MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Adik Perempuan


__ADS_3

Setelah mengantar Helen menuju mobilnya dan mengatur anak buahnya untuk mengawal Helen yang akan pulang ke rumah, Bondan kembali ke dalam restoran, karena dia langsung mengatur janji dengan Rizal yang kebetulan berada di tempat yang tidak jauh dari restoran yang tadi disinggahi oleh Helen juga Agnes.


Sambil menikmati secangkir coffee latte dan mengecek beberapa pesan masuk di ponselnya, Bondan menunggu Rizal yang sedang dalam perjalanan menuju restoran tersebut. Selang sepuluh menit kemudian, Rizal pun sampai di restoran itu.


" Sorry, bikin kau menunggu, Dan." Rizal yang baru datang langsung mengulurkan kepalan tangannya mengajak Bondan melakukan fish bump.


" It's Oke, Zal. Aku pun belum menghabiskan satu gelas kopiku." Bondan terkekeh menganggap jika waktu yang dia butuhkan untuk menunggu Rizal tidaklah lama. Sepuluh menit menunggu adalah hal yang wajar, apalagi pertemuan mereka secara mendadak tanpa dijadwalkan terlebih dahulu.


" Ada masalah apa sampai kau membutuhkan bantuanku, Dan?" tanya Rizal seraya menarik kursi untuk dia duduki.


" Iya aku butuh bantuanmu untuk mengawasi pergerakan seseorang, Zal." ujar Bondan kenapa dia membutuhkan tenaga Rizal untuk mengatasi Rivaldi.


" Siapa? Apa masih ada hubungannya dengan orang yang kemarin?" Karena pernah diminta Bondan untuk bantuan menyelidik siapa Jimmy, Rizal menduga jika bantuan yang dibutuhkan Bondan masih seputar kasus yang sama.


" Iya, Zal. Orang yang ingin kita awasi adalah bos dari Jimmy, Rivaldi." sahut Bondan kemudian.


" Ada apa lagi dengan orang itu, Dan? Apa orang itu masih mencari perkara?" Rizal mulai mendengarkan secara serius kalimat demi kalimat yang akan diucapkan oleh Bondan.


" Kemungkinan orang itu akan semakin berbuat nekat, karena saat ini dia sudah tahu siapa suami dari Nyonya Kayra. Dia sangat berambisi mengalahkan perusahaan Mahadika dalam bisnis suku cadang, terlebih dia juga sangat menginginkan Nyonya Kayra. Menurutmu, apa orang itu akan diam saja dan tidak akan membalas Tuan Erlangga?" Bondan menjelaskan secara rinci apa yang membuat Erlangga begitu khawatir dengan aksi Rivaldi dan anak buahnya.


Rizal mengusap rahangnya yang ditumbuhi rambut halus, seraya menganggukkan kepalanya perlahan.


" Lalu apa tugas yang harus aku kerjakan?" tanya Rizal kemudian.


" Bosku menginginkan kau yang memantau pergerakan Rivaldi agar dia tidak mengganggu Nyonya Kayra lagi. Karena kebetulan ada wanita lain yang menyukai Tuan Erlangga, kemungkinan mereka akan bekerjasama karena wanita itu menyuruh orang yang ternyata anak buah Jimmy." Bondan memperkirakan kemungkinan yang bisa terjadi tentang kerjasama antara Agnes dan Rivaldi. " Untuk Jimmy dan wanita itu, biar orangku yang mengatasi, kau hanya fokus mengawasi Rivaldi saja," lanjutnya menjelaskan apa yang diinginkan oleh Erlangga.


" Hmmm, baiklah nanti aku akan turun tangan untuk mengatasi si Rivaldi itu." Rizal menyanggupi apa yang diinginkan oleh bos dari Bondan, tentu saja kedekatannya dengan Bondan yang membuatnya bersedia membantu Erlangga untuk mengatasi masalah yang akan mengganggu rumah tangga bos dari Mahadika Gautama itu, termasuk menghadang langkah Rivaldi yang ingin bersaing dengan perusahaan milik Erlangga itu dengan cara yang tidak sehat.


" Thank's, Zal. Aku percayakan kepadamu tugas ini." Kini Bondan yang mengepalkan tangannya ke arah Rizal yang langsung disambut kepalan tangan Rizal hingga dua kepalan tangan mereka bersentuhan.


" Tapi kalau aku sewaktu-waktu butuh informasi seputar relasi bisnis yang biasa bekerjasama dengan perusahaan Mahadika Gautama, tidak masalah, kan?" Rizal sudah memikirkan rencana apa yang akan dia jalankan terhadap Rivaldi.


" Katakan saja apa yang kamu perlukan, nanti aku akan teruskan kepada Tuan Erlangga," jawab Bondan, dia sangat percaya pada Rizal sehingga dia yakin Erlangga akan bersedia memberikan informasi yang diperlukan oleh Rizal.


" Oke, sip! Nanti aku konfirmasikan apa saja yang dibutuhkan," jawab Rizal.


" Oh ya, kau mau pesan makanan atau minuman apa, Zal?" tanya Bondan menawarkan, karena sejak tiba, sahabatnya itu belum memesan apa-apa.


" Aku sudah minum kopi tadi, aku juga tidak bisa berlama-lama di sini, karena aku harus bertemu dengan seseorang." Rizal lalu berdiri membuat Bondan pun ikut berdiri.


" Ya sudah, thank's kamu sudah datang kemari." Bondan menepuk pundak Rizal.


" Aku duluan, Dan." Mereka kembali melakukan fish bump karena akan berpisah.


" Oke, Zal. Kabari saja informasi apa yang kamu butuhkan," ucap Bondan.


" Oke." Setelah itu Rizal pun beranjak ke luar dari ruangan restoran tersebut. Tak beberapa lama, setelah menghabiskan coffe latte nya Bondan pun melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Rizal, pergi meninggalkan restoran itu, untuk kembali ke tempat aktivitasnya.


***


Sepulang dari kantor, Erlangga ingin mengajak Kayra mengunjungi rumah lama keluarga Krisna, karena lusa rencananya mereka akan. pindah ke rumah itu.


Kayra tentu menyambut dengan gembira saat suaminya itu ingin mengajak dirinya ke rumah yang akan menjadi tempat tinggal mereka nantinya. Kayra sendiri tidak tahu, kenapa dia begitu bersemangat jika ingin ke rumah keluarga suaminya yang dulu ditempati keluarga Krisna. Sebelumnya dia tidak pernah merasa langsung suka atau nyaman jika mendapatkan tempat baru, tetapi di rumah orang tua Erlangga, seperti ada keterikatan antara dirinya dengan rumah yang akan dia tempati nanti.


" Mas, kita pulang sekarang saja, yuk!" Setelah sholat Ashar, Kayra mengajak suaminya itu untuk pulang saat ini juga, karena dia tidak sabar ingin segera berkunjung ke rumah lama orang tua Erlangga.

__ADS_1


" Pulang sekarang?" Erlangga melirik ke arlojinya yang menunjukkan pukul 15.30.


" Tunggu setengah jam lagi, Kayra. Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan," Erlangga meminta istrinya itu menunggu beberapa menit lagi untuk pulang.


" Mas bawa pulang saja pekerjaannya, nanti aku bantu mengerjakannya, Mas." Kayra memaksa Erlangga untuk tetap pulang saat ini juga.


" Setengah jam lagi, kamu berbincanglah dengan Gita dulu, nanti kalau sudah selesai kita akan pulang." Erlangga membelai kepala Kayra dengan penuh rasa sayang.


Akhirnya dengan wajah memberengut, Kayra berjalan meninggalkan ruangan suaminya.


" Kenapa, Bu? Kok Ibu cemberut seperti itu?" Melihat wajah Kayra yang ditekuk saat keluar dari ruangan kerja Erlangga, membuat Gita bertanya heran.


" Mbak, seharusnya keinginan Ibu hamil itu harus dituruti, kan?" Kayra meminta jawaban Gita.


" Mitosnya memang begitu, Bu. Memangnya kenapa? Apa Ibu mengidam sesuatu yang tidak mau dituruti oleh Pak bos?" tanya Gita penasaran, karena sepengetahuannya Erlangga akan menuruti apa saja yang diminta oleh Kayra jika berhubungan dengan kata 'ngidam'.


* Saya cuma minta pulang sekarang, tapi Mas Erlangga tidak mau, suami saya itu malah suruh saya tunggu sampai jam empat." Kayra melipat tangan di dadanya.


" Mungkin Pak bos masih sibuk, Bu." Gita menjelaskan agar Kayra mau mengerti.


" Tapi saya 'kan tidak setiap hari minta pulang cepat, Mbak Gita. Apa salahnya hari ini mengikuti keinginan saya?!" Kayra seakan melampiaskan kekesalannya kepada Gita.


" Ya sudah, Ibu sabar saja, jam empat sebentar lagi kok, Bu." Gita menyuruh Kayra untuk bersabar menunggu waktu pulang yang diminta suaminya.


***


Mobil yang dikendarai oleh Koko memasuki gerbang rumah yang dijaga oleh dua orang security. Karena rumah itu akan dipakai oleh Erlangga dan Kayra juga Ibu Sari, Erlangga meminta Bondan menambah beberapa personel yang akan menjaga rumah itu.


" Sayang kamu turunlah lebih dahulu, aku ingin bicara dengan Pak Koko." Erlangga membuka pintu dekat kursi Kayra duduk.


" Apa Mas ingin membicarakan hal rahasia sehingga aku tidak boleh mendegar?" Karena suaminya meminta dirinya turun terlebih dahulu, Kayra beranggapan jika ada hal yang bersifat rahasia yang tidak boleh diketahui oleh dirinya.


" Apa Pak Bondan sudah menambah orang yang akan menjaga rumah ini, Pak Koko?" tanya Erlangga setelah Kayra turun dari mobil.


" Sudah, Tuan. Semua orang yang bertugas di rumah ini ada sepuluh orang termasuk dua ART di rumah ini dan juga tiga ART dari rumah lama,, dua security yang berjaga di pintu gerbang juga saya. Dua orang lainnya akan bertempat di rumah seberang untuk memantau orang-orang mencurigakan yang lalu lalang di depan rumah ini. " Koko menjelaskan siapa-siapa saja yang bekerja di rumah ini.


" Untuk security juga sudah kami pilihan orang-orang yang mempunyai kemahiran ilmu bela diri, Tuan. Sedangkan dua orang yang bertugas di rumah seberang, mereka semua anak buah Pak Bondan." lanjut Koko, sudah dapat dipastikan jika anak buah Bondan pasti memiliki kemampuan bela diri


" Oke."


" Untuk orang yang mengawal Tuan dan Nyonya selain saya juga ada satu orang yang mengendarai motor yang akan mengawal kita dari jarak lima puluh meter." Koko kembali menjelaskan.


" Oke, aku harap kalian semua bekerja dengan baik, karena musuh kita bukan tidak mungkin akan berbuat nekat," pesan Erlangga kemudian turun dari mobil menyusul Kayra yang sudah turun lebih dahulu.


" Kenapa kamu malah duduk di sini?" tanya Erlangga yang melihat istrinya duduk di kursi yang ada di teras rumah.


" Aku menunggu Mas, tidak enak masuk ke dalam rumah sendiri." Dengan memberengut Kayra mengatakan alasannya masih berada di teras.


Erlangga tersenyum lalu mengulurkan tangannya meminta istrinya itu bangkit, lalu dia merangkulkan tangannya di pundak sang istri dan berjalan masuk ke dalam bangunan bagian dalam rumah milik orang tuanya itu.


" Assalamualikum ..." Kayra dan Erlangga mengucapkan salam saat masuk ke dalam rumah.


" Waalaikumsalam, Den." sahut Bi Jumi yang menyambut Erlangga dan juga Kayra.


" Bagaimana, Bi? Apa bagian yang renovasi sudah beres?" Erlangga menanyakan beberapa bagian yang dia minta untuk direnovasi.

__ADS_1


" Sudah, Den., Hari ini tukangnya baru selesai memberikan sisa-sisa cat yang menempel di lantai, besok rencananya sebagian barang-barang yang baru akan dipasang jadi lusa bisa langsung ditempati oleh Aden." Bi Jumi menjelaskan.


" Oke, Bi." sahut Erlangga.


" Apa kamar yang akan kami tempati sudah selesai?" tanya Erlangga kemudian.


" Kalau kamar Aden sudah beres lebih dulu, Den. Beberapa furniture nya juga sudah diganti," jawab Bi Jumi kembali.


" Ya sudah, kami akan melihat bagian kamar dulu." Erlangga lalu membawa Kayra menuju kamar mereka nanti.


" Oh ya, Bi. Apa lift nya sudah bisa dipakai?" tanya Erlangga menoleh ke arah. lift yang akan mengakses ke lantai atas.


" Sudah, Den." sahut Bi Jumi.


" Kita coba liftnya, Sayang." Erlangga membelokkan langkahnya, yang awalnya ingin berjalan ke anak tangga berganti ke arah lift untuk membawa mereka ke lantai atas.


" Apa kamu suka dengan ruangan kamar ini, Kayra?" tanya Erlangga saat Kayra sedang mengamati beberapa furniture yang terlihat lebih modern daripada yang sebelumnya.


" Aku suka, Mas. Yang kemarin suka, yang sekarang pun suka." Sepertinya Kayra memang sudah benar-benar jatuh cinta dengan rumah yang akan ditempatinya itu.


" Kamu benar-benar suka rumah ini, Kayra?" tanya Erlangga mendekat ke arah sang istri lalu melingkarkan tangannya di pinggang wanita cantik itu.


" Tempat ini sangat nyaman dan sangat tenang. Jauh dari kebisingan juga, kenapa Papa memutuskan pindah dari rumah ini, Mas?" tanya Kayra.


" Itu karena permintaan Mamaku." Ada hembusan nafas berat yang terdengar di telinga Kayra. Kayra teringat ucapan Erlangga yang mengatakan jika Helen tidak pernah mau kembali ke rumah ini.


" Apa ada sesuatu yang terjadi di rumah ini hingga Mama tidak ingin datang ke rumah ini lagi, Mas?" Kayra merasa penasaran karena dia merasa ada suatu rahasia yang tidak dia ketahui.


Erlangga menatap Kayra beberapa saat, lalu berucap, " Mama ingin mengubur kenangan masa lalunya di rumah ini," sahutnya kemudian.


" Mengubur kenangan masa lalu?" Kening Kayra berkerut tidak mengerti.


" Iya, kenangan atas anak bungsu Mama, adikku," sahut Erlangga lirih.


" Adik Mas? Mas punya adik? Di mana dia sekarang, Mas? Adik Mas perempuan atau laki-laki?" Kayra begitu antusias menanyakan soal adik Erlangga, karena selama ini dia tidak pernah tahu jika suaminya itu punya saudara. Dan dia mengira jika Erlangga adalah anak semata wayang keluarga Mahadika Gautama.


Erlangga menundukkan kepalanya. " Dia sudah meninggal saat masih bayi," Suara Erlangga terdengar tercekat di tenggorokan.


" Innalillahi wainnaillaihi rojiun ..." Kayra terkesiap mendengar kisah sedih dari suaminya itu. " Aku minta maaf, Mas. Aku tidak tahu soal itu, maaf kalau aku sudah mengingatkan kembali soal adik Mas," sesal Kayra karena sudah menguak kisah sedih keluarga Erlangga.


" Adikku ini perempuan, dia meninggal sebulan setelah lahir, jika dia masih hidup dia seusiamu, bahkan tanggal, bulan dan tahun lahir kalian sama," ujar Erlangga menceritakan tentang adik wanitanya.


" Ya Allah ..." Kayra langsung memeluk suaminya, dia ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Erlangga. Dia menduga, mungkin karena tanggal lahir dia dan adik dari Erlangga itu sama, sehingga membuat sikap Erlangga begitu perhatian terhadapnya selain pengakuan Erlangga yang mengatakan sudah mengaguminya sejak pertama melihatnya.


" Aku turut berduka atas semua yang terjadi dengan adik perempuan Mas," ucap Kayra kemudian, dia benar-benar tidak menyangka soal adik dari suaminya itu.


" Aku minta maaf karena aku sudah membuka kembali kisah sedih keluarga Mas." Kayra bahkan terisak karena dia merasa menyesal.


" Sudahlah, jangan menangis. Itu bukan salah kamu, Sayang. Kamu berhak tahu soal masalah yang terjadi dengan keluarga aku." Erlangga mengusap kepala Kayra meminta Kayra tidak menyalahkan diri sendiri.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading ❤️


__ADS_2