MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Cinderella Dan Pangeran


__ADS_3

Kayra memulas tipis blush on di pipinya, setelah mengoles lipstik warna pink di bibir ranumnya. Malam ini dia akan menemani sang suami ke acara pesta pernikahan anak Pak Ronald. Ini adalah kali pertama dia menghadiri acara resmi mendampingi Erlangga sebagai istri Erlangga. Walaupun hatinya agak berdebar karena dia pasti akan bertemu banyak orang. Bukan tidak mungkin dirinya akan menjadi perhatian sebagai istri baru dari Erlangga. Namun, Kayra berusaha untuk tetap bisa percaya diri, termasuk dari kemungkinan pergunjingan orang yang akan membicarakannya nanti.


" Kamu cantik sekali, Sayang." Tiba-tiba saja Erlangga sudah berdiri di belakang Kayra, dengan membungkukkan tubuhnya hingga kepala pria itu sudah bertopang di pundak Kayra.


" Riasan wajahku terlalu berlebihan ya, Mas?" Kayra bertanya kepada Erlangga yang baru saja membenamkan kecupan di pipi kanan istri cantiknya itu.


" Tidak, segini sudah cukup." Erlangga memuji riasan wajah Kayra yang terlihat natural, tetapi tetap terlihat cantik dan elegan.


" Apa penampilanku sekarang tidak memalukan Mas?" Kayra takut orang yang mengenal Caroline sebagai istri dari Erlangga sebelumnya, akan membandingkan dirinya dengan Caroline.


" Memalukan apanya? Kamu terlihat cantik seperti begini, mana mungkin memalukan!" Erlangga menepis anggapan Kayra. Tangannya kini terulur, membantunya untuk bangkit dari kursi riasnya.


Kayra terkekeh menerima uluran Erlangga lalu bangkit dari duduknya.


" Kenapa tertawa? Apa ada yang lucu?" tanya Erlangga dengan memicingkan matanya.


" Aku merasa seperti Cinderella yang bertemu dengan seorang pangeran, Mas." ucap Kayra mengatakan alasannya tadi tertawa.


" Karena kamu memang Cinderella, wanita baik hati yang membuat Pangeran Erlangga jatuh hati dan terpikat." Erlangga membalas dengan berseloroh perkataan Kayra tadi.


" Kalau aku Cinderella, nanti pulang dari pesta jangan lewat jam dua belas malam ya, Mas." Kayra masih bercanda dengan sang suami.


" Tentu saja tidak! Aku tidak akan membiarkan ibu hamil lama berkeliyaran sampai larut malam." Erlangga kini menyodorkan lengannya yang ditekuk. " Kita berangkat sekarang," sambungnya kemudian.


Dengan menganggukkan kepala, Kayra pun lalu mengambil clutch dan melingkarkan tangannya di lengan sang suami. Lalu, mereka berdua berjalan ke luar kamar untuk pergi ke acara pesta pernikahan putri ketua Ikatan Pengusaha Wilayah Jawa-Bali yang digelar hari ini.


Sementara itu, di basement apartemen mewah, terlihat Rivaldi turun dari mobilnya. Dia sudah memiliki janji dengan Grace untuk hadir di acara yang juga akan dihadiri oleh Erlangga.


Rivaldi berhenti di depan sebuah kamar apartemen di lantai lima. Nomer unit yang tertera di dinding dekat pintu apartmen sesuai yang diberikan oleh Grace. Dia lalu menekan tombol bel apartemen yang dia duga milik Grace tersebut.


Menunggu hampir dua menit, akhirnya pintu apartemen dibuka, hingga menampakkan seorang wanita muda cantik mengenakan dress di bawah lutut berwarna matcha, dengan clutch dan heels berwarna senada. Rambut panjang wanita muda itu dibiarkan tergerai dengan ujung ditata curly.


" Hai, sorry kelamaan menunggu." Dengan senyuman di bibirnya, Grace menyapa Rivaldi.


" It's oke, tidak masalah." Rivaldi mengedikkan bahunya. Waktu menunggu di bawah dua menit bukankah waktu yang lama menurutnya.


" Mau masuk dulu, atau kita berangkat sekarang?" tanya Grace membuka lebar daun pintu apartemennya.


" Kita berangkat sekarang saja," jawab Rivaldi.


" Oke." Grace pun akhirnya menutup pintu apartemen tersebut. Lalu, bersama Rivaldi berjalan meninggalkan unit apartemen milik perusahaan terkenal Angkasa Raya Group. Tentu saja, kedekatan Rizal dengan Dirgantara sebagai pemilik perusahaan properti terkenal itu, mempermudahnya untuk meminjam unit apartemen mewah milik keluarga Poetra Laksmana tersebut.


***


Erlangga dan Kayra memasuki ruangan convention hall, tempat acara pernikahan itu berlangsung. Sejak turun dari mobil, tangan Erlangga tidak pernah melepaskan genggaman tangannya pada tangan Kayra. Pria itu seakan ingin menunjukkan kepada semua orang, jika wanita yang ada di sampingnya adalah miliknya.


" Nak Erlangga?" Saat melintasi beberapa tamu yang hadir, seseorang memanggil nama Erlangga, hingga membuat pria itu menolehkan pandangan ke arah orang yang memanggilnya tadi.


" Oh, selamat malam Pak Ruslan? Pak Ruslan apa kabar?" Erlangga lalu menyalami Ruslan Hadiwijaya, salah satu pengusaha yang juga bergerak di bidang etomotif. " Selamat malam, Nyonya." Kini wanita di samping Ruslan yang dia sapa.

__ADS_1


" Alhamdulillah, baik-baik saja, Nak Erlangga." sahut Ruslan. " Bagaimana kabar Pak Krisna? Apa beliau datang kemari juga, Nak Erlangga?" tanya Ruslan kemudian.


" Papa sedang dalam perjalanan kemari, Pak Ruslan." sahut Erlangga kemudian. Sementara Kayra pun ikut bersalaman dengan Ruslan dan istrinya saja.


" Pak Andra juga datang ke sini, Pak Ruslan?" Erlangga menanyakan anak dari Ruslan. Karena beberapa waktu lalu, perusahaannya dengan perusahaan milik anak dari Pak Ruslan mengadakan kerjasama.


" Andra berhalangan hadir, karena dia sedang berada di Beijing sekarang ini." Pak Ruslan menjelaskan keberadaan putranya saat ini. " Andra sempat cerita kepada saya, dia sedang meningkatkan kerjasama dengan perusahaan Mahadika. Benar begitu, Nak Erlangga?"


" Benar sekali, Pak Ruslan. Semoga kerjasama perusahaan Mahadika dan perusahaan Hadiwijaya semakin solid, Pak Ruslan." Sebagai partner bisnis yang sudah terbina sejak lama, sudah pasti Erlangga berharap kemitraan mereka tetap bisa terjalin dengan baik.


" Saya juga berharap seperti itu, Nak Erlangga." sahut Pak Ruslan menepuk lengan Erlangga.


" Maaf, Pak Ruslan. Kami permisi, karena ingin menemui Pak Ronald terlebih dahulu." Erlangga meminta ijin meninggalkan Pak Ruslan dan istrinya.


" Silahkan, Nak Erlangga." Pak Ruslan mempersilahkan Erlangga dan Kayra yang ingin meninggalkannya.


Erlangga pun lalu menghampiri Pak Ronald sebagai tuan rumah untuk memberikan selamat kepada kedua mempelai di pelaminan. Setelah mengucapkan selamat, Erlangga membawa Kayra memilih meja yang sudah dipilihkan oleh panitia untuk menyantap hidangan yang akan disajikan di meja para tamu.


" Mewah sekali pernikahannya ya, Mas?" Kayra sampai berdecak kagum melihat dekorasi resepsi pernikahan keluarga Pak Ronald. Mungkin ini adalah pesta pernikahan terbesar dan termewah yang pernah dia hadiri.


" Kita juga akan mengadakan resepsi seperti ini nanti," bisik Erlangga di telinga Kayra.


" Jangan, Mas!" Dengan cepat, Kayra menolak.


" Kenapa memangnya? Kamu tidak suka kita mengadakan pesta meriah seperti ini? Aku ini Pangeran Erlangga, bukankah seorang pangeran harus mengadakan pesta yang megah dan mewah? Bahkan kalau perlu seluruh orang di negeri ini harus mengetahui jika Sang Pangeran sudah menemukan tambatan hatinya kepada seorang Cinderella cantik bernama Kayra Ainun Zahra." Punggung tangan Erlangga mengusap wajah cantik Kayra, membuat wanita itu tersipu malu.


Erlangga dan Kayra segera mendongakkan kepala saat mendengar suara Krisna.


" Pa, Ma?" Erlangga dan Kayra langsung bangkit saat melihat kedatangan Krisna dan juga Helen. Seperti sudah menjadi kebiasaan, Erlangga langsung menyalami kedua orang tuanya, diikuti dengan Kayra. Namun, tidak seperti sebelumnya, kali ini Helen mau menerima uluran tangan Kayra, walaupun masih nampak kaku.


" Nah, seperti ini 'kan terlihat damai." Krisna meledek istrinya yang sudah mulai mau menerima saat Kayra menyentuh dan mencium punggung tangannya.


Helen memasang wajah datar seraya membuang pandangan ke arah lain saat suaminya itu menyindirnya. Sementara perubahan sikap Helen cukup membuat Kayra tertegun. Tak bisa dipungkiri dirinya merasa bahagia, tatkala Mamanya itu mau menerimanya bersalaman. Dia bahkan langsung menoleh ke arah suaminya dengan rasa haru. Erlangga langsung membelai kepala Kayra, dia juga senang Mamanya mulai bersikap lunak kepada Kayra.


" Tadi aku bertemu dengan Pak Ruslan Hadiwijaya, Pa. Beliau menanyakan Papa." Erlangga mengabarkan pertemuannya dengan Pak Ruslan, salah satu rekan bisnis Papanya sejak masih memenang perusahaan Mahadika Gautama


" Oh ya? Papa belum melihat beliau." Krisna mengedar pandangan ke setiap bagian ruangan tempat pesta itu berlangsung. Banyak tamu yang dia kenal. Namun, tidak sempat dia sapa satu persatu.


" Iya, tadi aku bertemu di dekat pintu masuk." Erlangga menunjuk ke arah tempat dia bertemu dengan Pak Ruslan. Di saat yang bersamaan, dia melihat kemunculan Rivaldi dari arah pintu masuk bersama dengan seorang wanita yang dia tahu adalah orang suruhan Rizal.


Seringai tipis terlihat di sudut bibir pria tampan itu, saat mengetahui jika Rivaldi sepertinya sudah masuk ke dalam jebakan Rizal. Ternyata begitu mudah memperdaya Rivaldi dengan menyodorkan Grace, seorang wanita yang sangat cerdik dan lihai.


" Rivaldi ada di sini." Mendekatkan bibirnya ke telinga Kayra, Erlangga membisikkan kedatangan Rivaldi kepada istrinya.


" Mana, Mas?" Kayra spontan melihat ke arah pintu masuk, hingga matanya mendapati sosok pria yang sempat mengejarnya dulu, sedang berjalan dengan seorang wanita cantik.


" Mas, jangan jauh-jauh dariku!" pinta Kayra. Semenjak dia tahu siapa Rivaldi yang sebenarnya, Kayra merasa takut jika harus bertemu dengan pria itu.


" Kamu tenang saja, Sayang. Aku akan menjagamu." Erlangga kembali membelai kepala Kayra penuh kasih sayang.

__ADS_1


" Kalian ini tidak sopan sekali! Berada di depan orang tua, malah bisik-bisik, mengumbar kemesraan!" Helen yang sejak tadi tak berniat berbicara tiba-tiba menegur anak dan menantunya yang dianggapnya tidak menghargai keberadaan dirinya juga suaminya.


" Hmmm, maaf, Bu." Kayra segera meminta maaf kepada Mama mertuanya, saat Helen menegurnya.


" Tidak apa-apalah, Ma. Namanya juga suami istri, apalagi mereka ini baru saja merasakan kebahagiaan. Wajar saja jika mereka seperti itu." Krisna menganggap apa yang dilakukan anak dan menantunya adalah hal yang wajar.


" Benar, memangnya Mama dulu tidak pernah mengalami kasmaran seperti kami ini?" Erlangga menimpali dengan memberikan sindiran terhadap Mamanya sendiri.


" Tentu saja kami tidak bisa merasakan seperti kalian, saat masih menjadi pengantin baru. Kami ini dijodohkan, tidak saling mengenal. Jadi tidak bisa mesra-mesraan seperti kalian berdua ini." Krisna terkekeh menceritakan masa mudanya saat baru menikah dengan Helen.


" Ini tidak ada hubungannya dengan masa lalu kita, Pa. Mama hanya menegur sikap mereka berdua yang tidak melihat, jika ini tempat umum!" Helen merespon ucapan suaminya yang menyangkutkan kisah masa lalu mereka dengan tingkah laku Kayra dan Erlangga yang bermesraan tidak kenal waktu dan tempat.


" Memangnya Mama baru tahu kelakuan anak Mama ini? Jangan salahkan Kayra, Ma. Salahkan anak Mama itu!" Krisna justru membela Kayra, karena dia tahu pasti Kayra lah yang dipermasalahkan oleh Helen.


" Bukan salah aku, Pa. Mama saja yang tidak mau mengerti!" Erlangga menangkis dengan melempar kesalahan kepada Helen. Membuat Helen mendengus kasar. Dia merasa seperti dikeroyok oleh anak dan suaminya.


" Mas, sudah ..." Kayra mengusap lengan Erlangga, meminta agar suaminya itu tidak meneruskan perdebatannya dengan Helen. Kayra merasa perdebatan itu hanya akan membuat hubungannya dengan Helen semakin tidak baik, jika Helen disudutkan hanya karena Krisna dan juga Erlangga membela dirinya.


***


" Pa, Ma." Rivaldi yang baru sampai langsung menemui kedua orang tuanya setelah menemui Pak Ronald dan juga memberi ucapan selamat kepada kedua pengantin.


" Aldi?" Papa Rivaldi menoleh ke arah wanita yang saat ini berdampingan dengan putranya itu.


" Siapa dia ini, Aldi?" Merasa penasaran dengan wanita yang bersama Rivaldi, hingga membuat Papanya itu bertanya.


" Ini Rena. Pa. Dia ini putri dari Pak Satria, pemilik perusahaan Langgeng Putra Persada." Rivaldi menjelaskan kepada Papanya, siapa sebenarnya sosok Grace.


" Oh, halo, Nak." Nugraha langsung menyapa Grace yang diperkenalkan sebagai Rena oleh Rivaldi.


" Halo, Om, Tante." Grace menyapa balik Papa dan Mama Rivaldi dengan menyalaminya.


" Wah, ini suatu kejutan untuk kami. Aldi tidak bicara apa-apa pada kami, jika dia akan membawa Nak Rena pergi kemari." Tentu Papa Rivaldi merasa kaget, karena Rivaldi tiba-tiba membawa dan mengenalkan seorang wanita cantik kepadanya.


" Benar, tadi Aldi malah bilang tidak akan datang kemari. Ternyata, dia ingin memberikan kejutan kepada kami dengan mengenalkan kamu, Nak." Mama Rivaldi menimpali.


" Hmmm, apakah Rena ini yang akan menjadi calon menantu Papa dan Mama, Aldi?" Nugraha meledek Rivaldi dengan menyebut calon menantu kepada Grace.


" Papa jangan terlalu berlebihan! Kami ini hanya kebetulan bertemu saja, dan Rena juga kemarin datang ke kantor untuk melakukan kerjasama dengan perusahaanku, Pa." Dengan cepat Rivaldi menampik dugaan Papanya yang mengatakan jika kebersamaan dirinya dengan Grace adalah untuk memperkenalkan Grace sebagai calon istrinya. Karena dia sendiri pun belum sampai memikirkan ke arah sana.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2