MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Apa Benar Aku Bukan Anak Ibu?


__ADS_3

Kayra baru selesai melaksanakan sholat Dzuhur. Biasanya dia akan tidur siang setelah melaksanakan ibadah sholatnya. Beberapa saat dia merebahkan tubuhnya, namun rasa kantuk tidak juga menghampirinya. Matanya pun terasa susah untuk dipejamkan.


Kayra akhirnya memutuskan bangkit dari tidurnya lalu beranjak turun dari tempat tidur dan memilih keluar dari kamarnya untuk menuju kamar Ibu Sari yang sama-sama berada di lantai atas.


Tok tok tok


" Bu ..." Kayra membuka pintu kamar Ibu Sari, namun tidak dia temui Ibunya di kamar itu.


Kayra kemudian menutup kembali pintu kamar Ibu Sari lalu berjalan ke arah lift menuju lantai bawah.


" Mbak Diah, Ibu saya ada di mana?" tanya Kayra saat keluar dari pintu lift, dia melihat Diah melintas di hadapannya.


" Ibu Sari ada di kamar Ibu Arina, Nyonya." sahut Diah.


" Ibu di kamar Bu Arina?" Kayra mengerutkan keningnya. Dia tidak tahu sedang apa Ibunya itu ada di kamar Arina.


" Iya, Nyonya." jawab Diah kembali.


" Ya sudah, terima kasih, Mbak." Kayra melangkahkan kakinya menuju kamar tamu yang ditempati Arina.


Kayra melihat pintu kamar tamu yang ditempati Arina menginap tidak tertutup rapat. Dia bahkan mendengar suara Ibunya itu sedang berbincang dengan Arina. Dia sudah mengepalkan tangannya ingin mengetuk pintu, namun gerakannya tertahan saat mendengar perkataan yang keluar dari mulut Ibu Sari.


" Maafkan saya, Bu. Karena perbuatan saya dan suami saya, Ibu jadi harus tersiksa bertahun-tahun. Saya sudah membuat Ibu terpisah dari Kayra."


Kayra mengeryitkan keningnya kembali. Bahkan dia merapatkan telinganya ke daun pintu untuk mempertajam pendengarannya.


Kayra tidak mengerti mengapa Ibu Sari berkata jika ibunya itu telah membuat Arina terpisah dari Kayra. Seketika matanya terbelalak setelah dia menerka-nerka makna dari perkataan Ibu Sari tersebut. Terlebih lagi setelah dia mendengar jawaban dari Arina


" Sudahlah, Bu Kita tidak usah mengingat tentang hal itu kembali. Kita tutup lembaran itu. Kita berdua ini sama-sama Ibu bagi Kayra. Saya yang mengandung dan melahirkan Kayra. Sedang Ibu Sari yang merawat dan membesarkan Kayra,"


Deg


Jantung Kayra seperti berhenti berdetak, dengan cairan bening mengembun di matanya. Apa yang baru saja dia dengar bagaikan suatu kejutan yang membuat dia syok. Mungkin dia tidak siap mendengar kenyataan yang sedang dibuka tanpa sengaja oleh Ibu kandung dan Ibu asuhnya itu.

__ADS_1


" Ya Allah, apa maksudnya ini?" batin Kayra.


Suara Arina terdengar begitu jelas di telinganya mengatakan jika Arina adalah wanita yang mengandung dan melahirkannya. Sementara Ibu Sari adalah wanita yang merawat dan membesarkannya.


Kayra teringat jika anak perempuan Arina memang menghilang. Lantas, dari percakapan Arina dan Ibu Sari, apakah yang dimaksud anak perempuan Arina adalah dirinya? Mengingat sikap Arina memang berbeda kepadanya. Dia pun tidak memungkiri ada perasaan aneh jika berdekatan dengan Arina termasuk saat pertama kali mereka bertemu.


Tangan Kayra membuka dengan kencang pintu kamar Arina, sehingga membuat kedua orang tua yang sedang berbincang itu terperanjat melihat kehadirannya di depan pintu.


" Kayra??"


" Jelaskan kepadaku, Bu. Apa yang Ibu dan Bu Arina katakan tadi? A-apa aku ini benar bukan anak Ibu?" Dengan suara bergetar dan air mata yang deras menetes di pipi, Kayra bertanya kepada Ibunya.


" K-Kayra ..." Ucapan Ibu Sari terjeda, karena dia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Seketika rasa panik menghinggapinya. Ibu Sari takut Kayra tidak bisa menerima kenyataan yang sebenarnya tentang orang tua kandung Kayra


" Kayra, sebaiknya kamu duduk dulu, Nak." Arina bergegas menghampiri Kayra. Dia meminta Kayra untuk tenang dan duduk untuk menjelaskan apa yang tadi dibicarakannya. Sejujurnya Arina sendiri tidak menyangka jika Kayra akan mendengar percakapannya dengan Ibu Sari.


" Apa benar aku bukan anak kandung Ibu?" Kayra tidak menggubris permintaan Arina. dia justru menuntut jawaban penjelasan dari Ibu Sari.


" Kayra, nanti Ibu jelaskan, Nak." Arina merasa menyesal telah membuat putrinya mengetahui hal ini lebih cepat dari yang direncanakan.


Arina pun tak kuasa menahan air matanya. Dia merasa anaknya saat ini mengalami syok mendengar kabar yang mungkin terdengar tidak enak diterima di telinga Kayra.


" Katakan padaku, Bu. Apa benar anak perempuan Ibu itu adalah aku?! Aku ini anak haram karena hasil pemerko saan, benar 'kan, Bu?!" Kayra terisak semakin keras.


" Kayra ..." Kini Arina yang tidak mampu meneruskan kalimatnya. Hanya air mata yang jatuh berderai.


Tak mendapat jawaban baik dari Ibu Sari dan juga Arina, Kayra akhirnya membalikkan tubuhnya lalu berlari ke luar dari kamar yang ditempati oleh Arina dengan menangis.


" Kayra ...!!" Seakan tersadar saat Kayra berlari ke luar kamar, Arina dan Ibu Sari berlari mengejar Kayra.


" Kayra, jangan lari, Nak!!" seru Bu Sari terlihat khawatir karena Kayra berlari ke arah kamar menggunakan tangga.


" Ya Allah, Kayra ... hati-hati kandunganmu!!" Tak beda jauh dengan Ibu Sari, Arina pun sama khawatirnya. Mereka berdua mengejar Kayra dengan menggunakan tangga.

__ADS_1


" Kayra, buka pintunya, Nak. Biarkan Ibu bicara!" Ibu Sari mengetuk pintu kamar yang dikunci dari dalam oleh Kayra.


" Kayra, buka pintunya dulu, Nak. Kamu jangan salah paham." Arina juga berusaha membujuk Kayra agar membuka pintu.


Beberapa menit Arina dan Ibu Sari mengetuk pintu dan membujuk Kayra. Namun, Kayra tetap bergeming, tak mau keluar dari kamar. Hal itu membuat Arina dan Ibu Sari semakin cemas.


" Bagaimana ini, Bu. Saya takut Kayra kenapa-napa." Ibu Sari terlihat senewen. Dia tahu kenyataan ini sangat menyakitkan untuk Kayra. Tak heran jika Kayra merasa kecewa.


" Saya juga bingung, Bu. Elang pasti akan marah jika tahu Kayra jadi begini." Arina berjalan hilir mudik di depan pintu kamar Kayra.


" Apa kita harus memberitahu Nak Erlangga sekarang? Saya khawatir Kayra mengurung diri kamar seperti ini, Bu " Walau sebenarnya dia takut Erlangga akan murka, namun Ibu Sari merasa kehadiran Erlangga dibutuhkan saat ini di rumah.


" Ya sudah, sebaiknya kita telepon Elang sekarang. Saya ambil HP saya dulu, Bu." Arina ingin mengambil HP nya di kamar. Arina pun sebenarnya khawatir Erlangga akan menyalahkannya, namun dia juga mengkhawatirkan Kayra.


" Pakai HP saya saja, Bu. Sebentar ..." Mengingat kamarnya lebih dekat, Ibu Sari menawarkan ponselnya yang dipakai untuk menghubungi Erlangga. Dia pun bergegas menuju kamarnya untuk mengambil alat komunikasinya itu.


" Ada apa, Bu?" tanya Atik dan Diah yang naik ke atas saat mendengar ribut-ribut di lantai atas.


" Hmmm, Kayra ada di dalam, Mbak. Pintunya dikunci dari dalam. Kami ketuk dari tadi tapi tidak mau membukakan pintu." Arina menjelaskan.


" Mungkin Nyonya Kayra sedang istirahat tidur, Bu." sahut Atik.


" Tadi Nyonya bukannya turun ke bawah ya, Bu? Tadi Nyonya mencari Ibu Sari, lalu saya beritahu jika Ibu Sari ada di kamar Ibu Arina," ucap Diah yang bertemu Kayra di depan pintu lift menjelaskan.


" Hmmm, i-iya, Mbak." Mengingat hal yang diucapkan Diah, seketika Arina merasa sangat bersalah.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Yang belum mampir di Novel TAWANAN BERUJUNG CINTA, ditunggu di sana, ya. 🙏 Untuk 5 pemenang beruntung akan mendapatkan hadiah menarik. Makasih🙏


Happy Reading❤️


__ADS_2