
Dengan langkah cepat Helen berjalan menuju ruangan suaminya, rasanya dia sudah tidak sabar ingin mengadukan kelakuan anak laki-lakinya yang selalu mengecewakan dirinya itu.
" Selamat siang, Bu." Sekretaris Krisna menyapa ketika melihat kedatangan Helen.
Helen melirik ke arah sekretaris suaminya yang terlihat masih muda dan cantik, seketika ingatannya tertuju kepada Kayra, membuatnya menghentikan langkah dan menghampiri sekretaris suaminya tersebut.
" Heh, kamu ingat, ya!? Kamu itu hanya sekretaris! Jangan sampai berani macam-macam sama suami saya!" Helen benar-benar tidak bisa mengendalikan emosinya sampai melampiaskan kemarahan kepada orang yang tidak ada hubungannya dengan pernikahan Erlangga dan Kayra.
Sudah pasti sekretaris Krisna terbengong didamprat secara tiba-tiba oleh Helen, padahal dia tidak melakukan apa yang dituduhkan Helen tadi kepadanya.
" Maaf, maksud Ibu apa, ya? Saya tidak mengerti, Bu. Saya tidak macam-macam terhadap Bapak kok, " Wajar Sekertaris Krisna bertanya seperti itu karena dia tidak seperti yang ditudingkan Helen terhadapnya. Dia pun menampik tuduhan Helen tadi.
" Kamu harus sadar diri, sebagai sekretaris jangan memanfaatkan posisi ini untuk mendekati suami orang! Awas saja kalau berani macam-macam!" ancam Helen kembali sebelum akhirnya masuk ke dalam ruangan kerja Krisna, membuat sektretaris Krisna mengeryitkan keningnya menanggapi sikap aneh Helen saat ini.
" Pa ...!" Saat masuk ke dalam ruangan Krisna, Helen langsung memanggil suaminya.
" Mama? Agnes? Ada apa?" Walaupun sudah mendengar dari Erlangga soal Helen dan Agnes yang tadi datang dan mengamuk di kantor Erlangga, namun dia tidak menduga jika istrinya itu akan langsung datang ke kantornya.
" Pa, anak kita itu benar-benar keterlaluan, Pa! Papa tahu tidak? Dia itu ternyata sudah menikahi sekretarisnya, Pa. Papa harus cepat bertindak, Pa. Jangan membiarkan ini terus terjadi. Papa harus kasih ketegasan terhadap Erlangga agar dia tidak seenaknya saja mengambil keputusan tanpa persetujuan dari kita orang tuanya." Dengan berapi-api Helen mengadukan apa yang telah dilakukan Erlangga yang dianggapnya sangat mengecewakan.
" Aku tidak mau orang mencemooh kita karena kita punya menantu wanita kampung dan tidak berkelas seperti sekretarisnya Erlangga itu, Pa!" Kebencian Helen terhadap Kayra tidak dapat ditutupi hingga secara terang-terangan menghina Kayra di hadapan Krisna.
Krisna bangkit dari kursi kerjanya lalu menyuruh istrinya itu untuk tenang dan duduk di sofa.
" Duduklah dulu, Ma. Mama harus tenang dulu."
" Tenang? Bagaimana Mama bisa tenang mengetahui Erlangga sudah menikah dengan wanita yang tidak sederajat dengan kita, Pa!?" Helen menolak disuruh bersikap tenang menghadapi masalah Erlangga.
" Papa harus cepat bertindak, Pa! Suruh Erlangga menceraikan sekretarisnya itu! Mama tidak sudi bermenantukan dia!" tegas Helen merasa tidak bisa menerima kehadiran Kayra sebagai menantunya.
Krisna menghela nafas panjang. Bicara dengan istrinya memang harus butuh kesabaran. Apalagi saat ini istrinya sedang diselimuti emosi karena kabar pernikahan Erlangga dan juga Kayra.
" Ma, kita tidak bisa memaksa orang untuk berpisah, itu tidak baik. Apalagi dengan posisi Kayra yang saat ini sedang hamil." Setelah mendengar istrinya mengomel, Krisna akhirnya menyampaikan pendapatnya.
Helen mengerutkan keningnya mendengar ucapan sang suami. " Papa tahu dia hamil?" Kini tatapan curiga Helen terarah kepada suaminya. Sejak tadi dia memang melihat suaminya tak terlalu antusias mendengar keluhannya, bahkan tidak terlalu kaget saat dia mengatakan Erlangga telah menikahi Kayra, apalagi dia belum sempat menyebutkan soal kehamilan Kayra, ternyata suaminya telah tahu lebih dahulu.
" Jangan bilang kalau Papa sudah tahu soal pernikahan mereka, Pa!?" Berharap suaminya akan membantah atau berkata tidak. Namun, perasaan Helen sudah merasakan tidak enak
" Iya, Papa memang sudah tahu tentang pernikahan mereka ..." Krisna mengakui jika dirinya memang sudah mengetahui perihal pernikahan putranya dengan Kayra.
" Astaga, Pa! Papa kenapa membiarkan saja mereka menikah, Pa!? Papa mengerti tidak sih, yang dinikahi Erlangga itu siapa!? Dia itu cuma karyawan biasa yang bermimpi menjadi anggota keluarga Mahadika Gautama yang terpandang!Mama benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Papa dan anak Papa itu!" geram Helen menyadari suaminya ternyata sudah mengetahui bahkan mengijinkan pernikahan Erlangga dan juga Kayra.
" Kayra adalah wanita yang dibutuhkan oleh Erlangga, Ma." Krisna berusaha membela Kayra.
__ADS_1
" Wanita yang dibutuhkan? Memangnya apa yang dipunyai wanita itu sampai Erlangga merasa membutuhkan dia!?" Mendengar suaminya justru membela Kayra, Helen bertambah kesal.
" Perhatian dan pengertian, itu yang tidak Erlangga dapatkan dari Caroline, hingga dia mendapatkan semua itu dari Kayra." Krisna menjelaskan apa yang menyebabkan Erlangga memutuskan menikahi Kayra.
" Halah ... itu karena dia tahu kalau Erlangga kaya raya, itu hanya akal-akalan dia saja untuk menjebak Erlangga, Pa!" cibir Helen meremehkan ketulusan sikap Kayra selama ini terhadap Erlangga.
" Kayra tidak seperti itu, Ma. Dia itu wanita baik, Ma." Krisna menampik anggapan buruk istrinya tentang Kayra.
" Oh, jadi sekarang Papa membela wanita itu juga!? Jadi Papa berada di pihak Erlangga, gitu!?" Helen merasa kecewa karena suaminya justru bertentangan dengan dirinya. " Dia itu baik dari mana, Pa? Jelas-jelas dia mau dinikahi laki-laki yang masih punya istri!" sidir Helen.
Krisna melirik ke arah Agnes yang sejak tadi hanya diam tak bersuara, ketika Helen mengucapkan kalimat terakhirnya.
" Iya, Mama benar, wanita baik-baik tentu tidak akan mau menikah apalagi sampai mengejar-ngejar dan berharap memiliki pria yang masih mempunyai ikatan pernikahan dengan wanita lain, benar 'kan, Nes?" Krisna sengaja menyindir Agnes secara tidak langsung, karena dia tahu bukan istrinya saja yang bersemangat menjodohkan Erlangga dengan Agnes, namun juga karena Agnes juga menginginkan menjadi istri Erlangga. " Tapi Kayra tidak menginginkan menikah dengan Erlangga, Ma. Justru Erlangga yang memaksa dan mengancam Kayra jika dia tidak mau Erlangga nikahi. Dalam kasus ini, tentu saja posisi Kayra berbeda dengan yang Mama contohkan tadi." Krisna berusaha menjelaskan kepada Helen agar Helen tidak sepenuhnya menyalahkan Kayra.
" Sebenarnya apa yang sudah diperbuat wanita itu sampai Papa dan Erlangga jadi memihak dia!?" Helen menduga jika Kayra sudah mempengaruhi suami dan anaknya hingga kedua pria itu mati-matian membela Kayra. " Atau jangan-jangan, Papa juga sama seperti Erlangga, mempunyai hubungan spesial dengan sekretaris Papa yang di depan itu!?" Helen semakin mengacau dengan menuduh Krisna berselingkuh dengan sekretaris suaminya itu.
" Ya ampun, Ma. Kenapa Mama malah menuduh yang tidak-tidak!? Jangan suka menuduh jika tidak mempunyai bukti yang jelas!" Krisna dengan tegas menepis tuduhan sang istri.
" Bisa saja Papa menyangkal tapi ternyata Papa mempunyai hubungan dengan sekretaris Papa atau menikah dengannya!"
" Mama ingin Papa seperti itu?" Krisna justru menantang istrinya.
" Coba saja kalau Papa berani macam-macam dengan sekretaris Papa itu! Akan Mama seret dan Mama tendang dia dari kantor ini!" geram Helen semakin tersulut emosi dengan ucapan suaminya.
" Seharusnya Mama tidak menilai seseorang dari keadaan ekonomi orang itu. Banyak orang kaya raya tapi tidak menunjukkan sikap yang baik, dan tidak sedikit orang dari kalangan ekonomi menengah ke bawah bisa bersikap bijaksana. Mama jangan terlalu membanggakan kedudukan kita, hanya karena kita ini punya harta melimpah. Semua ini hanya sementara dan bisa hilang seketika tanpa kita duga. Kita jangan bersikap sombong apalagi sampai merendahkan orang lain. Bagaimana jika kita berada di posisi mereka? Mama pasti tidak akan senang dihina seperti Mama menghina mereka." Krisna berusaha menasehati istrinya yang terlihat begitu arogan dan sombong
" Kita ini tidak akan hidup kekurangan, Pa. Jadi kita tidak akan seperti mereka!" Helen menampik ucapan suaminya.
Krisna mendengus kasar menyadari kekerasan hati sang istri, dia rasa apapun penjelasan yang disampaikan kepada Helen tidak dapat diterima oleh istrinya itu.
" Papa rasa percuma kita berdebat jika pikiran Mama masih saja seperti itu. Saat ini Kayra sedang mengandung cucu Papa, Papa tidak ingin terjadi sesuatu pada Kayra dan bayinya. Jadi, Papa minta, Mama jangan berulah atau merencanakan sesuatu hal yang bisa mengancam keselamatan Kayra dan calon cucu Papa. Suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju, kenyataannya Kayra saat ini sedang mengandung cucu Mama juga, darah daging Mama, sebaiknya Mama pikirkan lagi jika Mama berencana ingin memisahkan Erlangga dan juga Kayra, jika Mama tidak ingin dianggap Nenek yang jahat terhadap cucunya sendiri." Krisna menegaskan jika dia tetap pada pendirian mendukung Kayra dan Erlangga.
" Dan kamu Agnes, sebaiknya berhentilah mengharapkan Erlangga! Saat ini Erlangga sudah mendapatkan apa yang diinginkan olehnya. Erlangga sangat menginginkan keturunan dan Kayra bisa memberikannya. Jika dulu kamu bisa berharap Erlangga akan berpisah dengan Caroline, kali ini jangan mengharapkan hal yang sama pada Kayra! Kamu masih muda dan cantik, pasti akan banyak pria yang menginginkanmu menjadi istrinya." Kepada Agnes pun, Krisna memberikan nasehat agar Agnes terbuka pikirannya dan tidak hanya terpaku kepada Erlangga.
" Sekarang kalian berdua sebaiknya pulang saja dan tenangkan pikiran kalian, jangan hanya memikirkan soal kebencian." Krisna menyuruh Helen dan Agnes untuk segera meninggalkan kantornya.
Helen mendengus kesal, harapannya Krisna akan menjadi sekutunya dalam melawan Kayra ternyata tak terwujud, Krisna justru berada di pihak lawan baginya. Akhirnya dengan rasa kesal yang menumpuk Helen pun pergi meninggalkan kantor Krisna bersama dengan Agnes yang tak kalah kecewanya dengan Helen, karena Krisna justru tidak mendukungnya. Krisna bahkan memintanya untuk menjauhi Erlangga dan tidak mengusik rumah tangga Erlangga dan Kayra.
***
Selepas Ashar, Erlangga mengadakan rapat mendadak bersama petinggi Mahadika Gautama untuk membahas soal pernikahannya dengan Kayra. Ditemani Wira dan Pak Nico, Erlangga memberanikan diri mengakui apa yang sudah dia lakukan bersama Kayra selama ini. Dia sadar, cepat atau lambat karyawannya itu akan tahu, karena itu dia memutuskan untuk berkata jujur soal pernikahannya yang selama ini disembunyikan bersama Kayra.
" Selamat sore, saya sengaja mengadakan rapat mendadak bersama Anda semua, untuk membahas masalah penting yang terjadi dalam lingkungan kantor Mahadika Gautama." Erlangga membuka sendiri acara rapat tersebut karena yang ingin dia bahas adalah masalah pribadinya.
__ADS_1
Semua yang hadir di ruangan rapat terlihat serius menunggu hal penting apa yang akan disampaikan oleh Erlangga. Apakah ada hal penting dalam perusahaan sampai Erlangga mengadakan rapat yang tidak dijadwalkan sebelumnya? Itulah yang banyak terlintas di pikiran peserta rapat.
" Saya ingin memberitahukan kepada kalian semua tentang status Kayra, sekretaris saya selama ini. Saat ini dia sudah resmi menjadi istri saya."
Hampir semua yang ada di ruangan itu terperanjat terkecuali Wira dan Pak Nico mendengar Erlangga mengatakan jika bos mereka ternyata telah menikahi sekretarisnya.
" Saat ini saya sedang menjalani sidang cerai dengan Caroline, jika Anda semua berpikiran negatif terhadap Kayra, sebaiknya hilangkan pikiran buruk itu. Pernikahan ini adalah atas permintaan saya dan bukan atas permintaan Kayra, jadi saya tidak ingin mendengar ada gosip tidak sedap di kalangan karyawan kantor ini. Jika sampai terdengar selentingan yang mengatakan hal buruk tentang Kayra, seperti yang pernah terjadi beberapa waktu lalu antara Kayra dengan Pak Wira yang disebarkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, saya tidak segan-segan akan memecat orang itu." Kalimat yang diucapkan Erlangga bernada penuh intimidasi dan ancaman. " Apa Anda semua mengerti dengan maksud saya?" lanjutnya.
" Mengerti, Pak." jawab peserta rapat yang masih agak syok dengan pengumuman yang disampaikan oleh bos mereka. Mereka tahu, Kayra memang wanita idaman, selain cantik, tutur katanya yang santun dan juga kepribadiannya yang sederhana mampu menyihir siapapun yang akan melihatnya. Namun, mereka tidak menyangka jika Erlangga yang mereka pikir sangat mencintai Caroline akhirnya luluh juga pada pesona Kayra.
" Baiklah, saya akan pegang kata-kata Anda semua. Setiap kepala divisi bertanggung jawab atas karyawannya masing-masing, tolong diatur sendiri agar mereka mengetahui soal pernikahan saya dengan Kayra, tanpa ada pergunjingan tidak sedap terhadap Kayra, karena saat ini Kayra sedang mengandung calon anak saya, anak yang sudah lama saya harapkan. Saya tidak mau pergunjingan di antara anak buah kalian semua akan berpengaruh kepada kondisi kesehatan Kayra dan janinnya. Apa kalian semua sanggup melakukan hal itu?" Perintah Erlangga kali ini sangat simple namun sangat berat untuk dilaksanakan para kepala divisi masing-masing. Mereka berpikir, bagaimana mereka harus membuat semua orang tutup mulut? Tapi mau tidak mau, mereka harus menjalankan perintah dari Erlangga.
" Baik, Pak. Kami akan menyampaikan hal ini kepada karyawan kami."
" Baiklah, saya rasa itu saja yang ingin saya sampaikan, silahkan Anda semua menandatangi surat yang menyatakan kesanggupan bertanggung jawab atas karyawan masing-masing. Sekali lagi, saya tidak ingin gosip yang pernah beredar tentang Kayra yang dituduh menjadi wanita simpanan akan terdengar lagi sekarang ini!" tegas Erlangga kembali membuat semua peserta rapat menarik nafas berat karena tanggung jawab yang mereka pegang jika sampai anak buah mereka menggosipkan Kayra.
***
" Gita, kamu sering makan di kantin, kan? Saya minta kamu awasi setiap karyawan yang kedapatan berkata buruk tentang Kayra. Saya tidak ingin sampai ada gosip yang beredar di kantor ini lagi!" Selepas memimpin rapat, Erlangga kembali ke ruangannya, namun saat dia melihat Gita, dia meninggalkan pesan terlebih dahulu kepada asisten pribadi istrinya itu. Sepertinya Erlangga benar-benar ingin melindungi Kayra dari orang yang akan menggunjingkan istrinya nanti.
" Siap, Pak!" Dengan lantang Gita menjawab perintah Erlangga.
Erlangga sendiri langsung melangkah masuk ke dalam ruangannya untuk menemui istrinya yang sedang beristirahat di kamar.
" Kayra?" Sesampainya di kamar istirahat, Erlangga mencari istrinya yang ternyata tidak ada di tempat tidur. Erlangga kemudian menuju kamar mandi, namun tak juga ditemukan Kayra di sana.
" Kayra?" Erlangga kembali ke luar dari ruangannya karena Kayra ternyata tidak ada di ruang kerjanya. " Gita, Kayra di mana?" Erlangga bertanya kepada Gita.
" Mbak Kayra? Bukannya tadi menyusul Bapak ke ruangan rapat, Pak?" sahut Gita bingung.
" Ke ruang rapat? Tidak, Kayra tidak ke ruang rapat. Kapan dia menyusul saya?"
" Tidak lama setelah Bapak naik ke ruang rapat, Pak."
Erlangga seketika dihinggapi rasa cemas karena dia berada di ruang rapat sekitar tiga puluh menit, sedangkan selama dia memimpin rapat Kayra tidak menyusulnya di ruang rapat. Lalu di mana Kayra sekarang berada?
*
*
*
Bersambung
__ADS_1
Happy Reading❤️