesan dan juga teleponnya.
" Apa aku harus menunggu, Caroline?" tanya Wisnu saat mobil yang dia kendarai berhenti di depan pintu lobby kantor milik Erlangga.
" Tidak usah, Wis. Aku nanti ikut suamiku saja," sahut Caroline. " Thanks, Wis." Caroline lalu turun dari mobil Wisnu dan masuk ke dalam gedung perusahaan milik suaminya itu.
" Selamat siang, Bu." Security langsung menyapa Caroline saat melihat istri dari bosnya itu datang.
" Apa suami saya ada di tempat?" tanya Caroline.
" Ada, Bu." jawab security.
" Oke." Caroline kemudian berjalan menuju lift khusus untuk mencapai lantai ruang kerja Erlangga.
Tak lama lift yang membawa Caroline sampai di lantai yang dituju.
Ting
Pintu lift terbuka, Caroline pun keluar dari dari lift dan menjumpai Kayra yang menoleh ke arahnya. Caroline bisa melihat wajah terkejut Kayra saat melihat kehadirannya. Dia pun langsung menghampiri sekretaris suaminya itu, membuat Kayra berdiri dan menyapa dirinya.
" S-selamat siang, Bu." telapak tangan Kayra seketika terasa dingin saat mendapati kehadiran Caroline di hadapannya.
" Apa Erlangga ada di dalam?" tanya Caroline.
" A-ada, Bu." Kayra benar-benar tidak dapat menyembunyikan kegugupannya.
" Wajah kamu kok kelihatan pucat, Kayra?"
Siapapun yang berposisi seperti Kayra pasti akan gugup dan salah tingkah menghadapi wanita yang merupakan istri sah dari bosnya itu.
" Hmmm, iya, Bu. S-saya sedang kurang enak badan" Kayra terpaksa harus berbohong dengan memberikan alasan yang tidak jujur, daripada istri sah dari Erlangga itu curiga terhadapnya.
" Oh, sebaiknya kamu cepat minum obat." Selepas mengatakan hal itu, Caroline melangkahkan kakinya menuju ruangan Erlangga,
Sementara Caroline sudah masuk ke dalam ruangan Erlangga.
" Sayang ..." Caroline langsung mendekati Erlangga lalu melingkarkan tangannya ke leher Erlangga dan duduk di pangkuan Erlangga.
" Caroline?" Sama seperti Kayra, Erlangga pun tampak kaget dengan kedatangan tiba-tiba istrinya itu.
" Sayang kenapa kamu tidak mengangkat teleponku? Pesanku juga tidak kamu baca, kamu benar-benar marah padaku, Sayang?" Caroline mengusap rahang tegas sang suami dan mulai mengecup bibir Erlangga walaupun Erlangga belum merespon tindakannya itu.
Kini tangan Caroline melonggarkan dasi yang dipakai Erlangga. Tentu saja tujuan Caroline adalah untuk mengajak bencinta suaminya agar kemarahan Erlangga bisa reda.
" Ada apa kamu kemari, Caroline?" tanya Erlangga dingin, sepertinya Erlangga masih kesal dengan sikap Caroline yang melanggar perintahnya untuk tetap tinggal di rumah.
" Tentu saja aku kemari karena ingin bertemu dengan suamiku," sahut Caroline mulai membuka satu persatu kancing baju Erlangga.
" Apa kamu tidak merindukanku, Sayang?" Caroline kembali menempelkan bibirnya dengan bibir Erlangga, membangkitkan ga irah untuk menyalurkan has rat mereka sebagai pasangan suami istri.
" Kau terlalu mementingkan karirmu, Caroline," ucap Erlangga saat pagutan mereka terjeda kembali.
" Aku akan membayar kesalahanku itu, Sayang." Caroline membuka coat yang dia pakai lalu berdiri dan menarik tangan Erlangga untuk mengajak suaminya melanjutkan aktivitas in tim di kamar istrirahat Erlangga.
Walaupun Erlangga merasa kesal, namun dia pun akhirnya luluh dengan bujuk rayu Caroline, karena bagaimanapun dia memang menikahi wanita itu karena dia sangat mencintai Caroline.
***
Kayra melihat arloji di tangannya, sudah satu jam Caroline berada di ruangan Erlangga. Kayra melirik ke arah pintu ruang kerja Erlangga yang tertutup. Kayra menduga jika pasangan suami itu sedang memadu kasih di dalam sana.
" Astaghfirullahal adzim, apa yang aku pikirkan? Memangnya kenapa jika Pak Erlangga dan Ibu Caroline sedang bercinta? Bukankah mereka itu pasangan suami istri yang sah secara hukum dan agama?" batin Kayra, dia berusaha bersikap senormal mungkin.
" Seharusnya aku senang jika Pak Erlangga dan Ibu Caroline seperti ini, agar Pak Erlangga bisa melepaskan aku. Aku rasa tidak ada alasan Pak Erlangga untuk meneruskan pernikahan ini." Kayra menghela nafas yang tiba-tiba saja terasa sesak untuk dihirupnya.
Hingga waktu menunjukkan pukul empat petang, suara pintu dibuka membuat Kayra menolehkan pandangan ke arah pintu ruang kerja Erlangga. Dia melihat Caroline yang bergelayut manja dengan melingkarkan tangannya di perut Erlangga keluar dari ruangan bosnya itu.
__ADS_1
Kayra langsung membuang muka tak ingin melihat pemandangan di depannya. Dan di waktu yang sama, Wira juga keluar dari ruang kerjanya, Wira bahkan terperanjat saat melihat Caroline bersama Erlangga. Seketika dia langsung menoleh ke arah Kayra yang sedang memalingkan wajahnya.
" Bu Caroline, Anda ada di sini?" Wira buru-buru menyapa Caroline.
" Iya, Pak Wira. Aku sengaja mampir kesini untuk menjemput suamiku." Caroline menyandarkan kepalanya di dada Erlangga.
" Apa Pak Erlangga akan pulang sekarang?" tanya Wira kemudian.
" Iya, saya akan pulang bersama Caroline." Erlangga menjawab pertanyaan Wira namun matanya melirik ke arah Kayra yang tidak menatapnya sama sekali. Bahkan Kayra hanya duduk tidak berdiri menyambutnya seperti yang biasa Kayra lakukan ketika melihatnya datang dan hendak pulang kantor.
" Oh, baik, Pak. Silahkan ..." Wira mempersilahkan Erlangga dan Caroline yang akan meninggalkan kantor itu.
" Kayra, tolong cek ruangan saya sebelum kamu pulang, pastikan semua perangkat yang mengunakan listrik sudah dipadamkan semua." Erlangga memberi perintah kepada Kayra terlebih dahulu.
" Baik, Pak." ucap Kayra dengan suara hampir tercekat di tenggorokan.
" Kayra, apa saya bisa bicara sebentar?" tanya Wira setelah Erlangga dan Caroline masuk ke dalam lift. Wira ingin menuntaskan rasa penasarannya atas status pernikahan kedua Erlangga.
" Iya, Pak?" Kayra menduga Wira akan mempertanyakan perihal pernikahan dirinya dengan Erlangga.
" Kamu bisa masuk ke ruangan saya?" Wira merasa aman jika dia berbicara di dalam ruangannya.
" Baik, Pak." Kayra akhirnya mengikuti langkah Wira ke dalam ruangan asisten Erlangga itu Namun dia berharap Wira tidak menyudutkannya karena keadaan yang berlaku dengannya saat ini.
" Sejujurnya saya sangat kaget mendengar berita jika kamu dan Pak Erlangga sudah menikah, Kayra." Setelah menyuruh Kayra duduk, Wira pun mulai menyampaikan apa yang ingin dibicarakannya. " Saya kenal Pak Erlangga, dia itu tipe pria yang setia dengan pasangannya. Tapi ..." Wira bahkan kehilangan kata-kata karena rasa tidak percayanya. Sepertinya dia terlalu syok mengetahui fakta tentang pernikahan kedua dari bosnya itu.
" Sudah berapa lama kalian berhubungan?" tanya Wira menyelidik.
Kayra memberanikan diri menatap Wira, dia ingin menyanggah apa yang dipikirkan Wira tentang dirinya. Jika didengar dari pertanyaan Wira, sepertinya Wira menduga dirinya sudah menjalin hubungan asmara sebelumnya bersama Erlangga.
" Semua ini tidak seperti yang Pak Wira bayangkan, Pak. Saya dan Pak Erlangga tidak menjalin hubungan asmara sebelumnya." Kayra membantah dugaan Wira. Dia berusaha menahan agar cairan yang tiba-tiba mengembun di bola matanya tidak jatuh di pipinya.
" Hal ini di luar dugaan dan kehendak saya, Pak." Kayra buru-buru menyeka air mata yang tak kuasa dia bendung.
" Tapi bagaimana Pak Erlangga bisa memutuskan untuk menikahimu?" tanya Wira heran. Sejujurnya dia sangat menyayangkan saat ini Kayra sudah menjadi istri kedua Erlangga.
" Sebaiknya Pak Wira tanyakan hal itu kepada Pak Erlangga, karena saya sendiri tidak tahu pasti alasan Pak Erlangga menikahi saya." Kayra menyarankan agar Wira bertanya langsung kepada Erlangga tentang alasan bos mereka itu menikahi dirinya.
" Pak Erlangga menyuruh orang untuk menculik saya dan Ibu saya saat kami berencana kabur dari Jakarta, saat saya tahu Pak Erlangga berniat menjadikan saya istrinya, Pak. Pak Erlangga bahkan menyiapkan penghulu saat itu juga dan memaksa saya untuk menerima pernikahan ini," ungkap Kayra terisak. Kayra seperti menemukan orang yang bisa dijadikan tempat curhat, hingga dia bisa mengeluarkan keluh kesahnya akibat keputusan Erlangga yang sangat menyulitkan dirinya.
" Saya tahu kamu wanita baik, Kayra. Karena itu saya menyesalkan kejadian ini." Wira sudah membayangkan tidak akan mudah bagi Kayra menghadapi kenyataan sebagai istri kedua Erlangga, terutama saat nanti keluarga dan istri Erlangga mengetahuinya.
Tok tok tok
Terdengar pintu ruangan Wira diketuk dari luar membuat Kayra segera mengusap air matanya, karena dia tidak ingin ada orang kantor yang mengetahui dirinya menangis di ruangan Wira.
" Masuk ...!"Wira menyuruh orang yang mengetuk pintu ruangannya untuk masuk ke dalam.
" Permisi, Pak. Ini arsip yang Pak Wira minta," Rita, staff dari devisi marketing masuk ke dalam ruangan Wira. Namun matanya menangkap sosok Kayra di ruangan Wira, apalagi saat dia melihat mata sembab Kayra yang terlihat habis menangis membuat Rita mengeryitkan keningnya.
" Baik, terima kasih," Wira mengambil beberapa arsip yang disodorkan Rita.
" B-baik, Pak. Permisi ..." Rita berpamitan namun mataya masih sempat melirik kembali ke arah Kayra karena dia sangat penasaran kenapa sekretaris bosnya itu bisa menangis di ruang kerja Wira, Executive Assistant dari Erlangga.
*
*
*
Bersambung ...
.
Happy Reading❤️
__ADS_1