
Kayra mengerjapkan matanya, dia bangkit dari tidur. merentangkan tangannya, menggeliat untuk meregangkan otot-otot tangan dan bahunya. Pandangannya mengarah pada ponsel yang ada di atas tempat tidur di sampingnya. Dia mengambil ponsel itu dan mengecek apakah ada pesan yang masuk, lalu melihat jam yang saat ini sudah menunjukkan pukul 15.05 menit. Kayra menyadari jika dia tertidur karena terlalu lelah menangis. Ia pun segera menyibak selimutnya lalu turun dari tempat tidur untuk menemui Erlangga,
" Mas?" Kayra tidak menemukan suaminya di meja kerja CEO Mahadika Gautama tersebut. Kakinya kini melangkah ke luar untuk mengetahui di mana suaminya saat ini berada.
" Mbak, suami saya di mana?" Setelah sampai di luar ruangan Erlangga, Kayra menemui Gita untuk menanyakan keberadaan suaminya.
" Bapak sedang rapat, Mbak." sahut Gita.
" Oh ..." Hanya menjawab satu kata, Kayra lalu berjalan ke arah lift.
" Mbak Kayra mau ke mana?" tanya Gita.
" Saya mau ke ruang rapat, Mbak." Sambil menekan tombol di lift angka delapan, Kayra menjawab pertanyaan Gita.
Tak lama pintu lift terbuka, Kayra pun masuk ke dalam lift itu dengan tujuan ruangan rapat yang ada di atas lantai ruang kerja Erlangga.
Ting
Saat pintu lift berbunyi dan terbuka, Kayra bergegas keluar dari lift. Namun, dia menyadari ternyata dirinya salah memilih angka di tombol tadi, seharusnya dia memilih lantai sepuluh, tapi justru lantai delapan lah yang dia tekan. Lantai delapan adalah lantai yang sering dia kunjungi jika hendak ke dapur khusus untuk para petinggi kantor.
" Kenapa aku lari ke lantai dapur, ya?" gumam Kayra menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Kayra ingin memutar langkahnya kembali menuju lantai sepuluh di mana ruang rapat berada, namun aroma mie instan tiba-tiba menyeruak ke indra penciumannya hingga masuk ke dalam seolah memberi sinyal yang langsung membuat rasa lapar kembali melanda perutnya saat itu.
Aroma mie instan yang menggoda itu akhirnya membuat Kayra melangkah ke dalam dapur di mana dia temui Ibu Nina sedang memasak mie kuah yang menggugah selera makannya.
" Ibu masak mie enak sekali baunya." Mendekat ke arah Ibu Nina, Kayra sampai menelan salivanya, tergiur dengan aroma yang dikeluarkan oleh mie instan yang dibuat Ibu Nina.
" Eh, Mbak Kayra." Melihat kedatangan Kayra, Ibu Nina langsung menoleh ke arah suara Kayra tadi. " Iya, ini Ibu bikin mie instan, karena lagi kepingin." Ibu Nina memperhatikan mata Kayra yang sembab.
" Mbak Kayra kenapa matanya sembab seperti ini? Mbak habis nangis, ya?" tanya Ibu Nina penasaran.
" Oh, ini saya tadi baru bangun tidur, Bu." Kayra menampik anggapan jika dirinya habis menangis. " Ibu masih punya persediaan mie instan tidak? Saya pinjam dulu dong, Bu! Atau saya beli saja ke Ibu, saya mau yang seperti Ibu bikin, kelihatan enak banget, deh. Menggugah selera makan saya." Kayra menelan salivanya kembali menatap mie instan yang sudah selesai Ibu Nina masak.
" Mbak Kayra mau yang begini?" tanya Ibu Nina menawarkanm
" Iya, Bu." Menganggukkan kepala dengan polos seperti anak kecil, itulah yang dilakukan Kayra merespon pertanyaan Ibu Nina.
" Ya sudah, Mbak Kayra makan saja dulu yang punya Ibu ini, nanti Ibu bikin yang baru lagi." Ibu Nina menawarkan mie instan miliknya yang sanggup membuat Kayra merasa lapar kembali.
" Tidak apa-apa memang, Bu? Ibu makan saja barangkali Ibu lapar, biar saya masak sendiri saja, saya pinjam mie instannya saja sama telur dan sayutamnya, tidak enak jika harus makan mie instan milik Ibu Nina yang sudah matang," Kayra menolak tawaran Ibu Nina.
" Tidak apa-apa kalau Mbak Kayra kepingin." Ibu Nina menaruh mangkuk mie instan di atas meja.
Kayra langsung menarik kursi setelah Ibu Nina menaruh mangkuk mie kuah bersama potongan sayuran, tomat, telur dan potongan cabai rawit merah ditambah saos.
" Terima kasih, Bu." Setelah membaca doa sebelum makan, Kayra pun akhirnya menyantap mie kuah yang sanggup membangkitkan naf su makannya.
" Mbak Kayra memang belum makan siang, ya?" Melihat begitu lahapnya Kayra menyantap mie instan kuah yang dibuatnya seperti orang kelaparan, Ibu Nina menduga jika Kayra belum makan siang.
" Sudah, Bu. Tapi sekarang lapar lagi, gara-gara tadi menangis ..." Tanpa sadar Kayra mengakui apa yang tapi dia sanggah.
" Nah, benar 'kan Ibu bilang tadi? Mbak habis nangis kenapa memangnya? Dimarahi Pak Erlangga ya, Mbak?" tanya Ibu Nina penasaran.
Kayra membulatkan matanya karena dia telah menyebutkan apa yang tadi dia sembunyikan dari Ibu Nina.
" Tidak apa-apa kok, Bu. Mie ini enak banget sih, Bu. Pedasnya juga mantap!" Kayra sengaja mengalihkan topik pembicaraan agar Ibu Nina tidak terus membahas soal dirinya menangis.
Menyadari jika Kayra tidak ingin diusik masalah pribadinya, Ibu Nina memilih tidak ingin terus mengorek keterangan lebih lanjut soal mata sembab Kayra yang terjadi karena wanita cantik itu habis menangis. Ia pun lalu membuat mie instan lagi untuk dia masak kembali.
" Bu, terima kasih mie instannya, saya harus bayar berapa?" Setelah menyantap makanan, Kayra bertanya berapa uang yang harus dia bayar kepada Ibu Nina untuk mie instan yang sudah dia makan.
" Tidak usah, Mbak Kayra. Sudah biarkan saja ..." Ibu Nina tidak ingin mie kuahnya yang tadi dimakan oleh Kayra diganti oleh Kayra.
__ADS_1
" Yang benar, Bu? Tidak apa-apa nanti saya bayar saja mie nya." Tidak enak diberikan cuma-cuma, Kayra meminta Ibu Nina menyebutkan nominal yang harus dia bayar.
" Tidak apa-apa kok, Mbak. Mbak Kayra santai saja tidak udah sungkan-sungkan." Ibu Nina tetap menolak.
" Ya sudah, terima kasih ya, Bu!? Saya ke atas dulu kalau begitu." Kayra berpamitan hendak menyusul suaminya di lantai sepuluh tempat diadakan rapat oleh Erlangga.
Sampai di lantai sepuluh, Kayra berjalan perlahan, dia ingin tahu apa yang dibahas dalam rapat yang dipimpin oleh suaminya. Dia mencoba mencuri dengar apa yang dibahas di dalam ruangan rapat sana. Dia membuka pintu sedikit karena dia tidak berniat bergabung dalam rapat itu.
Kayra mendapati sang suami dengan gagahnya duduk memimpin rapat dan berbicara dengan kalimat yang tegas dan lugas kepada para peserta rapat yang Kayra tahu adalah para kepala divisi yang ada di kantor Erlangga. Pria itu terlihat tampan dan sangat berwibawa saat memimpin rapat seperti ini. Tanpa terasa senyuman terkulum di bibir Kayra mengagumi ketampanan sang suami.
" Baiklah, saya akan pegang kata-kata Anda semua. Setiap kepala divisi bertanggung jawab atas karyawannya masing-masing, tolong diatur sendiri agar mereka mengetahui soal pernikahan saya dengan Kayra, tanpa ada pergunjingan tidak sedap terhadap Kayra, karena saat ini Kayra sedang mengandung calon anak saya, anak yang sudah lama saya harapkan. Saya tidak mau pergunjingan di antara anak buah kalian semua akan berpengaruh kepada kondisi kesehatan Kayra dan janinnya. Apa kalian semua sanggup melakukan hal itu?"
Kayra mendadak terkesiap mendengar ucapan Erlangga yang terdengar penuh dengan nada intimidasi kepada para peserta rapat, apalagi yang dibahas bukanlah urusan perusahaan, tapi masalah pribadi Erlangga.
" Ya Allah, kenapa Mas malah mengumumkan status aku di depan kepala divisi?" gumam Kayra tidak menyangka jika suaminya akan benar-benar membuka statusnya saat ini, padahal dia masih syok dengan sikap Helen tadi.
Kayra menjauhkan tubuhnya dari pintu dengan ketakutan akan omongan para karyawan nanti setelah pengumuman tentang statusnya oleh Erlangga.
" Ya Allah, pasti karyawan di sini akan menggunjingkan aku," cemas Kayra, dia pun berpikir keras akan apa yang harus dia lakukan selanjutnya. " Aku harus pergi dari sini sebelum semua orang tahu soal pernikahanku dengan Mas Erlangga." Kayra berjalan ke arah lift untuk menuju lobby kantor. Ia pun memesan ojek online dari ponselnya yang ada di saku bajunya.
Terburu-buru ingin segera keluar dari kantor Erlangga, Kayra sampai melupakan tasnya, dia terpaksa meninggalkan tasnya itu. Ia pun tidak berniat memberitahu suaminya karena suaminya pasti akan melarangnya meninggalkan kantor sekarang ini.
Sekitar lima menit Kayra menunggu di lobby kantor, mobil yang dia pesan akhirnya sampai juga, dan Kayra pun langsung meninggalkan gedung perkantoran perusahaan Mahadika Gautama milik suaminya itu.
***
Mengetahui istrinya tidak ada di kamar istirahat di ruangan kerjanya, Erlangga bergegas mencari informasi kepada Gita karena dia yakin jika Gita akan tahu di mana keberadaan Kayra. Namun, jawaban Gita yang mengatakan jika Kayra menyusulnya ke lantai atas membuatnya khawatir, karena istrinya itu tidak menemuinya di ruang rapat.
Erlangga bergegas ke arah lift untuk kembali ke lantai sepuluh. Dia menuju ruangan rapat, tapi Kayra tidak ada di sana. Dia pun mengecek setiap ruangan yang ada di lantai sepuluh, namun Kayra tidak juga ditemukan di lantai itu.
Seketika kepanikan melanda Erlangga karena setelah memutari setiap ruangan di lantai sepuluh, dia tidak juga mendapati keberadaan Kayra. Erlangga langsung menghubungi Kayra dengan ponselnya.
" Ayo, angkat, Kayra! Di mana kamu sekarang!?" Dua kali nada sambung terdengar di telinga Erlangga namun tak lama panggilan teleponnya itu terputus dengan ponsel sang istri. Mencoba untuk menghubungi kembali, tapi kali ini nomer sang istri justru tidak bisa dihubungi olehnya.
" Kayra tidak ada di lantai sepuluh, apa kamu tidak tahu Kayra ada di mana sekarang?" Saat keluar dari lift Erlangga langsung mencecar Gita dengan pertanyaan, karena sebagai asisten pribadi yang telah dia tugaskan kepada Gita, mestinya Gita mengetahui keberadaan Kayra saat ini.
" Mbak Kayra tidak ada, Pak?" Gita kaget saat Erlangga memberitahu jika Kayra tidak ada di lantai sepuluh, padahal tadi dia dengar sendiri Kayra mengatakan akan menyusul Erlangga.
" Jika saya sudah bertemu tidak mungkin saya bertanya padamu lagi! Kenapa kamu tidak mendampingi Kayra? Kamu sudah tahu saat ini Kayra sedang syok, kenapa kamu malah membiarkan dia pergi sendirian!?" geram Erlangga menyalahkan Gita karena menghilangnya Kayra.
" Sekarang kamu turun ke bawah dan cari tahu di mana Kayra berada!" CEO dari Mahadika Gautama itu memberi perintah kepada Gita.
" B-baik, Pak." Gita bergegas menuju lift untuk mencari keberadaan Kayra. Erlangga sendiri langsung melangkah ke ruangan Wira setelah Gita masuk ke dalam lift.
" Pak Wira, tolong suruh orang cek rekaman cctv di lift khusus dan di depan ruang rapat. Kayra menghilang." Perintah langsung diberikan Erlangga kepada Wira saat dia masuk ke ruang kerja asistennya itu
" Kayra menghilang?" Wira terkejut dengan kabar yang disampaikan oleh Erlangga.
" Iya, Gita bilang tadi Kayra berkata ingin menyusul ke ruangan rapat, tapi sampai rapat selesai, istri saya tidak muncul di sana, kan?"
" Iya, Pak." Wira langsung menjalankan apa yang diperintahkan oleh Erlangga untuk melihat rekaman cctv yang diminta Erlangga.
Sementara Gita menuju ke lantai delapan terlebih dahulu, karena seingat dia, lantai itu yang sering didatangi oleh Kayra.
" Bu, tadi lihat Mbak Kayra tidak?" Setelah sampai di dapur, Gita bertanya kepada Ibu Nina yang sedang mencuci piring.
" Mbak Kayra tadi di sini makan mie, Mbak. Tapi sudah ke atas lagi, Mbak." sahut Bu Nina.
" Sudah dari tadi, Bu?" tanya Gita kembali.
" Sekitar dua puluh menit lalu, Mbak."
" Oh, ya sudah terima kasih ya, Bu." Setelah mendapatkan informasi dari Ibu Nina soal kemunculan Kayra di dapur tadi, Gita langsung kembali ke lift, walaupun Ibu Nina mengatakan Kayra kembali ke atas, namun dia tidak menuju ke lantai atas, karena Erlangga sudah mengatakan jika Kayra tidak ada di lantai sepuluh.
__ADS_1
Gita memilih turun ke bawah, berharap ada informasi yang dia dapatkan dari karyawan di front office. Namun, sebelumnya dia memberi informasi melalui pesan kepada Erlangga soal Kayra yang tadi sempat singgah di dapur.
" Aduh, Mbak Kayra di mana, sih? Pak bos bisa marah kalau aku tidak bisa menemukan Mbak Kayra," cemas Gita saat menuju lantai dasar.
***
Erlangga dan Wira memperhatikan rekaman cctv dari kamera cctv yang terpasang di lift khusus di waktu berlangsungnya rapat tadi. Dari rekaman itu terlihat saat Kayra pertama kali masuk ke lift menuju lantai sembilan, sekitar sepuluh menit kemudian Kayra kembali masuk ke dalam lift menuju lantai sepuluh dan turun di lantai sepuluh, tak berapa lama Kayra kembali masuk ke dalam lift menuju lantai bawah. Yang membuat penasaran Erlangga adalah apa yang dilakukan Kayra setelah ke luar dari lift di lantai sepuluh. Pria itu lalu melihat rekaman cctv di depan ruangan rapat. Ia melihat Kayra yang berjalan mengendap lalu membuka sedikit pintu ruangan rapat, terlihat istrinya sedang menguping apa yang sedang terjadi di ruang rapat. Rekaman cctv itu memperlihatkan Kayra yang nampak terkejut dan menjauh dari pintu kemudian berjalan pergi menjauh menuju lift kembali.
Tok tok tok
" Masuk ...!" Erlangga mempersilahkan orang yang mengetuk pintunya itu untuk masuk.
" Maaf, Pak. Tadi saya sudah mendapat informasi dari security yang berjaga di depan kalau Mbak Kayra pergi dengan sebuah mobil sedan berwarna hitam, sepertinya mobil itu mobil online yang dipesan oleh Mbak Kayra, Pak." Gita yang masuk ke dalam ruangan Erlangga menyampaikan informasi yang didapat dari security di depan lobby kantor.
" Apa security itu tahu nomer mobil yang menjemput Kayra tadi?" tanya Erlangga kemudian.
" Mereka tidak tahu, Pak."
" Saya akan menyuruh orang memberikan hasil rekaman cctv di depan lobby, Pak." Tak menunggu perintah dari bosnya, Wira berinisiatif untuk mengecek hasil cctv di lantai bawah, tepatnya di depan pintu masuk lobby kantor Mahadika.
***
" Kenapa, Pak?" Kayra merasakan mobil online yang dia pesan untuk mengantarnya ke rumah berjalan kurang nyaman.
" Maaf, Mbak. Sepertinya bannya ada masalah." Driver ojel online itu menepikan mobilnya, lalu dia pun keluar untuk mengecek ban mobilnya.
" Kenapa bannya, Pak?" Kayra membuka kaca jendela dan menyembulkan kepala untuk mengetahui apa yang terjadi dengan ban mobil yang dia tumpangi.
" Kempes, Mbak. Maaf sekali perjalanannya jadi kurang nyaman." Driver Ojol itu menyampaikan permintaan maafnya kepada Kayra.
" Lalu bagaimana ini, Pak?" Kayra kebingungan.
" Sebentar saya hubungi teman saya, siapa tahu ada yang posisinya dekat sini, biar nanti teman saya yang mengantar Mbak sampai tujuan." Driver Ojol menawarkan solusi.
" Apa saya harus menunggu lama, Pak? Kalau lama sebaiknya tidak usah, Pak. Saya nanti order dari sini saja." Kayra keluar dari mobil, dia merogoh kantong bajunya, namun dia tidak menemukan sepeser uang pun di saku bajunya.
" Bapak, saya bisa minta nomer ponsel Bapak? Nanti saya kasih top up saja ke nomer Bapak, ya?!" Merasa kasihan melihat Driver itu, Kayra berniat memberikan tip dengan memberikan top up ke akun driver Ojol itu.
" Oh, tidak usah, Mbak. Tidak enak, saya tidak bisa mengantar Mbak sampai tempat." Driver Ojol itu menolak karena dia tidak bisa menjalankan tugasnya mengantar pelanggannya sampai tujuan.
" Tidak apa-apa, Pak. Itu bukan karena kesalahan Bapak juga." Kayra tidak mempermasalahkan driver Ojol yang gagal mengantarnya karena dia tahu, semua itu bukan karena kemauan sang driver.
" Oh, terima kasih kalau begitu, Pak." Driver Ojol pun menyebutkan nomer ponselnya kepada Kayra.
" Nanti saya top up seratus ribu ya, Pak."
" Terima kasih banyak ya, Mbak. Semoga Mbak sehat selalu, lancar rezekinya." Driver Ojol membalas dengan doa.
Saat Kayra masih mengobrol dengan Driver Ojol sebuah mobil mewah berhenti di depan mobil driver yang membawa Kayra tadi.
Seorang pria tampan yang keluar dari mobil itu berjalan menghampiri Kayra.
" Kayra, sedang apa kamu di sini?"
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1