MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Periksa Kandungan


__ADS_3

Erlangga dengan gagahnya keluar dari dalam lift dengan langkah tegap dan senyum terkulum di bibirnya, pria itu memandang ke arah Kayra yang langsung berdiri saat melihat kehadiran dirinya, sementara Gita pun ikut bangkit dari duduknya dan segera menyapa sang bos.


" Selamat pagi, Pak." sapa Gita sedikit membungkukkan tubuhnya.


Tak menjawab sapaan Gita, Erlangga justru berjalan mendekat ke arah Kayra lalu melingkarkan tangan kirinya ke pinggang Kayra, kemudian membenamkan sebuah kecupan di pipi kanan Kayra.


" Gita, saya minta kamu mengawasi Kayra, jangan biarkan dia bekerja berat dan jangan sampai dia kelelahan!" Perintah langsung diucapkan Erlangga kepada Gita.


" Baik, Pak." Dengan cepat Gita merespon perintah dari bosnya.


" Mas jangan begini kalau di kantor!" Kayra masih canggung bermesraan di kantor suaminya, karena hampir semua karyawan di kantor suaminya itu belum tahu soal statusnya saat ini sebagai istri dari Erlangga.


Erlangga langsung mengurai pelukannya namun tangannya kini mengandeng tangan Kayra lalu membawa istrinya itu masuk ke dalam ruangannya.


" Ada apa, Mas? Aku harus bekerja ..." tanya Kayra saat suaminya itu membawanya ke ruang kerja Erlangga.


" Aku sudah katakan jika kamu tidak


perlu melakukan pekerjaan." Erlangga mengusap rambut Kayra dan menyampirkan helaian rambut ke belakang telinga istrinya itu. " Aku tidak ingin bayi kita ini kesakitan karena Mamanya terlalu bandel tidak mau mendengar perkataan Papa adik bayi ini." Tangan Erlangga kini turun ke bawah mengusap perut Kayra yang masih datar. Dia pun lalu menekuk lututnya dan berlutut hingga wajahnya sejajar dengan perut Kayra, kemudian mencium perut istrinya itu seolah ingin menunjukkan jika dia sangat menyayangi janin yang ada di perut Kayra.


Kayra tersenyum melihat perlakuan manis sang suami, dia bahkan membelai rambut lebat suaminnya membuat Erlangga mendongakkan kepala.


" Kamu sudah bilang ke Gita untuk mengantar kamu ke dokter kandungan?" tanya Erlangga kembali bangkit dan membawa Kayra duduk di atas sofa.


" Sudah, Mas."


" Cari dokter yang mahal agar kamu bisa mendapat vitamin yang terbaik untuk calon anak kita ini." Tangan Erlangga kembali menyentuh perut Kayra.


" Iya, Mas." Kayra mengiyakan apa yang dikatakan suaminya, walaupun dia merasa untuk mendapatkan vitamin yang baik tidak perlu harus mendatangi dokter yang mahal.


" Kalau kamu kelelahan, istirahat saja di kamar." Saat Erlangga menunjuk arah kamar, pandangan mata Kayra langsung menuju kamar yang ditunjuk oleh Erlangga.


" Aku sudah menyuruh orang untuk mengganti spring bed yang baru." Mengingat Kayra pernah menolak diajak bercinta di kamar istirahat di ruangannya, Erlangga berinisiatif mengganti spring bed dan perabotan lainnya dengan yang baru. Erlangga tidak ingin meninggalkan jejak Caroline di ruangan istirahatnya itu.


Kayra langsung menatap sang suami mendengar penjelasan Erlangga soal kamar istirahatnya, dia tidak menduga jika suaminya akan bertindak cepat dalam hal itu, padahal dia pun tidak pernah meminta Erlangga untuk merubah perabotan di ruangan istirahat suaminya.


" Kamu pasti akan butuh banyak istirahat, karena dari artikel yang aku baca, Ibu hamil itu pasti akan merasa cepat lelah. dan aku tidak ingin kamu menjadi mudah capek karena menggandung anakku." Kehamilan Kayra membuat Erlangga semakin posesif kepada Kayra, walaupun Kayra senang diperhatikan oleh sang suami, namun dia merasa terlalu dikekang dan tidak merasa bebas.


" Aku tidak akan bekerja berat kok, Mas. Jadi tidak mungkin aku merasa kecapean. Lagipula Mas selalu mengawasi aku, bagaimana aku bisa kerja yang berat-berat?" Kayra lalu bangkit.


" Mau ke mana?" Melihat Kayra berdiri, Erlangga langsung bertanya.

__ADS_1


" Aku mau kembali ke tempatku, Mas. Tidak enak kalau kelihatan orang aku ada di ruangan bos." Kayra berjalan ke arah pintu.


" Siapa orang yang akan melihat!?" sanggah Erlangga merasa jika istrinya itu hanya beralasan saja apalagi Kayra hanya tertawa kecil dan tetap melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan sang suami.


***


" Mbak, injak jempolku, dong!" Saat berjalan di koridor rumah sakit untuk menemui dokter spesialis kandungan, Gita mengajukan suatu permohonan yang Kayra anggap aneh.


" Untuk apa, Mbak?" Kening Kayra berkerut seketika.


" Biar saya ketularan dapat suami keren dan kaya seperti Mbak Kayra," kelakar Gita dibarengi dengan tawa.


Tawa riang Gita sepertinya tertular pada Kayra karena wanita cantik itu pun ikut terkekeh.


" Memang bisa, Mbak? Hanya dengan menginjak ibu jari kaki bikin menularkan nasib?" Kayra menanggapi gurauan Gita.


" Siapa tahu, Mbak!? Hahaha .... Tidak dapat yang model Pak Erlangga, dapat yang kayak Pak Rivaldi juga, aku tidak akan menolak, Mbak!"


Kayra menghentikan tawanya saat Gita menyebut nama Rivaldi.


" Oh ya, dulu 'kan sempat ada gosip Pak Aldi suka sama Mbak Kayra di kantor, waktu itu Mbak Kayra sudah menikah sama Pak bos belum?" tanya Gita penasaran.


" Ngomong-ngomong, Pak Aldi kenapa tidak pernah ke kantor lagi ya, Mbak? Gosipnya dipecat sama Pak bos, apa benar, Mbak? Apa karena Pak Aldi naksir sama Mbak Kayra makanya Pak bos pecat Pak Aldi, ya? Padahal Pak Aldi orangnya baik, lho! Berwibawa gitu, sebelas dua belas kayak Pak bos dan Pak Asisten." Gita tidak tahu siapa Rivaldi yang sebenarnya hingga berkata demikian.


Kayra mende sah, dia bingung harus bercerita kepada Gita atau tidak soal Rivaldi. Namun karena dia teringat suaminya mempekerjakan Gita untuk menjadi asisten pribadinya, maka dia pun berani untuk bercerita tentang siapa Rivaldi.


" Mbak Gita bisa menjaga rahasia, kan?"


" Rahasia apa, Mbak? Jangan merahasiakan sesuatu dari Pak bos, saya tidak berani, Mbak. Takut ketahuan kalau main rahasia-rahasiaan dengan Pak bos." Gita menolak jika dia harus menjaga rahasia dari Erlangga.


" Bukan, Mbak. Ini soal Pak Aldi."


" Pak Aldi? Memangnya kenapa Pak Aldi, Mbak? Pak Aldi masih mengejar Mbak Kayra?" Gita menduga jika Rivaldi masih mencoba mengejar Kayra.


" Bukan soal itu, Mbak."


" Lalu?"


" Pak Aldi itu ternyata bukan orang biasa lho, Mbak."


" Bukan orang biasa? Maksudnya sakti mandraguna gitu?" Kelakar Gita membuat Kayra terkekeh mendengar candaan Gita.

__ADS_1


" Pak Aldi itu ternyata seorang bos dari sebuah perusahaan yang bergerak di bidang yang sama dengan perusahan Mahadika. Ternyata selama ini Pak Aldi menyusup di perusahaan Mahadika untuk mendapatkan informasi, dan mencoba merebut relasi bisnis dari kantor Mahadika." Kayra menceritakan tindakan licik Rivaldi termasuk berusaha merebut relasi bisnis Mahadika.


" Hahh? Serius, Mbak?" Gita tersentak kaget mendengar fakta tentang siapa sebenarnya Rivaldi.


" Iya, Mbak. Dulu pernah ada orang yang membuntuti suami saya sampai ke rumah tempat tinggal saya dan ternyata orang itu adalah orang suruhan Pak Aldi." Kayra menceritakan jika pernah ada orang yang mengikutinya bersama Erlangga.


" Ya ampun ... saya tidak menyangka kalau Pak Aldi itu ternyata orang jahat, Mbak." Gita seolah tidak percaya mendengar cerita Kayra soal Rivaldi.


" Saya juga awalnya tidak percaya, Mbak. Tapi memang seperti itu kenyataannya. Pak Aldi ternyata tidak sebaik yang kita kira, karena dengan sengaja masuk ke dalam perusahaan untuk mendapatkan data-data untuk keuntungan perusahaannya sendiri, itu adalah tindakan seorang pengecut." Kayra mengutarakan pendapatnya soal Rivaldi.


" Benar, Mbak. Pantas saja Pak bos memecat Pak Aldi, ternyata dia itu penghianat di perusahaan Mahadika." Gita setuju dengan pendapat Kayra.


" Kita tidak usah membicarakan soal Pak Aldi lagi deh, Mbak." Kayra berharap Gita tidak menyinggung soal nama Rivaldi kembali karena dia pun menjadi malas berurusan dengan pria itu.


" Oke, siap, Mbak!" Gita mengacungkan ibu jarinya. Dan mereka pun kemudian memasuki ruang poli kandungan di rumah sakit yang direkomendasikan oleh Erlangga.


Buughh


Saat Kayra memasuki ruang poli klinik tiba-tiba seorang pria bertubuh tinggi tegap menabrak bahu Kayra dari arah berlawanan membuat Kayra terhuyung ke belakang.


" Asyaghfirullahal adzim ...!" Kayra beristighfar kaget karena dia hampir saja terjatuh.


" Ya ampun, Mbak Kayra!" Gita dengan cekatan menahan tubuh Kayra agar tidak terpelanting ke belakang. " Mas, kalau jalan lihat-lihat, dong!Mbak ini sedang hamil, kalau terjatuh lalu terjadi sesuatu dengan kandungannya gimana!?" sembur Gita dengan emosinya menyemprok orang yang menabrak Kayra tadi.


" Oh, sorry saya tidak melihat." Pria itu meminta maaf namun tatapannya memperhatikan Kayra dengan lekat.


" Mbak Kayra tidak apa-apa, kan?" Gita masih mengkhawatirkan Kayra, karena jika terjadi sesuatu pada Kayra bisa dipastikan Erlangga akan marah besar.


" Saya tidak apa-apa kok, Mbak. Ya sudah, kita masuk ke dalam saja." Merasa diperhatikan dengan tatapan yang tidak dia mengerti, Kayra segera mengajak Gita untuk segera masuk ke dalam ruangan poli kandungan.


Sementara pria yang menabrak Kayra langsung mengeluarkan ponsel dari saku celananya karena dia merasa perlu menghubungi seseorang.


*


*


*


Bersambung ....


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2