
Kayra memandangi Erlangga yang terlihat lahap dengan makanannya. Sejujurnya dia merasakan jika Erlangga sedikit berbeda hari ini. Dia tidak mendapatkan sikap arogan pria itu walaupun apa yang diucapkan oleh pria itu adalah sebuah perintah yang harus dituruti olehnya.
" Kenapa malah melamun?" Mendapati Kayra hanya tertegun tak memperhatikannya, Erlangga langsung menegur Kayra
Kayra terkesiap saat Erlangga mendapatkan dirinya sedang tercenung memperhatikan suaminya itu.
" Kenapa tidak cepat dimakan makananmu? Nanti kalau nasinya sudah dingin tidak enak rasanya" Erlangga menyuruh Kayra untuk segera menyantap makanannya.
" I-iya, Pak." Setelah membaca doa terlebih dahulu, Kayra pun mulai menyantap makanannya. Namun saat baru dua suap makanan masuk ke mulutnya, tiba-tiba dia teringat soal gosip yang beredar tentang dia dan Wira yang dia dengar tadi di kantin..
" Ya Allah, apa orang lain selain mereka yang juga membicarakan aku dengan Pak Wira, ya? Kasihan Pak Wira jika mereka sampai menggosipkannya yang tidak-tidak." Kayra membatin dengan perasaan cemas.
" Kenapa melamun lagi? Apa makanannya kurang enak?" tanya Erlangga kembali saat melihat Kayra tak mengerakkan sendok dan garpunya.
" Tidak, Pak. Hmmm, maksud saya makanannya enak." Kayra langsung memasukkan makanan ke mulutnya kembali daripada Erlangga mengetahui apa yang ada dipikirannya. Kayra tidak mau Erlangga mengetahui jika dia sempat berbincang dengan Wira di ruang kerja Asisten Erlangga itu sambil menangis.
" Ya sudah, habiskan makananmu, kalau kurang pesan lagi saja, suruh antar kemari."
" Tidak usah, Pak. Ini sudah cukup." Menghabiskan semua nasi yang ada di hadapannya saja Kayra belum yakin mampu dia lakukan, apalagi harus menambah makanan. Karena gosip tak sedap yang dia curi dengar tadi di kantin membuat selera makannya menghilang.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat Kayra terbelalak dengan wajah memucat. Dia menoleh ke arah pintu, sejurus kemudian memandang Erlangga. Apa pandangan orang yang akan masuk ke ruangan Erlangga saat melihat saat ini dia sedang makan semeja dengan bosnya? Itu yang ada di benak Kayra.
" Permisi, Pak." Ternyata Wira lah yang mengetuk pintu tadi, membuat Kayra bisa bernafas lega.
" Oh, maaf. Saya tidak tahu jika Anda sedang makan siang, Pak." Wira hendak mengurungkan niatnya masuk ke dalam ruang kerja bosnya itu saat melihat Erlangga dan Kayra sedang makan di meja yang sama.
" Masuklah, Pak Wira. Tidak apa-apa." Erlangga mempersilahkan Wira untuk masuk ke ruangannya. " Ada apa, Pak Wira?" Erlangga menyudahi makannya lalu menarik tissue untuk mengelap mulutnya.
Wira lalu menarik kursi makan dan ikut duduk di salah satu kursi meja makan bundar yang ada di ruangan Erlangga.
" Saya hanya ingin menyampaikan pesan dari Pak Krisna, jika saya akan menemani beliau ke Seoul untuk bertemu dengan calon rekanan perusahaan ini Minggu depan, Pak." Semalam saat bertemu dengan Erlangga, Wira memang tidak sempat menceritakan rencana Krisna yang akan mengajaknya pergi ke Seoul.
" Papa menyuruh Pak Wira ke Seoul? Memangnya ada apa?" Erlangga mengerutkan keningnya. Erlangga memang belum tahu soal rencana kerja sama dengan rekanan bisnis dari Korea. Karena Erlangga belum menemui Krisna kembali meskipun Papanya saat itu meminta dirinya datang ke kantor Krisna setelah kepergok dirinya tidur bersama Kayra. Rencana pernikahannya dengan Kayra membuat dirinya tidak punya waktu untuk mengurus hal lain selain soal pernikahannya.
* Benar, Pak. Pak Krisna ingin perusahaan kita berkerjasama dengan salah satu perusahaan suku cadang besar di Korea. Beberapa hari lalu Pak Krisna datang kemari ingin membicarakan hal tersebut namun gagal karena Pak Krisna bilang jika terjadi sesuatu di sini." Wira tidak menjelaskan tentang sesuatu yang terjadi, namun Erlangga dan Kayra mengerti akan maksud perkataan Wira.
Kayra menelan salivanya mengingat kejadian memalukan saat itu yang diketahui oleh Krisna. Sementara Erlangga sendiri menyadari jika dia sampai melupakan perintah Krisna untuk datang ke kantor Papanya itu.
" Ya sudah jika Papa memang sudah memutuskan seperti itu." Erlangga menyetujui keputusan Krisna yang akan mengajak Wira untuk mendampingi Papanya itu pergi ke Seoul.
***
Ddrrtt ddrrtt ddrrtt
Caroline menyampirkan handuk kecil di lehernya dan menghampiri ponselnya yang berbunyi setelah berolah raga di atas treadmill di sebuah sport club' yang mempunyai banyak pelanggan dari kalangan sosialita termasuk selebritis tanah air.
" Halo, ada apa, Wis?" tanya Caroline saat mengetahui jika Wisnu lah yang menghubunginya saat itu.
" Kamu ada di mana sekarang? Aku punya kabar untukmu, Caroline. Aku baru saja diberitahu oleh perwakilan perusahaan advertising Jerman, mereka bilang sepertinya mereka berminat mengambilmu sebagai model iklan kosmetik asal Jerman untuk dipasarkan di Asia ini." Wisnu menyampaikan berita baik untuk Caroline.
" Oh ya?" Berita baik yang didengarnya membuat wajah Caroline berbinar.
" Iya, tapi ... kalau kamu mengambil iklan ini, kemungkinan peluangmu mendapatkan iklan mobil sport akan kecil, Caroline. Karena pihak advertising akan mengambil model lain." Wisnu menyayangkan kecilnya peluang Caroline mendapatkan posisi sebagai model wanita untuk iklan model sport yang sebenarnya menjadi target utamanya, karena tidak mungkin Caroline akan menggarap dua iklan besar secara bersamaan.
" Kenapa begitu, Wis? Memangnya jika aku menerima iklan kosmetik, aku tidak boleh membintangi iklan lain? Yang akan diiklankan bukan produk yang sama, kan?" Wajah ceria Caroline berubah saat Wisnu mengatakan bagaimana peluangnya untuk membintangi produk sport yang diinginkannya itu akan menipis.
" Memang tidak ada larangan, tapi kemungkinan mereka akan memberikan kesempatan kepada model lain untuk menjadi model iklan mobil sport." Wisnu menjelaskan.
" Jadi bagaimana menurutmu? Apa aku harus ambil iklan kosmetik itu atau menolak?" Caroline bingung apakah dia harus menerima atau menolak tawaran itu.
" Iklan kosmetik itu kemungkinan besar bisa kamu bintangi, tapi untuk iklan mobil sport, kau harus bersaing dengan model lain. Kalau kamu menolak iklan kosmetik, bukan tidak mungkin kamu akan gagal mendapatkan kedua-duanya, Caroline. Dan kamu kehilangan kesempatan untuk membuatmu semakin terkenal terutama di Asia ini." Wisnu berpendapat secara realistis jika Caroline menolak membintangi iklan kosmetik dan juga gagal mendapatkan posisi sebagai model wanita di iklan mobil sport, artinya kesempatan Caroline untuk menambah prestasinya di dunia modelling akan terbuang percuma.
" Jadi kita harus terima iklan itu?" tanya Caroline.
" Aku menjadwalkan kita akan ke Munich lusa untuk membicarakan kontrak iklan kosmetik itu." Wisnu menjelaskan rencananya.
" Lusa? Kita pergi lagi, Wis?"
" Ya, karena aku masih mencoba melobi. Siapa tahu kamu masih bisa mempunyai kesempatan mendapatkan iklan mobil itu juga. Jika kita bertemu langsung ke sana, siapa tahu kesempatanmu masih terbuka, Caroline." Wisnu memang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk karir Caroline.
" Tapi bagaimana jika Erlangga melarangku? Kemarin dia sudah marah besar saat kita pergi ke Bali." Caroline tampak ragu.
" Nyatanya kamu bisa meluluhkannya, kan?" Wisnu merasa Caroline masih mempunyai penawar untuk kemarahan Erlangga.
" Iya, tapi ... aku tidak yakin jika kali ini Erlangga akan memaafkanku, Wis." Caroline pesimis jika dia akan mendapatkan ijin dari suaminya itu.
__ADS_1
" Aku rasa kau harus bisa tegas dalam hal ini, Caroline." Wisnu menyarankan agar Caroline mengambil satu keputusan yang tegas dan tidak plin plan agar tidak ada yang menentangnya dalam menggapai karirnya itu.
" Maksudmu?" Caroline tidak mengerti arti ucapan Wisnu.
" Kamu harus mengambil keputusan, mana yang akan kamu pilih? Pernikahanmu atau karirmu yang sedang menanjak?" Selalu dipusingkan dengan ijin dari Erlangga, Wisnu menyarankan jika Caroline harus memilih antara karir atau pernikahan.
" Mana mungkin aku bisa memilih antara dua pilihan itu, Wisnu! Semua itu penting untukku!" tegas Caroline.
" Penting jika suamimu itu bisa mengerti dan mendukung karirmu. Sedangkan Erlangga? Dia selalu menghalangimu untuk mencapai keinginanmu. Jika aku bisa kasih saran, kau lepaskanlah Erlangga agar kamu lebih bebas dengan karirmu, Caroline."
Caroline membelalakkan matanya mendengar saran Wisnu yang dianggapnya tidak mungkin bisa dia lakukan.
" Kau gi la, Wis! Mana mungkin aku melepas Erlangga! Dia itu suamiku, pria yang aku cintai!" Caroline menolak saran yang diberikan Wisnu kepadanya.
" Caroline, pria seperti Erlangga itu bisa di mana saja kamu dapatkan, apalagi dengan statusmu sebagai model terkenal. Aku yakin kamu bisa mendapatkan pria yang lebih mengerti kamu dibanding suami aroganmu itu. Tapi peluang kamu untuk menjadi model dunia terkenal, kau tidak mungkin mendapatkannya dua kali, Caroline." Wisnu berusaha mempengaruhi pikiran Caroline agar wanita itu bisa mengambil keputusan hingga tidak ada orang yang menghalangi mengejar karirnya sebagai seorang model papan atas.
" Lagipula, apa kamu yakin jika Erlangga itu selama ini setia padamu?" Wisnu sengaja terus menghasut Caroline.
" Apa maksudmu, Wis? Apa kamu pikir Erlangga itu selingkuh di belakangku?" Caroline terperanjat dengan tuduhan yang dilontarkan Wisnu terhadap suaminya.
" Aku bukannya menuduh, Caroline. Tapi Erlangga itu pria normal, dan seorang bos. Dia mempunyai istri yang tidak selalu mendampinginya, bukan tidak mungkin dia mempunyai wanita lain untuk memuaskannya selama kamu tidak didekatnya, kan?" tuduh Wisnu.
" Si alan kau, Wis! Kau jangan sembarangan menuduh! Erlangga itu mencintaiku! Tidak mungkin dia berani bermain dengan wanita lain!" Caroline menampik tudingan-tudingan yang disampaikan Wisnu.
" Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Caroline. Lagipula jika Erlangga memang mencintaimu, dia pasti akan mendukungmu dan tidak selalu menentang keinginanmu."
Caroline mende sah, walaupun dia sangat yakin jika suaminya itu tidak sepertinya yang dituduhkan Wisnu, namun rasa khawatir tiba-tiba saja menyelimuti hatinya. Dan pasti dia tidak akan rela membiarkan wanita lain mengambil Erlangga dari tangannya.
***
Kayra menoleh ke arah pintu ruangan kerja Erlangga yang terbuka, dia melihat Erlangga sudah menjinjing tas kerja di tangannya.
" Saya akan ke kantor Papa dulu, nanti kamu diantar pulang oleh Koko. Setelah dari kantor Papa, aku akan ke tempatmu." Erlangga memberitahu Kayra jika dia akan mengunjungi kantor Papanya karena dia ingin membicarakan soal rencana kerjasama perusahaannya dengan relasi bisnis dari Korea.
" Baik, Pak." sahut Kayra.
" Pulanglah lebih awal, jangan menunggu jam kantor selesai." ujar Erlangga selanjutnya.
" Baik, Pak." Walau mengiyakan apa yang dikatakan Erlangga tapi tidak mungkin Kayra pulang lebih awal sendirian. Akan seperti apa gunjingan orang jika tahu dia pulang sebelum jam kerja selesai. Gosip salah sasaran tentang dirinya dan Wira saja sudah membuatnya pusing apalagi jika ditambah lagi omongan karyawan jika dia pulang cepat tanpa alasan yang jelas.
" Pak Erlangga mau ke mana, Kayra?" Wira yang melihat kepergian Erlangga dari dalam ruangannya karena saat itu pintu ruangannya terbuka bertanya kepada Kayra.
" Oh ..." Wira memutar langkahnya kembali masuk ke dalam ruangannya.
" Pak ...!" Suara Kayra menghentikan langkah Wira.
" Ada apa, Kayra?" tanya Wira saat melihat Kayra berjalan mendekatinya.
Kayra merasa harus membicarakan soal gosip yang beredar. Kayra ingin minta maaf jika gosip itu membuat nama baik Wira tercoreng padahal Wira tidak melakukan apa yang dibicarakan beberapa orang di kantin tadi. Dan kepergian Erlangga dianggapnya sebagai saat yang tepat untuk berbicara dengan Wira.
" Maaf, Pak. Apa kita bisa bicara sebentar?" tanya Kayra.
" Masuklah ...!" Wira menyuruh Kayra masuk ke dalam ruangannya.
" Baik, Pak." Kayra melangkah masuk ke dalam ruangan kerja asisten dari Erlangga itu.
" Duduklah ...!" Wira mempersilahkan Kayra duduk di sofa ruang kerjanya.
" Terima kasih, Pak." Kayra lalu mendudukkan tubuhnya di sofa empuk yang berhadapan dengan meja kerja Wira.
" Ada apa? Ada masalah apa, Kayra?" Wira penasaran dengan hal yang ingin dibicarakan Kayra.
" Sebelumnya saya minta maaf jika apa yang akan saya sampaikan membuat Pak Wira tidak nyaman."
" Ada apa?" Mata Wira menyipit saat mendengar kalimat yang diucapkan oleh Kayra.
" Begini, Pak. Bagaimana saya menyampaikannya, ya?" Kayra terlihat ragu dan juga malu untuk mengatakan apa yang ingin disampaikannya terhadap Wira.
" Ada apa sebenarnya, Kayra? Kenapa kamu seperti ketakutan seperti itu? Apa ini ada hubungannya dengan pernikahan kamu dan Erlangga?" Wira sampai menebak-nebak sendiri karena Kayra tidak juga mengatakan apa yang ingin dibicarakan dengannya.
" Begini, Pak. Tadi siang saat saya ke kantin, saya mendengar beberapa karyawan membicarakan tentang saya dan Bapak." Kayra menundukkan pandangan karena merasa sangat malu dengan berita yang dia sampaikan langsung kepada Wira.
" Membicarakan saya dan kamu? Soal apa?" Wira tampak tidak mengerti mengapa dirinya dan Kayra menjadi pembicaraan beberapa karyawan di kantor itu.
" Sepertinya ada yang menyebarkan fitnah karena saya berbicara dengan Pak Wira di sini kemarin." Kayra mengutarakan kecurigaannya kepada seorang karyawan yang pernah melihatnya menangis di hadapan Wira.
" Saya minta maaf jika saya membuat Bapak menjadi bahan gosip dari beberapa karyawan di sini, Pak. Mereka menganggap jika saya adalah wanita simpanan Pak Wira." Sungguh memalukan mendengar kata wanita simpanan, tapi nyatanya dia memang seperti wanita simpanan, walaupun bukan wanita simpanan Wira tapi Erlangga.
__ADS_1
Kening Wira berkerut, wajahnya bahkan terlihat serius menanggapi berita yang didengarnya dari Kayra.
" Berani sekali mereka menyebar gosip seperti itu." geram Wira.
" Saya minta maaf, Pak. Karena masalah saya, Bapak menjadi terkena imbasnya." Kayra tetap merasa bersalah karena hal ini tidak akan terjadi jika dia tidak menjadi istri simpanan Erlangga.
" Kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu, Kayra. Kamu tidak bersalah dalam hal ini." Wira mengerti posisi Kayra saat ini. Dia juga tidak menyalahkan Kayra dalam masalah ini.
" Pak Wira, di mana suamiku?" Suara pintu dibuka dan suara Caroline dari pintu ruangan Wira membuat Kayra dan Wira terperanjat dengan kemunculan Caroline di ruangan itu.
" Ibu Caroline?"
Kayra dan Wira sama-sama bangkit dari duduknya, Kayra bahkan terlihat memucat. dia takut Caroline mendengar percakapannya tadi dengan Wira.
" Pak Erlangga sedang ke kantor Pak Krisna, Bu." Wira kemudian berjalan menghampiri Caroline.
" Oh, begitu ..." Caroline kini menatap Kayra yang langsung menunduk. Dia berganti menatap Wira. " Kalian sedang bicara apa di sini?" tanyanya curiga, karena dia merasa aneh Asisten suaminya sedang berbincang di sofa bersama sektretaris suaminya itu.
" Kami hanya membicarakan soal rencana kerjasama dengan relasi kami di Surabaya, Bu. Saya menjelaskan kepada Kayra karena kemungkinan saya berhalangan hadir mendampingi Pak Erlangga karena saya harus menemani Pak Krisna ke Korea pekan depan." Wira lebih tenang menjawab pertanyaan Caroline sehingga tidak membuat wanita itu menaruh curiga.
" Oh, oke. Hmmm, Kayra. Saya bisa bicara dengan kamu?" Caroline tiba-tiba menginginkan bicara berdua dengan Kayra.
Keringat dingin langsung terasa di telapak tangan Kayra saat Caroline berkata ingin berbicara dengannya. Apa yang akan dibicarakan Caroline dengannya? Apa Caroline mendengar saat Wira tadi menyebut soal pernikahan dia dengan Erlangga? Itulah pertanyaan yang berputar di benak Kayra yang seketika membuat hatinya menciut.
" A-ada apa ya, Bu?" tanya Kayra gugup.
" Ikutlah ke ruangan suami saya!" Caroline lalu berjalan meninggalkan ruangan Wira menuju ruangan suaminya.
Kayra menoleh ke arah Wira sebelum mengikuti langkah Caroline seakan bertanya kepada Wira, 'bagaimana ini?'.
Wira mengangguk pelan menandakan jika Kayra harus mengikuti Caroline dan meminta agar Kayra bisa bersikap tenang.
" Ada apa, Bu?" Saat sampai di ruangan Erlangga, Kayra berusaha mengontrol jantungnya yang berdetak kencang.
" Duduklah ...!" Caroline menyuruh Kayra duduk di sofa, yang segera dituruti oleh Kayra.
" Kayra, kamu sudah lama menjadi sekretaris suami saya, kan? Selama ini apa kamu pernah merasakan ada yang aneh dengan bosmu itu?" tanya Caroline sambil duduk menyilangkan kakinya.
" M-maksud Ibu?" tanya Kayra, sedangkan dalam hatinya dia merasa cemas dan beranggapan jika Caroline sedang menyelidikinya.
" Apa kamu pernah melihat suami saya dekat dengan wanita lain?"
Deg
Jantung Kayra berdetak semakin kencang mendengar pertanyaan Caroline. Telapak tangannya pun sudah terasa dingin menandakan jika dia sedang dilanda kecemasan.
" Kamu sering mendampingi suami saya jika bertemu klien, kan? Apa pernah ada wanita cantik yang pernah menjadi klien Erlangga?" Tentu saja Caroline tidak beranggapan jika Erlangga akan mencari wanita di bawah dirinya dari segi penampilan dan juga status ekonomi hingga dia tidak sampai terpikirkan jika sebenarnya wanita yang saat ini dekat dengan suaminya itu adalah sekretaris Erlangga sendiri.
" Hmmm, iya ada beberapa, Bu." sahut Kayra jujur. Dia memang beberapa kali mendampingi Erlangga saat bertemu klien wanita dari kantor Mahadika Gautama.
" Bagaimana sikap mereka terhadap suami saya? Apa ada dari mereka yang terlihat tertarik dengan suami saya? Atau suami saya tertarik dengan mereka?"
Kayra terbelalak saat mengetahui jika Caroline sedang mencurigai Erlangga. " Apa Ibu Caroline sudah mengetahui jika Pak Erlangga sudah berselingkuh di belakangnya, ya?" batin Kayra gelisah. Walaupun bukan dirinya yang dicurigai, namun Kayra harus tetap waspada jika semua fakta tentangnya sebagai istri simpanan Erlangga terbongkar.
" Saya rasa sikap mereka normal-normal saja, Bu." sahut Kayra mencoba menenangkan diri dan bersikap normal.
" Saya minta bantuan kamu untuk mengawasi suami saya, Kayra." ujar Caroline kemudian.
" Maksudnya, Bu?" Kening Kayra berkerut mendengar permintaan Caroline terhadapnya.
" Laporkan ke saya jika kamu melihat ada wanita lain yang dekat dengan Erlangga." Caroline memberikan tugas kepada Kayra untuk mengawasi kedekatan suaminya dengan wanita-wanita yang kemungkinan bisa membuat Erlangga berselingkuh darinya.
Kayra menelan salivanya mendengar tugas yang diberikan Caroline kepadanya. Bagaimana mungkin dia mengawasi Erlangga dan melaporkan kepada Caroline jika wanita yang sedang dekat dengan Erlangga adalah dirinya sendiri. Bahkan bukan hanya sekedar dekat, namun saat ini dia sudah berstatus sebagai istri Erlangga walaupun belum sah di mata hukum negara.
" Saya akan beri kamu bonus jika kamu bisa memberi info ke saya Kamu tidak usah khawatir jika Erlangga akan memecatmu kalau kamu ketahuan membocorkan rahasianya jika suami saya benar-benar berselingkuh. Saya akan memberikan pekerjaan untuk kamu sebagai pengganti pekerjaanmu di sini nantinya." Caroline berjanji akan memberikan imbalan yang pantas atas kerja yang Kayra lakukan dalam mengawasi gerak-gerik suaminya itu.
Tentu saja bulu roma Kayra seketika berdiri, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya jika Caroline tahu jika wanita yang Caroline takutkan menjadi selingkuhan Erlangga adalah dirinya. Dan saat Caroline tahu, apakah dia masih sanggup berhadapan dengan Caroline seperti saat ini.
" Ya Allah, tolonglah hambaMu ini." Hanya doa dan harapan itu yang bisa Kayra lambungkan tinggi-tinggi terhadap sang Khaliq, Allah SWT.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️