MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Pertemuan Kedua Ibu Mertua


__ADS_3

Dengan jantung berdebar kencang, Ibu Sari memperhatikan sepasang suami istri yang baru saja memasuki ruangan kerja dan disambut hangat oleh Erlangga.


Hatinya tentu masih belum bisa tenang bertemu kembali dengan Ibu kandung dari anak yang sejak dua puluh enam tahun ini dia rawat seperti anak kandungnya sendiri.


Sudah pasti rasa bersalah tetap menghantui perasaan Ibu Sari. Bagaimanapun juga dia telah menyembunyikan identitas Kayra yang sebenarnya dari semua orang.


Dia yakin rasa kesal dan kecewa pasti akan dirasakan oleh Arina, karena perbuatannya itu. Hingga Ibu Sari hanya mematung dengan nafas terasa sesak, bahkan dia ingin menangis jika diperbolehkan. Kalau saja bisa, mungkin dia ingin menghilang dari ruangan itu karena rasa takut, malu dan bersalah yang saat ini bergejolak dalam diri Ibu Sari.


" Ibu, ini Ibu Arina dan Pak Nugraha sudah tiba." Kata-kata Erlangga seketika membuyarkan lamunan Ibu Sari.


" Apa kabar, Bu? Saya Nugraha dan ini istri saya Arina." Nugraha lebih dulu memperkenalkan dirinya kepada Ibu Sari. Pria mantan bos dari suami Ibu Sari itu mengulurkan tangan ingin menjabat tangan Ibu Sari.


Dengan perlahan Ibu Sari menerima uluran tangan Nugraha. Dingin, itulah kondisi telapak tangan Ibu Sari saat ini. Mungkin Nugraha pun bisa merasakan jika saat ini ketegangan sedang dirasakan oleh Ibu Sari.


" Halo, Ibu. Saya Arina ... Ibu masih ingat saya?" Giliran Arina yang berbicara, Ibu Sari seolah kehilangan oksigen untuk bernafas. Tubuhnya seketika melemah tak bertenaga dan luruh tak berdaya. Jika saja Erlangga tidak dengan sigap menahannya, mungkin tubuh Ibu Sari akan jatuh ke lantai.


" Ibu??" Erlangga menyadari jika Ibu Sari saat ini sudah tidak sadarkan diri.


Erlangga mengangkat tubuh Ibu Sari dan meletakkannya di sofa. Dia tidak menyangka pertemuan kedua Ibu mertuanya itu benar-benar membuat Ibu Sari tertekan hingga jatuh pingsan.


" Oleskan ini, Lang." Arina menyodorkan aroma terapi yang dia keluarkan dari dalam tasnya.


Erlangga langsung mendekatkan aroma terapi yang dia terima ke dekap lubang hidung Ibu Sari. Sementara Arina sendiri langsung duduk di tepi sofa dan menggenggam tangan Ibu Sari yang memang terasa sangat dingin.


" Bu, bangun, Bu. Saya sudah bilang supaya Ibu tidak perlu merasa khawatir. Pak Nugraha dan Ibu Arina datang kemari hanya ingin bicara dan ingin mengucapkan terima kasih karena selama ini Ibu sudah menjaga Kayra dengan sangat baik." Erlangga mencoba membangunkan Ibu Sari dari pingsannya. Dia tidak ingin jika Ibu Sari sampai jatuh sakit karena hal ini. Karena Kayra pasti akan bersedih jika wanita yang selama ini dianggap sebagai ibu kandungnya itu tertekan seperti saat ini.


" Beliau sangat menyayangi Kayra, karena itulah dia seperti ini." Nugraha berkomentar atas apa yang dialami Ibu Sari.

__ADS_1


" Padahal kami kemari tidak bermaksud menyalahkannya, Lang." Arina kini merasa bersalah dengan pingsannya Ibu Sari.


" Mungkin Ibu Sari terlalu dihantui rasa bersalah dan juga takut akan kehilangan Kayra setelah kedatangan kita, Ma." tutur Nugraha kembali.


Membutuhkan waktu lebih dari lima menit untuk Erlangga membangunkan Ibu Sari dari pingsannya. Setelah dia mengoles aroma terapi sedangkan Arina memberikan pijatan di tangan dan kaki Ibu Sari.


" Kayra! Ibu tidak mau kehilangan Kayra. Hiks ..." saat tersadar, Ibu Sari langsung bangkit dan terisak pilu.


Erlangga langsung memeluk Ibu Sari dan mengusap punggung Ibu mertuanya itu. Dia berusaha menenangkan Ibu Sari agar tidak merasa takut akan kehilangan Kayra.


" Ibu, Ibu tidak akan kehilangan Kayra, Bu. Ibu akan tetap bersama kami." Erlangga memastikan ucapannya itu. Sejak awal Erlangga memang memutuskan tetap akan membawa Ibu Sari di mana pun mereka akan tinggal, karena Kayra tidak akan mungkin meninggalkan Ibu mertuanya itu tinggal sendirian.


Melihat Ibu Sari terlihat syok dengan kedatangan mereka, Arina semakin merasa bersalah. Dia bisa merasakan ketulusan hati Ibu Sari terhadap putrinya, hingga takut kehilangan Kayra. Saat itu juga air mata langsung mengalir di pipi Arina.


" Ibu, kami tidak akan memisahkan Ibu dengan Kania. Saya datang kemari hanya ingin mengucapkan terima kasih karena Ibu sudah merawat dan membesarkan anak saya dengan baik," ungkap Arina dengan tersedu. Sudah pasti sebagai seorang wanita, Arina bisa merasakan apa yang saat ini dirasakan oleh Ibu Sari.


" Maafkan saya, Bu. Saya tidak bermaksud menculik Kayra. Saya hanya tidak tega harus menaruh bayi kecil Ibu ke panti asuhan. Apalagi saya dan suami saya belum juga dikaruniai anak. Karena itu saya dan suami saya memutuskan untuk merawatnya ... maafkan saya, Bu." Kali ini telapak tangan dingin Ibu Sari menggenggam tangan Arina.


Erlangga segera bangkit karena merasa menghalangi jarak antara Ibu Sari dan Arina.


" Kesalahan Ibu sudah terbayarkan, karena Ibu merawat Kania dengan sangat baik. Saya justru berterima kasih karena bersama Ibu, Kania tumbuh menjadi wanita yang luar biasa ..." Arina merengkuh tubuh Ibu Sari hingga kedua wanita itu saling berpelukan dan menangis bersama.


Pertemuan mengharukan itu sempat membuat bola mata Erlangga mengembun. Namun, pria itu dengan cepat menghapus cairan bening itu sebelum jatuh membasahi pipinya.


" Ma, mulai saat ini biasakan memanggil nama Kayra. Karena itulah nama Kania sekarang." Nugraha menasehati istrinya agar tidak terus menerus memanggil nama Kania kepada Kayra.


" Iya, Pa." sahut Arina setelah dia melepaskan pelukan dan menangis cukup lama bersama Ibu Sari.

__ADS_1


" Pak, saya dan almarhum suami saya minta maaf, karena kami tidak menyerahkan Kayra kepada Bapak dan Ibu saat itu." Ibu Sari merasa perlu minta maaf kepada Nugraha.


Nugraha mengeryitkan keningnya, tidak mengerti dengan ucapan Ibu Sari. Kenapa Ibu Sari mengatakan tidak menyerahkan kepada dirinya? Memang Ibu Sari dan suami mengenalnya? Itu pertanyaan di benak Nugraha.


" Maksud Ibu?" Untuk menghilangkan rasa penasarannya, akhirnya Nugraha menanyakan maksud ucapan Ibu Sari.


" Suami saya dulu pernah bekerja sebagai supir pribadi Bapak. Dia tahu jika Kayra anak dari istri Bapak. Sebenarnya suami saya berniat mengembalikan Kayra kepada ibu kandungnya. Tapi, karena saya menolak dan keberatan, akhirnya suami saya mengurungkan niatnya. Suami saya juga memutuskan berhenti dari tempat Bapak dan pindah rumah agar keberadaan kami tidak dapat diketahui oleh Bapak." Ibu Sari menceritakan soal suaminya kepada Nugraha.


" Suami Ibu pernah menjadi supir saya? Siapa namanya?" Nugraha kaget mendengar kejujuran Ibu Sari soal suami Ibu Sari.


" Ariyanto, Pak. Suami saya dulu yang hampir menabrak Ibu Arina saat Bapak bertemu pertama kali dengan Ibu Arina." Ibu Sari mengatakan siapa nama suaminya itu. Tentu saja, suaminya bercerita banyak kala itu kepadanya.


" Ariyanto? Ya ampun, jadi selama ini dia yang merawat Kayra?" Nugraha kembali tercengang. Dia tidak menyangka jika sebenarnya anak dari istrinya itu berada dekat dengan mantan supirnya dulu.


" Saya minta maaf, Pak. Saya benar-benar minta maaf ..." Ibu Sari kembali terisak merasakan penyesalan karena telah membuat keluarga Nugraha kebingungan mencari keberadaan Kayra.


" Sudahlah, Bu. Kami semua sudah memaafkan Ibu Sari. Seperti yang saya katakan tadi. Kesalahan Ibu Sari sudah terbayarkan karena Ibu sudah merawat Kayra. Dua puluh enam tahun bukan waktu yang sebentar untuk ibu menumpahkan kasih sayang kepada putri kandung saya itu." Arina menyakinkan Ibu Sari jika mereka tidak mempermasalahkan hal itu lagi.


" Elang bilang jika Kania, maksud saya Kayra sangat menyayangi Ibu, itu pasti karena selama ini Ibu memberikan kasih sayang yang tulus kepada Kayra, kan?" Arina mengusap air mata yang terus mengalir di pipi Ibu Sari. Walau sejujurnya dia merasa iri karena dia belum bisa menerima kasih sayang yang begitu besar dari putri kandungnya seperti yang diterima Ibu Sari dari Kayra. Namun, dia harus berbesar hati karena itu juga akibat kesalahannya menitipkan bayi yang seharusnya ada bersamanya, mendapatkan perlindungan darinya dan mendapatkan ASI penuh darinya.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2