MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Devanka Affandra Mahadika ( TAMAT )


__ADS_3

" Mas, Mas, perutku kambuh lagi, deh. Ini sakit sekali ... ssshhh ..." Selepas makan siang dan saat hendak kembali ke kamar. Kayra merasakan kontraksi kembali. Namun, rasa sakit yang dirasakan kali ini berlipat-lipat dari yang dia rasakan kemarin-kemarin.


" Kamu mau melahirkan, Sayang?" Erlangga memegangi tubuh Kayra yang hampir terjatuh karena menahan rasa sakit yang luar biasa. Erlangga segera mengangkat tubuh Kayra dengan kedua lengannya. Dia segera menuruni anak tangga dengan berteriak. Erlangga memang sudah tidak ke kantor sejak istrinya mengalami kontraksi palsu.


" Ma! Bu ...! Kayra ingin melahirkan!!"


Sejak kemarin, Helen dan Arina memang sudah menginap di rumah Erlangga ketika mendengar Kayra mengalami kontraksi palsu.


" Nyonya mau melahirkan, Tuan?" Atik yang kebetulan sedang melintas di ruang tamu menyahuti teriakan Erlangga.


" Atik, suruh Pak Koko siapkan mobil. Ambil tas pakaian Kayra di kamar!" perintah Erlangga.


" Baik, Tuan." Atik berlari memanggil Koko untuk menyiapkan mobil ke rumah sakit.


" Kayra mau melahirkan, Lang?"


" Sudah terasa kontraksi lagi, Nak?"


" Kayra sudah mau melahirkan?"


Helen, Ibu Sari dan Arina yang muncul bersamaan bertanya bergantian.


" Sepertinya begitu," sahut Erlangga berjalan ke teras rumah.


" Pakaiannya sudah diturunkan?" tanya Ibu Sari mengingatkan.


" Masih di kamar, Bu." jawab Erlangga.


" Biar Mama ambil saja." Arina bergegas ke kamar Erlangga untuk mengambil tas berisi pakaian ganti dan juga pakaian bayi.


" Pak Samsul! Atik, mana Pak Samsul? Suruh siapkan mobil juga!" Helen yang ingin ikut mengantar menyuruh Atik memanggilkan supir pribadinya.


" Naik mobil aku saja, Ma! Masih cukup, kok." Erlangga menyuruh Mamanya untuk ikut bergabung di mobilnya.


" Tidak usah kalau begitu, Tik." ujar Helen kepada Atik.


Tak lama mobil yang dikendarai Koko sudah berada tepat di teras rumah. Ibu Sari dengan cepat membukakan pintu mobil untuk Kayra dan Erlangga.


" Mama duduk di depan saja!" Erlangga meminta Helen duduk di kursi depan.


" Nanti Ibu dan Mama Arina di belakang saja ya!?" Erlangga mengatur posisi duduk Mama dan kedua mama mertuanya.


Setelah Arina muncul membawa tas keperluan melahirkan Kayra, mobil yang dikendarai Koko pun meluncur meninggalkan rumah kediaman Erlangga menuju rumah sakit.


" Sssshhh ... sakit, Mas." Dalam pelukan suaminya Kayra mengeluhkan perutnya yang kembali merasakan dorongan kuat.


" Sabar, Sayang. Kita sedang menuju rumah sakit." Erlangga memeluk erat pundak Kayra seraya menciumi kening dan pucuk kepala Kayra.


Sementara dari kursi belakang, Ibu Sari dan Arina mengusap bagian belakang pinggang Kayra. Arina yang pernah mengalami beberapa kali melahirkan pernah merasakan bagian mana yang saat ini sedang dirasakan oleh Kayra.


" Atur nafasnya, Kayra. Tarik nafas dan keluarkan perlahan. Jangan lupa beristighfar, berdoa agar persalinanmu nanti dilancarkan." Ibu Sari menyemangati Kayra.


Kayra mendengarkan dan menjalani apa yang dinasehatkan suami dan orang tua serta mertuanya, sampai akhirnya mereka tiba di rumah sakit.


Erlangga bertindak cepat meminta pelayanan untuk istrinya itu setelah turun dari mobil, hingga kini Kayra sudah berada di ruang persalinan dan ditangani oleh Dokter Amanda.


" Wah, adik bayinya sudah tidak sabar ingin bertemu Papa Mamanya ya?" Dokter Amanda bercanda untuk menyurutkan ketegangan yang dirasakan oleh Kayra dan Erlangga di ruang persalinan itu.


" Bagaimana, Dok? Kali ini istri saya benar-benar ingin melahirkan, kan?" tanya Erlangga.


" Sudah pembukaan tiga. Jika Bu Kayra kuat berjalan, tidak apa berjalan untuk mempercepat pembukaan mulut rahim dan mempercepat bayi lahir." Dokter Amanda menyarankan agar Kayra bergerak untuk membantu pembukaan jalan bayi.


" Yang benar saja, Dok! Istri saya ini sedang kesakitan, masa disuruh berjalan!" Erlangga membentak Dokter Amanda.


" Mas, jangan begitu ..." Kayra mencoba menenangkan Erlangga yang memarahi Dokter Amanda.


" Jika Ibu Kayra kuat untuk berjalan, justru itu bisa mempercepat persalinan dan membuat Ibu Kayra terbebas dari rasa sakit seperti ini lebih lama." Tak terpengaruh dengan nada tinggi yang dikeluarkan oleh Erlangga, Dokter Amanda kembali menerangkan manfaat bergerak saat ingin melahirkan.


" Bantu aku berdiri, Mas." Kayra meminta Erlangga membantunya berdiri, karena dia ingin melakukan apa yang disarankan oleh Dokter Amanda.

__ADS_1


" Tapi, Sayang ..." Erlangga keberatan dengan permintaan Kayra.


" Aku tidak apa-apa kok, Mas." ucap Kayra.


" Kalau begitu saya tinggal dulu ya, Bu Kayra." Dokter Amanda berpamitan kepada Kayra untuk meninggalkan ruang persalinan.


" Kenapa ditinggal, Dok? Kenapa Dokter tidak menemani istri saya dulu sampai melahirkan!?" protes Erlangga kembali.


" Baru beberapa jam ke depan Ibu Kayra akan melahirkan, Pak Erlangga. Jika saya di sini, mungkin akan kurang nyaman untuk Pak Erlangga dan Ibu Kayra di sini. Saya permisi dulu ..." Sembari tersenyum Dokter Amanda keluar ruang persalinan.


" Dasar aneh! Orang sedang kesakitan malah disuruh jalan. Bukannya menunggu pasien malah ditinggal!" Sepeninggal Dokter Amanda, Erlangga langsung menggerutu.


" Mas, jangan marah-marah seperti itu, dong! Tidak enak dengan Bu dokter." Kayra menegur suaminya.


" Kayra ..." Ibu Sari, Arina dan Helen masuk ke dalam ruang persalinan ketika melihat dokter yang menanggani Kayra keluar dari kamar persalinan.


" Bagaimana, Nak?" tanya Ibu Sari.


" Baru pembukaan tiga, Bu." lirih Kayra menahan seluruh tulang panggulnya seperti remuk.


" Biar Mama bantu, Lang." Arina meminta bergantian menuntun Kayra berjalan.


" Tidak usah, Ma. Biar aku saja." Erlangga menolak, karena dia ingin berperan penting dalam membantu persalinan istrinya.


" Teh manisnya diminum dulu, Kayra." Ibu Sari mengambil segelas air teh manis hangat yang telah disediakan oleh perawat. " Kamu pasti akan membutuhkan energi saat melahirkan nanti."


" Aku mau duduk dulu, Mas. Mau minum ..." Kayra meminta suaminya membawanya ke tepi tempat tidur karena dia ingin minum teh manis hangat.


Setelah meneguk teh manis hangat, Kayra kembali berjalan, jika sakitnya kembali menguat, dia berhenti dan bersandar pada tubuh Erlangga seraya memeluk kencang tubuh sang suami. Erlangga sendiri sampai tidak tega melihat istrinya tersiksa seperti saat ini.


" Istirahat dulu juga sudah terasa sakit, Kayra." Helen pun memberikan nasehat kepada Kayra.


" Iya, Ma." sahut Kayra. Walau sedang merasakan sakit, Kayra masih menjawab setiap ucapan yang ditujukan kepadanya.


" Bu, aku mau toilet." Saat merasakan sesuatu di perutnya seperti ingin buang air besar, Kayra menoleh ke arah Ibu Sari.


" Kamu mau ke toilet? Biar aku yang antar." Erlangga langsung menggendong tubuh Kayra.


" Aku ini suamimu, Sayang. Memangnya kenapa jika aku mengantarmu ke toilet? Bukankah kita sering berada di kamar mandi berduan?"


Ucapan Erlangga membuat Helen dan kedua Ibu mertuanya menahan senyuman Sementara Kayra langsung terbelalak. Namun, Erlangga tidak memperdulikan, dia langsung masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Ibu Sari dan Arina mengikuti dari belakang.


" Mas, Mas keluar saja. Biar Ibu sama Mama saja. Aku mau BAB." Kayra mengusir Erlangga dari kamar mandi.


" Tapi, Sayang ...."


" Kamu sebaiknya menunggu di luar saja, Lang. Nanti kalau sudah selesai kamu yang bawa Kayra keluar." Arina meminta menantunya itu menuruti Kayra.


Erlangga terpaksa mengikuti permintaan istrinya. Dia memilih menunggu di luar pintu toilet. Setelah Kayra selesai di dalam toilet, Erlangga kemudian membawa istrinya itu kembali ke atas brankar.


Satu jam kemudian, Kayra sudah siap melakukan persalinan karena pembukaannya sudah lengkap, dan Dokter Amanda siap membantu persalinan wanita cantik itu.


" Wah, baby nya hebat, nih. Sudah tidak mau Mamanya sakit lama-lama." Setelah mengecek pembukaan mulut rahim Kayra sudah sempurna, Dokter Amanda mulai mengarahkan Kayra agar mengikuti apa yang diperintahkan olehnya.


" Siap ya, Bu Kayra? Ikuti apa yang saya anjurkan. Jangan mengejan sebelum saya perintahkan. Atur nafasnya perlahan-lahan. Jangan angkat panggulnya ya, Bu." ucap Dokter Amanda kembali.


Kayra hanya mengangguk, karena saat ini tulang-tulang dibagian panggulnya seperti sedang dipatahkan. Erlangga memperhatikan istrinya yang sedang kesakitan seraya memeluknya dari belakang. Dia mengusap peluh yang menetes di kening Kayra. Dia juga tidak memperdulikan tangannya yang sakit tertancap kuku sang istri. Karena dia tahu apa yang dirasakan istrinya saat ini lebih sakit berlipat-lipat dari rasa sakit yang dia rasakan sekarang. Perjuangan istrinya untuk melahirkan anak mereka benar-benar membuat hatinya tercubit.


" Aku yakin kamu akan bisa melewati ini, Sayang. Kamu wanita hebat ..." Erlangga mengecup kening dan pucuk kepala Kayra seolah menyalurkan energi agar istrinya itu lebih kuat.


" Tarik nafas ... hembuskan perlahan ... jangan mengejan dulu ... tahan ... tahan ... bismilah, push sekarang." Dokter Amanda akhirnya memberi perintah Kayra untuk mengejan.


Dorongan kuat yang dirasakan oleh Kayra membuat wanita itu akhirnya mengejan tepat setelah diperintah Dokter Amanda.


" Eeeegggghhhh ...!!"


" Oek ... oek ... oek ..." suara kencang bayi terdengar seketika membuat tubuh Kayra melemas.


" Alhamdulillah, lihat ini Papa, Mama ... adik sudah lahir." Dokter Amanda memperlihatkan baby boy itu kepada Kayra dan Erlangga.

__ADS_1


" Masya Allah, anak kita, Sayang." Tak terbendung rasa haru di hati Erlangga melihat darah daging yang sudah dia idamkan terlahir juga ke dunia ini. Sementara pandangan Kayra terasa samar melihat bayinya karena seluruh bola matanya sudah ditutupi cairan bening.


" Sebentar dibersihakan dulu, ya!" Dokter Amanda menyerahkan bayi itu kepada perawat sementara dia melanjutkan mengeluarkan plasenta dari perut Kayra.


Setelah proses persalinan selesai, kini baby boy itu diserahkan kepada Kayra untuk mendapatkan kolostrum.


Dokter Amanda meletakan si bayi di dekat kedua payuda ra Kayra, membiarkan si bayi mencari ASI pertamanya itu.


" Selamat ya, Bu Kayra, Pak Erlangga atas kelahiran baby boy nya. Semoga menjadi anak yang Sholeh." Dokter Amanda memberikan selamat kepada Kayra dan Erlangga.


" Sama-sama, Dok. Terima kasih ..." sahut Kayra.


" Maaf jika saya tadi marah-marah, Dok." Erlangga mengucapkan permintaan maafnya kepada Dokter Amanda.


" Tidak apa-apa, Pak Erlangga. Saya memaklumi ..." sahut Dokter Amanda. " Kalau begitu saya keluar dulu ..." Dokter Amanda pun bergegas keluar ruangan, karena dia tahu keluarga Kayra dan Erlangga sudah menunggu di luar ingin segera melihat cucu mereka.


" Kayra, Erlangga ...."


Benar saja, setelah Dokter Amanda keluar, orang tua Kayra dan Erlangga berhambur masuk ke dalam ruangan.


" Mana cucu Mama?" Helen terlihat sangat heboh saat melihat cucu pertamanya. Begitu juga dengan Arina dan Ibu Sari. Sementara Krisna dan Nugraha memilih menunggu di luar ruangan bergantian jika istri-istri mereka telah selesai melihat cucu mereka.



"Masya Allah, tampan sekali cucu Mama ini." Arina terharu melihat cucunya.


" Kayra, selamat ya, Nak. Sekarang ini kamu sudah menjadi Mama ..." Ibu Sari mencium pipi Kayra.


" Terima kasih, Bu." ucap Kayra lemah.


" Siapa nama cucu Mama ini, Lang?" tanya Helen.


" Namanya Devanka Affandra Mahadika, Ma." jawab Erlangga.


" Nama yang bagus. Apa artinya?" tanya Arina kemudian.


" Anak Sholeh yang taat pada agama, berbudi luhur dan akan akan jadi penguasa bumi." Tentu saja Erlangga akan menyiapkan putranya itu sebagai penerus kejayaan usaha Mahadika Gautama yang sudah dirintis dari jaman Papanya. Kelak Erlangga berharap anaknya itu mampu memimpin perusahaannya menjadi lebih berjaya di masa akan datang.


" Aamiin, semoga kelak anak kalian ini menjadi pribadi yang sesuai dengan arti namanya." Ibu Sari meng-Aamiin-kan doa dari nama cucunya itu.


***


Malam harinya setelah semua tamu yang membesuk Kayra pulang dan hanya menyisakan Erlangga dan Ibu Sari dan Arina. Kayra dan Erlangga berbincang di atas brankar setelah Kayra dipindahkan ke kamar rawat.


" Terima kasih, Sayang. Kamu telah hadir dalam hidupku. Mau menerimaku sebagai suamimu, mau mencintaiku dan melahirkan bayi lucu ini untukku ..." Erlangga membelai wajah sang istri. Wajah kelelahan masih nampak di sana.


" Aku juga terima kasih kepada Mas. Karena Mas sudah memberikan kebahagian kepadaku, termasuk mempertemukan aku dengan Mama kandungku," ucap Kayra menyahuti.


" Aku berjanji, aku akan menjadi suami dan Papa terbaik untukmu dan juga anak-anak kita." Erlangga pun berjanji akan menjadikan dirinya pribadi yang lebih baik bagi keluarganya.


" Aamiin, Mas. Aku selalu berdoa untuk Mas ..." sahut Kayra yang dibalas dengan kecupan manis dari suami tercintanya, sang bos pemaksa yang akhirnya membuatnya jatuh cinta dan luluh karena ketulusan dan kasih sayang pria itu kepadanya.


*


*'


...TAMAT...


*


*


*


Alhamdulillah, akhirnya kelar juga novel ini. Terima kasih untuk readers yang selalu setia menemani dari awal hingga akhir. Boleh aku bilang, novel ini sangat berkesan karena banyak menghasilkan reward untuk Author. Dan semua itu semua atas dukungan readers semua. Terima kasih yang sebanyak²🙏🙏 Dan mohon maaf jika ada salah² kata suka typo² 🤭🤭


Jangan lupa dukung Novel satunya ya, kisahnya Grace, Rizal dan Rivaldi di novel TAWANAN BERUJUNG CINTA, harus merintis lagi dari awal biar bisa menjejaki novel ini. Kasih like, komen, gift, vote dan rate nya, makasih 🙏


__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2