
Kayra turun dari mobil dan berlari memasuki bangunan rumah tinggalnya saat melihat mobil Erlangga sudah terparkir di bagasi rumah itu yang menandakan suaminya itu sudah datang lebih dahulu darinya.
Saat Kayra membuka pintu, dia melihat Erlangga sedang duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya. Dan Erlangga langsung menaruh laptop itu ke atas meja kemudian berjalan mendekat dengan melipat tangan di dadanya.
" Jangan dibiasakan suami sudah pulang, istri masih berkeliaran di luar." Jari tangan Erlangga menyentil cuping telinga Kayra dengan sentilan tanpa tenaga, persis layaknya seorang ayah yang mendapati anaknya telah pulang dari sekolah.
Kayra terkesiap mendapati sikap Erlangga tadi. " Saya membeli ini, Pak. Saya pulang telat bukan karena ingin berkeliaran di luar." Kayra membantah tudingan Erlangga terhadapnya. Dia tidak ingin disamakan dengan Caroline yang sering tidak ada di rumah saat Erlangga pulang dari kantor.
" Memangnya apa saja yang kamu beli? Dapat jatah bulanan dari suami langsung pergi shopping?" Tanpa berpikir ucapannya membuat Kayra tersinggung Erlangga sengaja menyindir istrinya.
Ucapan Erlangga membuat bibir Kayra mengerucut karena suaminya itu menganggap jika dirinya telah berfoya-foya dengan uang jatah bulanan yang telah diberi oleh Erlangga.
" Saya tidak berfoya-foya dengan uang Bapak!" tangkis Kayra, " Semua yang saya beli ini keperluan untuk Bapak, kok!" lanjutnya kemudian menaruh paper bag di atas sofa.
" Apa saja yang kamu beli?" Kembali Erlangga mengulang pertanyaannya.
Kayra akhirnya mengeluarkan isi dari paper bag yang tadi dia beli di toko yang menjual perlengkapan umat muslim untuk beribadah dan menunjukkan kepada Erlangga.
" Bapak bilang sama saya jika Bapak ingin mengerjakan ibadah lima waktu? Bukankah Bapak belum mempunyai ini?" Kayra mengeluarkan satu persatu barang yang dia beli.
Erlangga tersenyum melihat perhatian Kayra terhadapnya, dia sama sekali tidak menyesal menikahi wanita itu.
" Berapa yang kamu habiskan untuk membeli ini semua? Nanti saya ganti uangnya." Erlangga mengambil peci lalu menaruh di atas kepalanya.
" Tidak usah, Pak. Saya sudah pakai uang Bapak yang Bapak kasih buat saya." Kayra menolak Erlangga mengganti uang yang dikeluarkan untuk membeli perlengkapan alat sholat Erlangga, karena uang yang diberikan Erlangga tadi sudah terlalu banyak nilainya.
" Tapi uang itu saya beri untuk kebutuhan bulanan kamu sehari-hari, Kayra." Erlangga menjelaskan tentang uang yang dia transfer adalah hak untuk Kayra, sedangkan barang yang dibeli Kayra adakah keperluan untuk dirinya.
" Uang yang Bapak beri sudah sangat berlebihan untuk saya. Mungkin jika Bapak hanya memberi uang jatah bulanan sebesar tiga juta perbulan, itu bisa saya terima dengan wajar," ujar Kayra.
" Tiga juta? Hei, kamu meremehkan saya ini sebagai CEO?" protes Erlangga karena Kayra menawar jatah bulanan yang diberikan olehnya. Mungkin jika wanita lain akan menuntut jumlah yang lebih besar, Kayra justru meminta jumlah yang jauh lebih kecil dari yang dia beri.
" Saya mau mandi dulu, Pak." Tidak ingin terus membahas soal uang jatah bulanan yang diberikan suaminya, Kayra berpamitan dan berjalan ke arah kamar mandi karena sebentar lagi sudah memasuki waktu sholat Maghrib.
***
" Tiga puluh juta? Masya Allah, kamu serius suami kamu memberi jatah bulanan sebesar itu, Nak?" Tidak beda jauh dengan dirinya, Ibu Sari pun sama-sama syok saat diberitahu Kayra nominal yang diberikan Erlangga terhadap putrinya saat Kayra menemui Ibunya sebelum waktu makan malam.
" Iya, Bu. Kayra sudah protes tapi Pak Erlangga menganggap nominal itu sangat wajar bahkan beliau bilang kalau jatah yang diberikan kepada Ibu Caroline lebih dari yang diberikan untuk Kayra." Kayra menerangkan kepada Ibunya.
" Ya Allah, itu jumlah besar sekali lho, Kayra." Ibu Sari menggelengkan kepada masih takjub dengan jumlah uang jatah bulanan anaknya dari Erlangga.
" Setara gaji Kayra lima bulan bekerja, Bu."
" Kaya raya sekali suami kamu itu, Nak. Tapi kenapa istrinya tidak bersyukur sampai melalaikan kewajibannya sebagai seorang istri, ya? Kalau Ibu jadi Nyonya Caroline, Ibu akan diam di rumah dan melayani suami sebaik mungkin." Ibu Sari lalu menoleh ke arah Kayra.
" Apa pelayanan suami kamu itu memuaskan, Kayra?"
Seketika bola mata Kayra membulat mendengar pertanyaan Ibunya yang bersifat privacy itu.
" Kenapa Ibu tanya itu?" tanya Kayra malu-malu dengan wajah bersemu.
" Bisa saja karena pelayanan suami kurang memuaskan hingga istri tidak betah di rumah, apalagi dunia yang digeluti istri dari Nak Erlangga itu sangat rentan dengan adanya perselingkuhan." Ibu Sari menjelaskan akan beberapa kemungkinan yang bisa saja terjadi dalam rumah tangga Erlangga dan Caroline.
" Ibu jangan bicara seperti itu! Ibu Caroline hanya ingin mengejar impiannya, tidak ada sangkut pautnya dengan pelayanan Pak Erlangga yang kurang memuaskan.." Kayra menampik anggapan Mamanya yang menduga Caroline kurang puas dengan pelayanan dari Erlangga, karena dia sendiri tahu bagaimana has rat bira hi seorang Erlangga, yang sering membuat dirinya kewalahan meladeni suaminya itu.
Ibu tersenyum menggoda mendengar Kayra tampak seperti membela sang suami.
" Apa karena kamu sudah merasakan sendiri jadi kamu menyanggah omongan ibu tadi, Kayra?" Ibu Sari mencoba menggoda putrinya itu.
" Ah, Ibu ..." Rona merah di wajah Kayra langsung terlihat jelas.
" Bagaimana? Benarkah dugaan Ibu?" Ibu Sari masih terus menggoda anaknya.
" Iya, Bu. Kayra suka kewalahan menghadapi Pak Erlangga, apalagi saat di kantor." Akhirnya Kayra menceritakan apa yang terjadi di kantor siang tadi. Dari kejadian di ruang rapat, sampai aktivitas suami istri yang mereka lakukan di rungan Erlangga siang tadi.
" Astaghfirullahal adzim ... kamu hati-hati kalau melakukannya di kantor, Nak. Bagaimana jika nanti ada yang melihat? Itu bisa bahaya, Kayra." Mendengar apa yang dilakukan putri dan juga menantunya, Ibu Sari terlihat kaget bercampur was-was. Dia tentu tidak ingin anaknya mendapat masalah jika sampai ketahuan hubungannya dengan Erlangga.
__ADS_1
" Iya, Bu. Kayra juga takut, tapi Pak Erlangga selalu saja memaksa kalau sedang ingin." Kayra menjelaskan bagaimana sikap suaminya itu.
" Lalu kamu mandi wajib tidak setelah melakukan itu?" Ibu Sari menanyakan hal tersebut, karena jika Kayra tidak mandi wajib, Kayra tidak bisa menjalankan ibadah sholatnya dengan sah.
" Pasti Kayra mandi, Bu. Kalau tidak, sholat Dzuhur dan Ashar Kayra tidak sah."
" Ya sudah, kamu harus lebih hati-hati kalau di kantor. Dan uang yang suami kamu beri sebaiknya kamu simpan saja baik-baik, siapa tahu suatu saat kamu butuhkan untuk keperluan kamu jika kamu sampai punya anak dari Pak Erlangga." Ibu Sari menasehati agar Kayra berhemat dan tidak menghamburkan uangnya untuk hal yang tidak penting.
" Iya, Bu." Kayra reflek mengusap perutnya karena dia teringat keinginan Erlangga yang mengharapkan mempunyai keturunan darinya.
" Oh ya, Bu. Kayra dapat undangan dari teman SMA Kayra yang namanya Laila, dia akan menikah akhir Minggu ini, dan menggundang Kayra. Kayra ingin datang ke sana tapi takut Pak Erlangga melarang." Kayra memang belum menyampaikan perihal undangan dari teman SMA nya kepada Erlangga, karena dia takut Erlangga akan melarang dirinya pergi ke Bandung.
" Apa kamu sudah bicarakan hal ini kepada suami kamu?" tanya Ibu Sari.
" Belum, Bu."
" Coba kamu bicarakan dengan suamimu, kalau bicara baik-baik siapa tahu Nak Erlangga kasih ijin." Ibu Sari menyarankan Kayra untuk berbicara kepada Erlangga.
" Ya sudah nanti Kayra bicarakan hal ini dengan Pak Erlangga, Bu." ujar Kayra kemudian.
***
Kayra memperhatikan Erlangga yang masih serius dengan laptop di pangkuannya sementara saat ini sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Dia ingin meminta ijin kepada Erlangga soal undangan pernikahan Laila temannya. Kayra kemudian melangkah mendekat dan duduk di dekat Erlangga.
" Pak, saya mau minta ijin ke Bandung akhir Minggu ini karena ada teman saya yang menikah." Akhirnya Kayra memberitahukan kepada Erlangga soal rencananya itu.
Erlangga menoleh ke arah Kayra saat mendengar ucapan istrinya.
" Kapan acara pernikannya?" Erlangga langsung merespon.
" Hari Minggu, Pak." sahut Kayra. " Dia sahabat baik saya saat SMA," lanjutnya menjelaskan.
" Baiklah, nanti saya antar kamu pergi ke sana." Erlangga kembali memusatkan pandangannya ke arah laptop.
" Bapak mau mengantar saya? Tapi bagaimana kalau ada orang yang tahu jika Bapak pergi ke sana bersama saya?" Kayra sebenarnya tidak ingin diikuti Erlangga selama di Bandung. Dia pasti tidak akan bebas berada di sana.
" Tidak, Pak. Acaranya di rumah saja," sahut Kayra.
" Kalau hanya di rumah, tidak mungkin ada yang mengenali saya." Erlangga yakin jika tidak akan ada orang yang mengenali dirinya di sana.
" Tapi, Pak ...."
" Kalau kamu tidak ingin saya antar, saya tidak akan kasih ijin kamu datang ke sana." Ancaman langsung ditebarkan oleh Erlangga jika istrinya itu tidak mau menuruti kata-katanya.
Kayra hanya mampu menarik nafas dengan kecewa. Sudah dibayangkan jika dirinya tidak akan bisa bebas jika harus bersama Erlangga, namun dia tidak bisa membantah daripada dia tidak bisa datang ke Bandung.
***
" Kamu dengar tidak kalau Pak Rivaldi dipecat dari perusahaan ini?"
Kayra mempertajam pendengarannya ketika orang-orang yang berada di depannya di dalam lift bergunjing membicarakan soal Rivaldi.
" Hahh?? Serius??" tanya suara lain dengan nada terkejut.
" Iya, aku dengar dari orang HRD katanya seperti itu."
" Pantas beberapa hari ini tidak pernah melihat Pak Rivaldi. Kira-kira dipecat karena masalah apa, ya? Padahal Pak Rivaldi kelihatannya baik-baik saja."
" Itu juga yang bikin aku bingung. Eh, apa jangan-jangan ada pengaruh dari Pak Wira, ya?"
" Memangnya kenapa dengan Pak Wira?"
" Memang kamu tidak mendengar kabar yang beredar seputar Pak Wira?"
Kayra yang sedari tadi tidak bereaksi mulai terusik saat orang-orang di hadapannya itu menyinggung soal Wira.
" Aku kudet, nih! Memangnya kenapa, sih?"
__ADS_1
" Ehemm ..." Kayra berdehem keras membuat orang-orang yang tidak menyadari keberadaannya di belakang mereka menolehkan pandangan ke arah dirinya. Dan mereka semua terbelalak lebar begitu melihat keberadaannya di lift tersebut.
" Eh, Mbak Kayra." Orang yang mengawali bergosip tersenyum kikuk kepada Kayra.
" Sebaiknya jangan bergosip apalagi hal yang digosipkan itu tidak benar terjadi, Mbak. Pak Wira itu sudah punya keluarga, kenapa kalian tega menggosipkan hal yang tidak-tidak seperti ini?" Kayra memberanikan diri menegur orang bergosip karena dia tahu ujung-ujungnya mereka akan menyebut namanya.
Ting
Beberapa karyawan keluar dari lift termasuk salah seorang yang ikut bergosip tadi.
" Maaf, Mbak. Saya juga dengar kata orang," jawab wanita yang bergosip tadi.
" Apalagi cuma dengar kata orang, Mbak. Hari-hati, Mbak. Beberapa hari lalu Pak Erlangga memecat security karena ketahuan sedang bergosip. Apa Mbak juga mau kehilangan pekerjaan jika ketahuan Pak Erlangga sedang menggunjingkan tentang asistennya?" Kayra memperingatkan orang yang memulai bergunjing tadi dengan sedikit ancaman.
" Iya, Mbak. Maaf." Orang itu tak lama bergegas ke luar dari lift saat sampai di lantai yang dia tuju hingga saat ini hanya Kayra sendirian yang berada di dalam lift itu.
Kayra menyandarkan tubuhnya di lift seraya menghela nafas panjang, dia tidak bisa membayangkan jika orang-orang tadi mengetahui jika sebenarnya dirinya bukan selingkuhan Wira namun dia adalah istri simpanan Erlangga.
Kayra mengusap wajahnya dan ke luar dari lift saat lift itu berhenti di lantai tempat kerjanya.
***
" Bagaimana, Zal? Sudah mendapatkan info seputar orang yang ada di belakang Jimmy?" Siang ini Bondan sengaja menemui Rizal karena Rizal menghubunginya dan meminta Bondan datang ke tempatnya. Dan kini mereka pun sedang berada di sebuah cafe.
" Iya, kami sudah mendapatkan info tentang bos dari Jimmy, masalah apakah orang itu ada sangkut pautnya dengan perintah membuntuti bosmu, sepertinya kau akan bisa menafsirkan sendiri, Dan. Karena orang itu ternyata bekerja di perusahaan Mahadika Gautama." Rizal menjelaskan hasil penyelidiknnya yang dilakukan oleh anak buahnya.
Bondan menyipitkan matanya mendengar fakta yang diungkap oleh Rizal. " Bekerja di perusahaan Mahadika Gautama? Di perusahaan yang dipegang Tuan Erlangga atau perusahaan Tuan Krisna, Zal?" tanyanya penasaran.
" Aku sudah menjelaskan jika orang itu mempunyai usaha yang bergerak di bidang yang sama dengan bosmu, Dan. Jadi kau tahu sendiri di perusahaan yang mana orang itu menyusup, kan?"
" Di kantor Tuan Erlangga?"
Rizal menganggukkan kepala mengiyakan ucapan Bondan.
" Siapa orang itu, Zal? Apa kau sudah mendapat siapa orang itu?" Bondan semakin penasaran karena ternyata ada yang sengaja memata-matai kantor Mahdika Gautama, dan tujuannya tidak lain adalah mencari informasi tentang rahasia kesuksesan perusahaan milik bos nya itu selanjutnya merebut semua kolega Mahadika Gautama.
" Orang itu bernama Rivaldi Nugraha anak dari pemilik PT. Jaya Raya Garment, sebuah perusahan garmen besar di Bandung."
" Rivaldi Nugraha?" Bondan tersentak kaget mendengar nama yang disebut oleh Rizal sebagai pemilik perusahaan yang menjadi pesaing baru Erlangga.
" Kau pernah dengar nama itu?" tanya Rizal karena Bondan benar-benar terkejut luar biasa mengetahui tentang Rivaldi.
" Tentu saja, belakang ini orang itu dipecat oleh Tuan Erlangga."
" Apa bosmu sudah mengetahui. jika Rivaldi adalah mata-mata di perusahaannya?"
" Tidak, bukan karena itu!" tepis Bondan, namun dia tidak mungkin menceritakan kepada Rizal jika alasan pemecatan Rivaldi karena pria itu menyukai Kayra.
***
Kayra menekan tombol delapan di lift karena di ingin menyuruh Ibu Nina menyiapkan peralatan makan untuk Erlangga karena saat ini masuk jam makan siang. Namun tiba-tiba pintu lift khusus petinggi perusahaan yang berada di sebelah lift yang dia tunggu terbuka hingga terlihat Caroline keluar dari lift tersebut.
" Ibu Caroline?" Kayra terkesiap dengan kehadiran Caroline di kantor Erlangga siang ini.
" Kayra, apa suamiku ada?" tanya Caroline.
" A-ada, Bu." Kayra terlihat gugup, namun untung saja Caroline segera berlalu melangkah ke ruangan Erlangga hingga tidak menyadari sikap Kayra tadi.
" Ya, Allah ... apa yang akan terjadi di dalam?" benak Kayra seketika bertanya-tanya tentang hal yang akan terjadi di ruangan Erlangga karena kedatangan Caroline.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️