MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Merasakan Kenikmatan


__ADS_3

Melihat Kayra meneteskan air mata dan menahan sakit karena cengkraman tangannya yang menyakiti lengan Kayra, Erlangga langsung melepaskan cengkramannya itu. Dia pun kembali fokus dengan kemudinya tanpa bicara sepatah katapun.


Kayra segera menyeka air mata dan mengusap lengannya yang tadi dicengkram kencang Erlangga. Rasa hatinya tidak karuan, rasa sakit, bingung, takut bercampur menjadi satu.


Kayra tidak tahu Erlangga akan membawa dirinya ke mana, karena jalan yang dilalui saat ini bukanlah jalan menuju tempat tinggalnya. Namun Kayra tidak berani bertanya kepada Erlangga karena dia tahu saat ini bos yang juga sebagai suaminya itu sedang dipengaruhi emosi.


Beberapa menit kemudian mobil yang dikendarai Erlangga sudah tiba di basemen gedung sebuah apartemen mewah, karena Kayra tadi sempat melihat saat mobil itu memasuki gerbang masuk apartemen.


" Kita mau ke mana, Pak?" Belum sempat pertanyaan Kayra terjawab, Erlangga sudah lebih dahulu keluar dari mobil membuat Kayra hanya mampu menghela nafas.


" Turunlah ...!" Tiba-tiba Erlangga sudah membukakan pintu mobil untuknya.


Kayra kemudian keluar dari dalam mobil dan mengikuti langkah Erlangga hingga mereka tiba di depan sebuah pintu kamar apartemen. Dan Erlangga membuka pintu dengan access card nya.


" Masuklah ...!" Erlangga menyuruh Kayra masuk ke dalam apartemen itu.


Dengan langkah ragu Kayra berjalan memasuki unit apartemen itu sementara pandangan matanya langsung mengedar ke setiap sudut ruangan yang dilengkapi dengan perabotan yang sudah pasti berharga mahal dan terlihat berkelas.


" Kita akan menginap di sini," ujar Erlangga setelah Kayra masuk ke dalam dan menutup pintu apartemen.


" Menginap di sini? Tapi saya tidak membawa pakaian ganti, Pak." Kayra langsung merespon ucapan Erlangga.


" Saya sudah suruh orang untuk membelikan pakaian untukmu karena kita akan bermalam di sini." Erlangga memang udah mengantisipasi segalanya termasuk urusan sekecil apapun.


Kayra tidak membantah lagi perkataan Erlangga karena dia sadar, dengan kuasa sebagai pengusaha kaya raya, Erlangga mampu melakukan apa saja yang diinginkannya.


Erlangga lalu menarik tangan Kayra dan membawa wanita itu menuju kamar tidur. Erlangga menyuruh Kayra duduk di tepi tempat tidur kemudian dia pun menarik kursi dan duduk di hadapan Kayra.


" Apa kamu mau menjelaskan, apa yang kamu lakukan di ruangan Pak Wira sampai kamu menangis?" Sepertinya rasa penasaran Erlangga masih belum hilang dengan gosip yang beredar di kantornya saat ini.


Kayra menelan salivanya lalu mengatur nafasnya perlahan. Dia tidak bisa terus-menerus menutupi apa yang terjadi saat itu.


" Saat itu Pak Wira hanya ingin menanyakan bagaimana saya bisa menikah dengan Bapak karena Pak Wira tahu saya bukan wanita yang suka mendekati pria beristri, apalagi pria itu adalah atasan saya sendiri." Kayra menundukkan kepalanya. Rasanya sangat sesak jika mengingat nasibnya saat ini.


" Alasan kenapa saya menangis? Saya rasa Bapak sudah tahu sendiri jika saya tidak ingin berada di posisi ini," lanjutnya.


" Lalu bagaimana bisa sampai gosip itu tersebar sampai ke telinga karyawan lain?" tanya Erlangga penasaran bagaimana gosip itu bisa sampai tersebar padahal ruangan di lantai tempatnya dan juga Wira termasuk sangat privacy, tidak bisa sembarangan karyawan keluar masuk ke sana.


" Waktu itu ada karyawan yang masuk ke rumah kerja Pak Wira mengantar laporan, Pak. Saya tidak tahu apakah orang itu yang menyebarkan hal ini atau bukan." Kayra menceritakan sejujurnya kepada Erlangga agar suaminya itu mengerti dan tidak terus terbawa emosi.


Erlangga mendengus kasar mendengar ada orang yang sengaja menyebarkan berita tak benar itu.


" Siapa orang itu? Saya harus memberi pelajaran karena sudah memfitnah kamu yang tidak benar." Erlangga terlihat geram.


" Bapak mau memecat karyawan itu?" Kayra takut Erlangga akan memecat karyawan bagian marketing seperti kedua karyawan yang menggosipkannya tadi yang telah menerima ancaman pemecatan dari Erlangga.


" Saya tidak suka mendengar orang bergunjing apalagi sampai menyebarkan hal yang tidak benar," tegas Erlangga.


" Gosip itu tidak sepenuhnya salah, nyatanya saya memang simpanan seorang pria beristri," lirih Kayra. Kayra merasa gosip tentangnya tidak semuanya salah, dia memang dekat dengan pria beristri walaupun pria itu bukan Wira.


" Jangan bicara seperti itu! Kamu bukan wanita simpanan! Kamu adalah istri saya!" Erlangga menampik anggapan Kayra yang menyebut dirinya sendiri sebagai wanita simpanan.


" Apa bedanya saya dengan wanita simpanan, Pak?" Kayra memberanikan dirinya bersitatap dengan Erlangga dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.


Erlangga kini terdiam, dia tidak bisa memberikan argumen untuk membalas kata-kata Kayra. Dia mengusap kasar wajahnya seraya menghembuskan nafas kasar.


" Kayra, saya tidak pernah menganggap kamu adalah wanita simpanan untuk saya. Kamu adalah istri saya, walaupun hal ini belum diketahui banyak orang, tapi saya tidak pernah menganggap kamu sebagai wanita simpanan!" Erlangga memberikan pengertian kepada Kayra agar Kayra tidak merasa kecewa dan berkecil hati.


Teettt

__ADS_1


Suara bel pintu apartemen berbunyi membuat Erlangga segera bangkit dan melangkah ke luar kamar untuk membuka pintu apartemen.


Kayra mende sah, dia merasa posisinya saat ini tidak menguntungkan dirinya. Seandainya di bisa memilih, dia tidak ingin berada di posisi ini.


Tak lama berselang Erlangga kembali ke dalam kamar dengan membawa dua paper bag besar di tangannya.


" Kamu mandilah dulu, setelah itu kita makan. Ini baju kamu dan juga makanan untuk makan kita malam ini." Erlangga menyodorkan dua paper bag itu kepada Kayra.


" Ada perlengkapan untuk kamu sembahyang juga di situ." Erlangga tidak melupakan hal yang sangat penting untuk Kayra sehingga dia meminta orang suruhannya untuk membelikan sajadah dan juga mukena.


" Nanti belilah pakaian untuk disimpan di sini karena kita mungkin akan sering menginap di sini," lanjut Erlangga membuat Kayra menolehkan pandangan ke arahnya.


" Ini apartemen saya. Saya memang jarang berada di sini, hanya orang suruhan saya yang sesekali datang untuk membersihkan apartemen ini." Merasa jika Kayra seperti bertanya tentang tempat itu dari tatapan matanya, Erlangga menjelaskan kepada Kayra tentang apartemen miliknya.


" Apartemen Bapak?" Tidak heran seorang CEO seperti Erlangga mempunyai apartemen mewah, namun yang dikhawatirkan Kayra, dia takut jika sampai keluarga Erlangga atau Caroline datang saat dia berada di sana. " Bagaimana jika Ibu Caroline datang kemari?" tanyanya kemudian.


" Ini apartemen pribadi saya, kamu tidak usah khawatir. Caroline dan orang tua saya tidak tahu tentang keberadaan apartemen ini."


Kayra menarik nafas lega setelah mendapatkan penjelasan Erlangga. Setidaknya dia tidak perlu merasa khawatir jika akan ada orang tua Erlangga ataupun Caroline yang datang ke tempat itu.


" Sekarang kamu mandilah, atau kamu ingin kita mandi bersama?" Erlangga sengaja menggoda Kayra dengan senyuman nakal di sudut bibirnya.


Kayra membulatkan matanya mendengar ucapan Erlangga. Kayra langsung bergegas mengambil pakaian ganti dan melangkah ke arah kamar mandi dengan langkah cepat.


***


Kayra menyiapkan makanan untuk Erlangga di atas meja makan. Orang suruhan Erlangga membelikan seafood untuk hidangan makan malam mereka.


" Apa Pak Wira tahu tentang gosip ini?" Erlangga kembali membahas soal gosip antara Wira dan Kayra.


" Pak Wira sudah tahu, Pak. Saya sudah minta maaf kepada Pak Wira karena beliau terkena imbas gosip ini." Kayra memberitahu Erlangga soal Wira yang sudah mengetahui perihal gosip yang beredar.


" Pak Wira sudah kamu beritahu dan kamu tidak mengatakan apa-apa tentang gosip ini terhadap saya? Apa jadinya jika saya tidak mendengar sendiri soal gosip itu?" Erlangga kecewa Kayra tidak jujur dari awal soal gosip tersebut.


" Jangan pernah menutupi apapun dari saya, Kayra!" Erlangga ingin Kayra selalu terbuka kepadanya.


Kayra hanya menganggukkan kepalanya, sepertinya dia memang tidak bisa menentang apa yang diperintahkan oleh Erlangga.


" Apa kamu suka apartemen ini?" tanya Erlangga kemudian saat dia mulai menyantap makanan yang dihidangkan oleh Kayra.


Kayra menoleh ke arah Erlangga tanpa menjawab pertanyaan pria itu. Dia tidak tahu tujuan Erlangga menanyakan hal itu kepadanya. Namun secara jujur, jika ditanya apakah dia suka dengan apartemen milik Erlangga ini, tentu saja tidak ada yang akan menjawab tidak suka dengan apartemen mewah itu.


" Saya ingin kita tinggal di sini," lanjut Erlangga.


Kayra kembali menatap Erlangga penuh tanya.


" Maksud, Bapak?"


" Saya ingin membawa kamu tinggal di apartemen ini," sahut Erlangga.


" Bukankah Bapak sudah menyediakan tempat tinggal untuk saya dan Ibu saya?" tanya Kayra heran.


" Rumah itu biar Ibumu yang menempati, sedangkan kamu tinggal di sini bersama saya."


Kayra menaruh sendok dan garpunya mendengar ucapan Erlangga. " Bapak ingin memisahkan saya dengan Ibu saya?" Kayra menduga jika Erlangga sengaja ingin menjauhkan dia dengan Ibunya.


" Saya tidak pernah berniat seperti itu!" sanggah Erlangga.


" Lalu kenapa saya dan Ibu saya harus dipisahkan di tempat berbeda?" protes Kayra.

__ADS_1


" Bukankah dulu kamu dan Ibumu juga tinggal di tempat berbeda? Lalu apa masalahnya sekarang?" Mengingat Kayra dan Ibunya dulu pernah tinggal di kota yang berbeda, Erlangga merasa apa yang diputuskannya adalah hal yang lumrah.


" Tapi ini beda masalahnya, Pak. Ibu saya baru tinggal di Jakarta ini. Saya takut jika terjadi sesuatu dengan Ibu saya." Dengan kondisi Ibunya yang baru saja tertimpa musibah dan baru tinggal di kota Jakarta, Kayra takut jika harus berjauhan dari Ibunya.


" Apa kamu pikir saya akan membiarkan Ibu mertua saya kesusahan dan menderita di Jakarta ini? Ada ART yang melayani Ibumu di sana, kamu tidak usah cemas." Erlangga tentu tidak akan menelantarkan Ibu Sari, karena bagaimanapun juga Ibu Sari adalah Ibu mertuanya sendiri.


" Tapi saya ingin dekat dengan Ibu saya, Pak!" Kayra tetap merasa keberatan harus berpisah dengan orang tuanya.


" Kamu masih tetap bisa bertemu dengan Ibumu walaupun tinggal di sinu. Lagipula bukankah seorang anak perempuan yang sudah menikah harus menurut dan mengikuti suaminya?" Berlagak seperti orang yang sangat paham dengan agama, Erlangga menyinggung soal kewajiban seorang istri yang harus lebih tunduk mengikuti perintah suami.


" Kalau pernikahan saya adalah pernikahan normal dan saya menikah dengan orang yang saya cintai dan mencintai saya, saya tidak akan mengabaikan hal itu, Pak!" Merasa kesal karena Erlangga merasa benar, Kayra terpancing emosi hingga berkata ketus terhadap suaminya itu.


Erlangga mengulum senyuman mendengar ucapan Kayra. Sepertinya dia tidak terpengaruh dengan sindiran istrinya. Dia justru terus menikmati menu makan malamnya tanpa memperdulikan Kayra yang memberengut kesal.


***


Kayra melipat mukenanya seraya melirik ke arah Erlangga yang duduk bersandar di headbord tempat tidur dan asik dengan laptop di pangkuannya.


Kayra mende sah, selama mengenal Erlangga, tidak pernah sekali pun dia melihat pria itu menjalankan ibadahnya. Padahal Kayra berharap mempunyai pendamping hidup yang bisa menjadi imamnya, yang bisa menuntunnya menjadi wanita dan seorang istri yang baik dan Solehah.


" Apa sudah sembahyangnya?" Erlangga lebih sering mengatakan kata sholat dengan sebutan sembahyang.


Suara Erlangga terdengar membuat Kayra mengerjapkan matanya.


" Kemarilah, apa kamu sudah memberitahu Ibu jika kamu akan menginap di sini?" Erlangga menutup laptopnya kemudian merentangkan tangannya menyuruh Kayra tidur berbantalkan lengan berotot miliknya.


" Sudah ..." sahut Kayra.


Kayra merebahkan tubuhnya dan dengan cepat Erlangga memeluk tubuh Kayra lalu mulai menciumi wajah cantik Kayra.


Walaupun Kayra sudah mengatakan jika dia meminta waktu sebelum menjalankan kewajibannya melayani kebutuhan biologis Erlangga, nyatanya suaminya itu tetap saja selalu berusaha melakukan sentuhan-sentuhan yang seketika membuat Kayra harus menelan salivanya berkali-kali. Bahkan kali ini tangan Erlangga sudah menyusup ke pakaian tidur yang dikenakan oleh Kayra.


Bulu roma Kayra seketika berdiri saat tangan Erlangga berhasil menyentuh kedua bukitnya dan mulai bermain di puncak bukit itu menimbulkan gelenyar aneh yang Kayra rasakan.


" Apa kamu tidak ingin mencoba merasakan kenikmatan, Kayra?" bisik Erlangga di telinga Kayra membuat Kayra menggigit bibirnya karena sejujurnya rasa yang dihadirkan oleh sentuhan Erlangga membuat tubuhnya menginginkan terus disentuh oleh suaminya itu.


Mendapati Kayra yang hanya diam seperti menikmati permainannya, Erlangga akhirnya membuka satu persatu kancing piyama tidur Kayra dan melepas bra yang dipakai Kayra untuk menutupi kedua bukitnya.


Erlangga merubah posisinya dengan berada di atas Kayra. Dia mendekatkan bibirnya ke bibir manis Kayra penuh naf su membuat Kayra yang memang tidak ahli berciuman kelabakan.


Setelah menaklukan bibir Kayra, kini Erlangga mewarnai leher putih mulus istrinya dengan tanda-tanda merah bekas bibirnya.


Selepas membuat Kayra mende sah dengan permainan bibirnya, Erlangga mulai menguasai kedua bukit Kayra yang memang begitu indah dengan puncak berwarna pink muda.


" Aakkhhh ..." Suara de sahan tidak kuasa ditahan oleh Kayra karena permainan Erlangga yang benar-benar memabukkan.


Erlangga tersenyum karena sejauh ini tidak ada penolakan dari Kayra atas sentuhannya. Erlangga sendiri langsung melepas kaos yang dia kenakan hingga memperlihatkan dada bidang dengan perut sixpack nya. Pria itu semakin menjadi, tak hanya puas memainkan bagian dada Kayra, kini mulai turun ke bawah dengan menciumi perut rata Kayra sementara tangannya seakan tidak mau lepas menjajah kedua perbukitan Kayra.


Tak lama kemudian Erlangga berhasil menyingkirkan celana piyama Kayra dan hanya tersisa CD berwarna ivory. Erlangga tersenyum senang karena dia berhasil membuat Kayra tidak menolak apa yang dilakukannya, hingga perlahan-lahan dia berhasil menyingkirkan kain tipis berwarna ivory itu yang memperlihatkan daerah yang menjadi sumber kenikmatan dunia.


Erlangga menelan salivanya mendapati milik sang istri yang dia duga masih belum tersentuh laki-laki manapun.


" Pak ..." Kayra yang menyadari tubuhnya kini tak berbalut sehelai benang pun segera menutupi intinya dengan kedua tangannya. Wajahnya bahkan kini sudah memerah karena menahan ga irah yang dia redam dan juga rasa malu karena Erlangga memperhatikan tubuh polosnya saat ini.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ....


Happy Reading❤️


__ADS_2