
Pintu ruang kerja Erlangga terbuka hingga menampakkan dua orang berlainan jenis yang muncul dari luar pintu ruangan CEO Mahadika Gautama itu.
Erlangga memperhatikan sosok wanita muda berparas cantik, berkulit putih bersih dengan rambut hitam legam yang mengenakan setelan blazer berwarna beige, kemudian pandangannya terarah kepada pria yang berprofesi sebagai executive assistant perusahaan yang dia pimpin.
" Ada apa, Pak Wira?" tanyanya kemudian kepada asistennya itu.
" Maaf, Pak. Saya hanya ingin memperkenalkan orang yang direkomendasikan oleh Pak Krisna untuk menggantikan Ibu Puput untuk menjadi sekretaris Anda. Namanya Kayra Ainun Zahra." Wira menjelaskan maksud menemui Erlangga dan mengapa dia membawa karyawan yang diharapkan mampu menggantikan posisi yang akan ditinggalkan sekretaris Erlangga yang akan resign bulan depan.
" Kapan Ibu Puput akan resign, Pak Wira?" tanya Erlangga kembali melirik ke arah wanita di samping Wira yang langsung menurunkan pandangan saat dia menatapnya.
" Pertengahan bulan depan, Pak." sahut Wira menjawab pertanyaan bosnya.
" Dia dari kantor Papa?" tanya Erlangga kemudian.
" Kayra ini karyawan dari anak perusahaan milik Pak Krisna yang dipimpin oleh Pak Akbar, Pak Krisna meminta agar Kayra dipromosikan bekerja di kantor ini, kebetulan perusahaan ini membutuhkan sekretaris untuk menggantikan Ibu Puput yang akan resign," ujar Wira kembali.
" Papa merekomendasikan bekerja di sini?" Kening Erlangga berkerut, dia memang sempat bercerita dan kepada Papanya jika Puput, sekretaris sejak Papanya memegang perusahaan Mahadika Gautama itu akan segera resign, namun dia tidak menduga jika Papanya langsung mengirimkan seseorang karyawan yang akan menggantikan posisi Puput, padahal dia sendiri tidak tahu bagaimana kinerja wanita itu.
Erlangga menatap lekat wajah cantik wanita bernama Kayra, wajahnya terlihat sangat teduh, riasan wajahnya nampak sederhana, tak banyak polesan make up di wajahnya namun tidak menghilangkan aura kecantikan wanita muda itu.
Erlangga mengerjapkan mata, sejenak dia serasa terhipnotis dengan pesona wanita yang berada di hadapannya saat ini.
" Anda boleh meninggalkan ruangan saya, Pak Wira. Dan kamu ... saya ingin bicara dengan kamu." Erlangga meminta Wira meninggalkan ruangannya sementara dia menahan Kayra di ruangannya.
" Baik, Pak." Wira segera berpamitan dan keluar dari ruangan bosnya, tidak ada bantahan darinya. Menjadi karyawan Mahadika apalagi mengisi posisi penting sebagai sekretaris seorang CEO seperti Erlangga tidak akan mudah, jadi tidak heran baginya jika Krisna turun tangan untuk memilih sekretaris di perusahaan yang dirintisnya sejak muda.
" Silahkan duduk!" Erlangga mempersilahkan Kayra untuk duduk di kursi depan mejanya.
" Baik, Pak. Terima kasih," sahut Kayra menjawab dengan santun.
" Siapa nama kamu?" Erlangga tidak fokus mendengar nama yang diucapkan Wira tadi.
" Saya Kayra Ainun Zahra, Pak." jawab Kayra kembali.
Suara wanita bernama Kayra itu terdengar lembut di telinga Erlangga. Kembali pria itu seolah tertegun akan pesona wanita di hadapannya saat ini.
" Sudah berapa lama bekerja di kantor Pak Akbar?" Berusaha bersikap senormal mungkin, Erlangga menanyakan soal pekerjaan Kayra di kantor anak perusahaan Papanya. Dia tidak ingin terlihat terpukau dengan pesona Kayra.
" Hampir dua tahun ini, Pak." sahut Kayra.
" Hampir dua tahun? Masa yang cukup singkat, kenapa Papa saya bisa mempromosikan kamu untuk mengisi posisi sekretaris di kantor saya?Apa yang sudah kamu lakukan hingga Papa saya berani mengirim kamu?" Erlangga menyandarkan punggungnya di sandaran kursi namun matanya masih menatap lekat wajah cantik Kayra.
Kayra membelalakkan matanya hingga bola mata indahnya membulat merespon pertanyaan bernada nyinyiran dari mulut pria yang akan menjadi atasannya itu
" Maaf, Pak. Maksud Bapak?" Kayra memberanikan diri menanyakan maksud pertanyaan Erlangga.
" Papa saya selalu memilih karyawan yang sangat berpengalaman untuk mengisi posisi penting, dan untung mendapatkan karyawan yang sangat kompeten tidak cukup hanya menghabiskan masa kerja hanya dua tahun." Seakan meremehkan kemampuan Kayra, Erlangga menganggap Kayra tidak cukup kompeten untuk mengisi posisi sebagai sekretaris dirinya.
" Saya tidak mengatakan jika saya mampu untuk mengisi posisi yang Bapak butuhkan, tapi saya akan berusaha sebaik mungkin untuk bisa bekerja di kantor ini. Pak Krisna mempromosikan saya untuk bekerja di sini tentu beliau mempunyai alasan tersendiri dan saya rasa alasan itu berdasarkan kinerja saya selama bekerja di anak perusahan Pak Krisna," Dengan kalimat yang lugas, Kayra menjawab sindiran Erlangga, membuat Erlangga terkesan dengan ucapan Kayra yang mampu menjawab sindirannya dengan kalimat yang sopan dan tanpa terbata, seakan intimidasi yang sempat dia lancarkan tadi tak mampu membuat Kayra tertekan.
Erlangga tersenyum mengingat pertemuan pertama dirinya dengan Kayra, sejak awal pertemuan mereka, dia memang merasa kagum dengan wanita yang akhirnya menjadi sekretarisnya itu, namun dia berusaha bersikap profesional apalagi saat itu dia pun baru menikah dengan Caroline, hingga percikan yang dia rasakan saat pertama kali bertemu Kayra selalu dia redam. Tapi seiring berjalannya waktu dan kondisi rumah tangganya dengan Caroline merenggang, kehadiran Kayra yang selalu bersikap lembut dan sabar mulai menggoyahkan hatinya, apalagi Caroline pun semakin sibuk dengan ambisinya menjadi model terkenal hingga membuat rumah tangganya berada di ambang kehancuran.
Erlangga memainkan anak rambut Kayra yang sedang terlelap, sepertinya kehamilan Kayra membuat wanita itu cepat merasakan kelelahan. Erlangga harus rela membiarkan istrinya itu beristirahat, walaupun sebenarnya dia sendiri ingin menjalani bulan madu ini dengan memadu kasih layaknya sepasang suami istri dengan berhubungan in tim setiap waktu, tapi baginya kehamilan Kayra lebih penting dan dia berusaha untuk tidak bersikap egois.
Erlangga mengecup kening Kayra lalu beranjak dari tempat tidur, mengambil ponselnya yang tadi dia taruh di atas nakas kemudian melangkahkan kaki ke luar balkon.
__ADS_1
" Halo, Pak Nico. Bagaimana proses gugatan cerai saya? Apa bisa dipercepat?" Rupanya Pak Nico, kuasa hukum dari Erlangga yang dihubungi Erlangga saat ini.
" Selamat sore, Tuan Erlangga. Mungkin di sana sudah malam, ya!? Rencananya lusa saya akan mewakili Anda untuk hadir di sidang kedua, Tuan." Pak Nico menyampaikan rencana yang akan dia lakukan sebagai kuasa hukum Erlangga.
" Baiklah, Pak Nico. Dan saya minta tolong segera daftarkan pernikahan saya dengan Kayra, saya ingin secepatnya pernikahan saya dan Kayra dilegalkan secara hukum dan tercatat di KUA." Erlangga memberi perintah selanjutnya kepada Pak Nico.
" Baik, Tuan. Akan saya proses secepatnya." Erlangga memang sudah memberitahu Pak Nico mengenai pernikahan sirinya dengan Kayra setelah dia mengatakan hal yang sejujurnya. tentang siapa Kayra kepada Papanya. Sebelumnya dia memang tidak berani mengatakan hal tersebut kepada Pak Nico karena dia yakin apa yang dia katakan kepada Pak Nico akan tembus ke telinga Papanya, termasuk gugatan perceraiannya dengan Caroline.
Setelah mengakhiri percakapannya dengan Pak Nico, Erlangga lalu menghubungi Papanya, dia rasa dia harus menyampaikan berita bahagia tentang kehamilan Kayra kepada orang tuanya itu.
Saat ini waktu menunjukkan pukul sepuluh malam waktu Venezia, dia perkirakan di Jakarta masih menjelang sore sehingga dia tidak mengganggu istirahat Papanya itu.
" Sore, Pa. Apa Papa masih di kantor?" tanya Erlangga kepada Papanya saat panggilan teleponnya itu tersambung.
" Papa sedang dalam perjalanan pulang, Nak. Bagaimana kalian di sana?" tanya Krisna.
" Sempat terjadi insiden di sini, Pa." ungkap Erlangga berniat memberitahu Papanya soal peristiwa penamparan Caroline kepada Kayra.
" Insiden apa, Lang?" Nada bicara Krisna nampak cemas mendengar Erlangga mengatakan terjadi insiden.
" Kami bertemu Caroline dan dia sudah tahu jika aku sudah menikahi Kayra ..." aku Erlangga sejujurnya.
Dengusan kasar nafas Krisna terdengar jelas di telinga Erlangga, ini yang tidak pria paruh baya itu harapkan jika pernikahan putranya dengan Kayra tercium Caroline dalam waktu dekat ini.
" Lalu apa yang terjadi setelah itu?" Rasa penasaran langsung menghinggapi Krisna, dia yakin pasti sesuatu yang buruk telah terjadi.
" Caroline marah, dia mencaci dan menampar Kayra." Nada penyesalan terdengar dalam ucapkan Erlangga.
" Dan kamu diam saja? Membiarkan istri-istrimu itu yang berkonflik?" Sejak awal Krisna memang tidak setuju dengan rencana Erlangga membawa Kayra berbulan madu. Siapa yang menduga jika mereka akan bertemu dengan Caroline di sana.
Kembali Krisna mendengus, dia tidak menduga jika anaknya terlibat konflik rumah tangga seperti sekarang ini. Krisna menyadari jika Erlangga memang tidak adil dalam hal ini, putranya itu tidak memikirkan bagaimana perasaan Caroline yang pasti sangat terluka dengan fakta pernikahan Erlangga dengan Kayra, sementara Erlangga hanya memikirkan bagaimana cara melindungi Kayra dari kemarahan Caroline.
" Papa merasa bersalah dalam hal ini, Lang." Nada penyesalan terdengar dari mulut Krisna.
" Kenapa, Pa?" tanya Erlangga heran.
" Seandainya dulu Papa tidak mengirim Kayra ke perusahaan kamu, mungkin tidak akan terjadi konflik seperti ini."
" Papa tidak perlu merasa bersalah, ini sudah jalan hidup aku yang mungkin sudah digariskan oleh Tuhan, Pa." Erlangga tidak ingin Papanya itu menyesali apa yang terjadi dengan rumah tangganya dan Caroline.
" Ada hal yang lebih penting yang ingin aku sampaikan kepada Papa, aku rasa ini lebih penting dari segalanya." Erlangga berniat memberitahu kabar gembira tentang kehamilan Kayra.
" Masalah apa lagi, Lang?" Menduga jika hal penting yang ingin disampaikan adalah suatu masalah, suara Krisna terdengar kurang antusias menanggapi apa yang akan dikatakan oleh Erlangga.
" Kayra hamil, aku akan menjadi seorang Papa, Pa." ujar Erlangga dengan nada penuh semangat.
" Kayra hamil? Apa Papa tidak salah dengar, Erlangga?" Krisna terkesiap bahkan terdengar nada haru di ucapan Krisna bahkan hampir tak percaya pada pendengarannya.
" Benar, Pa. Saat ini usia kandungannya sudah masuk Minggu keempat," terang Erlangga. " Aku bahagia sekali, Pa. Harapanku untuk mempunyai anak akhirnya dapat terwujud." Tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, Erlangga terus bercerita tentang perasaannya saat ini ketika mendengar kehamilan Kayra.
" Kamu harus menjaga Kayra baik-baik, Lang." Krisna mengingatkan agar Erlangga tidak bertindak yang akan membuat kehamilan Kayra bermasalah, karena dia pun sebenarnya saat menginginkan mempunyai cucu.
" Pasti, Pa. Aku akan menjaga Kayra dengan baik!" tegas Erlangga meyakinkan.
" Lalu bagaimana dengan Mamamu, Lang? Sampai kapan kamu akan menyembunyikan soal pernikahanmu dengan Kayra sementara sudah ada benihmu di perut Kayra." Pernikahan Kayra dan Erlangga yang masih dirahasiakan oleh Erlangga dari Helen membuat Krisna khawatir apalagi dengan kondisi menantunya yang kini sedang mengandung cucunya.
__ADS_1
Erlangga diam beberapa saat, awalnya dia ingin memberitahukan Mamanya soal pernikahannya dengan Kayra setelah perceraiannya dengan Caroline tuntas, namun saat ini Caroline sudah tahu jika dia sudah menikahi Kayra dan Kayra sendiri kini sudah mengandung benihnya, dia tidak bisa terus menyembunyikan pernikahannya itu dari Mamanya dan juga dari publik.
" Setelah pulang dari Italia, aku akan menemui Mama, Pa." Akhirnya Erlangga memutuskan untuk menemui Helen dan membicarakan soal statusnya kepada Mamanya.
" Papa setuju kamu bicara dengan Mamamu, tapi kamu juga harus mengingat resikonya untuk Kayra. Kamu kenal bagaimana Mamamu, kan? Kayra sedang mengandung, jangan buat dia tertekan dengan sikap Mamamu itu." Krisna memperingatkan Erlangga agar hati-hati dalam mengambil keputusan.
" Iya, Pa. Nanti aku coba cari waktu yang tepat bicara dengan Mama, aku harap Papa juga bisa bantu meyakinkan Mama agar Mama bisa menerima Kayra, aku tidak ingin Mama memusuhi Kayra seperti Mama memusuhi Caroline." Sikap Helen yang selalu bertentangan dengannya soal urusan pendamping hidup membuat Erlangga khawatir jika Helen akan memperlakukan Kayra sama seperti Mamanya itu memperlakukan Caroline. Bukan keharmonisan yang terpancar dari hubungan antara Helen dan Caroline, tapi permusuhan yang terjadi antara mereka.
***
Hari ini adalah hari terakhir Kayra dan Erlangga menikmati bulan madu mereka di Venezia dan besok mereka dijadwalkan akan kembali ke Jakarta. Sejak mengetahui Kayra hamil, Erlangga sama sekali tidak meminta Kayra melayani kebutuhan biologisnya, namun Erlangga tetap memperlakukan Kayra dengan begitu istimewa.
Erlangga banyak membaca artikel seputar kehamilan, apa saja yang dirasakan ibu hamil dan mencari tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh ibu hamil, termasuk seputar aktivitas hubungan suami istri. Walaupun di artikel tersebut menyebutkan jika tidak ada larangan melakukan hubungan suami istri di masa kehamilan muda asal dilakukan dengan hati-hati, namun dia memilih menahan hasratnya tersebut daripada dia harus melukai janin yang sudah dia idam-idamkan sejak lama.
Kayra sendiri merasa heran dengan sikap Erlangga yang sama sekali tidak 'menyentuhnya' meskipun setiap waktu, setiap saat Erlangga selalu mencium dan memeluknya. Rasanya aneh saja melihat Erlangga yang tidak memintanya melakukan hubungan in tim padahal dia tahu bagaimana has rat suaminya itu jika sedang berdekatan dengannya.
" Biar aku saja yang mengepak pakaiannya, Mas." Melihat Erlangga yang sibuk memindahkan pakaian mereka ke dalam koper, Kayra berniat membantu suaminya karena ini adalah hari terakhir bulan madu mereka.
" Tidak usah, kamu duduk saja di sini." Erlangga menuntun Kayra untuk duduk di tepi tempat tidur, dia sama sekali tidak memperbolehkan Kayra bekerja walaupun hanya melipat dan memasukan pakaian ke dalam koper.
" Aku tidak melakukan pekerjaan apa-apa selama di sini, Mas. Bosan rasanya hanya duduk dan diladeni oleh Mas." Kayra yang sudah terbiasa bekerja merasa tidak enak hanya diam saja tak menyentuh pekerjaan apapun, bahkan untuk makan saja, Erlangga menyuapi dirinya.
" Hei, aku tidak ingin Mama dari calon anakku ini kecapean, jadi sebaiknya kamu duduk saja biar aku yang mengerjakannya." Erlangga tetap melarang Kayra yang ingin bekerja.
" Tapi, Mas ...."
" Jangan melawan perintah suami!" Erlangga menarik pelan hidung Kayra. " Ibu hamil tidak boleh capek-capek!"
Kayra tersenyum melihat Erlangga yang begitu menjaganya, namun dia tetap merasa tidak enak hanya berdiam diri saja.
" Biar aku yang melipat, nanti Mas yang mengangkat kopernya. Aku ini hanya hamil, bukan orang sakit, Mas." Kayra memprotes sikap suaminya yang bersikap terlalu berlebihan menurutnya.
" Karena usia kandunganmu masih rentan, jadi aku melarang kamu melakukan aktivitas!" tegas Erlangga kembali menghadapi Kayra yang membandel.
" Lalu pekerjaan aku di kantor bagaimana jika aku tidak boleh beraktivitas apa-apa, Mas?" Kayra berpikir setelah pulang dari bulan madu pun dia akan bekerja, jadi menurutnya tidak masalah hanya membantu mengepak pakaian.
" Kamu tidak akan aku biarkan bekerja, Kayra."
" Maksud, Mas? Aku tidak boleh pergi ke kantor?" Kayra terelalak mendengar larangan suaminya yang tidak mengijinkannya pergi ke kantor.
" Tentu saja tidak! Aku tidak ingin janin di perutmu ini bermasalah, jadi sebaiknya kamu istirahat di rumah dan tidak usah datang ke kantor lagi!" tegas Erlangga, walau sebenarnya dia menginginkan bisa selalu dekat dengan Kayra, namun kesehatan Kayra dan janinnya lebih penting saat ini hingga dia mengambil keputusan agar Kayra resign dari kantor Mahadika.
" Mas, aku ini bukan orang sakit, banyak kok Ibu-ibu muda yang masih tetap bekerja meskipun mereka sedang hamil." Kayra terus melancarkan protes kepada suaminya karena dia melihat banyak wanita hamil dan masih beraktivitas.
" Mereka bekerja karena suami mereka bukan CEO sepertiku, jadi jangan samakan dirimu dengan mereka, karena kamu bukan mereka, Kayra! Kamu lebih spesial dari mereka!" Tangan Erlangga menarik pinggang Kayra tak lama bibirnya langsung membenamkan kecupan singkat di bibir istrinya yang ranum dan selalu menggodanya untuk selalu disentuh.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️
__ADS_1