
Tiga hari ke depan, acara tasyakuran empat bulanan Kayra akan dilaksanakan. Atas permintaan Helen, acara syukuran itu akan diadakan di rumah kediaman Krisna.
Kayra sendiri sebenarnya ingin acara empat bulanannya itu dilaksanakan dengan sederhana. Namun, tentu saja Helen tidak ingin melewatkan moment ini untuk dia mengenalkan Kayra kepada teman-teman sosialitanya, sehingga akhirnya mereka memilih tempat Krisna lah yang paling tepat.
" Jika acara empat bulanan Kayra sudah selesai, kita kembali ke rumah kita sekalian saja, Ma." Beberapa Minggu menuruti kemauan istrinya untuk menetap sementara di tempat Erlangga, dinilai Krisna sudah cukup. Dia sendiri merindukan suasana rumahnya yang selama ini mereka tempati. Terlebih, dia sendiri tidak ingin mengganggu privacy Erlangga dan Kayra di rumah lama Krisna itu.
" Mama mau di sini saja, Pa. Biar Mama bisa mengawasi Kayra. Benar apa tidak makanan yang dikonsumsinya? Sudah cukup belum nutrisi yang dia makan untuk pertumbuhan calon cucu kita ini?" Tak seperti suaminya, Helen justru enggan meninggalkan rumah Erlangga sekarang.
" Kayra itu bukan anak kecil, Ma. Dia pasti tahu mana yang terbaik untuk calon bayinya itu," sahut Krisna menanggapi penyataan sang istri.
" Tapi Mama mau ikut mengurus Kayra, Pa." Helen tetap pada keinginannya. " Tidak apa-apa Mama ingin di sini lebih lama 'kan, Kayra?" Helen meminta pembelaan Kayra, karena dia tahu jika menantunya itu lebih mudah dipengaruhi olehnya ketimbang Erlangga yang pasti akan menyetujui kata-kata Krisna.
" Iya, Ma." Benar saja, Kayra langsung menjawab dengan mengangguk.
" Ma, kita juga punya rumah sendiri. Tidak baik campur dengan keluarga anak menantu kita ini. Nanti sewaktu-waktu Mama kangen, Mama 'kan bisa datang ke sini lagi." Namun, Krisna pun tetap pada keputusannya.
" Bagaimana kalau kalian saja yang pindah ke rumah Mama?" Justru ide itu yang terlintas di pikiran Helen. " Kamu mau 'kan tinggal di rumah Mama, Kayra?" Kembali Helen berusaha mempengaruhi Kayra agar mau mengikuti kemauannya.
Kayra menoleh suaminya saat mendengar permintaan Mama mertuanya. Dia ingin melihat respon suaminya sebelum menjawab pertanyaan Helen.
" Ma, tidak mungkin kami harus pindah rumah lagi. Apa yang Papa katakan tadi benar. Mama bisa datang kemari kapanpun Mama mau, tapi jika kita harus tinggal di rumah Mama, rasanya itu tidak mungkin, Ma. Kami ini sudah berkeluarga, seharusnya kami tinggal terpisah dari Mama dan Papa." Erlangga akhirnya ikut bersuara setelah sejak awal hanya mendengarkan obrolan kedua orang tuanya itu.
" Apa kamu keberatan Mama tinggal dengan kalian selama di sini, Lang?" Helen salah paham dengan maksud ucapan Erlangga.
" Mama jangan salah paham seperti itu. Tapi dalam sebuah sebuah rumah sebaiknya jangan terlalu banyak terdapat kepala rumah tangga di dalamnya. Maksud aku, kami tidak mungkin bisa tinggal menetap di rumah Papa dan Mama tapi bukan berarti kami tidak boleh menginap di sana, begitu juga sebaliknya." Erlangga menjelaskan maksud perkataannya.
" Ma, nanti jika kehamilan Kayra sudah membesar, Mama bisa menemani Kayra di sini. Ada Mama dan ada Ibu, mungkin aku akan lebih tenang mendekati persalinan nanti." Bukan hanya bermaksud menghibur Helen, akan tetapi Kayra sudah mengisyaratkan jika dia pun akan butuh kehadiran Helen mendampinginya saat dia memasuki masa-masa persalinan.
__ADS_1
" Mama nanti yang menemani kamu jika kamu melahirkan ya, Kayra?" Helen berkeinginan menemani Kayra saat melahirkan cucunya nanti.
" Biasanya suami yang menemani di dalam ruang persalinan, Bu." Ibu Sari ikut berpendapat. Apalagi kini keluarga Erlangga sudah tahu siapa dirinya. Sehingga dia pun tidak bermuluk-muluk bisa mendampingi Kayra, walau sebenarnya dia terbiasa membantu menenangkan Ibu hamil yang ingin melahirkan.
" Lang, nanti Mama saja, ya!? Nanti kalau Kayra hamil anak kedua, ketiga dan seterusnya, kamu yang mendampingi." Helen sepertinya tidak ingin mengalah.
" Ma, Kayra belum juga melahirkan anak pertama, menantu kita ini baru akan mengadakan acara empat bulanan. Mama kok, sudah membicarakan Kayra melahirkan anak kedua dan ketiga?" Krisna menggelengkan kepalanya menanggapi sikap istrinya.
" Lagipula Ibu Sari benar. Yang paling berhak menemani Kayra adalah Erlangga. Agar Erlangga tahu bagaimana perjuangan Kayra melahirkan anak mereka. Supaya Erlangga tidak akan menyakiti hati istrinya dan juga tidak menyakiti hati Mama yang sudah melahirkannya." Diakhir kalimatnya, Krisna menyampaikan kata-kata yang mungkin bisa menyenangkan hati istrinya itu.
***
Hari ini Erlangga ingin mempertemukan kedua ibu mertuanya, sebelum dia mempertemukan Arina dengan Kayra. Karena itu dia mengundang Arina ke kantornya. Dia pun bahkan meminta bantuan Mamanya untuk mengajak Kayra keluar dari rumah agar dia bisa membawa Ibu Sari datang ke kantornya.
Erlangga merasa ada yang harus dibicarakan antara Arina sebagai ibu kandung Kayra, dan Ibu Sari sebagai ibu asuh Kayra. Erlangga sendiri berencana untuk mengundang Arina dalam acara tasyakuran istrinya esok lusa. Karena bagaimanapun, Arina adalah ibu kandung istrinya.
Erlangga memperhatikan gestur tubuh Ibu Sari yang terlihat tidak tenang. Dia tahu, tidak mudah untuk Ibu Sari menghadapi Arina. Pasti rasa bersalah dan rasa takut yang begitu kuat mengganggu pikiran Ibu mertuanya itu.
" Ibu jangan khawatir, tidak akan terjadi apa-apa, kok. " Dengan tangan merangkul pundak Ibu Sari, Erlangga mengucapkan kalimat yang dapat membuat Ibu Sari menjadi tenang.
" Iya, Nak." sahut Ibu Sari terduduk setelah dituntun oleh Erlangga ke sofa.
" Ibu mau makan apa?" Meski belum melewati pukul sebelas siang, namun Erlangga sudah menawarkan Ibu mertuanya itu makanan.
" Ibu belum lapar, Nak." Dalam keadaan tidak tenang karena akan bertemu ibu kandung Kayra, sudah pasti rasa lapar tidak dirasakan oleh Ibu Sari.
" Apa Ibu ingin menunggu di kamar?" Erlangga menunjuk ruangan di belakang ruangan kerjanya. " Kayra biasa beristirahat di sana," sambungnya.
__ADS_1
" Tidak, Nak. Biar ibu di sini saja kalau tidak mengganggu Nak Erlangga bekerja." Ibu Sari menolak tawaran Erlangga untuk beistirahat kamar privacy Erlangga.
" Ya sudah, Bu. Tadi Pak Nugraha baru memberi kabar, kemungkinan setengah jam lagi sampai kemari." Erlangga melirik arloji di tangannya.
" Iya, Nak." Dengan tangan memilin ujung jilbab panjangnya Ibu Sari menyahuti perkataan Erlangga.
" Saya teruskan pekerjaan saya dulu ya, Bu!? Biar nanti kalau Pak Nugraha dan Ibu Arina datang kemari, pekerjaan saya sudah beres." Erlangga berpamitan ingin melanjutkan pekerjaannya.
" Iya, Nak. Silahkan ..." jawab Ibu Sari.
Setelah mendapatkan ijin dari mertuanya, Erlangga pun kembali ke meja kerjanya untuk menyelesaikan beberapa arsip yang harus dia tanda tangani.
Sementara Ibu Sari mengedar pandangan, melihat ke sekeliling ruangan kerja Erlangga. Seperti saat mengijakkan kaki di rumah yang kini ditempatinya, kali ini pun pertama kalinya dia masuk ke sebuah gedung perkantoran dan memasuki ruangan direktur yang benar-benar sangat nyaman dengan interior yang terkesan mewah dan elegan.
" Kamu beruntung sekali, Kayra." gumam Ibu Sari dalam hati.
" Ya Allah, terima kasih, Engkau telah mengirimkan sosok pria sebaik Nak Erlangga untuk Kayra." Rasa syukur yang Ibu Sari rasakan saat ini, menyadari kehadiran Erlangga dalam hidup Kayra.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1