
Erlangga mau tidak mau mengikuti keinginan istrinya, dia akhirnya menggunakan mobil yang dipakai oleh Koko, dan mereka kini sudah berada dalam mobil untuk mencari makan siang mereka.
" Kita mau makan di mana?" tanya Erlangga saat mereka sudah berada di jalan.
" Aku 'kan tadi sudah bilang aku mau makan bakso beranak, Mas." jawab Kayra.
" Kamu harus makan makanan yang bergizi, jangan makan makanan seperti itu!" Erlangga melarang Kayra makan yang diinginkan oleh istrinya itu.
" Tapi aku ngidam makan bakso beranak, Mas." Kayra mengelus perutnya seakan menunjukkan jika keinginannya itu karena pengaruh kehamilannya.
Erlangga tidak dapat membantah jika mendengar soal kata 'ngidam', sehingga dia pun tidak bisa melarang keinginan sang istri.
" Ya sudah, tapi jangan makan pedas!" Walaupun mengijinkan, namun Erlangga memberikan syarat agar Kayra tidak banyak menambahkan sambal pada makanannya nanti.
" Iya, Mas." sahut Kayra cepat. " Oh ya, bagaimana tadi persidangannya, Mas?" Kayra menanyakan soal sidang putusan hakim perceraian Erlangga dan Caroline.
" Sudah beres, tinggal menunggu akta cerai saja," sahut Erlangga.
" Apa artinya Mas sama Bu Caroline sudah benar-benar berpisah?" Meskipun awalnya tidak mengharapkan Erlangga berpisah dengan Caroline, tapi kini Kayra justru takut Caroline masih belum rela dengan perceraiannya dengan Erlangga.
" Tentu saja, kenapa?" tanya Erlangga menoleh ke arah Kayra.
" Apa Ibu Caroline tidak akan melakukan banding atas keputusan cerai ini, Mas?" Kayra menyampaikan rasa takutnya.
" Tidak, Caroline tidak akan mengajukan banding, itu sudah ditegaskan melalui kuasa hukumnya." Erlangga menegaskan, sepertinya dia menyadari ketakutan Kayra.
" Oh, gitu ...."
" Kenapa?" tanya Erlangga pura-pura tidak mengerti apa yang dirasakan Kayra saat ini.
" Tidak, Mas. Tidak apa-apa," jawab Kayra. " Belok kiri ya, Mas! Kedai baksonya ada di sebelah kiri." Kayra memerintahkan suaminya untuk mengarahkan mobilnya untuk mengambil jalan ke sebelah kiri saat mereka sampai di perempatan.
Lima menit dari perempatan tadi, mobil yang dikendarai Erlangga kini sudah berada di halaman parkir kedai bakso beranak yang siang ini terlihat ramai dengan pengunjung.
" Apa tidak ada tempat lain? Di sini ramai sekali pengunjungnya." Melihat kondisi di tempat makan yang dituju Kayra sangat ramai, Erlangga meminta Kayra untuk mencari tempat makan lain.
" Di tempat lain aku tidak tahu enak atau tidak, Mas. Tapi kalau di sini sudah pasti enak, makanya ramai pengunjung." Kayra tidak mau disuruh mencari tempat lain.
" Kalau begitu kamu di sini saja, biar aku yang pesankan, kita makan di mobil saja." Erlangga membuka seat belt nya.
" Aku tidak mau makan di mobil, Mas. Aku mau makan di kedainya." Kayra bersikukuh ingin tetap makan di kedai baksonya.
" Ya sudah ..." Erlangga akhirnya pasrah mengikuti permintaan istrinya. Erlangga lalu membuka pintu untuk keluar dari mobil.
" Mas, tunggu dulu!" Kayra menahan tangan Erlangga agar tidak keluar dari mobil.
" Ada apa lagi, Kayra?" tanya Erlangga heran.
" Blazernya dibuka ..." Kayra meminta Erlangga melepas blazer yang dikenakannya.
" Kenapa harus dibuka?" Erlangga mengerutkan keningnya, belum memahami maksud dari istrinya.
" Sudah lepas saja dulu!" Kayra memaksa suaminya itu untuk melepas blazernya, hingga Erlangga melakukan apa yang diminta oleh Kayra.
" Sekarang dasinya dilepas juga ..." Kini Kayra meminta suaminya melepas dasi yang terpasang di kerah kemeja Erlangga.
" Kenapa harus dilepas juga? Apa kamu menginginkan kita bercinta di sini?" Erlangga menyeringai nakal.
" Cepat deh, Mas! Jangan banyak tanya!" Kayra memprotes suaminya yang terlalu banyak bertanya.
" Kamu sudah berani main perintah sama suami, hmm?!" Erlangga meledek Kayra yang mulai bersikap galak dan banyak mengaturnya, namun dia tetap menuruti melepas dasinya.
" Apa lagi yang minta dibuka?" Erlangga mengeringkan matanya seraya mengulum senyuman nakal. " Celanaku perlu dibuka juga?"
" Kancing kemeja bagian atas dilepas satu, terus bagian tangannya digulung, Mas." Kayra kembali memberi perintah kepada Erlangga untuk menggulung lengan kemejanya.
Erlangga benar-benar tidak mengerti maksud Kayra, tapi demi menyenangkan hati istrinya, dia pasrah saja dengan perintah Kayra.
__ADS_1
Kayra memperhatikan penampilan suaminya beberapa saat. " Sekarang sudah tidak terlalu terlihat seperti bos. Ayo, kita turun ...!" Kayra membuka seat belt lalu turun dari mobil diikuti oleh suaminya.
" Kenapa kamu tidak ingin aku terlihat seperti bos?" tanya Erlangga merangkulkan tangannya di pundak Kayra.
" Biar tidak terlalu mencolok," sahut Kayra berjalan bersama Erlangga memasuki kedai bakso beranak yang diinginkannya itu.
Suasana di ruangan kedai bakso begitu ramai dengan orang-orang yang sedang mengantri menunggu pesanan.
" Sayang, kau lihat, di sini ramai sekali, tidak ada tempat duduk yang kosong, sebaiknya kita ganti restoran saja." Erlangga kembali meminta Kayra untuk berpindah restoran.
" Tidak mau, Mas. Aku mau di sini saja." Kayra kembali menolak, sementara matanya mengedar mencari kursi dan meja yang kosong.
" Pak, apa masih ada meja yang kosong?" tanya Kayra pada pelayan di kedai bakso itu.
" Coba lihat di atas saja, Mbak." Pelayan kedai bakso menunjuk ke bangunan lantai atas.
" Di atas penuh, Mbak." Pelayan kedai bakso lainnya yang baru turun dari anak tangga memberitahu Kayra, jika saat ini kondisi di lantai atas juga sudah penuh.
" Kamu dengar sendiri, Kayra?! Semua meja sudah terisi. Sebaiknya kita cari tempat yang lain saja, masih banyak restoran di Jakarta ini, kenapa harus memilih yang berdesakan?" Kembali Erlangga mengajak Kayra untuk mencari tempat makan lain karena tempat itu tidak memungkinkan mereka makan di sana."
" Aku mau di sini, Mas." Kayra tetap tidak mau berganti tempat makan. Dia bahkan langsung memesan makanan dan minumannya.
" Tunggu sebentar saja kalau begitu, Mbak. Sebentar lagi juga ada yang sudah selesai makannya." Pelayan kedai bakso menyuruh Kayra dan Erlangga menunggu.
Erlangga lalu mengeluarkan dompet di saku kantongnya, karena Karya tetap pada pendiriannya ingin makan bakso di tempat itu.
" Saya mohon perhatiannya!" Tiba-tiba Erlangga berseru dengan suara lantang. " Istri saya ini sedang hamil dan mengidam makan di sini. Saya minta tolong, siapa yang mau memberi meja untuk kami, saya akan beri uang cash satu juta rupiah untuk kalian." Erlangga lalu merogoh uang seratus ribu sebanyak sepuluh lembar lalu dia mengacungkan tangannya yang memegang uang satu juta rupiah tersebut.
Sontak apa yang dilakukan oleh Erlangga membuat semua yang ada di kedai bakso itu mengarahkan padangan ke arah pria berprofesi sebagai CEO itu, tak terkecuali Kayra yang terbelalak melihat kelakuan suaminya. Dia meminta suaminya tidak memperlihatkan jika dirinya adalah seorang bos agar tidak terlalu mencolok pengunjung kedai bakso, namun aksi Erlangga justru membuat mereka berdua menjadi pusat perhatian pengunjung yang juga sedang menikmati makan siang.
" Saya, Pak! Di sini kosong ...!" Seorang wanita yang sedang bersama temannya langsung mengangkat tangannya, kebetulan mereka sudah selesai menyantap makanan namun masih berbincang menunggu makanannya turun ke perut sebelum pergi dari tempat itu. Namun, tawaran dari Erlangga yang menggiurkan membuat mereka rela pergi cepat dari tempat itu.
" Di sini juga kosong, Pak!" Pengunjung lain pun menawarkan meja yang sedang mereka pakai.
" Meja saya saja, Pak! Di sini dekat kipas angin." Beberapa pengunjung akhirnya saling berebut.
" Bapak ini berhak memilih meja mana yang diinginkan." Pengunjung ketiga yang menawarkan berargumentasi.
" Sudah kalian jangan berdebat!" Erlangga menengahi para pengunjung yang berdebat. " Kamu ingin duduk di mana, Kayra?" Erlangga menanyakan di mana Kayra ingin memilih meja.
Melihat beberapa pengunjung berdebat karena merebutkan uang yang ditawarkan suaminya, akhirnya Kayra memilih meja di tempat pengunjung pertama yang menawarkan.
" Kita di sana saja, Mas." ucapnya.
Akhirnya Erlangga dan Kayra menghampiri meja yang ditujuk Kayra lalu Erlangga memberikan uang yang dijanjikan kepada orang yang mau memberikan meja untuk mereka tempati.
" Terima kasih ya, Pak, Bu. Semoga Ibu dan dedek bayinya sehat-sehat selalu." Setelah menerima uang dari Erlangga, kedua orang yang memberikan meja mereka untuk Kayra dan Erlangga mengucapkan terima kasih dan mendoakan Kayra.
" Aamiin, terima kasih, Mbak." sahut Kayra.
" Pak, tolong bersihkan mejanya dan siapkan pesanan kami dulu secepatnya!" Erlangga seolah tidak ingin menunggu antrean. " Semua yang makan di sini biar saya yang bayar, yang mau tambah atau dibawa pulang silahkan pesan saja." Erlangga bahkan menawarkan untuk membayar makanan kepada pengunjung yang ada di kedai bakso.
Perkataan Erlangga kini membuat suasana di kedai bakso riuh, bahkan ada yang sampai bertepuk tangan karena senang mereka bisa makan gratis.
" Terima kasih, Pak, Mbak." Banyak pengunjung yang mengucapkan terima kasih kepada Erlangga dan Kayra.
Kayra menatap suaminya seraya menggelengkan kepalanya. Misinya untuk menyembunyikan status Erlangga agar nampak seperti rakyat biasa seperti pada umumnya gagal. Siapapun pasti akan menduga jika Erlangga bukan orang biasa saja.
" Kenapa?" tanya Erlangga kepada Kayra karena istrinya itu menatap dengan pandangan tak percaya atas apa yang dilakukannya.
" Kenapa Mas mengundang perhatian publik seperti tadi?" keluh Kayra karena saat ini sudah pasti pengunjung sedang berbisik membahas dirinya juga suaminya itu.
" Salahmu sendiri kenapa bersikeras makan di tempat ini!?" Erlangga justru menyalahkan Kayra membuat wanita itu memberengut.
" Jadi Mas menyalahkan anak Mas di perutku ini?" Kayra mendelik karena Erlangga menyalahkannya.
" Iya maaf, maaf ..." Tak ingin berdebat dengan Kayra, Erlangga langsung meminta maaf kepada istrinya tersebut.
__ADS_1
" Permisi, ini pesanannya, Pak." Pelayan kedai bakso mengantarkan pesanan Erlangga dan Kayra.
" Terima kasih, Mbak." Kayra lalu mengambil saus juga sambal yang dia campur ke dalam mangkok baksonya.
" Kayra, jangan pakai saus dan sambal! Nanti perutmu sakit!" Erlangga menghentikan tangan Kayra yang sedang menyendokkan sambal ke mangkuknya.
" Segini tidak pedas kok, Mas." sanggah Kayra meganggap apa sambal yang dia ambil masih dalam porsi yang wajar.
" Jangan membantah kalau diberi tahu hal yang baik oleh suami!" tegas Erlangga mengambil mangkuk yang ada di hadapan Kayra, lalu mengganti dengan miliknya.
" Mbak, ini dimakan saja, ambilkan yang baru lagi, nanti semua saya yang bayar. Dan tolong singkirkan saus dan sambal dari meja ini!" Jiwa seorang CEO yang senang memerintah, membuat Erlangga tidak canggung menyuruh pelayan kedai bakso tersebut untuk menjalankan apa yang diintruksikannya.
" Masa makan bakso tidak pakai saus dan sambal, Mas? Mana enak ..." protes Kayra.
" Kamu lebih mementingkan rasa di lidahmu daripada perutmu?!" Erlangga menatap tajam ke arah Kayra yang membantah perkataannya.
" Aku tidak mau makan!" Kayra menjauhkan mangkuk bakso di hadapannya.
" Sayang, kamu ini sedang hamil, perhatikan kesehatanmu." Erlangga berbicara dengan kalimat yang lebih halus agar Kayra mau mendengarkan nasehatnya.
" Ya sudah, tapi Mas makan yang itu!" Kayra menunjuk bakso miliknya yang tadi diambil Erlangga.
" Aku tidak akan makan racun ini." Erlangga menolak apa yang diminta Kayra.
" Kalau Mas tidak mau makan itu, aku juga tidak akan makan ini." Kayra mengancam suaminya.
Erlangga menarik nafas panjang. Dia tahu Kayra tidak pernah serewel ini sebelumnya, mungkin karena faktor kehamilan Kayra yang membuat wanita itu begitu banyak mengatur dirinya.
Erlangga menatap kuah bakso yang berwarna merah kecoklatan karena sudah dicampur saus kecap dan sambal. Makan bakso saja dia tidak suka ditambah kuah yang membuatnya bergidik, benar-benar tidak membuatnya berselera untuk makan.
" Ayo, Mas. Baksonya dimakan!" Kayra mulai menyuapkan bakso ke dalam mulutnya, dia berusaha mengunyah bakso yang menurutnya terasa hambar karena tidak dibubuhi saus dan sambal. Sementara dilihatnya suaminya itu hanya memandang bakso dengan mengedikkan bahunya.
" Ini pasti pedas sekali."
" Coba dulu, deh! Itu tidak terlalu pedas, kok!" Kayra mendekatkan sendoknya ke mangkuk di depan Erlangga dan mengambil satu bakso lalu menyuapkan ke arah suaminya.
" Aku tidak suka yang pedas!" Erlangga menjauhkan mulutnya satu bakso yang disodorkan Kayra.
" Ini enak banget lho, Mas. Kalau Mas tidak mau, buat aku saja!" Kayra langsung memutar arah sendok ke mulutnya karena dia tidak tahan melihat kuah bakso yang begitu menggoda yang tadi direbut oleh Erlangga.
" Kayra! Kamu ini bandel sekali!" Melihat istrinya ingin memasukkan bakso yang sudah tercampur dengan saus dan sambal, Erlangga langsung mengambil bakso yang ingin dimakan Kayra lalu memakannya sendiri.
" Hahhh ...!" Erlangga langsung membuka seal air mineral lalu meneguknya karena merasakan pedas.
" Pedas banget ya, Mas? Perasaan tadi aku tidak banyak menambah sambalnya, kok." Kayra lalu mengambil bakso miliknya lalu dia mendekatkan ke mulut Erlangga.
" Makan punyaku, Mas. Biar pedasnya hilang," ucapnya.
" Tidak, tidak ...!!" Erlangga menolak dan meneguk kembali air mineral untuk menghilangkan rasa pedasnya.
" Coba dulu, Mas. Cepat dimakan punyaku yang tidak ada pedas." Kayra memaksa menyuapkan bakso ke mulut Erlangga hingga akhirnya Erlangga mau membuka mulutnya dan menerima suapkan dari tangan Kayra.
" Ini pedas sekali, Kayra! Dan kamu ingin memakan racun ini?!" Erlangga kembali menunjuk mangkuk bakso di hadapannya dengan wajah menahan marah. Dia tidak bisa membayangkan jika makanan pedas yang dia makan tadi sampai masuk ke dalam perut sang istri.
" Aku biasa makan seperti itu kok, Mas." sahut Kayra yang terbiasa makan pedas.
" Mulai saat ini jangan biasakan makan makanan pedas, apalagi kamu sedang hamil! Kamu paham?! Dan ini perintah, aku tidak ingin kamu membantah, Kayra!" Kalimat dengan nada penuh penekanan terucap dari mulut Erlangga layaknya seperti seorang atasan yang memberikan perintah kepada anak buahnya tanpa mau dibantah.
*
*
*
Bersambung ....
Happy Reading❤️
__ADS_1