
Agnes memperhatikan ruangan gym yang kemarin dipakai oleh Vito dan teman-temannya berolah raga. Dia berharap jika pria itu datang kembali berolah raga di tempat fitness nya. Namun, di antara beberapa orang yang sedang beraktivitas olah raga, tak terlihat sosok Vito di sana, membuat Agnes merasa kecewa. Padahal, dia sudah menawarkan discount istimewa untuk Vito jika pria itu menjadi langganan tetap di tempat usahanya itu.
" Jes, pria yang dua hari datang kemari denganku, apa kamu pernah lihat datang ke sini lagi?" tanya Agnes kepada Jessy, salah seorang pegawai di tempat fitness nya.
" Saya tidak melihat, Mbak." sahut Jessy. " Kenapa memangnya, Mbak? Apa ada masalah?" tanyanya kemudian.
" Tidak ada apa-apa," ucap Agnes kemudian meninggalkan meja kasir. Dia lalu mengeluarkan ponselnya, dia pun mencari nomer Vito yang sempat dia minta saat pertemuan pertama mereka.
" Hei, aku Agnes dari A&A Fitness Club, kapan rencananya kamu mau nge-gym di sini lagi?" Tanpa ada rasa malu, Agnes mengirimkan pesan kepada Vito.
Namun, pesan yang dikirimkan oleh Agnes, nyatanya tidak langsung dijawab oleh Vito, tak ayal hal tersebut membuat Agnes merasa kecewa.
Hampir satu jam menunggu, akhirnya balasan. pesan dari Vito pun masuk ke dalam ponsel Agnes, padahal dia sudah putus asa jika Vito akan membalas pesannya.
" Hai, sorry tadi saya sibuk. Mungkin besok malam sepulang kerja baru bisa nge-gym lagi."
Balasan pesan dari Vito membuat Agnes berjingkrak tanpa sadar.
" Yess!" Agnes bahkan sampai mengepalkan tangannya menandakan dia merasa senang dengan kabar yang disampaikan Vito soal rencana Vito yang akan berolahraga besok malam.
" Oke, aku tunggu kedatangannya di sini, ya!?" Agnes lalu membalas pesan dari Vito tadi. Aura wajah wanita itu bahkan kini berubah lebih ceria dari sebelumnya.
***
Erlangga mengusap kulit perut Kayra saat istrinya itu menyibak atasan pakaian tidurnya. Erlangga bahkan menciumi perut Kayra menunjukkan bahwa dia sangat menyayangi darah dagingnya yang kini masih bersemayam di perut istrinya itu.
" Kau tahu, Kayra? Kamu adalah ibu hamil ke tiga yang pernah aku cium perutnya saat hamil seperti ini. " Tiba-tiba Erlangga menceritakan sesuatu hal yang membuat kening Kayra berkerut.
" Ketiga? Memang siapa saja, Mas?" Dua orang ibu hamil yang dia duga pernah dicium perutnya saat hamil oleh Erlangga sudah pasti dirinya dan juga Helen. Lalu, siapa satu ibu hamil lainnya yang dimaksud oleh Erlangga? Itu yang membuat Kayra penasaran.
" Ketiga ibu hamil itu adalah kamu, Mamaku dan juga susterku dulu ..." jawab Erlangga.
" Suster? Maksudnya pengasuh, Mas?" tanya Kayra kemudian.
" Iya, baby sitterku sejak aku bayi, Sus Rina namanya." Erlangga menjelaskan pada Kayra. " Waktu usia aku mendekati usia enam tahun, Sus Rina itu sedang hamil. Dulu aku sering cium perut Sus Rina, seperti aku sering cium perut Mama waktu Mama hamil adikku. Saat itu Mama dan Sus Rina sama-sama hamil. Perutnya seperti membawa drum." Erlangga terkekeh menceritakan masa kecilnya yang membuatnya teringat akan pengasuhnya dulu.
" Sayang sekali aku tidak tahu kabar Sus Rina sekarang bagaimana? Karena Sus Rina tiba-tiba saja pergi dari rumah ini. Aku masih ingat saat Sus Rina menghilang, aku terus menangis karena kehilangan salah satu orang paling dekatku sampai jatuh sakit, karena aku sudah terbiasa dengan Sus Rina sejak usia aku enam bulan." Terlihat ada kerinduan di hati Erlangga setiap kali dia menyebut nama Sus Rina.
" Menghilang? Maksudnya, Mas?" Entah mengapa Kayra merasa tertarik dengan cerita masa lalu Erlangga yang mengisahkan dengan pengasuh suaminya ketika kecil itu
" Sus Rina pergi dari rumah ini tanpa sepengetahuan kami. Dan setelah aku cukup dewasa, aku akhirnya mengerti apa yang terjadi dengan Sus Rina. Ternyata kehamilan Sus Rina adalah aib dari keluargaku. Saat itu Sus Rina hamil anak dari Om aku, adik sepupu Mama. Sus Rina itu memiliki paras yang cantik, mungkin karena itu yang membuat Om aku tergoda hingga akhirnya menghamili Sus Rina. Namun, saat ketahuan jika Sus Rina hamil, Om aku itu tidak mau bertanggung jawab." Erlangga kembali menceritakan kepada Kayra apa yang sebenarnya terjadi dengan pengasuhnya dulu. Setelah dewasa, dia pun sangat menyayangkan perbuatan be jat adik sepupu Mamanya itu.
" Papa saat itu marah besar hingga melarang Om aku menginjakkan kaki di rumah ini lagi. Dan Papa akhirnya mengambil keputusan untuk mengadopsi anak Sus Rina jika anak yang dikandung oleh Sus Rina itu lahir. Tapi, sebelum bayi itu lahir, Sus Rina pergi meninggalkan rumah ini tanpa ijin terlebih dahulu ..." Nada sedih terdengar di kalimat terakhir yang diucapkan oleh Erlangga.
" Ya Allah, kasihan sekali Sus Rina itu, Mas." lirih Kayra merasa iba dengan sosok pengasuh suaminya yang harus menerima perbuatan salah satu anggota keluarga majikannya.
" Iya, sejak saat itu, kami tidak tahu keberadaan Sus Rina di mana." Erlangga mendengus kasar, karena dia sangat menyayangkan kepergian pengasuhnya dulu.
" Apa Papa sudah mencari di rumah keluarganya Sus Rina, Mas?" Pertanyaan Kayra kali ini dijawab dengan gelengan kepala Erlangga.
" Papa mengambil Sus Rina dari panti asuhan saat usia Sus Rina tujuh belas tahun. Papa sengaja mengambil orang yang mau bekerja mengasuhku dari panti, agar pengasuhku bisa fokus mengurusku tanpa diganggu dengan masalah keluarganya." Erlangga menjelaskan kenapa tidak dapat menemukan keberadaan pengasuhnya dulu.
" Sudah mencoba mencari di panti tempat Sus Rina dulu di ambil?"
" Sudah, tapi Sus Rina juga tidak kembali ke sana."
" Semoga pengasuh Mas itu masih sehat-sehat saja hingga saat ini, dan menjalankan kehidupan yang bahagia dengan anak yang dulu dikandungnya itu, Mas." Kayra hanya dapat membantu mendoakan yang terbaik untuk mantan pengasuh Erlangga itu.
" Aamiin, aku juga berharap seperti itu," sahut Erlangga lalu membawa istrinya membaringkan tubuhnya.
" Oh ya, lalu bagaimana dengan Om dari Mas itu? Saat Om tahu kalau Sus Rina pergi dari rumah ini dengan membawa darah dagingnya?" Kayra merasa penasaran dengan nasib Om dari Erlangga.
" Mungkin Om aku menerima karma karena tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya dulu. Om ku meninggal karena kecelakaan saat pergi berbulan madu bersama istrinya," sahut Erlangga.
__ADS_1
" Astaghfirullahal adzim!! Kenapa Mas bicara seperti itu? Tidak baik mengatakan hal seperti itu pada orang yang terkena musibah, apalagi orang itu masih keluarga Mas sendiri!" Kayra menegur suaminya yang seperti mencibir Om nya sendiri.
" Bukan begitu, Sayang. Aku hanya kesal, aku merasa kepergian Sus Rina karena mendengar kabar Om aku akan menikah dengan tunangannya. Kamu bisa bayangkan bagaimana perasaan Sus Rina, kan?" Erlangga menjelaskan apa yang terjadi dengan Om nya itu.
Kayra merenung mengetahui sikap Helen dengan adik sepupu Mama mertuanya itu. Pikiran buruk pun seketika berkelebat di benaknya. dia merasa jika keluarga Mama mertuanya itu memang tidak bisa bersikap baik terhadap orang-orang berstatus sosial rendah seperti dirinya dan juga pengasuh dari Erlangga dulu. Mereka seperti merendahkan, bahkan seenaknya menyakiti tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.
***
Grace berjalan memasuki sebuah cafe yang memang banyak dikunjungi pelanggan dari kelas menengah ke atas. Tak jarang juga para eksekutif muda menyempatkan diri makan, minum atau sekedar berbincang dengan teman mereka atau rekanan bisnis mereka di cafe itu.
Grace memilih tempat duduk di sudut Utara cafe, karena tak jauh dari mejanya, Rivaldi terlihat sedang berbincang dengan Jimmy. Grace sengaja memilih tempat yang posisinya terlihat oleh Rivaldi. Sebelumnya anak buah Rizal sudah memantau pergerakan ke mana Rivaldi menghabiskan waktu sepulang dari bekerja, hingga akhirnya Rizal mengarahkan Grace untuk beraksi kembali malam ini.
Benar saja dugaan Grace, karena selang sepuluh menit sejak Grace datang di cafe itu, mata Rivaldi sudah menangkap sosok Grace yang terlihat beberapa kali melirik arloji seraya melempar pandangan ke arah pintu cafe.
" Ada apa, Bos?" Jimmy yang menyadari bosnya itu terlihat seperti sedang memperhatikan seseorang langsung memutar pandangan mengikuti arah pandangan mata Rivaldi.
" Tidak ada apa-apa, Jim." Rivaldi menyangkal jika dia memang sedang memperhatikan seseorang. " Jadi, anak buahmu itu sudah tidak lagi bekerja untuk wanita yang menyukai Erlangga?" tanya Rivaldi melanjutkan perbincangannya dengan Jimmy.
" Benar, Bos. Sepertinya gerak-gerik wanita itu sudah dipantau oleh orang-orang Pak Erlangga." Jimmy menjawab apa yang ditanyakan oleh Rivaldi.
" Si al! Orang itu selalu saja cepat bertindak!" umpat Rivaldi kesal.
" Sepertinya Pak Erlangga sudah mengantisipasi soal ini, Bos." ujar Jimmy berpendapat.
" Kalau begitu kita harus bisa lebih lihai dari Elangga. Sekarang ini satu persatu customer dari perusahaannya mulai melirik usaha milikku, mungkin sebentar lagi nama perusahaan Mahadika Gautama akan tenggelam ke permukaan." Dengan seringai tipis, Rivaldi menebar ancaman seraya melirik kembali ke arah meja di mana Grace berada. Namun, keningnya langsung berkerut saat melihat seorang pria menarik paksa lengan Grace. Terlihat olehnya jika Grace menolak diajak pria itu pergi. Namun, pria itu tak menggubris dan tetap menarik lengan Grace hingga keluar dari cafe tersebut.
Apa yang dilakukan oleh pria itu dengan memaksa dan membawa Grace pergi, sontak membuat Rivaldi berdiri dari duduknya.
" Mau ke mana, Bos?" tanya Jimmy heran melihat Rivaldi bangkit dari kursinya.
" Aku harus segera pergi, Jim!" Rivaldi merogoh dompetnya dan mengeluarkan uang sebanyak lima lembar uang nominal seratus ribu dan menyerahkannya kepada Jimmy. " Bayarkan nanti ke kasir, aku pergi sekarang!" Rivaldi menepuk pundak Jimmy sebelum berjalan dengan terburu-buru ke arah pintu keluar cafe di mana tadi Grace dibawa oleh pria yang tidak kenal.
Sesampainya di luar cafe, Rivaldi mengedarkan pandangan mencari keberadaan wanita yang dia kenal sebagai anak dari pemilik perusahaan yang ingin bekerjasama dengan perusahaan miliknya.
" Kamu dengarkan aku dulu, Ren! Semua yang kamu dengar itu tidak benar! Aku tidak mungkin selingkuh dari kamu!" Pria yang membawa Grace berkata seolah meyakinkan Grace bahwa apa yang didengar oleh Grace adalah suatu kekeliruan. Tentu saja pria yang bersama Grace adalah salah seorang yang menyamar menjadi mantan kekasih Grace.
" Aku tidak perduli! Kita sudah putus, Dave! Jadi jangan ganggu aku lagi sekarang ini!" Grace menepis tangan orang yang membawanya meninggalkan cafe tadi.
" Kita bisa memperbaiki hubungan kita lagi, Ren! Aku janji tidak akan berselingkuh." Dave bersandiwara dengan berusaha membujuk dan memohon agar Grace tidak memutuskannya.
" Kamu itu hanya ingin memanfaatkanku saja, kan? Karena aku calon pewaris tunggal perusahaan Papaku, makanya kamu tidak mau kita putus?! Tapi kamu tidak bisa merubah sikapmu yang senang obral janji pada wanita di luar sana. Aku muak dengan semua kelakuanmu, Dave!" Grace kemudian berjalan meninggalkan Dave menuju arah mobilnya.
" Tunggu, Ren!" Dave justru memeluk tubuh Grace, seolah tidak membiarkan wanita itu menjauh darinya.
" Lepaskan, aku!" Grace berontak, namun Dave justru mengangkat tubuh Grace di bagian perutnya, pria itu bahkan membawa Grace menuju mobilnya.
" Lepaskan aku, breng sek!" Bahkan kini Grace berteriak lebih kencang hingga membuat beberapa orang yang ada di parkiran cafe memperhatikan mereka berdua, tanpa ada yang membantu, karena Grace tidak berteriak minta tolong.
" Lepaskan dia!" Sedangkan Rivaldi yang akhirnya mendapati tubuh Grace sedang diangkat oleh Dave langsung berlari mendekat dan menarik lengan Dave hingga langkah Dave terhenti.
" Siapa kamu? Apa urusan kamu ikut campur urusan kami berdua?!" Merasa terganggu dengan kemunculan Rivaldi, Dave bertanya dengan nada menyentak.
" Walaupun urusan kalian tidak ada hubungannya dengan saya, tapi apa yang kamu lakukan terhadap Nona Rena dengan membawa Nona Rena pergi secara paksa, itu adalah hal yang tidak pantas dilakukan!" geram Rivaldi melihat perlakuan Dave terhadap Grace.
" Siapa dia, Ren? Apa dia bodyguard yang diutus oleh Papamu untuk mengawasimu?" Mendengar Rivaldi menyebut nama Grace dengan panggilan Nona Rena, Dave berpura-pura menyangka jika Rivaldi adalah orang suruhan orang tua Grace.
" Iya, dia itu bodyguard aku! Cepat lepaskan aku! Kalau tidak bodyguardku ini akan menghajarmu sampai babak belur." Grace sengaja menyebut jika Rivaldi adalah bodyguardnya.
" Kau dengar sendiri apa yang dikatakan oleh Nona Rena? Sebelum saya dan orang di sekitar cafe ini membuat nyawamu melayang, sebaiknya lepaskan Nona Rena dan pergilah dari sini!" ancam Rivaldi, sepertinya dia mengerti dengan perkataan Grace, yang mengiyakan jika dia adalah bodyguard dari Grace. Karena Rivaldi merasa jika Grace memang membutuhkan pertolongannya.
" Lepaskan!" Grace kembali berontak hingga akhirnya dia bisa lepas dari tanggan Dave, karena Dave mengendurkan pelukannya di tubuh Grace, saat mendengar ancaman yang dilontarkan Rivaldi.
" Pergilah! Dan jangan pernah mengganggu Nona Rena kembali!" gertak Rivaldi dengan nada tinggi.
__ADS_1
Melihat wajah emosi Rivaldi dan tak ingin mendapatkan tindakan yang diancamkan oleh Rivaldi kepadanya, tentu Dave memilih mundur, karena tugasnya memang sudah selesai. Dave memang ditugaskan untuk memancing Rivaldi agar mendekati Grace. Pertemuan yang terjadi di luar jam kantor ini terasa lebih alami tanpa disadari oleh Rivaldi jika hal ini memang sudah direncanakan dengan baik oleh Rizal.
" Kamu tidak apa-apa, Nona Rena? Apa pria tadi menyakitimu?" Saat Dave menjauh dari mereka. Rivaldi segera menanyakan kondisi Grace apakah baik-baik saja.
" Oh, iya. Aku tidak apa-apa, Pak. Terima kasih karena sudah membantuku, dan maaf tadi aku bilang jika kamu ini adalah bodyguardku."
" Tidak apa-apa, tidak masalah."
" Oh ya, nama kamu siapa, ya? Maaf aku lupa, tapi aku ingat kalau kamu itu bos perusahaan yang kemarin aku dan Pak Tua datangi, kan?" Grace berpura-pura tidak ingat dengan nama Rivaldi.
" Saya Rivaldi, Nona. Rivaldi Nugraha, Nona sudah pernah saya beri kartu nama saya." Rivaldi menyebutkan namanya, bahkan mengingatkan jika dia pernah memberikan kartu namanya kepada Grace.
" Oh, maaf. Pak Rivaldi. Saya benar-benar lupa."
" Tidak apa-apa, Nona. Panggil saja saya. Rivaldi atau Aldi."
" Oke, oke. Kalau begitu panggil saya Rena saja tanpa ada embel-embel Nona." Kini berganti, Grace yang menolak tambahan panggilan Nona di depan namanya.
" Baiklah, Rena. Oh ya, kamu tadi ke sini sedang menunggu siapa? Apa kamu sengaja menunggu pria tadi?" tanya Rivaldi penasaran.
" Bukan, sebenarnya tadi teman aku yang janji ingin bertemu, ternyata yang muncul orang itu. Sepertinya temanku sudah diajak kerjasama oleh Dave sehingga aku mau datang kemari." Grace menyampaikan alasannya dengan bibir mencebik seakan menunjukkan rasa kesal terhadap temannya.
" Kamu harus hati-hati jika pergi sendiri apalagi malam hari seperti ini."
" Iya, mungkin juga harus membawa bodyguard jika akan pergi." Grace berseloroh. " Ya sudah,. aku permisi dulu. Sekali lagi terima kasih atas bantuan kamu tadi." Grace merasa cukup melakukan interaksi dengan Rivaldi hingga dia harus segera pergi dari tempat itu.
" Kamu mau pulang sekarang? Apa perlu saya antar?" Sepertinya perangkap yang ditebarkan oleh Grace sudah membuat Rivaldi terjerat, bahkan dia menawarkan diri untuk mengantar Grace.
" Tidak usah, aku bisa sendiri. Bye ..." Grace memutar tubuhnya dan hendak berjalan ke arah mobilnya.
" Rena, apa saya bisa minta nomer HP mu?" Langkah Grace terhenti saat Rivaldi menanyakan nomer ponselnya.
Dengan menolehkan wajah dan mengulum senyuman di bibirnya, Grace lalu menjawab. " Nanti aku akan hubungi nomer kamu." Grace melanjutkan langkahnya ke mobilnya, dia sengaja sedikit jual mahal, agar membuat Rivaldi semakin penasaran terhadapnya.
*
*
*
Bersambung ...
Visual Rivaldi
Visual Grace
Visual Rizal
R ( baru ) : Thor, Rizal & Grace itu siapa, sih?
A : Pembaca Kisah Cinta Azzahra pasti tau.
R ( lama ) : Kode nih, kayanya. Si Othor jadi mau bikin novel mereka ( yg udah terpending setahun lalu )
A : Hmmnm, ga janji ah, takut meleset soalnya sekarang musim hujan 😂😂 ( Ga nyambung banget )
Happy Reading❤️
__ADS_1