
Kayra berjalan perlahan ke arah meja kerjanya namun pendengarannya terus menangkap perdebatan yang terjadi di dalam rumah kerja Erlangga. Hatinya seketika dilanda kecemasan. Dia takut jika Erlangga dan Caroline berpisah, dia pasti akan merasa bersalah karena dirinya yang membuat Erlangga menduakan hatinya.
Kayra merasa jika dirinya adalah wanita paling jahat di dunia karena telah merebut suami dari wanita lain. Mengingat hal itu seketika hawa panas menyerang matanya hingga membuat cairan bening menumpuk di bola mata indahnya.
" Ya Allah, kenapa harus seperti ini?" Kayra memejamkan mata hingga cairan bening yang dia tahan untuk tidak terjatuh akhirnya tumpah juga membasahi pipinya. Kayra segera menarik tissue di meja lalu menyeka air matanya. Dia tidak ingin orang lain tahu jika dia baru saja menangis.
Sementara di dalam ruangan Erlangga perdebatan sengit masih terjadi antara Erlangga, Wisnu dan juga Caroline. Erlangga merasa berhak mengatur dan melarang Caroline mengejar ambisinya karena merasa dia adalah suami dari Caroline, sedang Wisnu sendiri merasa berhak atas Caroline karena Caroline terikat kontrak kerja dengan agensi ternama di Iuar negeri.
" Aku sanggup membayar ganti rugi sebagai denda atas pemutusan hubungan kerja antara istriku dan pihak agensi itu! Berapa nominal yang harus dibayar? Katakan saja! Aku mampu membayarnya!" Mendegar Wisnu yang berlagak seperti pahlawan untuk Caroline membuat Erlangga semakin meradang. Dia merasa Wisnu sudah terlalu dalam ikut campur dengan urusan rumah tangganya. Bahkan Erlangga selalu menganggap jika Wisnu adalah dalang yang selalu menghasut Caroline hingga istrinya itu sering menentangnya.
" Kau pikir istrimu tidak sanggup membayar ganti rugi itu, Erlangga!? Ini bukan soal uang ganti rugi, tapi soal reputasi dia sebagai seorang model! Bagaimana dia bisa menjadi model dunia yang profesional jika dia tidak bisa tunduk dengan kontrak kerjasama yang dia buat dengan pihak agensi!?" Wisnu masih terus berusaha mempertahankan Caroline.
Erlangga kini menatap tajam Caroline yang masih terisak.
" Kau bisa tunduk dengan aturan yang dibuat oleh agensi itu, tapi kamu tidak bisa tunduk dengan ikatan pernikahan kita, Caroline!" Nada kecewa terdengar dari kalimat Erlangga.
" Kalau memang kamu lebih berat pada karirmu, aku rasa tidak ada manfaatnya pernikahan kita dipertahankan!" tegas Erlangga.
" Sayang, jangan seperti itu! Kita bisa bicara baik-baik soal ini. Tidak harus ada perpisahan dengan pernikahan kita ini." Caroline memeluk Erlangga dengan menangis tersedu.
" Aku bosan selalu bertengkar denganmu hanya karena urusan karirmu, Caroline!" Erlangga mengurai tangan Caroline yang melingkar di tubuhnya.
" Tapi aku tidak ingin kita berpisah, Sayang." Caroline tidak ingin menerima keputusan Erlangga soal perpisahan.
" Kau tidak bisa memilih antara pernikahan kita atau karirmu. Kau pun selalu beranggapan aku selalu menghalangi karirmu. Jika itu yang selalu menjadi alasanmu, sebaiknya kita memang harus menyudahi pernikahan ini." Erlangga yakin Caroline tidak akan berani melepaskan karirnya, karena itu dia memutuskan sudah saatnya dia harus mengambil keputusan tegas dengan pernikahannya.
" Sayang, beri aku waktu untuk berpikir. Aku tidak ingin berpisah denganmu ... hiks ...."
" Selama kamu merasa berat meninggalkan karirmu, tidak perlu aku memberi waktu lagi untukmu untuk berpikir, Caroline!" tegas Erlangga.
Caroline terus menangis, bahkan kini duduk berlutut di hadapan Erlangga sambil memegangi kaki suaminya, agar Erlangga mau merubah keputusannya.
" Caroline, sudahlah! Jangan merendahkan dirimu di depan suami egois seperti dia!" Melihat Caroline sampai duduk berlutut, Wisnu menjadi geram. Dia membantu Caroline untuk berdiri dan menyudahi mempermalukan dirinya sendiri. " Sebaiknya kau tinggalkan suami tidak punya pengertian seperti dia, Masih banyak pria lain yang menginginkanmu, untuk apa kamu mempertahankan laki-laki arogan ini!?"
Buugghh
Sebuah tinju langsung mendarat di wajah tampan Wisnu sesaat setelah Wisnu mengakhiri kalimatnya. Dan tinju itu berasal dari kepalan tangan Erlangga yang sudah tidak tahan dirinya dihina dan diremehkan oleh Wisnu.
" Breng sek!! Keluar dari kantorku, dan jangan pernah menginjakkan kakimu di tempatku ini!!" Erlangga yang sedang dipengaruhi amarah mengusir Wisnu yang dianggapnya sudah keterlaluan.
" Si alan, Kau!!" Wisnu ingin membalas namun Caroline dengan cepat menahan tubuh Wisnu agar tidak membalas tinju yang dilayangkan Erlangga.
" Jangan, Wisnu ...!!"
" Jika bukan mengantar Caroline, aku juga tidak sudi menginjakkan kaki di tempatmu ini!" ketus Wisnu. " Ayo, Caroline! Sebaiknya kita pergi dari sini!" Wisnu menarik lengan Caroline dan membawa wanita itu pergi ke luar dari ruangan Erlangga.
***
Kayra melihat Caroline terisak berjalan dengan Wisnu yang merangkulnya keluar dari ruangan Erlangga. Kayra menggigit bibirnya, dia merasakan kesedihan di hati Caroline dengan kata perpisahan yang diucapkan Erlangga.
" Sudahlah, Caroline. Untuk apa kamu menangisi pria keras kepala seperti Erlangga? Dia ingin kamu mengerti dia tapi dia sendiri tidak mau mengerti kamu." Wisnu mencoba mempengaruhi Caroline agar mau menerima perpisahan yang dilayangkan oleh Erlangga.
" Tapi aku mencintainya, Wis ..." tepis Caroline masih dengan isak tangis.
" Cintamu tidak membawa kebahagian untukmu, Caroline! Oh, ayolah, Caroline ... aku yakin kau akan bisa mendapatkan pria yang lebih baik dari Erlangga dan mau mengerti dirimu."
Kayra membelalakkan matanya mendengar ucapan Wisnu saat Wisnu dan Caroline menunggu pintu lift terbuka. Kayra tidak menyangka jika teman Caroline itu justru memberikan saran yang tidak baik menurutnya, karena menyuruh Caroline menyetujui perpisahan dengan Erlangga.
__ADS_1
Prang
Saat pintu lift yang membawa Caroline dan Wisnu tertutup, terdengar suara benturan kaca yang menghantam benda keras dari dalam rumah kerja Erlangga membuat Kayra tersentak kaget.
Kayra bisa menduga jika suara itu dari benda yang mungkin saja dilempar oleh Erlangga. Kayra ragu apakah dia ingin masuk ke dalam atau tidak. Namun karena rasa khawatirnya, Kayra akhirnya memberanikan diri masuk ke dalam ruangan Erlangga.
Kayra melihat Erlangga berdiri berkacak pinggang menghadap ke luar jendela. Sepertinya pria itu sedang mencoba meredam amarahnya karena pertengkaran tadi dengan Caroline dan Wisnu. Kayra lalu melihat ke arah meja makan, dia tidak melihat piring dan gelas bekas makan Erlangga. Dia justru melihat benda itu terjatuh di lantai beralaskan karpet. Bahkan gelas bekas minum Erlangga terlihat pecah karena terbentur dinding yang menyebabkan bunyi yang dia dengar tadi.
Kayra mencoba memunguti pecahan kaca dari gelas yang berserakan di bawah. Matanya sesekali melirik ke arah Erlangga yang tak menyadari keberadaannya di ruangan itu.
" Aaakkhh ...!" pekik Kayra. Matanya yang sibuk memperhatikan Erlangga yang masih berdiri di dekat jendela membuatnya tidak melihat hingga jarinya terkena pecahan gelas yang sedang dibersihkan olehnya.
Mendengar teriakan Kayra, Erlangga sontak mengalihkan pandangannya ke arah suara Kayra. Erlangga yang sejak tadi tidak menyadari kehadiran wanita itu di ruangannya segera berlari dan menghampiri Kayra.
" Kayra, kamu kenapa?" Erlangga melihat jari telunjuk Kayra mengeluarkan darah. " Kamu terluka?" Erlangga segera menghisap jari Kayra yang terluka dengan mulutnya membuat Kayra terkesiap dengan sikap Erlangga yang terlihat sangat mengkhawatirkannya.
" Seharusnya kamu suruh orang saja yang membersihkan, jadi kamu tidak terluka seperti ini." Erlangga lalu mengambil tissue dan membersihkan bekas darah di jari tangan Kayra.
" Saya tidak apa-apa, Pak." sahut Kayra.
" Saya panggilkan dokter, ya!?" Erlangga hendak menyuruh orang untuk memanggilkan dokter untuk Kayra.
" Tidak usah, Pak. Ini hanya luka kecil saja." Kayra melarang Erlangga yang ingin memanggilkan dokter untuknya.
" Kamu seharusnya jangan membersihkan itu sendiri, Kayra." Erlangga benar-benar merasa khawatir melihat Kayra yang terluka walaupun hanya luka terkena pecahan kaca saja.
" Apa Bapak benar-benar ingin berpisah dengan Ibu?" Kayra memberanikan diri bertanya tentang hal yang menjadi pertengkaran Erlangga dan Caroline juga Wisnu tadi.
Erlangga mendengus kasar mendengar pertanyaan Kayra,
" Apa karena Bapak menikahi saya lalu Bapak ingin menceraikan Ibu Caroline?" tanya Kayra dengan dada terasa sesak. Seandainya dugaannya itu benar, betapa berdosa dirinya karena telah menghancurkan pernikahan suci dua insan yang saling mencintai.
" Tapi bukankah Bapak sangat mencintai Ibu?" Kayra mencoba bersitatap dengan Erlangga. Dia melihat kekecewaan dibalik kemarahan Erlangga.
" Cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan rumah tangga saya dengan Caroline, Kayra. Ambisinya untuk mencapai cita-citanya sudah tidak bisa saya kendalikan. Saya bosan selalu berdebat seperti ini dengan Caroline dan dia juga tidak mau menuruti kemauan saya untuk meninggalkan karirnya sebagai model." Erlangga menjelaskan kenapa dia memutuskan ingin mengakhiri rumah tangganya dengan Caroline.
" Saya merasa tidak enak hati jika Bapak berpisah dengan Ibu, Pak." Kayra tidak bisa menahan air matanya.
" Jangan menyalahkan dirimu, Kayra. Bukan kamu yang bersalah dalam hal ini." Erlangga menyeka cairan bening yang menetes di pipi mulus Kayra.
" Saya mohon kamu tetap bersama saya dan mendampingi saya, Kayra." Erlangga menarik tubuh Kayra dan menenggelamkan ke dalam pelukannya, membuat Kayra seketika terisak karena bagaimanapun juga dia tetap merasa bersalah jika rumah tangga Erlangga dan Caroline benar-benar berakhir.
***
Caroline masih menangis di dalam mobilnya yang dikendarai oleh Wisnu saat keluar dari halaman parkir kantor Erlangga. Dan Wisnu pun berkali-kali mencoba menenangkan Caroline agar tidak berlarut dalam kesedihan.
" Sudahlah, Caroline! Berhentilah bersikap bo doh dengan menangisi suamimu yang tidak berguna itu." Merasa kesal karena Caroline tidak juga menghentikan tangisannya, membuat Wisnu mengumpat dengan mencemo'oh Erlangga sebagai suami yang tidak berguna.
" Jangan terus menangis seperti ini, Caroline. Kamu besok harus bertemu orang-orang dari Jerman, kalau matamu bengkak karena terlalu banyak menangis, bagaimana mereka akan mempercayakanmu untuk membintangi iklan kosmetik itu?"
" Apa aku harus batalkan saja iklan itu, Wis? Aku harus bicara dengan Erlangga lagi, aku harus bujuk dia agar dia mengurungkan niatnya untuk berpisah!" Caroline benar-benar tidak rela jika pernikahannya dengan Erlangga berakhir.
" Apa kamu sudah gi la, Caoline? Kamu sudah pernah membatalkan acara di Brussel beberapa waktu lalu, dan sekarang kamu ingin membatalkan peluang membintangi iklan besar ini? Reputasi dan karirmu akan hancur kalau kamu melakukan itu, Caroline!" Wisnu menentang rencana Caroline yang berniat ingin membatalkan rencana membintangi iklan kosmetik terkenal asal Jerman.
" Caroline, kamu harus dengarkan aku! Kamu memang harus memilih salah satu di antara Erlangga atau karirmu. Erlangga sudah tegas menginginkan untuk berpisah, untuk apa kamu mengemis kepadanya? Seharusnya kamu tunjukan kepada Erlangga kalau kamu bisa sukses tanpa didampingi dia. Kamu harus raih ambisimu untuk menjadi model internasional, Caroline! Kamu harus buat Erlangga menyesal telah mencampakkanmu!" Kalimat semangat berbau provokasi terus dilancarkan Wisnu agar Caroline terpengaruh dan mendengar sarannya.
***
__ADS_1
" Apa kamu sudah selesai, Kayra?" tanya Erlangga melihat Kayra yang sedang berusaha menyelesaikan pekerjaannya. Karena kejadian tadi sejujurnya membuat Kayra kehilangan fokus mengerjakan tugas yang ada di mejanya.
" Belum, Pak." Kayra berdiri dan melirik arah jarum jam di dinding yang baru menunjukkan pukul empat petang.
" Bereskan mejamu, kita pulang sekarang!" Erlangga menyuruh Kayra merapihkan mejanya dan mengajak Kayra pulang.
" Tapi pekerjaan saya belum selesai, Pak."
" Ini perintah saya, Kayra! Cepat bereskan mejamu!" Sekali lagi Erlangga memberi perintah. Dia bahkan tidak duduk menunggu di sofa tapi berdiri di depan meja Kayra membuat Kayra segera mengikuti perintah Erlangga.
Setelah selesai merapihkan mejanya, Kayra dan Erlangga pun berjalan menuju pintu lift menuju basement.
" Masa sih Pak Wira ada main dengan sekretarisnya Pak Erlangga?"
Kayra membulatkan wajahnya saat terdengar seseorang berbicara ketika mereka keluar dari lift. Spontan matanya menoleh ke arah Erlangga yang langsung mengarahkan pandangannya ke arah Kayra dengan menatap tajam. Sepertinya Erlangga juga mendengar ucapan security yang ada di basement.
" Gosipnya seperti itu. Ada yang melihat sekretaris Pak bos menangis di ruang Pak Wira." satu orang lainnya menyahuti ucapan security itu.
Erlangga segera mendekat ke arah orang yang sedang berbincang tadi.
" Apa kalian bekerja di sini hanya untuk bergosip!?" tanya Erlangga dengan geram. Emosinya yang belum mereda seakan terpercik kembali mendengar gosip yang dihembuskan terkait dengan Kayra.
" Pak Erlangga??" Kedua orang yang menggunjingkan Kayra terperanjat dengan muka pucat melihat kemunculan Erlangga di depan mereka.
" Kemarikan ID Card kalian!!" Erlangga meminta ID Card kedua orang yang sedang bergosip tadi.
" M-maafkan kami, Pak Erlangga." Kedua orang itu sampai membungkukkan tubuhnya dan meminta maaf agar tidak dikeluarkan dari pekerjaan mereka.
" Kemarikan ID Card kalian!" Erlangga mengulang ucapannya. " Besok ambil gaji kalian yang terakhir!" Setelah menerima dua ID card dua karyawan itu, Erlangga langsung bergegas menuju mobilnya dengan langkah lebar.
Kayra menatap prihatin kedua orang yang dipecat Erlangga tadi.
" Maafkan kami, Mbak." Kedua orang itu meminta maaf kepada Kayra.
Kayra tidak tahu harus berkata apa. Dia tahu bukan mereka yang awalnya menyebarkan gosip itu namun mereka berdua yang terkena imbasnya sampai dipecat oleh Erlangga. Kayra kemudian meninggalkan mereka dengan berlari saat mendengar bunyi klakson mobil Erlangga yang mengisyaratkab agar dia cepat mendekat.
" Apa maksud dari ucapan orang-orang itu, Kayra?" tanya Erlangga dengan ketus saat mobil yang dikendarai Erlangga keluar dari basement dan gedung perkantoran milik Erlangga.
" I-itu hanya salah paham, Pak." Kayra takut Erlangga akan marah kepadanya karena tahu ternyata dia menangis di ruangan Wira.
" Salah paham? Lalu apa maksudnya dengan kamu menangis di ruangan Wira?" Merasa tak puas dengan jawaban Kayra, Erlangga menuntut penjelasan dari Kayra.
Kayra terdiam, dia tidak tahu bagaimana harus menyampaikan alasan dia menangis kala itu.
" Kenapa diam? Apa yang kamu dan Pak Wira lakukan tanpa sepengetahuan saya, Kayra!?" Nada bicara Erlangga meninggi karena Kayra tidak menjawab pertanyaannya.
Kayra memejamkan matanya, dia takut Erlangga akan semakin marah jika dia mengatakan saat itu dia sedang mengeluh tentang keputusan Erlangga yang memaksanya untuk menikah dengan pria itu.
" Jawab Kayra! Apa yang kamu lakukan dengan Wira di ruangannya?" Erlangga mencengkram lengan Kayra hingga Kayra menoleh ke arahnya dengan wajah meringis kesakitan karena cengkraman tangan Erlangga begitu kuat di lengannya.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️