MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Pengaruh Hormon


__ADS_3

Erlangga mengusap peluh di kening Kayra setelah mereka mengakhiri penyatuan mereka karena mereka sama-sama sudah mendapatkan pelepasan, dia pun membantu membersihkan sisa percintaan di inti sang istri dengan tissue.


" Kamu mau ke kamar mandi?" Erlangga menanyakan apakah istrinya itu ingin membersihkan intinya di kamar mandi, karena dia ingin membantu Kayra untuk ke kamar mandi setelah dia buat lemas akibat pelepasan pertama.


" Nanti saja, Mas." Menduga jika suaminya nanti akan mengulang percintaan mereka, Kayra memilih menunda membersihkan area feminimnya.


" Kita satu ronde saja, ya!? Aku tidak tega membuat janin kita tidak nyaman di perut kamu ini karena terkena guncangan." Mengira jika yang dia lakukan tadi dapat mempengaruhi kenyaman sang janin, Erlangga memutuskan tidak ingin mengulang aktivitas percintaan mereka untuk yang kedua kalinya malam ini.


Hembusan nafas kecewa Kayra terdengar saat Erlangga mengatakan akan mengakhiri aktivitas percintaan mereka, padahal biasanya Erlangga sering memintanya berulang-ulang sampai membuatnya kewalahan.


" Sudah?" tanyanya kecewa.


" Iya, Sayang. Kita bisa lakukan lain waktu lagi, ya!? Untuk malam ini cukup sekali saja." Sambil mengusap wajah Kayra, Erlangga mencoba memberikan Kayra pengertian, karena dia melihat jika istrinya saat ini sedang berhas rat. Suatu kejutan untuknya, dia tidak menyangka jika Kayra berinisiatif meminta berhubungan terlebih dahulu walaupun secara tidak langsung wanita itu ungkapkan, namun dia menduga apa yang terjadi pada istrinya karena hormon Kayra yang saat ini sedang mengandung, hingga has rat untuk bercintanya meningkat. Tentu saja Erlangga mulai paham apa saja seputar Ibu hamil karena dia memang mencari informasi soal kehamilan melalu browsing di internet.


" Besok, ya?"


" Tidak besok, jangan dilakukan setiap hari, itu tidak baik.


" Tapi biasanya Mas suka minta tiap hari ..." Kayra kembali memainkan rambut halus di dada Erlangga yang mati-matian sedang meredam keinginan melanjutkan berhubungan suami istri.


" Itu karena kamu belum ketahuan hamil, sekarang kamu sudah hamil, ada anak kita di perutmu ini." Erlangga mengusap perut Kayra. " Aku lebih mengkhawatirkan janin ini, Kayra.


Kayra memberengut saat mendengar alasan yang diberikan oleh Erlangga, walaupun dia juga tidak ingin terjadi sesuatu pada janinnya, namun dia juga bingung kenapa sekarang ini ga irahnya sangat tinggi, inginnya bersentuhan dengan suami dan melakukan penyatuan.


Kayra langsung bangkit dari tempat tidur dan dengan bersungut-sungut melangkah ke arah kamar mandi untuk membersihkan area feminimnya, karena suaminya bilang sudah tidak ingin menyentuh bagian dalamnya. Sementara Erlangga langsung terkekeh karena istrinya itu bertingkah seperti anak kecil yang merajuk kecewa karena tidak dibelikan mainan oleh orang tuanya, walaupun dia sendiri berusaha sekuat tenaga menahan has rat untuk tidak menyentuh Karya kembali karena dia tidak ingin membuat Kayra kesakitan dan hal itu bisa mempengaruhi kesehatan sang janin.


***


Tok tok tok


" Pa ...."


Krisna yang sedang berkutat dengan aktivitasnya di meja kerja rumahnya mengarahkan pandangan ke arah pintu saat mendengar suara ketukan pintu dibarengi suara Helen. Pria itu lalu melepas kacamatanya melihat kehadiran sang istri di ruang kerjanya.


" Ada apa, Ma?" tanyanya kemudian.


" Pa, cobalah Papa bujuk Erlangga agar mau menerima Agnes setelah bercerai nanti. Agnes itu anak baik lho, Pa. Kita juga sudah kenal keluarga dia sejak lama. Mama tidak ingin Erlangga salah memilih wanita lagi seperti sekarang ini." Setelah mendekat ke arah suaminya, Helen berusaha membujuk Krisna agar mau mendukung rencananya yang ingin menjodohkan Erlangga dengan Agnes.


Krisna menghela nafas panjang seraya menyandarkan punggung ke sandaran kursi kerjanya. Dia tahu jika istrinya itu selalu bertentangan dengan anaknya jika soal wanita yang akan mendampingi Erlangga.


" Menurut Papa, sebaiknya Mama jangan terlalu ikut campur untuk masalah ini, Ma." Berusaha bersikap bijak, Krisna mencoba menasehati istrinya agar tidak selalu merecoki urusan pribadi putranya itu.


" Ck, Papa ini gimana, sih? Apa Papa mau jika Erlangga menikah lagi nasib rumah tangganya akan seperti ini kembali? Mama tidak mau punya menantu seperti Caroline lagi! Tidak mengurus suami, maunya memikirkan karirnya sendiri!" Dengan melipat tangan di dadanya, Helen menggerutu merasa sang suami tidak mendukungnya, padahal dia merasa apa yang dilakukannya adalah untuk kebaikan Erlangga.


" Ma, Erlangga itu bukan anak kecil yang akan melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang. Dia merasa kecewa dengan rumah tangganya sekarang, pastilah dia berusaha memperbaiki kesalahannya itu. Jika kemarin Caroline tidak bisa menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri, tentu saja nanti dia akan memilih wanita yang mau menurut dengannya, yang mau mengurusinya." Krisna sudah tahu siapa dan bagaimana Kayra, Krisna yakin jika wanita itu akan menjadi pendamping yang akan membuat Erlangga menjadi pribadi yang lebih baik, apalagi saat ini menantunya itu sedang mengandung cucunya.


" Iya, Pa. Mama mengerti, dan semua itu ada pada Agnes! Mama yakin Agnes akan menjadi istri yang baik untuk Erlangga, Pa." Helen tetap merasa yakin Agnes wanita yang tepat untuk Erlangga.

__ADS_1


" Kenapa Mama yakin jika Agnes lah wanita yang paling tepat untuk Erlangga? Kenapa Mama tidak mencari wanita yang sederhana yang pantas menjadi istri yang setia menunggu suami di rumah? Papa rasa karakter Agnes itu tidak beda jauh seperti Caroline, yang hanya lebih senang mengurus dirinya sendiri daripada mengurus suami." Kalimat sindiran dilemparkan Wisnu menanggapi sikap Agnes yang dia anggap tidak akan cocok dengan tipe yang diinginkan Erlangga.


" Papa jangan sembarangan bicara, ya! Agnes itu tidak sama dengan Caroline! Dia itu lebih berkelas daripada Caroline!" Helen menentang anggapan suaminya yang menyamakan Agnes dengan Caroline


" Berkelas? Berkelas dalam hal apa? Yang kita bicarakan ini tugas seorang istri terhadap suami. Sekarang Papa tanya sama Mama, apa Agnes itu bisa memasak? Bisa mengerjakan pekerja rumah? Merapihkan tempat tidur misalnya?" Krisna mengambil contoh pekerjaan yang paling mudah menurutnya, karena dia yakin untuk pekerjaan itu pun wanita seperti Agnes akan mengandalkan ART nya.


" Kalau hanya mengerjakan hal itu 'kan bisa ART yang mengerjakan, Pa. Kita ini keturunan keluarga berada dan terpandang. Tidak mungkin untuk hal-hal seperti itu harus dilakukan sendiri." Helen beranggapan apa yang dipermasalahkan oleh suaminya adalah hal sepele.


" Justru itu yang diinginkan Erlangga, Ma. Dia itu mengidamkan seorang wanita yang sederhana yang bisa menjadi istri yang bisa melayani dia sepenuhnya, bukan hanya melayani kebutuhan biologisnya saja, tapi juga melayani hal lainnya, seperti memasak untuknya, layaknya kebanyakan tugas para istri, bukan wanita sosialita yang lebih senang menghabiskan waktu pergi ke salon, spa, mall dan bersenang-senang di luar rumah." Krisna menggambarkan sosok Kayra sebagai wanita yang memang diidamkan oleh Erlangga.


" Papa ini jangan ngaco, deh! Tidak mungkin selera Erlangga seperti itu! Dia itu CEO lho, Pa! Jangan sampai pendampingnya itu membuat malu keluarga besar Mahadika Gautama!" Helen menganggap jika suaminya itu terlalu mengada-ada, karena menurutnya seorang CEO seperti Erlangga layak mendapatkan wanita berkelas seperti Agnes.


" Sudahlah, Ma. Kita ini sudah tua, jangan berdebat dengan anak hanya karena wanita yang cocok untuk anak kita. Jika Mama memaksakan kehendak Mama untuk menjodohkan Erlangga dengan Agnes, Papa rasa rumah tangga mereka tidak akan bisa bertahan lama. Papa yakin, Erlangga akan memilih wanita yang baik, yang menurut dengannya dan akan menjadi Ibu yang baik untuk anak-anaknya kelak." Krisna menasehati Helen agar Helen menyerahkan keputusan kepada Erlangga tentang pendamping hidup yang cocok putranya itu.


" Percuma bicara sama Papa! Papa sama anak sama saja!" Helen mendengus kesal lalu beranjak meninggalkan ruang kerja suaminya dengan bersunggut-sunggut.


Melihat istrinya yang merajuk, Krisna hanya menggelengkan kepalanya, lalu hembusan nafas terdengar dari pria paruh baya itu. Sejujurnya dia sangat mendambakan ketenangan dalam keluarganya, dia menginginkan istri dan anaknya itu selalu akur dan tidak selalu bertentangan. Dia berharap dengan berita kehamilan Kayra akan membawa perubahan kepada hubungan Helen dan Erlangga, walaupun dia tahu jika itu tidaklah mudah, karena bisa dipastikan istrinya itu akan menentang keras kehadiran Kayra yang saat ini sudah menjadi menantu mereka.


***


Seorang wanita mengerjapkan matanya saat dia merasakan seseorang sedang menghisap puncak bukit kembarnya. Dia lalu bangkit dan terduduk.


" Apa kita bisa memainkan lagi seperti yang semalam?" tanya pria yang semalam menemani wanita itu bersenang-senang di atas tempat tidur.


" Tidak usah ..." Sang wanita bangkit setelah melilitkan selimut di tubuhnya, dia mengambil tasnya untuk mengambil beberapa uang tunai di dompetnya itu.


" Ini bayaranmu!" Agnes menyerahkan uang tunai sebesar tiga juta rupiah kepada pria tadi. " Kamu bisa pergi sekarang ..." Agnes menyuruh pria yang dibayar untuk menemaninya di atas tempat tidur semalam itu untuk pergi.


Ddrrtt ddrrtt


Wanita itu mengambil ponselnya saat terdengar bunyi dari benda pipih itu di atas nakas.


" Halo, Tante ..." Lalu dia mengangkat panggilan telepon tersebut saat melihat nama Helen lah yang menghubunginya saat ini.


" Halo, Agnes. Siang ini kamu bisa menemani Tante ke salon? Sekalian ada yang ingin Tante bicarakan sama kamu." Suara Helen terdengar di telinga wanita yang ternyata Agnes.


" Oh, sudah pasti bisa, Tante. Jam berapa, Tan? Kita ketemu di mana? Apa nanti aku yang menyusul Tante ke rumah?" Dengan sangat antusias, Agnes menerima tawaran Helen untuk menemani wanita itu treatment ke salon.


" Boleh, kamu nanti ke sini saja jam sebelas, ya!?"


" Oke, Tan. Aku siap-siapa dulu kalau begitu. " Melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan, Agnes berinisiatif mengakhiri panggilan telepon dari Helen agar dia bisa bersiap-siap untuk ke rumah Helen.


" Oke, sampai ketemu nanti ya, Nes."


" Iya, Tante. Bye ...."


Agnes mematikan sambungan telepon Helen seraya menarik nafas lega.

__ADS_1


" Untung saja pria tadi sudah pergi, kalau saja Tante Helen telepon saat aku tidur dan pria tadi mengangkat panggilan dari Tante Helen, bisa tamat aku." Sambil menyeringai Helen bergumam. Dia bersyukur jika kelakuannya tidak sampai ketahuan oleh Helen. Sejak tinggal di luar negeri, melakukan hubungan in tim dengan pria bukanlah hal yang aneh untuknya walaupun bukan dia lakukan karena rasa suka, tapi karena keinginan memuaskan has ratnya, bahkan untuk menyewa seorang untuk menemaninya di atas ranjang pun bukan pertama kali dia lakukan. Bagi Helen melakukan hubungan in tim dengan pria tanpa ikatan yang sah bukanlah hal yang tabu.


***


" Hari ini kita ada acara jadwal pertemuan dengan Pak Satria, Mas. Aku atau Pak Wira yang akan menemani Mas pergi ke sana?" tanya Kayra saat masuk ke dalam ruangan kerja Erlangga yang terlihat sibuk di meja kerjanya.


" Kamu dan Pak Wira yang akan ikut bersamaku bertemu dengan Pak Satria nanti." Erlangga sengaja ikut membawa Kayra, agar dia bisa makan di luar bersama istrinya.


" Ya sudah, aku mau siapkan apa yang perlu dibawa, Mas." Kayra ingin kembali lagi ke tempatnya.


" Kayra, Sabtu nanti kita akan melihat rumah baru yang akan kita tempati." Erlangga bangkit dan berjalan mendekat ke arah sang istri.


" Kita jadi pindah, Mas?" tanya Kayra, karena sebenarnya dia sudah cukup nyaman tinggal di rumahnya sekarang.


" Aku tidak ingin Rivaldi menemukanmu." Erlangga beralasan. " Kita nanti akan tinggal di rumah Papa yang dulu. Aku rasa di sana akan lebih aman untuk kita."


" Di rumah orang tua Mas?" Kayra terkesiap saat suaminya mengatakan jika rumah yang akan ditempati mereka nanti adalah rumah lama keluarga Erlangga.


" Benar, aku sudah cerita ke Papa soal Rivaldi, Papa menyarankan aku menempati rumah lama kami yang selama ini hanya ditempati oleh ART yang mengurus rumah itu.


" Lalu Mbak Atik, Mbak Diah dan Mbak Siti bagaimana, Mas? Apa mereka juga dibawa?" Kayra menanyakan nasib ketika ART nya itu jika mereka pindah, karena Erlangga menyebutkan rumah yang akan mereka tempati nanti sudah mempunyai ART yang mengurus rumah itu.


" Mereka semua akan ikut bersama kita."


" Tapi Mas bilang di sana sudah ada ART yang bekerja?"


" Hanya ada dua orang ART di sana, tidak masalah jika ART yang ada di sini ikut kita pindah ke sana. Pak Bondan juga menyiapkan dua orang terbaiknya untuk menjaga rumah itu ditambah Pak Koko agar tidak ada yang berani masuk ke dalam rumah yang akan kita tempati nanti." Erlangga memang ingin menjaga Kayra dengan ketat. Dia tidak ingin ada siapapun yang berani menyentuh ataupun menyakiti istrinya.


" Tapi, Mas ... jika rumah itu rumah keluarga orang tua Mas, bagaimana kalau tiba-tiba Mama Mas datang ke rumah itu?" Kayra khawatir jika Mama mertuanya tiba-tiba berkunjung ke rumah itu walaupun Erlangga menceritakan jika rumah itu sudah tidak mereka pakai lagi karena lokasinya lebih jauh dari rumah tinggal orang tua Erlangga sekarang.


" Mama tidak akan mungkin datang ke sana, Kayra." ucap Erlangga.


" Kenapa Mas begitu yakin jika Ibu Helen tidak akan datang ke sana?" tanya Kayra.


" Karena Mama yang meminta pindah dari sana, jadi aku pikir Mama tidak akan mau datang lagi ke sana." Erlangga mengeringai menjawab pertanyaan Kayra.


" Ya sudah, aku mau menyiapkan yang diperlukan untuk pertemuan dengan Pak Satria nanti, Mas." Kayra kembali berpamitan kepada suaminya itu lalu berjalan ke luar ruangan Erlangga.


" Suruh Gita saja yang menyiapkannya! Kau jangan terlalu capek, Kayra!" seru Erlangga yang tidak ingin melihat istrinya mengerjakan pekerjaan apapun.


***


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy reading ❤️


__ADS_2