MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Berhentilah Ikut Campur Masalah Pribadi Saya!


__ADS_3

Erlangga segera menghubungi Wira melalui pesawat telepon di mejanya, saat dia mengetahui jika Wira lah penyebab Kayra bersikap aneh. Erlangga ingin secepatnya mendapat penjelasan dari executive assistant nya tentang hal apa yang dikatakan Wira kepada Kayra.


" Pak Wira, segera ke ruangan saya!" Setelah mengucapkan kalimat perintah, Erlangga langsung menutup sambungan teleponnya.


Tak sampai lima menit, Wira sudah sampai di ruangan Erlangga.


" Apa apa, Pak Erlangga?" Wira tidak menyadari jika Erlangga memanggilnya karena ingin membicarakan soal Kayra.


" Apa yang Pak Wira katakan kepada Kayra tadi?" Terlontar pertanyaan Erlangga bernada menyelidik.


Wira mengerutkan keningnya, dia lupa dia berhadapan dengan siapa. Dia yakin bukan Kayra yang mengadukan hal itu kepada Erlangga. Wira lalu melirik ke arah layar monitor di samping meja kerja Erlangga yang tersambung ke cctv di depan ruangan kerja bosnya itu.


" Saya hanya mengatakan kalau Kayra harus menjaga sikapnya dan mengingat posisi dia sebagai sekretaris Anda, Pak Erlangga." Dengan bahasa yang lugas Wira menjawab pertanyaan Erlangga.


" Memangnya apa yang salah dengan Kayra? Dia itu tahu posisi dia sebagai sekretaris saya." Erlangga masih tidak memahami kata-kata yang diucapkan oleh Wira.


" Sekretaris yang hanya bekerja di kantor bukan menemani Anda berpergian malam hari di luar jam kantor tepatnya, Pak." Sindiran halus dilontarkan Wira kepada bosnya itu.


Erlangga terkesiap mendengar sindiran Wira terhadapnya. Dia akhirnya paham apa yang dimaksud dengan kata-kata Wira tadi.


" Pak Wira, Anda mesti tahu, jika tidak terjadi sesuatu di antara saya dan Kayra. Apapun yang diceritakan Emma kepada Anda, tidak terjadi hubungan terlarang antara saya dengan Kayra!" Erlangga yang mencurigai Emma yang menembuskan soal kedatangan dirinya semalam dengan Kayra langsung menegaskan jika tidak terjalin hubungan spesial antara dirinya dengan Kayra.


" Syukurlah jika tidak ada hubungan spesial di antara Pak Erlangga dan Kayra. Saya hanya tidak ingin reputasi Anda sebagai CEO di perusahaan ternama ini tercoreng jika Anda mempunyai affair dengan sekretaris Anda, Pak Erlangga. Dan saya juga menyayangkan karir Kayra jika dia sampai menjadi bahan perbincangan karyawan di sini jika mereka tahu apa yang dilakukan bos mereka dengan sekretarisnya." Wira berusaha mengingatkan beberapa kemungkinan buruk jika sampai hal yang dia takutkan benar-benar terjadi.


" Saya pastikan itu tidak akan terjadi, Pak Wira." Erlangga menepis dengan tegas anggapan Wira tentang adanya affair antara dirinya dengan Kayra.


" Dan Anda tahu sendiri jika saya ini sudah mempunyai istri." Kembali Erlangga menangkis jika dirinya tidak mungkin mempunyai hubungan spesial di luar hubungan bos dan sekretarisnya karena dia sudah mempunyai istri.


" Tapi nyatanya rumah tangga Anda dengan Ibu Caroline tidak berjalan harmonis sekarang ini, kan? Itu yang saya takutkan akan membuat Anda terlibat affair dengan wanita lain, Pak Erlangga." Wira menyebutkan alasan kekhawatirannya kepada Erlangga.


" Berhentilah mengurusi dan ikut campur dengan masalah pribadi saya, Pak Wira! Dan jangan berasumsi yang tidak-tidak terhadap saya ataupun Kayra! Anda tahu? Apa yang Anda katakan kepada Kayra membuat konsentrasi dia terhadap pekerjaannya terganggu!" Erlangga tentu saja menyalahkan perbuatan Wira yang membuat Kayra melamun.


" Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud seperti itu." Wira segera meminta maaf. Apapun yang dijelaskan olehnya tidak akan ditanggapi baik oleh bosnya itu.


" Kembalilah ke tempat Anda, dan jangan sekali lagi mengusik Kayra dengan segala tuduhan-tuduhan Anda yang tidak masuk akal!" Dengan kalimat yang sangat ketus, Erlangga menyuruh dan memperingatinya Wira agar tidak lagi mengganggu Kayra hingga membuat Kayra hilang konsentrasi seperti sekarang ini.


" Baik, Pak. Permisi ..." Wira berjalan ke luar dari ruang kerja Erlangga.

__ADS_1


" Kayra, masuk ke ruangan saya sekarang!" Setelah Wira keluar dari ruangannya, Erlangga kini meminta sekretarisnya itu untuk masuk ke dalam ruang kerjanya.


" Ada apa, Pak?" tanya Kayra setelah sampai di ruangan Erlangga.


" Saya minta, apapun yang dikatakan oleh Pak Wira, jangan sampai kamu masukan ke dalam hati. Saya tidak bermaksud apa-apa terhadap kamu. Jadi kamu jangan mengkhawatirkan apa yang disampaikan Pak Wira kepada kamu tadi."


Kayra membulatkan bola matanya saat Erlangga mengatakan agar dirinya tidak memikirkan soal perkataan Wira. Apa bosnya itu mengetahui pembicaraan dirinya dengan asisten bosnya tadi? Itulah pertanyaan yang muncul di benak Kayra.


" Kamu bekerja saja dengan baik, saya tidak bermaksud apa-apa dengan mengajak kamu pergi semalam. Apapun yang dituduhkan Pak Wira terhadap sikap saya terhadap kamu, semua itu tidak benar, Kayra." Erlangga mencoba meyakinkan Kayra agar Kayra merasa tenang. " Kamu mengerti apa yang saya maksud?" tanyanya kemudian.


" I-iya, Pak." sahut Kayra.


" Ya sudah, kamu boleh kembali ke tempatmu." Erlangga mempersilahkan Kayra untuk kembali ke meja kerjanya.


" Baik, Pak. Ini berkas dari Pak Wira yang sudah saya revisi, tinggal Bapak tanda tangani dan paraf saja." Kayra yang sudah menyelesaikan. berkas yang sudah dia revisi memberikan berkas ini kepada Erlangga.


" Taruh saja dulu, nanti saya tanda tangani."


" Baik, Pak. Permisi ..." Setelah berpamitan, Kayra pun langsung meninggalkan ruangan kerja Erlangga.


***.


Setelah menunggu seperempat jam, akhirnya Kayra memberanikan diri masuk ke dalam ruangan Erlangga setelah mengetuk pintunya terlebih dahulu. Namun Kayra tidak menemukan Erlangga di meja kerjanya membuat dia membuka lebih lebar pintu ruangan Erlangga karena dia ingin meminta ijin bosnya itu untuk sholat dan makan siang.


Mata Kayra membulat saat dia melihat ternyata Erlangga sedang berbaring di sofa. Sepertinya pria itu sedang tertidur, membuat Kayra mengurungkan niatnya meminta ijin kepada bosnya itu. Kayra pun segera keluar dan menutup kembali pintu ruangan Erlangga.


" Pantas saja tidak keluar-keluar, ternyata sedang tidur," gumam Kayra.


" Apa aku sholat sama makan saja dulu, ya? Mumpung bos sedang tidur?" Kayra berpikir sejenak sebelum akhirnya dia memutuskan untuk menjalankan kewajiban sholat Dzuhur terlebih dahulu sebelum menyantap makan siang.


Setelah sholat Dzuhur, Kayra melangkah ke arah ruangan makan untuk menyantap bekal yang dia bawa dari rumah.


" Tumben makannya siang sekali, Mbak?" tanya Bu Nina karena waktu sudah menunjukkan jam setengah dua siang.


" Iya, Bu. Tadi sedang tanggung menyelesaikan pekerjaan." Kayra beralasan.


Kayra hanya mengambil nasi dan lauknya sedikit dari bekal yang dia bawa, karena dia takut Erlangga terbangun dan mencarinya. Dia pikir setelah jam pulang dia bisa melanjutkan menghabiskan bekalnya itu. Saat ini yang terpenting dia sudah mengisi perutnya lebih dulu walau hanya beberapa suap saja.

__ADS_1


Tak lebih dari lima menit Kayra menghabiskan makan siangnya.


" Sudah makannya, Mbak? Cepat sekali?" Bu Nina terheran melihat Kayra yang sudah menyelesaikan makanannya.


" Iya, Bu. Saya takut bos mencari, soalnya tadi belum sempat ijin mau makan." Kayra terkekeh kemudian keluar meninggalkan ruangan makan.


Kayra kembali ke meja kerjanya namun matanya menoleh ke arah ruangan Erlangga. Dia tidak tahu apakah bosnya itu sudah bangun atau masih tertidur.


" Pak Erlangga sudah makan siang belum, ya? Kalau masih tidur, berarti belum makan siang. Sebaiknya aku bangunkan saja Pak Erlangga." Kayra kemudian melangkahkan kakinya ke ruangan Erlangga.


Tok tok tok


Kayra membuka pintu ruangan Erlangga. Dan Erlangga belum kembali ke mejanya, membuat Kayra menolehkan matanya ke arah sofa, ternyata Erlangga masih tertidur di sana.


Kayra kemudian berjalan mendekati Erlangga karena dia berniat membangunkan bosnya itu untuk makan siang.


" Pak, bangun ... apa Bapak sudah makan siang?" Kayra membangunkan Erlangga dengan menepuk lengan pria itu yang sedang berlipat di dadanya. Namu saat tangan Kayra menyentuh lengan Erlangga, dia merasakan hawa panas di tubuh bosnya itu.


Sontak Kayra mendekatkan punggung tangannya ke kening Erlamgga, di sana semakin jelas hawa panas itu dia rasakan santai bersentuhan dengan kulit kening Erlangga.


" Astaghfirullahal adzim ... Bapak sakit?"


Suara Kayra yang sedikit memekik membuat Erlangga terbangun dari tidurnya.


" Kayra?" Erlangga pun kaget melihat Kayra di dekatnya. Dia hendak bangkit namun kepalanya terasa berat untuk diangkat.


" Oh, maaf kalau saya mengganggu tidur Bapak. Badan Bapak panas, Bapak sakit. Saya panggilkan dokter dulu ya, Pak." Kayra bangkit untuk memanggil dokter perusahaan.


" Tidak usah, Kay!" Erlangga justru melarang Kayra memanggil dokter perusahaan bahkan saat ini Erlangga memegang tangan Kayra menghalangi Kayra yang ingin menjauh darinya .


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2