MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Nyonya


__ADS_3

Setelah berbincang dengan Wira, Kayra berniat pulang, namun dia teringat tugas yang diberikan Erlangga terhadapnya untuk mengecek ruang kerja Erlangga terlebih dahulu sebelum meninggalkan kantor.


Kayra masuk ke dalam ruangan kerja Erlangga, yang dia cek pertama adalah stop kontak yang ada di dekat meja kerja Erlangga, lalu dia memadamkan pendingin ruangan dan beberapa lampu yang ada di ruangan Erlangga. Namun saat dia hendak keluar ruang kerja bosnya itu, padangannya menoleh ke arah kamar istirahat Erlangga. Entah apa yang menggerakkan Kayra hingga tiba-tiba dirinya melangkah ke arah kamar yang biasa digunakan Erlangga untuk beristirahat. Perlahan Kayra membuka handle pintu kamar dan masuk ke dalam ruangan itu. Kayra melihat sprei spring bed di kamar terlihat agak kusut. Kayra bisa menebak apa yang menyebabkan sprei itu menjadi kusut.


" Saya mendapatkan apa yang tidak saya dapatkan dari Caroline pada dirimu."


Tiba-tiba kalimat yang diucapkan Erlangga beberapa saat sebelum Caroline tiba di kantor itu tergiang di telinga Kayra. Memangnya apa yang tidak dimiliki Bu Caroline? pikir Kayra, Caroline wanita sempurna, cantik, model terkenal dan juga pandai memuaskan suami." Kayra kembali melirik ranjang yang dua hari sebelumnya menjadi saksi bagaimana perlakuan tidak wajar Erlangga terhadap dirinya.


" Ya Allah, apakah saat itu Pak Erlangga mengira jika aku adalah Ibu Caroline?" Seketika rasa sesak terasa di dadanya hingga air mata pun berderai di pipi mulusnya.


Merasa tak sanggup terus berlama-lama di ruangan itu, Kayra memutuskan segera keluar dari ruangan Erlangga dan membereskan tasnya untuk segera pulang ke tempat tinggalnya saat ini.


***


Kayra mendengus saat melihat mobil yang dipakai mengantarnya ke kantor pagi tadi sudah menunggu dirinya di halaman parkir perusahaan Mahadika Gautama. Kayra tidak mengindahkan keberadaan mobil itu dan terus berjalan ke luar gerbang kantor milik Erlangga.


" Nyonya, ayo silahkan masuk!" Saat Koko berhasil menyusul Kayra, pria itu menyuruh Kayra masuk ke dalam mobil.


" Saya tidak akan ikut Pak Koko! Sebaiknya Pak Koko pergi saja dari sini!" ketus Kayra tetap berjalan di trotoar tanpa menolehkan pandangan ke arah Koko yang berada di dalam mobil.


" Tapi, Nyonya. Kalau Nyonya tidak ikut pulang dengan saya, Tuan Erlangga pasti akan marah." Koko tidak ingin mengambil resiko ditegur Erlangga.


Kayra menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya, hingga sekarang menghadap ke mobil yang dikendarai Koko.


" Pak Koko tidak udah khawatir, Pak Erlangga tidak akan tahu meskipun Pak Koko tidak menjemput saya, karena Pak Erlangga saat ini sedang bersama Bu Caroline, istrinya!" Sangat sesak di dada Kayra saat mengucapkan kalimat itu.


" Tapi saya tetap tidak bisa membiarkan Nyonya pulang sendiri." Koko bersikukuh tidak ingin membiarkan Kayra pulang tanpa dirinya.


" Pak, tolonglah sekali-kali bekerja itu menggunakan perasaan! Saya tidak nyaman harus berangkat dan dijemput dengan mobil ini! Saya bisa pulang sendiri!" Wajah Kayra sudah diselimuti aura kemarahan karena sikap Koko yang memaksanya untuk ikut.


" Kalau Pak Koko tidak pergi juga, saya akan jalan kaki sampai rumah!" Kayra mengancam padahal dia belum tentu sanggup harus melakukan hal tersebut, tapi dia terpaksa memberikan ancaman, karena dia yakin Koko tidak akan membiarkan dirinya berjalan kaki sejauh itu.


" Lalu Nyonya akan pulang naik apa?" tanya Koko.


" Saya bisa naik apa saja, saya tidak akan kabur! Saya tidak mungkin kabur dan meninggalkan Ibu saya sendirian di sana!" tegas Kayra. Kayra memang tidak mungkin senekat itu menyelamatkan diri dan mengorbankan ibunya.


" Baiklah jika itu mau Nyonya." Dengan sangat terpaksa Koko menerima permintaan Kayra namun tentu saja dia tidak begitu saja melepaskan Kayra. Dia berencana mengikuti Kayra seperti saat pergi ke kantor tadi.


" Dan tolong jangan membuntuti saya! Jika Pak Koko masih membuntuti saya, saya akan berteriak dan mengatakan jika Pak Koko adalah penjahat yang ingin menculik saya!" Kayra kembali menebar ancaman.


Sontak Koko tercengang mendengar ancaman Kayra berikutnya. Dia bisa mati konyol diserang oleh massa jika apa yang dikatakan Kayra benar-benar dilakukan oleh wanita itu.


" Baik, baik, Nyonya. Saya akan pergi dan tidak akan mengawasi Nyonya Permisi ..." Koko memilih kabur dari hadapan Kayra secepatnya karena aura kemarahan Kayra terlihat jelas di wajah cantik istri kedua bosnya itu.


Setelah kepergian Koko, Kayra segera mengambil ponselnya untuk memesan ojek online yang akan membawanya pulang. Namun dalam perjalanan dia menyempatkan diri mampir ke apotik membeli pil KB untuknya.


***


" Assalamualaikum ..." Kayra memberi salam saat membuka pintu rumah.


" Waalaikumsalam ..." Siti yang keluar dari ruangan dalam menjawab salam dari Kayra.


" Ibu saya di mana, Mbak?" tanya Kayra.


" Ibu Nyonya ada di kamarnya, Nyonya." Saat ini semua pekerja di rumah itu sudah memakai sebutan 'Nyonya' kepada dirinya. Sebenarnya Kayra sendiri merasa jengah dan tidak nyaman dengan sebutan 'Nyonya', tapi percuma melarang, mereka pasti tidak akan mendengar larangannya.


" Terima kasih, Mbak. Saya ke kamar Ibu saya dulu." Kayra berpamitan kepada Siti karena ingin menemui Ibunya.


" Apa Nyonya mau makan sekarang?" Siti menawarkan makanan untuk Kayra.


" Tidak, Mbak. Nanti saja." Kayra melangkahkan kaki menuju kamar Ibu Sari.


Tok tok tok


" Assalamualaikum ..." Kayra membuka pintu kamar Ibunya.

__ADS_1


" Waalaikumsalam, kamu sudah pulang, Kayra?' Ibu Sari yang sedang menonton televisi di kamarnya langsung menekan tombol off pada remote TV itu.


" Iya, Bu." Kayra menghampiri Ibu Sari dan mencium punggung tangan Ibunya.


" Bagaimana di kantor hari ini? Apa ada masalah yang terjadi?" tanya Ibu Sari cemas.


" Tidak ada, Bu. Berjalan biasa saja." Kayra berusaha menutupi apa yang terjadi di kantor Erlangga tadi.


" Bagaimana sikap Tuan Erlangga di kantor?" Ibu Sari penasaran.


" Biasa saja, Bu. Tidak ada yang aneh." Kembali Kayra mengatakan jika tidak ada masalah yang terjadi di kantor agar Ibunya tidak cemas. Kayra lalu mengeluarkan obat yang dia beli di apotik tadi.


" Tadi Kayra beli ini, Bu." Kayra menyodorkan kemasan Pil KB yang dia beli sebelum pulang.


" Kamu yakin akan memakai ini, Nak?" Tampak khawatir Ibu Sari dengan keputusan Kayra.


" Aku tidak punya pilihan, Bu." ucap Kayra lirih.


" Ya sudah, tapi kamu harus hati-hati agar tidak sampai diketahui Tuan Erlangga." Ibu Sari memperingatkan.


" Iya, Bu. Kayra harus minum sekarang, dan semoga Pak Erlangga tidak meminta hubungan dalam waktu dekat ini," harap Kayra.


" Tentu saja tidak akan meminta berhubungan, sudah ada Bu Caroline yang akan melayaninya," gumam Kayra.


" Kenapa, Nak?" Sepertinya Ibu Sari mendengar gumaman Kayra.


" Ah, tidak ada apa-apa, Bu." tepis Kayra kemudian mengoyak kemasan pil itu.


" Kamu ambil air minum Ibu saja." Ibu Sari menyuruh Kayra mengambil gelas air minumnya. " Hati-hati membuang kemasan pil nya, jangan sampai ada yang melihat kemasan pil itu." Ibu Sari mengingatkan agar Kayra tidak teledor membuang sembarangan kemasan pil KB yang dikonsumsinya.


" Iya, Bu." Kayra lalu mengambil air minum milik Ibunya dan memasukkan pil itu ke dalam mulutnya.


" Kamu harus rutin mengkonsumsi pil ini di waktu yang sama, kamu jangan sampai kelupaan, Nak."


" Iya, Bu. Nanti Kayra akan pasang pengingat agar tidak lupa," sahut Kayra. " Kayra mau ke kamar dulu ya, Bu!? Sebentar lagi masuk Maghrib, Kayra ingin mandi." Kayra bergegas keluar dari kamar Ibu Sari dan melangkah menuju kamarnya di lantai atas.


***


Di kamar mandi rumah mewah milik CEO Mahadika Gautama tampak sepasang suami istri sedang duduk bersandar di bathtub dengan punggung Caroline bersandar pada dada bidang Erlangga. Dengan alunan musik romantis dari audio yang ada di kamar mandi eksklusif itu dan juga minuman di tepi bathtub juga busa sabun yang menutupi tubuh polos mereka membuat suasana di dalam ruangan itu terasa sangat romantis.


" Sepertinya sudah lama kita tidak melakukan hal ini, Sayang." Tangan Kanan Caroline melingkar ke tengkuk Erlangga, membiarkan ceruk lehernya menempel pada bibir Erlangga sehingga suaminya itu bisa menjelajah leher mulusnya dan meninggalkan warna merah bekas percintaan.


" Itu karena salahmu," ujar Erlangga menatap wajah cantik model terkenal di negeri ini yang berstatus sebagai istrinya.


Caroline memutar tubuhnya hingga kini dia dan Erlangga saling tatap.


" Dan aku siap menerima hukuman darimu, Tuanku." Kayra bangkit dan menyiram tubuhnya dengan shower membuat seluruh busa yang menempel di tubuhnya luruh ke bawah dan memperlihatkan tubuh putih mulus Caroline. Hal itu cukup membuat Erlangga puas menikmati keindahan tubuh sang istri.


" Kita lanjut percintaan kita, Sayang." Caroline menarik tangan Erlangga agar keluar dari bathtub. Dia bisa melihat alat tempur milik sang suami yang sudah menegang. Caroline kemudian membawa mereka berdua berdiri di bawah shower dan menyalakannya.


Mereka berdua menikmati berciuman di bawah siraman air shower yang mengalir. Setelah semua busa sabun menghilang dari tubuh Erlangga, Caroline memutar tubuhnya membelakangi Erlangga, namun tangannya menuntun senjata sang suami agar mengarah masuk ke dalam intinya.


" Aaakkhh ..." Suara de sahan langsung meluncur dari bibir Caroline saat senjata Erlangga memasuki intinya.


Mendengar suara menggoda Caroline, Erlangga semakin bersemangat untuk menggerakkan miliknya di dalam inti sang istri, membuat tubuh Caroline melengkung menahan rasa nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Apalagi saat tangan Erlangga terus memainkan kedua bukit kembarnya, tak henti wanita cantik itu meracau, berteriak, mengerang dan mende sah.


Sedangkan di kamarnya, Kayra tampak gelisah dan tidak bisa tertidur. Padahal pendingin ruangan di kamarnya sudah dipasang dengan suhu yang dingin, namun itu tidak mampu menghilangkan hawa panas yang dirasakan Kayra, membuat dia membuka pintu balkon dan keluar untuk menghilangkan hawa panas yang dirasakannya.


Kayra menatap langit yang terlihat penuh dengan kerlip bintang dan juga lampu-lampu yang menyala dari gedung-gedung pencakar langit yang terlihat sangat indah.


Kayra mende sah, dia tidak tahu akan seperti apa masa depan kehidupannya? Namun apapun yang terjadi, dia berharap bisa secepatnya terlepas dari status sebagai istri Erlangga. Lagipula statusnya saat ini hanya istri siri yang tidak mempunyai kekuatan hukum walaupun sah secara agama.


" Ya Allah, kenapa Engkau tempatkan hamba di posisi sulit seperti ini?" keluh Kayra membatin. Dia tidak tahu jika di saat yang bersamaan pria yang telah menikahinya sedang memadu kasih dengan istri sahnya.


***

__ADS_1


Hari ini Kayra berangkat ke kantor dengan diantar oleh Koko. Namun seperti biasa, dia minta diturunkan di depan mini market agar tidak diketahui oleh karyawan lain.


" Hati-hati, Nyonya." ujar Koko.


" Terima kasih, Pak. Sebaiknya Pak Koko pulang saja, tak perlu mengikuti saya," lanjut Kayra sambil membuka pintu dan turun dari mobil.


Tiiiinnn ...


" Asataghfirullahal adzim ...!" Kayra terperanjat saat sebuah motor berjalan kencang hampir saja menyerempetnya.


" Nyonya, Nyonya tidak apa-apa?" tanya Koko langsung keluar dari mobil dengan penuh rasa khawatir.


" Saya tidak apa-apa, Pak." Kayra mengatur nafasnya karena tubuhnya sangat lemas.


" Nyonya sebaiknya Nyonya masuk ke dalam mobil. Tadi itu bahaya sekali, Nyonya. Jika Tuan Erlangga tahu Nyonya hampir tertabrak, saya bisa mati, Nyonya." Kecemasan seketika menyelimuti hati Koko. Tentu saja jika terjadi sesuatu terhadap Kayra, dialah yang akan disalahkan oleh Erlangga.


" Tidak, Pak! Sebaiknya Pak Koko pergi saja." Kayra menolak diminta kembali masuk ke dalam mobil.


" Nyonya jangan berkeras hati seperti ini. Tadi itu hal yang sangat berbahaya dan saya tidak mungkin membiarkan Nyonya berada dalam bahaya." Koko menjelaskan alasannya.


Kayra seketika menatap tajam ke arah Koko.


" Justru Pak Erlangga lah yang menempatkan saya dalam situasi bahaya!" Mendengar perkataan Koko, Karya membalas dengan menuduh jika Erlangga lah yang membuatnya masuk ke dalam situasi yang sangat berbahaya.


Saat Kayra dan Koko sedang berdebat, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di samping mobil Koko.


" Kayra, kamu kenapa?" Rivaldi yang berada di dalam mobil itu menurunkan kaca jendela pintu mobilnya.


" P-Pak Aldi?" Kayra terkejut saat mobil milik Rivaldi berhenti di dekatnya.


" Kamu kenapa? Dan siapa orang ini?" tanya Rivaldi menatap curiga ke arah Koko. Koko juga membalas dengan menatap penuh selidik kepada Rivaldi.


" Hmmm, saya tidak apa-apa, Pak." Kayra menjawab Rivaldi terlebih dahulu.


" Pak Koko sebaiknya pulang saja." Kemudian Kayra berkata kepada Koko. Kayra takut jika Koko menceritakan kepada Erlangga tentang Rivaldi. Dan dia juga takut jika Rivaldi akan curiga terhadap Koko.


" Kayra, sebaiknya kamu ikut saya." Rivaldi membukakan pintu untuk Kayra dari dalam.l mobilnya.


" Tidak usah, Pak. Saya jalan kaki saja. Sudah dekat ini." Kayra menolak tawaran Rivaldi.


" Tidak apa-apa, Kayra. Naiklah ... daripada kaki kamu pegal." Rivaldi masih berusaha membujuk agar Kayra mau ikut dengannya.


" Tidak usah, Pak. Tidak apa-apa kok, saya jalan kaki saja." Dan Kayra tetap menolak. Namun mobil Rivaldi tak juga pergi dari sana.


" Sebaiknya Anda segera pergi, mobil Anda ini menghalangi jalan!" Melihat Rivaldi yang terus berusaha mengajak Kayra dengan mobil pria itu, Koko pun lalu menyindir Rivaldi. Koko tidak tahu siapa Rivaldi? Namun yang pasti hidupnya akan seperti berada di neraka jika Erlangga tahu, bukan karena ketelodarannya membuat Kayra hampir tertabrak, tapi juga karena ada pria lain yang berusaha mendekati Kayra.


Kayra yang merasa keadaan akan memanas memilih kabur dengan berlari kecil menjauh dari Koko dan juga Rivaldi.


" Nyonya ...!"


" Kayra ...!"


Koko dan Rivaldi berteriak memanggil nama Kayra. Namun Rivaldi tampak kaget dengan sebutan yang diucapkan Koko terhadap Kayra.


" Anda memanggil apa tadi? Nyonya? Memang Kayra itu siapanya Anda?" selidik Rivaldi dengan mata menyipit.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2