MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Jangan Terlalu Dekat Dengan Erlangga


__ADS_3

Hampir setengah jam Erlangga membawa Kayra dengan mobilnya memutari kota Jakarta tanpa arah yang pasti tujuannya akan ke mana? Kayra sendiri sudah sangat cemas karena dia juga tidak tahu tujuan Erlangga membawa dirinya itu untuk apa?


" Pak, sebenarnya kita akan ke mana?" Rasa takut sudah mulai menghinggapi hati Kayra.


Erlangga melirik ke arah Kayra yang terlihat ketakutan.


" Kamu tidak perlu ketakutan seperti itu, saya tidak akan menyakitimu!" Kata-kata Erlangga meyakinkan Kayra untuk tidak khawatir terhadap dirinya, namun hal tersebut tetap tidak bisa membuat Kayra tenang.


Tak lama berselang mobil Erlangga memasuki sebuah gerbang rumah besar walaupun tak sebesar milik Erlangga apalagi milik Krisna Mahadika Gautama.


" Ini rumah siapa, Pak?" tanya Kayra masih dalam kebingungannya.


" Teman saya, turunlah!" Erlangga melepas seat belt dan membuka pintu lalu bergegas turun. Hal yang sama pun langsung dilakukan oleh Kayra karena dia tidak ingin kena tegur bosnya lagi akibat harus memberi perintah dua kali kepadanya.


" Tuan Erlangga?" seorang ART membukakan pintu utama di rumah orang yang disebut Erlangga adalah temannya.


" Henry ada?" tanya Erlangga kepada ART di rumah Henry, nama teman dari Erlangga.


" Ada, Tuan. Silahkan masuk, Tuan ..." ART di rumah Henry itu mempersilahkan Erlangga dan Kayra masuk ke dalam rumah besar itu.


" Siapa yang bertamu malam-malam, Bi?" Suara seorang pria terdengar dari arah tangga membuat Erlangga dan Kayra menolehkan pandangannya ke arah tangga.


Seorang pria berusia sebaya dengan Erlangga mengenakan kimono tidur sepanjang lutut terlihat menuruti anak tangga disusul seorang wanita cantik di belakangnya.


" Ini ada Tuan Erlangga, Tuan." ART di rumah Henry memberitahukan majikan siapa yang datang ke rumah tuannya itu.


" Ada apa kau malam-malam datang ke rumahku, Lang?" Henry adalah salah satu teman Erlangga saat mereka sama-sama menempuh pendidikan di Amerika bersama Emma, istri dari Henry yang saat ini berjalan di belakang Henry.


" Hanya berkunjung, lagipula sudah lama aku tidak mengunjungi kalian." Dengan santai Erlangga melangkah ke arah mini bar yang ada di ruangan tamu rumah Henry itu.


" Apa kau sudah gi la berkunjung malam-malam seperti ini, Lang?" Kali ini Henry menatap sosok Kayra yang mengenakan pakaian tidur dan hanya berdiri tak melangkah dari arah pintu masuk.


" Kenapa dia ada di sini, Lang?" Henry merasa heran dengan kehadiran Kayra bersama Erlangga.


Erlangga melirik ke arah Kayra yang masih belum merubah posisinya.

__ADS_1


" Dia sekretarisku, memangnya kenapa?" sahut Erlangga sementara tangannya mengambil gelas dan botol minuman dari mini bar Henry.


" Mari silahkan duduk, Mbak." Melihat Kayra yang seperti terpaku, Emma mempersilahkan Kayra untuk duduk.


" Oh, iya terima kasih, Bu." Kayra menyahuti ucapan Emma dengan sopan lalu menuruti apa yang diminta oleh Emma.


" Kamu mau minum apa?" tanya Emma hendak mengambil minuman di mini bar di mana suaminya dan Erlangga sedang berbincang.


" Tidak usah repot-repot, Bu." Kayra menolak halus Emma yang ingin mengambilkan dia minuman.


" Tidak repot, kok. Sebentar, ya!?" Emma meminta Kayra untuk menunggu.


" Aku tidak menyangka tanpa make up pun sekretarismu itu tetap cantik, Lang. Apa dia itu sekretaris plus-plus untukmu?" Dengan terkekeh Henry menyindir Erlangga yang tiba-tiba saja membawa sekretaris ke rumahnya di waktu yang tidak normal.


" Si alan! Jangan sembarangan kau bicara, Hen! Aku ini sudah punya istri dan aku mencintai Caroline!" sanggahan langsung meluncur di bibir Erlangga saat Henry menuduhnya jika dia menjadikan Kayra sebagai sekretaris plus-plus yang dapat dia jadikan pemuas has rat bira hinya. Sementara matanya menatap Kayra yang sedang mengedar pandangan memperhatikan setiap sisi ruangan tamu rumah Henry.


" Hahaha ..." Henry tertawa kencang mendengar Erlangga menyangkal tuduhannya itu. " Aku ini sudah punya istri dan aku mencintai Caroline, lalu kenapa dia yang datang bersamamu bukan istri modelmu itu?" Henry tidak tahan untuk tidak meledek Erlangga. Dia sangat mengenal Erlangga, pewaris kekayaan Mahadika Gautama itu tidak mudah tergoda wanita lain selain istrinya. Namun yang membuat dia heran hingga bertanya-tanya, kenapa dan untuk apa Erlangga membawa Kayra ke rumahnya malam-malam begini?


" Lang, sekretarismu itu suka minuman apa?" tanya Emma yang mendekat ke arah mereka.


" Sayang, kau berikan saja white rum itu." Henry menyuruh Emma memberikan minuman beralkohol yang ada di laci mini barnya.


" Beri saja dia air mineral. Itu minuman kesukaannya," ucap Erlangga selanjutnya. Erlangga pasti tahu jika Kayra tidak mungkin menyukai minuman beralkohol yang bisa memabukan apalagi jika dikonsumsi orang yang tidak terbiasa mabuk.


" Hanya air mineral?" Emma bertanya heran.


" Memangnya kenapa dengan air mineral? Apa kau tidak pernah minum air mineral?" Erlangga terlihat kesal karena Emma seolah mencibir Kayra yang tidak menyukai minuman beralkohol.


" Sayang, temanmu ini kenapa? Aku hanya bertanya kenapa dia terlihat emosi seperti itu?" Pertanyaan bernada heran langsung Emma tujukan kepada suaminya saat terkesan Erlangga marah dengan pertanyaannya.


" Kau maklumlah, Sayang. Dia itu pasti tidak tersalurkan has ratnya karena istrinya terlalu sibuk dengan dunianya." Henry tergelak menyindir dengan kalimat yang sangat tepat mengena dengan kondisi yang sedang dialami oleh Erlangga saat ini setelah penolakan Caroline ketika diajak bercinta.


" Kalau aku jadi kau, aku ajak sekretarismu itu bersenang-senang, Lang." Saat Emma sudah menjauh, Henry membisikan saran yang sangat menye satkan kepada Erlangga.


Erlangga mendelik tajam ke arah Henry.

__ADS_1


" Apa kau tidak tergoda dengan sekretarismu itu, Lang? Jika aku belum menikah, mungkin aku akan minta sekretarismu itu untukku, Lang." Henry terkekeh memprovokasi Erlangga.


" Sekali lagi kau bicara seperti itu, aku adukan kau kepada Emma!" Ancaman keluar dari mulut Erlangga mendengar Henry mengatakan jika pria itu tertarik kepada Kayra.


" Kau ini, tidak bisa diajak bercanda." Henry memutar bola matanya menganggap Erlangga terlalu serius menjalani kehidupannya.


" Kalian dari mana?" Sementara di ruangan tamu, Emma kembali mengajak Kayra berbincang karena merasa kasihan melihat sekretaris Erlangga seperti orang kebingungan di rumahnya.


" Hmmm, saya ... saya dari rumah, Bu. Pak Erlangga datang dan mengajak saya kemari." Dengan jujur Kayra mengatakan apa yang sesungguhnya terjadi.


" Apa Erlangga sering mengajak kamu keluar malam hari seperti ini?" Kalimat pertanyaan menyelidik ditujukan Emma kepada Kayra.


" Hmmm ... tidak, Bu. Kami tidak pernah pergi seperti ini sebelumnya." Kayra menutupi jika dia pernah diajak Erlangga makan malam di rumah orang tua Erlangga karena dia merasa tidak perlu membuka hal itu, yang hanya akan menimbulkan kecurigaan setiap orang yang mengetahuinya.


" Kamu sudah punya keluarga?" tanya Emma.


" Belum, Bu."


" Kekasih atau tunangan?"


Kayra mende sah, kenapa pertanyaan-pertanyaan seperti itu akhir-akhir ini selalu mampir di telinganya.


" Belum, Bu."


" Kamu tahu, kan? Kalau Erlangga sudah mempunyai istri? Dan istrinya itu seorang model terkenal?" Kata-kata Emma sudah seperti seorang jaksa penuntut umum yang siap menerkamnya.


" Iya, saya tahu, Bu." Kayra sudah paham akan ke mana arah pembicaraan Emma.


" Sebaiknya kamu bisa jaga diri, jangan terlalu dekat dengan Erlangga. Tidak masalah kalau sebatas pekerjaan, tapi kalau sampai menemani Erlangga keluar malam seperti ini, kamu juga yang akan rugi." Emma berusaha menasehati Kayra karena menurutnya tidak sepantasnya Erlangga dan Kayra saat ini pergi bersama hingga larut malam apalagi bukan dalam misi yang berhubungan pekerjaan.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2