MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Orang Yang Mencurigakan


__ADS_3

Erlangga menjatuhkan tubuhnya di samping Kayra setelah pelepasan mereka berdua dapatkan. Deru nafas berpacu kencang seiring kenikmatan yang telah mereka dapatkan lewat penyatuan mereka malam ini.


Erlangga menoleh ke arah Kayra yang sedang mengatur nafas yang tersengal dengan peluh yang megembun di kening wanita itu. Ternyata suhu dingin di ruangan kamar tidak mampu menandingi panasnya ga irah yang mereka rasakan saat itu.


Tangan Erlangga mengusap peluh yang membasahi kulit kening Kayra hingga membuat Kayra menolehkan pandangannya ke arah Erlangga.


" Apa kamu lelah?" Bahkan jari tangannya kini menyampirkan beberapa helai rambut Kayra yang menempel di pipi karena lembab akibat keringat.


" Saya capek, Pak. Jangan diulang lagi." Menduga suaminya akan meminta melanjutkan ke ronde selanjutnya, Kayra dengan cepat menolak. Karena setiap sentuhan yang dilakukan oleh Erlangga kini selalu menimbulkan sensasi yang luar biasa pada tubuhnya.


" Apa kamu menikmatinya tadi?" Erlangga tersenyum mendengar istrinya yang menolak mengulang pergumulan tadi.


Kayra menarik nafas panjang, sejujurnya walaupun belum tumbuh cinta di hatinya, namun kenikmatan yang dia rasakan saat melakukan hubungan suami istri bersama Erlangga membuatnya seperti berada di suatu tempat terindah yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.


Kayra lalu bangkit dari tidurnya hendak ke kamar mandi untuk membersihkan daerah intinya dari sisa-sisa penyatuan mereka.


" Saya mau ke kamar mandi, Pak." Kayra memunguti pakaiannya yang tercecer di lantai akibat ulah Erlangga yang melempar ke sembarang tempat lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi karena dia sangat malu dengan tubuh polosnya saat ini walaupun Erlangga sudah beberapa kali melihat tubuhnya tanpa sehelai benang pun.


Erlangga menarik senyuman melihat sikap malu-malu yang dilakukan Kayra, sungguh berbeda jauh dengan istri pertamanya, Caroline yang selalu agresif jika berhubungan in tim dengannya.


Erlangga memakai kembali pakaian tidurnya kemudian melangkah ke arah balkon untuk mencari angin segar di teras balkon, namun sebelumnya dia masih sempat mengambil ponsel miliknya yang tadi dia letakan di atas nakas yang tiba-tiba berdering.


Erlangga melihat nama Bondan yang nampak di layar ponselnya membuat keningnya berkerut sambil bertanya-tanya, ada informasi apa yang ingin dilaporkan Bondan kepadanya?


" Ada apa?" tanya Erlangga saat mengangkat panggilan telepon dari Bondan.


" Maaf, Tuan. Saya hanya ingin memberitahu jika sejak Tuan tiba sore tadi, ada mobil yang mencurigakan terparkir di seberang rumah yang ditempati Nyonya Kayra." Bondan melaporkan jika ada hal mencurigakan di sekitar rumah tinggal Kayra.


" Apa kamu sudah menyelidiki siapa yang ada di dalam mobil itu?" tanya Erlangga.


" Sudah, Tuan. Kami sudah mendapat informasi siapa orang yang menyuruh orang itu untuk mengikuti Tuan," sahut Bondan.


" Caroline?" Dugaan Erlangga terarah kepada istrinya yang menyuruh orang untuk memata-matainya karena dia mengingat cerita Kayra yang mengatakan jika Caroline mencurigainya mempunyai wanita lain.


" Bukan, Tuan. Bukan Nyonya Caroline yang menyuruh orang itu," tepis Bondan.


" Lalu siapa?" Erlangga penasaran dengan orang yang menyuruh mengikutinya.


" Orang itu mengaku jika disuruh oleh orang yang bernama Jimmy."


" Jimmy?" Erlangga mencoba mengingat apakah ada orang bernama Jimmy yang dia kenal, namun tidak dia temukan. " Siapa Jimmy?" tanya Erlangga kemudian.


" Orang itu hanya menyebut jika yang menyuruhnya bernama Jimmy, tapi dia tidak tahu apa ada orang lain di balik Jimmy. Kami sudah mencari tahu siapa Jimmy itu, ternyata dia adalah pemilik boxing club' Galaxy." Bondan memberi informasi yang dia dapat dari orang yang mengikuti Erlangga.


" Pemilik boxing club'? Ada urusan apa dia menyuruh orang untuk mengawasi saya?! Saya tidak pernah ada masalah dengan mereka!" Erlangga merasa geram saat mengetahui orang yang menyuruh mengikutinya adalah seseorang yang mempunyai klub tinju karena dia tidak pernah bersinggungan dengan olah raga tinju apalagi club boxing bernama Galaxy itu.


" Saya akan berusaha mencari tahu apa motif keterlibatan Jimmy dalam hal ini, Tuan." ujar Bondan.


.


" Lalu di mana orang yang mengawasi rumah ini sekarang?" tanya Erlangga.


" Orang itu sedang kami amankan untuk mencari informasi lebih lanjut tentang sosok Jimmy, Tuan." Bondan memang meminta anak buahnya untuk tidak melepaskan pria yang mengawasi Erlangga.


" Baiklah, cari info dari orang itu sampai dapat, jika perlu janjikan dia bonus tinggi jika dia mau bekerjasama dengan kita!" perintah Erlangga.


" Baik, Tuan."


Erlangga menutup sambungan telpon dari Bondan lalu menaruh ponselnya itu di atas meja di teras balkon kemudian mendudukkan tubuhnya di atas kursi santai.


Kayra keluar dari kamar mandi selang beberapa menit kemudian. Dia mencari keberadaan Erlangga karena pria itu tidak ada di atas tempat tidur. Dia lalu menoleh ke arah balkon karena melihat gorden yang menutupi pintu balkon terbuka.


Kayra melangkah dan membuka pintu balkon, membuat Erlangga menolehkan pandangan ke arahnya.

__ADS_1


" Bapak ingin saya buatkan kopi?" tanya Kayra.


" Kemarilah ..." Erlangga mengulurkan tangannya kepada Kayra.


" Saya ingin istirahat, Pak." Melihat suaminya menyuruh dia duduk di sampingnya dengan cepat Kayra menolak. Dia yakin Erlangga memintanya untuk menemani pria itu, padahal dia hanya berniat menawarkan minuman hangat, tidak lebih dari itu.


Erlangga bangkit lalu berjalan mendekati Kayra, namun Kayra berjalan mundur karena dia tahu Erlangga pasti akan menyentuhnya.


" Saya lelah, Pak." ucap Kayra.


" Saya hanya minta kamu menemani saya duduk di sini." Erlangga mengatakan alasan kenapa dia menyuruhnya mendekat. Dan benar saja tangan Erlangga kini sudah melingkar di pinggang Kayra.


" Saya ...."


Belum sempat Kayra menlanjutkan kalimatnya, Erlangga sudah mengangkat tubuh Kayra lalu menutup pintu balkon dan masuk ke dalam kamar.


" Bapak mau apa lagi?" Bola mata Kayra membulat karena menduga Erlangga akan mengajaknya bercinta kembali apalagi saat pria itu mendekat ke tempat tidur lalu membaringkan kembali tubuh Kayra di atas spring bed berukuran besar. Erlangga lalu menarik selimut dan menutupi tubuh Kayra dengan selimut hingga menutupi lehernya.


" Istirahatlah jika kamu memang lelah." Tangan Erlangga membelai kening Kayra hingga ke kepala lalu memberi kecupan di kening berkulit mulus itu dengan penuh perasaan.


Erlangga menyalakan lampu tidur lalu mematikan lampu utama sebelum akhirnya keluar meninggal kamar tidur, membuat Kayra mengerutkan keningnya karena Erlangga tidak mengatakan akan ke mana.


Beberapa jam sebelumnya.


Sebuah mobil berhenti di seberang rumah tinggal Kayra saat mobil yang dikendarai Erlangga masuk ke dalam rumah berpagar tinggi yang dihuni Kayra dan juga Ibunya.


Pria di dalam mobil itu mengawasi beberapa saat rumah berlantai dua yang dihuni Kayra hingga akhirnya dia menghubungi seseorang dengan ponselnya.


" Halo, Pak Jimmy. Saya sedang mengikuti Pak Erlangga, saat ini dia sedang berada di sebuah rumah di kawasan Kemang, Pak." Pria itu melaporkan kepada Jimmy, orang suruhan Rivaldi yang ditugaskan menyelidik kedekatan Erlangga dan juga Kayra.


" Dengan siapa dia datang ke rumah itu?" tanya Jimmy.


" Saya tidak bisa melihat siapa saja yang ada di dalam mobil Pak Erlangga, Pak. Karena saya mengikuti mobilnya sejak keluar gerbang kantornya."


" Apa kamu tahu siapa yang menghuni rumah itu?" tanya Jimmy menanggapi laporan yang disampaikan oleh pria tadi kepadanya.


" Saya belum mendapat informasi tentang penghuni rumah itu, Pak. Saya akan mencoba mencari tahu dari tetangga sekitar rumah itu. Nanti saya beri kabar Pak Jimmy kembali."


" Sebaiknya kamu melaporkan hal yang sudah jelas terhadap saya, Danu. Jangan setengah-setengah seperti ini!" Nada bicara ketus terdengar dari ucapan Jimmy.


" Baik, Pak Jimmy. Saya akan melaporkan jika saya sudah mendapat kepastian tentang pemilik rumah yang dikunjungi Pak Erlangga."


Setelah mendapat jawaban dari Danu, Jimmy mematikan sambungan telepon tersebut,


" Lapor salah, tidak lapor, apalagi ...!" gerutu Danu menaruh poselnya di atas dashboard. Dia lalu mengedar pandangan mencari orang yang bisa memberi informasi kepadanya hingga dia menemukan seorang wanita sedang menyiram tanaman di pekarangan rumah depan rumah Kayra. Pria bernama Danu itu segera turun dari mobil. Dia mencoba mencari informasi tentang rumah itu dari tetangga rumah yang dikunjungi oleh Erlangga.


" Permisi, Bu. Boleh tanya sebentar?" Danu bertanya kepada seorang wanita yang sedang menyiram tanaman di pekarangan rumahnya.


" Ada apa, Mas?" tanya Ibu itu.


" Kalau rumah di depan yang berpagar abu-abu itu apa pemiliknya bernama Pak Erlangga, Bu?" tanya Danu kemudian.


" Rumah depan saya kurang tahu, Mas. Penghuninya jarang keluar berkumpul sama masyarakat di sini," sahut wanita tadi.


" Berarti Ibu tidak tahu siapa yang menghuni rumah itu?"


" Tidak, Mas. Kalau keluar pun jika akan pergi naik mobil, pulang juga langsung masuk ke dalam rumah, jadi kami tidak tahu siapa mereka itu." Jawaban yang diberikan oleh wanita tadi tidak bisa membantu Danu untuk mendapatkan informasi tentang pemilik rumah yang disinggahi Erlangga.


" Oh, ya sudah ... terima kasih infonya, Bu. Permisi ..." Danu lalu kembali masuk ke dalam. mobilnya karena dia tidak melihat ada orang di luar yang bisa dia mintai informasi lagi.


Melihat Danu kembali ke mobilnya, Ibu yang didekati oleh Danu langsung merogoh ponsel di kantong celananya. Dia mengambil gambar Danu dan juga mobil yang dipakai oleh Danu. Kemudian wanita itu mengirimkan gambar Danu dan juga mobil lengkap dengan plat nomer ke nomer seseorang dari ponselnya.


" Selamat sore, Pak Bondan. Ada orang yang bertanya soal Pak Erlangga dan juga soal rumah yang dihuni Nyonya Kayra. Tadi dia bertanya kepada saya. Saya sudah kirim gambar orang dan mobil yang dipakai orang itu."

__ADS_1


Wanita yang merupakan salah seorang anak buah Bondan yang diberi tugas untuk mengawasi lingkungan seputar tempat tinggal Kayra atas perintah Erlangga segera melaporkan keberadaan orang yang mencurigakan kepada Bondan.


Tak hanya kepada Bondan, wanita itu pun memberikan informasi kepada Koko Bondan mengawasi rumah Kayra dari orang-orang yang mencurigakan.


Sepuluh menit kemudian Koko terlihat keluar dari gerbang rumah tempat tinggal Kayra menggunakan topi dan juga kacamata hitam. Koko terlihat menoleh ke kiri dan kanan melihat situasi sebelum akhirnya menghampiri mobil Danu.


Danu yang sejak tadi memperhatikan rumah Kayra langsung memusatkan pandangan ke arah Koko yang baru saja keluar dari rumah Kayra, namun dia tidak menyangka jika Koko akan berjalan dan mendekat ke arahnya.


Tok tok tok


Suara ketukan di jendela pintu mobilnya membuat Koko segera menurunkan kaca jendela mobilnya itu.


" Bisa Anda turun sebentar?" tanya Koko dengan kalimat tegas


" Ada apa ya, Bang?" tanya Danu heran karena dia tiba-tiba didekati oleh Koko.


Dan tiba-tiba sebuah mobil Van berwarna hitam berhenti di samping mobil Danu. Satu orang bertubuh kekar keluar dari mobil Van dan membuka pintu mobil Danu.


" Eh, apa-apaan ini!?" Danu semakin kaget karena mobil Van yang berhenti di sampingnya itu menurunkan orang yang langung membuka pintu mobil dan menarik dirinya untuk keluar mobil


" Kalian siapa? Dan apa mau kalian!?" bentak Danu merasakan diperlakukan buruk oleh orang suruhan Bondan.


Tak ingin terlihat ada keributan, Koko sebelahnya membantu menarik tubuh Danu hingga tubuh pria itu kini sudah pindah mobil ke dalam van


" Saya akan urus mobil ini," sahut Koko menyuruh orang yang turun dari Van itu segera membawa Koko untuk perdi menjauh dari sana.


***


Caroline menikmati makan malam dan berbincang dengan Mr. Graff, perwakilan dari perusahaan kosmetik yang produknya yang akan diiklankan oleh Caroline. Kegembiraan terpilih sebagai model iklan kosmetik asal Jerman itu membuat dirinya lupa akan permasalahan yang terjadi dengan rumah tangganya.


Ddrrtt ddrrtt


Caroline merasakan getaran dari ponsel yang dia taruh di dalam clutch bag nya. Caroline mengabaikan panggilan di ponselnya tersebut dan memilih terus berbincang dengan Mr. Graff dan orang dari pihak advertising yang akan menggarap iklan tersebut.


Setelah acara makan malam selesai, barulah dia melihat ponselnya untuk mengetahui siapa yang tadi menghubunginya. Caroline melihat nama Robin yang tadi beberapa kali melakukan panggilan telepon kepadanya.


" Maaf, Nyonya Caroline. Saya mengganggu waktu Anda. Saya hanya ingin menyampaikan berita jika Tuan Erlangga telah melayangkan gugatan cerai kepada Anda, Nyonya."


Sebuah pesan yang masuk dari Robin yang merupakan pengacara pribadi Caroline membuat Caroline membuka mata lebar-lebar. Dia juga menutup mulut dengan telapak tangannya seakan tidak mempercayai berita yang disampaikan oleh pengacara pribadinya itu.


" Tidak! Ini tidak mungkin! Erlangga tidak mungkin berani melakukan hal ini!" Suara memekik Caroline yang syok membaca pesan masuk dari Robin membuat Wisnu menoleh ke arah Caroline. Bukan hanya Wisnu, beberapa pengunjung restoran itu pun mengarahkan pandangan ke arah Caroline.


" Ada apa, Caroline?" Wisnu tampak khawatir apalagi saat melihat Caroline yang tiba-tiba saja berlinang air mata.


" Erlangga sudah mengajukan gugatan cerai Wis." Caroline tak kuasa menahan tangisnya yang seketika pecah. Dia pun menyodorkan ponselnya kepada Wisnu.


Wisnu langsung mengambil ponsel di tangan Caroline dan membaca isi pesan dari Robin.


" Erlangga benar-benar akan menceraikanku, Wis. Hiks ...."


Wisnu segera memeluk Caroline untuk menenangkan Caroline karena saat itu hampir seluruh pengunjung restoran mengarahkan pandangan kepada mereka berdua.


Wisnu memilih ke luar dari restoran karena dia merasa tidak nyaman terus berada di sana. Dia juga harus melindungi nama baik Caroline karena dia ingin menjadikan wanita itu sebagai model top dunia. Dan jangan sampai apa yang mereka lihat dari Caroline saat ini akan membekas diingatan mereka jika kelak Caroline telah mencapai cita-citanya itu.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading,❤️

__ADS_1


__ADS_2