MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Tamu Istimewa


__ADS_3

Suasana rumah kediaman Krisna Mahadika Gautama cukup ramai pagi ini. Beberapa kerabat dan rekan bisnis yang cukup dekat dengan Krisna dan juga Erlangga nampak sudah berdatangan memenuhi undangan acara tasyakuran empat bulan kehamilan Kayra. Belum lagi kedatangan kerabat Helen sesama istri-istri bos yang juga diundang.


" Lang, Kayra mana?" tanya Helen karena tidak melihat menantunya itu di samping Erlangga.


" Masih dirias sama orang salon, Ma." sahut Erlangga.


" Suruh cepat, tamunya sudah banyak yang datang. Mama mau mengenalkan Kayra kepada teman Mama dulu, sebelum pengajiannya belum dimulai." Helen menyuruh anaknya itu menjemput Kayra.


" Iya, Ma." Erlangga hendak melangkah meninggalkan Mamanya.


" Assalamualaikum ..." Saat Erlangga ingin memanggil Kayra, tiba-tiba Arina dan Nugraha muncul di hadapannya.


" Waalaikumsalam ..." sahut Erlangga dan Helen bersamaan.


" Ibu? Pak Nugraha?" Erlangga langsung mencium tangan Arina lalu memeluk tubuh Arina. Setelah itu Erlangga menyalami Nugraha.


" Arina?" Helen menatap Arina dengan tidak percaya. Arina terlihat berbeda dari Arina yang dulu menjadi pengasuh Erlangga. Tentu saja status Arina sebagai istri seorang direktur sedikit banyak mempengaruhi penampilan Arina yang nampak elegan walau tetap tak menghilangkan kesederhanaan wanita itu.


" Ibu Helen ..." Arina tidak bisa menutupi rasa harunya bertemu dengan keluarga Krisna. Hingga bola matanya mulai mengembun.


" Bagaimana kabarmu, Arina? Sudah lama sekali kita tidak bertemu." Helen merentangkan tangannya lalu memeluk Arina beberapa saat.


" Alhamdulillah saya baik, Bu. Maafkan saya karena dulu pergi tanpa sepengetahuan Ibu Helen dan Pak Krisna." Arina menyampaikan permintaan maafnya, karena pergi tanpa memberi kabar terlebih dahulu kepada Helen dan Krisna.


" Tidak apa-apa, Arina. Saya mengerti. Saya seharusnya yang meminta maaf kepadamu." Helen lalu menoleh kepada Nugraha. " Apa ini suamimu, Arina?" tanya Helen kemudian.


" Iya, Bu. Ini suami saya." Arina mengusap air matanya yang tak tertahankan menitik di pipinya seraya memperkenalkan suaminya kepada Helen.


" Apa kabar, Bu Helen? Saya Nugraha, suami Arina." Nugraha mengulurkan tangannya menjabat tangan Helen.


" Baik, Pak Nugraha. Saya sudah mendengar dari Erlangga dan suami saya. Saya senang akhirnya Arina menemukan pendamping yang tepat seperti Pak Nugraha dan bisa hidup bahagia." Helen pun merasa lega dengan kehidupan Arina saat ini.


" Oh ya, Bu. Bagaimana dengan adik Elang? Apa dia sudah menikah juga?" Tiba-tiba saja Arina teringat anak kedua Helen, Karena dia ingat saat itu dia dan Helen sama-sama sedang mengandung.


Wajah Helen berubah sendu saat Arina menyinggung soal anaknya yang saat ini sudah berada di Surga.


" Adikku sudah meninggal, Bu. Dulu Mama melahirkan prematur. Dan adikku itu meninggal saat masih kecil." Erlangga yang menjelaskan, karena dia melihat wajah Mamanya yang nampak sedih.


" Innalillahi Wainnaillaihi Rojiun, saya minta maaf, Bu. Saya tidak tahu ... saya turut berduka." Arina memeluk Helen.

__ADS_1


" Adikku itu terlahir di hari yang sama dengan hari kelahiran Kayra, Bu." ujar Erlangga kemudian.


" Benarkah?" Arina nampak terkejut.


" Iya," sahut Erlangga.


" Ibu tidak sabar untuk bertemu dengan Kayra, Lang." Arina semakin tidak sabar bertemu kembali dengan putrinya itu.


" Saya panggilkan dulu ya, Bu." Erlangga berpamitan ingin memanggil Kayra, lalu beranjak meninggalkan mereka.


" Ma, Mama harus ingat. Harus bisa menahan diri, jangan sampai membuat Kayra curiga." Nugraha mengingatkan istrinya agar tenang dan menjalankan syarat yang diberikan Erlangga jika ingin bertemu dengan Kayra..


" Iya, Pa." Arina menyahuti.


" Kayra benar-benar mewarisi sifatmu, Arina." Helen mengingat bagaimana Arina saat menjadi pegawainya dulu. Sangat penuh kasih sayang saat mengasuh Erlangga.


" Saya bersyukur, Kayra juga dirawat dengan orang tua asuh yang baik, Bu." Arina tidak ingin mengesampingkan peran Ibu Sari dan suaminya dalam membentuk karakter Kayra.


" Ya, benar. Mereka mendidik Kayra dengan sangat baik." Helen setuju dengan perkataan Arina.


***


Kayra menoleh saat mendengar suara Gita memanggil namanya, saat dia baru saja keluar dari kamarnya.


" Mbak Gita? Ya ampun, terima kasih Mbak Gita sudah datang kemari." Refleks Kayra memeluk tubuh Gita, karena dia merasa senang teman sekantornya itu akhirnya datang di antara tamu-tamu undangan yang lebih banyak tidak dikenalnya selain Emma.


" Saya yang terima kasih karena ikut diundang diacara Bu Kayra ini." Gita mengusap perut Kayra yang sudah memperlihatkan baby bump.


" Aura Ibu hamil memang beda, ya? Ibu Kayra terlihat semakin cantik sekarang ..." puji Gita memperhatikan aura positif yang terpancar dari wajah Kayra.


" Ah, Mbak Gita bisa saja ..." seketika semu merah langsung mewarnai wajah putih Kayra karena dia malu dipuji seperti itu oleh Gita.


" Saya bicara jujur kok, Bu. Mungkin kecantikan hati Bu Kayra sampai terpancar ke luar," ujar Gita meyakinkan jika Kayra memang benar-benar terlihat cantik.


" Kayra, sebentar lagi acaranya akan segera di mulai. Ayo, Nak ...!" Ibu Sari tiba-tiba muncul di antara Kayra dan Gita membuat mereka berdua menoleh ke arah Ibu Sari.


" Iya, Bu." Kayra mengangguk. " Mbak Gita, saya tinggal dulu, ya!?" Kayra berpamitan, karena dia harus berada di tengah-tengah tamu undangan berdampingan dengan suami dan orang tuanya juga mertuanya.


" Oh, silahkan, Bu." Gita mempersilahkan.

__ADS_1


Kayra pun bersama Ibu Sari segera menuju arah ruangan tamu rumah Krisna. Namun, langkah Kayra tiba-tiba berhenti, dan pandangannya saat ini tertuju kepada suaminya yang sedang memeluk seorang wanita paruh baya.


Kayra mengerutkan keningnya menatap lekat wanita yang sedang dipeluk oleh suaminya itu. Tak lama dia pun melihat wanita itu berpelukan dengan Helen cukup lama lalu berbincang.


Entah mengapa jantung Kayra saat ini berdegup cukup kencang melihat wanita yang saat ini sedang berbincang dengan Helen. Dia merasakan ada sesuatu yang aneh di dalam hatinya melihat kehadiran wanita paruh baya itu. Kayra terus menatap ke arah wanita yang wajahnya terasa familiar di matanya, sambil mencoba mengingat.


" Sayang, ayo ... aku ingin kenalkan kamu dengan tamu istimewa ...."


Kayra terkesiap karena kini suaminya itu tiba-tiba sudah berada di depannya, padahal tadi dia melihat suaminya itu masih bersama dengan Helen dan tamunya.


" Tamu istimewa? Siapa, Mas?" Penasaran, tentu itu yang dirasakan Kayra saat Erlangga mengatakan ada tamu istimewa yang datang.


" Makanya ayo ikut." Erlangga lalu menggenggam tangan Kayra, satu tangan lainnya merangkul ke pundak Ibu Sari. " Ayo, Bu." Erlangga pun mengajak Ibu Sari untuk bertemu dengan Arina dan Nugraha. kembali.


" Hmmm, Ibu di sini saja, Nak." Ibu Sari menolak, dia memilih tidak ada saat Kayra berhadapan dengan ibu kandungnya.


" Ya sudah, kami ke depan dulu ya, Bu. Nanti Ibu jangan jauh-jauh dari Kayra." Sepertinya Erlangga menyadari jika Ibu Sari merasa tidak nyaman berada di tengah-tengah pertemuan Kayra dan Arina, hingga memilih tidak mengikuti apa yang diinginkan Erlangga.


" Iya, Nak." lirih Ibu Sari.


Erlangga lalu membawa Kayra menemui Arina dan juga Nugraha.


" Ibu, perkenalkan ini Kayra istriku."


Arina yang masih berbincang dengan Helen langsung menolehkan pandangan ke arah suara Erlangga, hingga matanya menatap seorang wanita cantik mengenakan gamis dan kerudung berwarna broken white.


Cairan bening seketika memenuhi bola mata Arina kembali saat dia berhadapan dengan wanita yang tidak lain adalah putri kandungnya sendiri. Putri kandung yang dulu dia titipkan lalu menghilang seperti ditelan bumi.


Jantung Arina pun berdegup sangat kencang seketika itu juga. Inilah yang dia inginkan sejak lama, bertemu kembali dengan anak kandungnya.


" Kayra?" ucap Arina lirih dengan nada hampir tercekat di tenggorokan.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2