MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Mencari Tahu Siapa Jimmy


__ADS_3

Kayra menahan langkah kakinya yang hendak memasuki ruangan Erlangga untuk menanyakan menu yang ingin suaminya itu makan siang ini saat dia mendengar perbincangan Erlangga yang dia duga bersama Wira melalui sambungan telepon yang menyinggung soal pemecatan Rivaldi.


Kayra menarik nafas yang terasa berat mendengar keputusan Erlangga yang akan memecat Rivaldi. Seketika rasa bersalah menghinggapi hatinya. Hanya karena Rivaldi mencoba mendekatinya, pria itu harus kehilangan pekerjaanya, hal yang menurutnya sangat tidak adil untuk Rivaldi dan kurang bijaksana dilakukan oleh pemimpin perusahaan seperti Erlangga.


Setelah menunggu sampai Erlangga selesai berbincang dengan Wira, Kayra baru meneruskan langkahnya masuk ke dalam ruangan kerja bos dan juga suaminya itu.


" Permisi, Pak." Kayra berjalan mendekati Erlangga lalu berdiri di depan meja pria itu.


" Apa Bapak benar-benar akan memecat Pak Rivaldi?" Menanyakan hal yang bukan tujuan utama Kayra masuk ke ruangan kerja Erlangga.


" Apa kamu menguping obrolan saya tadi?" Erlangga bangkit dari kursi dan berjalan menghampiri Kayra.


" Maaf, Pak. Saya tadi sepintas mendengar saat ingin masuk kemari, saya tidak bermaksud menguping." Kayra menampik tuduhan Erlangga yang mengatakan dirinya mencuri dengar obrolan pria itu dengan asistennya.


" Memangnya kenapa jika saya memecat Rivaldi? Apa kamu sedih karena tidak bisa bertemu dia lagi di kantor ini?" tanya Erlangga bernada menyindir.


Sontak Kayra membulatkan matanya menoleh ke arah Erlangga mendengar tuduhan Erlangga jika dirinya akan merasa kehilangan jika Rivaldi benar dipecat dari kantor Mahadika Gautama.


" Saya hanya merasa keputusan Bapak tidak adil untuk Pak Aldi." Kayra menyampaikan pendapatnya.


" Oh ya?" Dengan melipat tangan di dada, Erlangga menyandarkan tubuhnya di tepi meja kerjanya berhadapan dengan jarak yang sangat dekat dengan Kayra.


" Bapak memecat Pak Aldi hanya karena beliau berusaha mendekati saya bukan karena kinerja Pak Rivaldi yang buruk." Kayra menyesali Erlangga yang kurang bijaksana dalam mengambil keputusan sebagai seorang pimpinan.


" Saya tidak perduli walau dia tidak melakukan kesalahan dalam pekerjaan! Terus berusaha mendekati kamu dan melanggar larangan yang saya berikan adalah kesalahan fatal buat saya!" tegas Erlangga tidak memandang bagaimana kinerja Rivaldi selama ini.


" Seharusnya Bapak bisa bersikap bijaksana, tidak mengaitkan masalah pekerjaan dengan masalah pribadi dalam hal ini. Bagaimana jika Pak Rivaldi tidak terima dengan pemecatan Bapak lalu dia berusaha membalas dendam atas keputusan Bapak yang emosional ini?" Kayra berusaha mengingatkan Erlangga agar tidak bertindak gegabah yang memungkinkan pria itu mempunyai musuh.


" Apa kamu pikir saya takut pada Rivaldi?" ucap Erlangga tak gentar menghadapi Rivaldi.


Kayra mendengus kasar mendengar ucapan Erlangga yang dianggapnya terlalu arogan.


" Saya tahu Bapak tidak takut terhadap siapapun, mungkin juga dengan Tuhan." Kayra menurunkan nada bicara saat mengucapkan kalimat terakhir. Dia tahu Erlangga tidak pernah takut menghadapi siapapun, tentu saja karena uang dan kuasa yang dia miliki.


Seringai tipis terlihat di sudut bibir Erlangga mendengar ucapan Kayra yang menyindirnya.


" Apa kamu ingin menanyakan menu untuk makan siang?" Sepertinya Erlangga mengetahui apa tujuan Kayra masuk ke dalam ruangannya.


" Bapak ingin makan apa?" tanya Kayra.


" Kita makan di luar saja." sahut Erlangga.


" Makan di luar? Tapi, Pak ... kita tidak ada janji bertemu dengan relasi bisnis hari ini." Biasanya Kayra akan makan siang bersama Erlangga di luar jika ada jadwal bertemu dengan relasi bisnis Mahadika Gautama, namun jika mereka tiba-tiba makan berdua tanpa ada jadwal bertemu relasi bisnis mereka, rasanya itu hanya akan mengundang tanda tanya besar bagi orang yang mengenal mereka.


" Memangnya kalau makan di luar harus ada jadwal bertemu relasi?"


" Tapi ini sangat berbahaya jika ada yang mengetahui dan mengenal Bapak."


Erlangga terdiam dan berpikir sejenak namun tak lama senyumnya seketika mengembang.


" Kita akan mengajak Pak Koko untuk makan siang bersama. Kamu akan pergi bersama Pak Koko ke restoran yang saya tentukan." Erlangga menemukan ide dengan mengajak Koko untuk makan satu meja dengannya dan Kayra. Untuk saat ini, apapun caranya akan dilakukan oleh Erlangga asal keinginannya selalu ditemani Kayra bisa terpenuhi.


***


Tok tok tok


" Permisi, Pak Hendro." Seorang pria dari staf Hendro masuk ke dalam ruang kerja Hendro.


" Masuk, Pak Nurdin." Hendro mempersilahkan stafnya yang bernama Nurdin untuk masuk ke ruangannya.


" Maaf, Pak. Saya mendapatkan informasi dari divisi marketing jika Pak Rivaldi hari ini tidak masuk kantor, Pak." Nurdin yang disuruh oleh Hendro memanggil Rivaldi memberikan informasi jika pria yang hendak dipecat Erlangga itu saat ini tidak berangkat bekerja.


" Tidak masuk kantor? Apa alasannya?" tanya Hendro.

__ADS_1


" Tidak ada keterangan kenapa Pak Rivaldi tidak masuk kantor, Pak. Bahkan ponselnya pun sulit dihubungi." Nurdin menjelaskan.


" Oke, Pak Nurdin bisa kembali ke tempat Anda." Setelah menerima laporan dari Nurdin, Hendro menyuruh staff nya itu untuk melanjutkan pekerjaannya.


" Baik, Pak. Permisi." Nurdin kemudian meninggalkan ruangan kerja Hendro.


" Tidak masuk kantor tanpa alasan? Pantas saja Pak Erlangga ingin memberhentikan dia. Apa Pak Rivaldi tahu jika dia akan dipecat oleh Pak Erlangga, ya?" Hendro merasa penasaran dengan ketidakhadiran Rivaldi tanpa alasan dan pemutusan hubungan kerja yang ditetapkan Erlangga terhadap karyawan dari perusahaan Erlangga itu


Hendro pun segera menghubungi Erlangga melalui ponselnya untuk memberitahu Erlangga soal ketidakhadiran Rivaldi di kantor.


" Selamat siang, Pak Erlangga. Saya hanya ingin menyampaikan informasi jika untuk hari ini Pak Rivaldi tidak masuk ke kantor tanpa alasan dan pemberitahuan sebelumnya." Hendro segera melaporkan apa yang diketahuinya kepada Erlangga setelah Erlagga mengangkat panggilan teleponnya.


" Baiklah, Pak Hendro. Segera buatkan surat pemutusan hubungan kerja untuknya," sahut Erlangga dari seberang.


" Baik, Pak."


Erlangga langsung mematikan sambungan telepon dengan Hendro.


" Aneh, sebenarnya ada apa dengan Rivaldi ini?" Kening Hendro mengeryitkan karena dibuat penasaran atas pemecatan yang mungkin baru pertama kali dilakukan Erlangga di kantor itu. " Ah, sudahlah ... tidak usah ambil pusing, daripada nanti aku yang terkena masalah." Hendro tidak ingin ikut campur dan memilih mengerjakan apa yang diminta oleh Erlangga secepatnya.


***


Sebuah mobil berwarna hitam terparkir di sebuah bangunan berlantai dua yang terlihat seperti tempat usaha berhalaman cukup luas dan sangat tertutup dari luar.


Bondan yang keluar dari mobil itu melangkahkan kaki menuju bangunan tersebut.


" Cari siapa, Pak?" seorang security menanyakan maksud kedatangan Bondan ke tempat itu.


" Saya ingin bertemu dengan Pak Rizal, apa beliau ada di tempat?" Bondan menyebutkan alasannya mendatangi tempat tersebut.


" Apa Bapak sudah mempunyai janji dengan Pak Rizal?" tanya security kembali.


" Saya adalah teman lama Pak Rizal, tolong sampaikan saja jika Bondan teman lama dia datang ingin bertemu." Melihat dia agak sudah untuk bertemu langsung dengan Rizal, Bondan menyebutkan siapa dirinya yang merupakan teman sepeguruan saat belajar ilmu bela diri.


" Baik, Pak. Silahkan duduk sebentar ..." Security mempersilahkan Bondan menunggu di kursi sementara dia sendiri masuk ke dalam untuk memberitahu soal kedatangan Bondan.


" Silahkan, Pak. Pak Rizal ada di lantai dua." Security memberi petunjuk di mana Bondan bisa menemui Rizal.


" Baik, Pak. Terima kasih." Bondan melangkahkan kaki masuk ke dalam bangunan lalu naik ke lantai dua bangunan tersebut.


" Permisi, Mbak. Saya ingin bertemu dengan Pak Rizal." Bondan menyapa seorang wanita yang terlihat sedang duduk dengan kaki berselonjor ke atas meja kerja hingga memperlihatkan paha dan betis bening dan mulus. Sikap wanita yang terlihat masih berusia muda itu sampai membuat Bondan menelan salivanya, walaupun tingkah wanita itu dia anggap tidak sopan karena menaikan kaki di atas meja.


Wanita yang sedang asyik memainkan ponselnya melirik ke arah Bondan lalu menunjuk ruangan Rizal dengan arahan lirikan matanya tanpa menjawab pertanyaan Bondan denga. kata-kata.


Bondan memutuskan masuk ke dalam ruangan yang ditunjuk oleh wanita muda tersebut karena dia sangat penasaran dengan sosok wanita yang duduk dengan seenaknya tanpa menunjukkan atitude yang baik saat berhadapan dengan orang yang lebih tua.


Bondan membuka pintu ruangan Rizal setelah mengetuk pintu itu terlebih dahulu.


" Hai, Zal!" sapa Bondan kepada Rizal yang sedang serius memperhatikan rekaman cctv di layar laptopnya.


Rizal langsung menolehkan pandangan saat mendengar sapaan dari Bondan kepadanya.


" Hai, Dan. Masuk, masuk ...!" Rizal bangkit dari kursi dan berjalan menghampiri Bondan. " Apa kabarmu, Dan? Lama tidak pernah bertemu." Rizal melakukan fist bump dan merangkul Bondan.


" Ayo duduk dulu. Ada angin apa kamu kemari, Dan?" Rizal lalu menyuruh Bondan untuk duduk terlebih dahulu di kursi tamu di ruangannya


" Kebetulan mampir saja karena sudah lama tidak datang ke sini. Sibuk menangani kasus terus kau, Zal?" tanya Bondan karena dia tahu dunia yang digeluti oleh Rizal yang sering mendapat job menyelidiki kasus bahkan yang termasuk kriminal sekalipun. Tak beda jauh dengan dirinya, namun dia hanya bekerja pada orang pribadi tidak seperti Rizal yang terkadang menyelidiki kasus dari banyak orang.


" Ya begitulah, Dan. Memang bidang ini yang aku geluti." Rizal terkekeh menjawab pertanyaan sahabat lamanya itu. " Kau sendiri bagaimana?" Rizal balik bertanya kepada Bondan yang hampir tiga tahun tidak dia jumpai.


" Tidak beda jauh denganmu tapi luang lingkupku hanya bosku saja. Aku hanya menjalankan tugas yang diberikan oleh bosku," sahut Bondan.


" Masih sama 'kan bos kamu yang dulu itu atau sudah ganti bos?" Rizal tahu di mana Bondan bekerja.

__ADS_1


" Aku masih bekerja pada Tuan Erlangga." sahut Bondan. " Oh ya, Zal. Aku mau minta bantuan kamu untuk mencari informasi seputar orang yang bernama Jimmy. Menurut info yang kami dapatkan, orang itu adalah pemilik boxing club' Galaxy. Aku minta bantuan anak buahmu menyelidiki siapa sosok Jimmy ini." Bondan kemudian menyampaikan niatnya meminta bantuan Rizal untuk mencari tahu siapa sebenarnya Jimmy dibalik usahanya sebagai pemilik club boxing.


" Jimmy? Boxing club galaxy? Memangnya ada apa dengan orang itu, Dan?" tanya Rizal menanggapi serius penuturan dari Bondan yang mengharapkan bantuannya.


" Dia menyuruh orang untuk membuntuti bosku. Aku tidak tahu apa apa tujuan Jimmy itu membuntuti Tuan Erlangga, apa dia bekerja untuk dirinya sendiri atau suruhan orang lain. Masalahnya Tuan Erlangga tidak pernah berurusan dengan club boxing itu. Aku minta kamu atur anak buahmu, mungkin mereka bisa mencari informasi soal Jimmy ini, Zal." ujar Bondan menjelaskan.


" Oke, oke ... aku akan coba membantu mencari info tentang Jimmy ini dan siapa orang di baliknya." Rizal menyanggupi membantu Bondan.


" Oke, thanks, Zal." Bondan menepuk pundak Rizal karena kesediaan Rizal membantunya.


" Kau tak perlu sungkan minta bantuanku, Dan." ucap Rizal.


" Oh ya, ngomong-ngomong ... wanita muda yang di depan ruanganmu itu siapa? Bukan anakmu, kan?" Bondan penasaran dengan wanita muda yang tadi dia lihat di depan ruangan Rizal.


" Oh, dia ... tahanan kota." Rizal terkekeh seraya berseloroh.


" Tahanan kota?" Bondan mengeryitkan keningnya mendengar ucapan Rizal.


" Dia pernah berbuat kriminal hampir mencelakakan orang, tapi orang itu tidak ingin menjebloskan wanita itu ke dalam penjara. Mereka menyerahkan kepadaku untuk memberikan hukuman yang ... ya setidaknya membuat dia lebih baik daripada sebelumnya mengingat usianya yang masih muda." Rizal menjelaskan siapa wanita yang ada di depan ruangannya itu.


" Lebih baik?" Bondan mencibir mengingat bagaimana cara wanita itu duduk dengan tidak sopan. " Dengan menaikkan kedua kakinya ke atas meja? Sama sekali tidak menunjukkan kepribadian yang baik."


" Ya seperti itulah dia. Aku memperkerjakan dia secara sukarela di sini agar bakat bela dirinya bisa dipergunakan untuk hal yang tepat. Nantinya aku akan jadikan dia salah satu anak buahku yang handal." Rizal berkata dengan penuh keyakinan.


" Kau menempatkan dia di sini bukan karena dia cantik dan masih muda, kan?" sindir Bondan terkekeh.


" Maksud kamu apa, Dan?" Rizal melirik ke arah Bondan.


" Dia cantik dan cukup sek si. Apa kau tidak akan tergoda dengan dia, Zal?" Bondan menyeringai.


" Kau gi la!? Dia itu hampir seumuran putriku." Rizal menampik dugaan Bondan.


" Apa kau sudah menikah kembali?" tanya Bondan yang mengetahui Rizal berpisah dengan istrinya enam tahun lalu.


" Aku belum memikirkan ke arah sana lagi, Dan." tepis Rizal.


" Apa kau belum bisa move on dari mantan istrimu itu, Zal?" tanya Bondan penasaran, karena untuk pria seperti Rizal mana mungkin bisa tahan tidak dekat dengan wanita selama enam tahun. " Lantas bagaimana caramu melampiaskan kebutuhan biologisnya? Apa kamu jajan di luar?" Bondan seketika iseng mempertanyakan hal yang bersifat pribadi kepada Rizal membuat pria itu seketika membelakkan matanya.


***


Dua orang pria sedang baradu ketangkasan bermain bilyard di dalam rumah berukuran besar di kawasan elit Jakarta.


" Informasi apa yang sudah kamu dapatkan dari orang suruhanmu, Jimmy?" tanya Rivaldi setelah melakukan break shoot, sodokan bola pembuka game.


" Orang saya sudah mengikuti Pak Erlangga sampai di sebuah rumah, tapi setelah itu saya kehilangan kontak dia, Bos." Jimmy melaporkan sedikit informasi yang dia dapat dari Danu.


" Hilang kontak?" Rivaldi menatap serius Jimmy. " Apa maksudmu anak buahmu itu tertangkap oleh orang-orang Erlangga?" Rivaldi curiga jika keberadaan orang suruhan Jimmy diketahui oleh Erlangga.


" Saya belum tahu, Bos. Saya harap hal itu tidak terjadi." Walaupun Jimmy punya pikiran yang sama dengan Rivaldi namun dia berharap anak buahnya tidak sampai ketahuan oleh Erlangga.


" Lalu di mana alamat tempat yang dikunjungi oleh Erlangga?" tanya Rivaldi kemudian.


" Danu hanya mengatakan di kawasan Kemang, tapi tidak mengatakan dengan jelas posisi pastinya, Bos. Karena dia kemudian tidak bisa saya hubungi."


" Apa orang yang kamu suruh mengikuti Erlangga itu orang bo doh hingga melaksanakan tugas seperti itu saja sampai gagal, Jimmy!?" Rivaldi terlihat kesal karena kegagalan Jimmy mendapatkan informasi tentang alamat yang dikunjungi oleh Erlangga, karena dia tahu tempat tinggal Erlangga bukan di kawasan yang disebutkan oleh Jimmy tadi.


*


*


*


.

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2