MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Restu


__ADS_3

Ketingat dingin sudah membasahi telapak tangan Kayra karena statusnya sebagai istri simpanan Erlangga diungkap oleh suaminya di hadapan Krisna, yang notabene adalah Papa mertua Kayra jika Krisna mengakuinya sebagai menantu.


Hati Kayra seakan menciut karena harus berhadapan lagi dengan Krisna, apalagi setelah Krisna tahu siapa dirinya bagi Erlangga. Mungkin jika wanita lain akan senang diperkenalkan sebagai istri Erlangga walaupun hanya sebagai istri simpanan, namun tidak dengan dirinya. Kayra merasa justru hal ini seperti aib yang terungkap dan hal itu benar-benar membuatnya sangat malu berhadapan dengan Krisna.


" Apa Papa tidak salah mendengar, Erlangga?" Krisna seolah masih tidak percaya akan pendengarannya saat Erlangga mengatakan jika Kayra adalah istri putranya itu.


" Apa yang Papa dengar tadi adalah hal yang sebenarnya, Pa. Aku sudah menikahi Kayra beberapa Minggu lalu." Erlangga menegaskan jika apa yang dikatakan tadi adalah sebuah kenyataan


Krisna menatap dengan sorot mata kecewa kepada Erlangga lalu mengusap kasar wajahnya.


" Kenapa kamu melakukan hal ini, Lang? Apa kamu sadar jika yang kamu lakukan ini salah? Kamu menikah tanpa sepengetahuan orang tua kamu, dan kamu menikah saat kamu masih berstatus suami Caroline." Krisna menyalahkan Erlangga karena mengambil keputusan tanpa sepengetahuan dirinya.


" Aku tahu, Pa. Tapi Papa tahu sendiri bagaimana nasib pernikahan aku dan Caroline."


" Dan kamu melampiaskannya dengan menikahi Kayra? Apa kamu menikahinya hanya sebagai pelarianmu karena kamu kecewa dengan pernikahanmu dengan Caroline?" tuding Krisna kepada Erlangga yang menganggap Erlangga menikahi Kayra karena rasa kecewa Erlangga terhadap Caroline.


" Tidak, Pa. Tidak seperti itu!" sanggah Erlangga menangkis tuduhan Krisna. Dia lalu menatap Kayra yang sudah mengeluarkan air mata.


" Aku membutuhkan seorang wanita seperti Kayra untuk menjadi istriku, Pa." Erlangga lalu menghampiri Kayra dan duduk di atas bahu kursi yang diduduki Kayra. Pria itu melingkarkan tangannya dipundak Kayra yang langsung terkesiap karena Erlangga memperlihatkan sikap mesra di hadapan Krisna.


" Tapi cara kamu salah, Erlangga!" Krisna tetap menganggap sikap Erlangga memutuskan menikah secara diam-diam adalah suatu kesalahan.


" Kayra, kenapa kamu mau menerima pernikahan ini? Kamu seorang wanita, harusnya kamu bisa mengerti bagaimana berada di posisi istri sah Erlangga jika mengetahui kamu menikahi suaminya!?" Kini giliran Kayra yang disudutkan oleh Krisna dengan pertanyaan-pertanyaan.


" Jangan menyalahkan Kayra, Pa! Bukan dia yang bersalah, tapi aku! Aku yang memaksa Kayra agar mau aku nikahi. Kayra bahkan sempat ingin kabur dari Jakarta karena menolak permintaanku, tapi aku tetap memaksa bahkan sampai menculik dia." Erlangga menjelaskan yang sebenarnya kepada Papanya tentang bagaimana dia menikahi Kayra.


Dengusan nafas kasar Krisna terdengar jelas di telinga Erlangga dan Kayra mendengar penjelasan dari putranya itu.


" Kenapa kamu jadi seperti ini, Erlangga? Kamu menculik dan memaksa Kayra untuk menikah denganmu, itu termasuk tindakan kriminal," ucap Krisna dengan nada kecewa.


Sementara Kayra tidak sanggup berkata apa-apa hanya mampu meneteskan air matanya.. Walaupun Erlangga sudah mengakui jika semua ini bukan kesalahan Kayra, namun Kayra tetap merasa jika dirinya berada di pihak yang salah.


" Kenapa kamu tega melibatkan Kayra dalam masalah rumah tanggamu? Bagaimana tanggapan Caroline jika dia tahu ternyata suaminya selingkuh? Lalu, apa kamu lupa bagaimana sikap Mamamu? Pernikahanmu dengan Caroline saja ditentang keras oleh Mamamu, apalagi saat Mamamu nanti tahu jika Kayra sekarang ini yang menjadi istrimu!" Krisna memikirkan bagaimana nasib Kayra harus menghadapi teror dua orang wanita yang pasti akan menentang pernikahan Erlangga dan Kayra.


" Untuk saat ini aku mohon Papa tidak memberitahukan soal pernikahan kami kepada Mama. Aku tidak ingin Mama mengusik Kayra." Erlangga memohon agar Papanya tidak mengatakan soal pernikahnya dengan Kayra kepada Helen.


" Tapi kamu tidak mungkin terus menutupi hal ini, Lang!"


" Aku tahu, Pa. Setelah perceraianku dengan Caroline selesai, aku akan memilih waktu yang pas untuk memberitahukan tentang statusku termasuk kepada Mama dan juga karyawan di kantor ini." Erlangga bertekad membuka status pernikahannya dengan Kayra kepada Helen dan karyawannya.


" Tidak akan mudah bagi Kayra mendapat restu dari Mamamu, Lang!" Menyadari bagaimana sikap Helen, Krisna dapat menduga jika Kayra akan mendapat tentangan keras dari Helen.


" Aku sudah katakan, Pa. Aku tidak akan biarkan Mama mengusik Kayra!" tegas Erlangga bertekad akan melindungi Kayra dari serangan-serangan yang mungkin akan dilancarkan oleh Mamanya nanti.


Krisna kembali menghela nafas panjang, tak lama dia bangkit dari duduknya.


" Sebaiknya Papa pergi dari sini." Merasa pusing dengan sikap putranya, Krisna memilih ingin meninggalkan ruangan putranya itu secepatnya.


Melihat Krisna berdiri, Kayra pun sontak berdiri. Dia merasa perlu meminta maaf kepada Papa mertuanya itu.


" Saya minta maaf jika saya sudah membuat Bapak kecewa." Kayra membungkukkan sedikit tubuhnya di hadapan Erlangga. Dia bahkan tidak berani menatap wajah Papa dari suaminya itu.


Melihat reaksi dari Kayra, Krisna kemudian menepuk pelan pundak Kayra.


" Saya yang harus meminta maaf karena tindakan yang dilakukan putra saya terhadap kamu, Kayra." Krisna bisa melihat penyesalan dan rasa bersalah yang sedang dihadapi oleh wanita yang baru dia ketahui ternyata adalah menantunya itu.


Ucapan Krisna sontak air mata Kayra kembali berderai. Di antara kecemasan yang dia rasakan semenjak tadi. Perkataan yang terucap dari bibir Krisna sedikit menyejukkan hatinya. Setidaknya Krisna tidak lagi memojokkannya sebagai wanita yang sengaja ingin menghancurkan rumah tangga Erlangga dan Caroline.


" Pa, apa Papa merestui pernikahanku dengan Kayra?" tanya Erlangga kemudian.


" Papa tidak punya pilihan lain, kan? Jika Papa tidak merestui kalian, Kayra lah yang akan menjadi korban ..." pungkas Krisna lalu berjalan ke luar ruangan Erlangga.


Isak tangis Kayra seketika pecah saat Krisna menghilang dari ruangan itu. Sejak tadi dia menahan agar tangisnya tidak mengeluarkan suara namun kali ini dia sudah tidak dapat menahannya lagi. Dengan kedua telapak tangan menutupi wajahnya wanita itu terisak dengan pilu.


Melihat Kayra yang menangis tersedu Erlangga langsung meraih tubuh Kayra dan memeluknya.


" Tidak usah bersedih, Papa sudah tahu pernikahan kita, setidaknya satu jalan sudah kita lalui dengan aman." Erlangga merasa restu dari Papanya sangatlah berarti untuk pernikahannya dengan Kayra. Dia pun berusaha menenangkan Kayra agar jangan terus merasa bersedih dan bersalah dengan status mereka saat ini.

__ADS_1


" Bagaimana mungkin saya tidak memikirkan hal ini, Pak!? Saya merasa malu ... hiks ..." Kayra tidak mampu melanjutkan kalimatnya.


" Papa saya tidak menyalahkanmu, Kayra. Kamu tidak perlu merasa malu ..." Erlangga mengusap wajah Kayra, menyeka air mata yang membanjiri wajah istrinya itu lalu membenamkan sebuah kecupan lembut ke bibir Kayra. Namun lama-lama sentuhan Erlangga itu mulai menimbulkan has rat hingga dia melu mat bibir kenyal istri cantiknya itu.


" Aaakkhh ...!" Tiba-tiba Erlangga memekik. " Kenapa kamu senang sekali menggigit bibir saya!?" Dengan mengusap bibirnya yang tadi di gigit, Erlangga memprotes tindakan istrinya.


" Bapak ini tidak pengertian sekali! Sudah tahu orang sedang sedih malah mengambil kesempatan cium-cium." Kayra mencebikkan bibirnya menganggap suaminya itu tidak bisa melihat situasi dan kondisi. Dia pun kemudian berlalu meninggalkan ruangan kerja suaminya dengan bersungut-sungut.


" Hei, saya belum menyuruh kamu keluar dari ruangan saya, Kayra!" Erlangga memanggil Kayra namun tidak digubris oleh istrinya itu. Dia pun kemudian menyingai seraya menggaruk kepalanya yang merasa tidak gatal karena melihat istrinya yang merajuk.


***


Wira mendengarkan cerita Erlangga tentang pernikahan yang telah diketahui oleh Krisna. Wira ikut merasa lega karena Krisna dapat menerima pernikahan Erlangga dengan Kayra, karena sejujurnya dia pun merasa khawatir jika Kayra akan mendapatkan pertentangan dari kedua orang tua Erlangga.


" Lantas apa rencana Anda selanjutnya, Pak?" tanya Wira menanyakan langkah apa yang dilakukan Erlangga setelah pernikahannya dengan Kayra diketahui oleh Krisna.


" Sementara tetap seperti ini sampai masalah perceraian saya dengan Caroline tuntas," jawab Erlangga.


" Apapun yang terjadi, saya harap kebahagiaan tetap berpihak kepada Kayra," ucap Wira penuh dengan harap.


" Anda sepertinya sangat perhatian sekali terhadap Kayra, Pak Wira." Erlangga menoleh ke arah Wira mendengar asistennya itu seolah berpihak kepada Kayra.


" Anda tahu jika saya pernah berniat menjodohkan Adik saya dengan Kayra 'kan, Pak? Karena saya tahu dia adalah wanita baik-baik. Saya sudah menganggap dia seperti adik saya sendiri walaupun rencana saya menjadikan Kayra sebagai adik ipar saya terhalang oleh Anda, Pak." sindir Wira menanggapi kalimat sindiran dari bosnya tadi.


Erlangga tertawa mendengar ucapan Wira, membuat Wira mengeryitkan keningnya. Sepertinya dia sudah lama tidak melihat Erlangga tertawa dengan lepasnya seperti saat ini.


" Anda sepertinya terlihat bahagia sekali, Pak Erlangga!?" Wira menduga pernikahan Erlangga dan Kayra membawa aura positif dalam kehidupan Erlangga.


" Ya, sejujurnya ... saya memang sangat bahagia, Pak Wira. Jauh lebih bahagia dari ketika saya menikah dengan Caroline." Entah mengapa Erlangga mengungkapkan apa yang dirasakan dengan pernikahannya bersama Kayra.


" Apa Anda sudah merasa jatuh cinta terhadap Kayra, Pak?" tanya Wira ingin tahu apa yang sebenarnya dirasakan oleh Erlangga terhadap Kayra.


" Jatuh cinta?" Erlangga menyipitkan matanya. " Entahlah ..." Erlangga lalu bangkit. " Yang saya rasakan saat ini, saya selalu ingin bersama dia." Seulas senyuman terukir di bibir pria itu. Walaupun bibirnya belum bisa menegaskan soal perasaannya terhadap Kayra namun sikapnya sejauh ini sudah dapat mewakili perasaannya terhadap wanita itu. Dan hal tersebut dapat tertangkap oleh mata oleh Wira.


" Tolong jadwalkan cuti untuk saya untuk dua Minggu yang akan datang, Pak Wira." Erlangga lalu berlalu meninggalkan ruangan kerja Wira dengan meninggalkan sebuah pertanyaan tentang cuti yang diminta oleh Erlangga.


***


" Apa kamu punya paspor, Kayra?" tanya Erlangga kemudian.


" Tidak, Pak. Saya tidak pernah berpergian ke luat negeri, jadi saya merasa tidak perlu membuat paspor." Kayra menjawab pertanyaan suaminya, karena Kayra tidak pernah bermimpi terlalu tinggi ingin pergi ke luar negeri.


" Kamu harus punya mulai sekarang." ucap Erlangga.


" Untuk apa, Pak?" tanya Kayra heran.


" Kamu pikir fungsi paspor itu untuk apa?" Erlangga merasa pertanyaan Kayra sangatlah konyol, Kayra bukanlah orang awam yang tidak tahu fungsi paspor itu untuk apa


" Tapi saya tidak berpergian ke luar negeri, Pak." Kayra tetap merasa tidak memerlukan memiliki paspor


" Kita akan ke Italia dua Minggu ke depan."


Mata kayra terbelalak mendengar Erlangga akan mengajaknya pergi ke Italia.


" Italia? Untuk apa, Pak?" tanya Karya terkejut.


" Ada pameran mobil klasik di Turin dua minggu yang akan datang, aku ingin bisa datang ke sana." Erlangga menjelaskan.


" Apa saya harus ikut ke sana, Pak?" tanya Kayra kembali.


" Tentu saja, karena kita akan sekalian bulan madu di sana."


" Bulan madu?" Kembali Kayra terperanjat saat mengetahui Erlangga merencanakan bulan madu ke luar negeri.


" Tentu saja ... saya ingin berdua dengan kamu di tempat yang jauh dari orang-orang yang kita kenal di sini."


" Tapi, Pak ...."

__ADS_1


" Saya tidak mau ada bantahan!" Erlangga langsung memotong ucapan Kayra yang ingin menyanggahnya.


" Tapi saya tidak pernah pergi ke luar negeri, Pak. Saya juga tidak pernah naik pesawat, saya takut jatuh ..." Kayra memelankan kata-kata terakhirnya membuat Erlangga tergelak.


Kayra mengerjapkan matanya melihat suaminya itu terbahak menertawakan ucapannya. Yang membuatnya terkejut adalah tawa Erlangga yang seolah tanpa beban.


" Kamu takut ketinggian?" tanya Erlangga terkekeh.


" Tidak, bukan takut ketinggian. Tapi saya takut, apalagi kalau mendengar soal kecelakaan pesawat." Kayra menyebutkan alasannya dia takut naik pesawat.


" Bukankah kecelakaan itu bisa terjadi di mana saja? Tidak hanya di pesawat jika sedang bernasib naas di mana pun kecelakaan itu bisa terjadi." Erlangga merasa anggapan Kayra tentang takut mengalami kecelakaan saat menaiki pesawat terlalu berlebihan.


" Saya mengerti, Pak. Tapi saya tetap takut ..." Kayra masih tidak mempunyai keberanian untuk menaiki pesawat.


" Mulai sekarang hilangkan rasa takutmu itu, Kayra. Karena sebagai istri saya, kamu mungkin akan sering berpergian menggunakan pesawat." Erlangga kemudian bangkit dari duduknya dan menghampiri Kayra.


" Apa tidak terlalu bahaya jika kita berpergian sekarang ini, Pak?" Kayra takut dengan pernikahan yang masih disembunyikan dengan Erlangga saat ini akan diketahui orang lain.


" Kita ini akan berpergian jauh, kenapa kamu masih saja mencemaskan akan ada orang yang mengenali kita?" Erlangga heran Kayra masih saja mencemaskan statusnya.


" Lalu bagaimana dengan orang-orang di kantor jika saya dan Bapak tidak masuk kantor dalam waktu yang bersamaan. Mereka pasti akan memandang curiga, Pak." Kali ini Kayra mengatakan alasan penolakan yang paling masuk akal menurutnya. Ketidakhadiran Erlangga dan dirinya dalam waktu yang bersamaan dijamin akan menimbulkan gosip tak sedap di kalangan karyawan Mahadika Gautama.


Erlangga berpikir sejenak, dia memang tidak sempat berpikir sejauh itu. Apapun omongan karyawannya tidak menjadi masalah untuknya, namun dia harus memikirkan Kayra. Pasti karyawannya akan menyudutkan Kayra.


" Nanti saya pikirkan cara agar kepergiaan kita tidak menimbulkan kecurigaan para karyawan. Yang penting kamu harus buat paspor dulu agar rencana kita ke Italia tetap terlaksana dua Minggu ke depan," ujar Erlangga seraya melangkah ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


***


" Siang, Mbak. Apa Pak bos ada di tempat?" tanya seorang pria pada sekretaris Rivaldi yang duduk di depan ruangan Direktur.


" Oh, dengan Pak Jimmy, ya? Silahkan, Pak." Sekretaris Rivaldi kemudian berjalan ke arah ruangan Rivaldi untuk memberitahu bosnya tentang kedatangan Jimmy, karena Rivaldi sudah memberitahukan jika akan ada orang yang datang mencarinya.


" Permisi, Pak. Pak Jimmy sudah datang," ujar sekretaris Rivaldi kepada bosnya.


" Suruh dia masuk!" ucap Rivaldi.


" Baik, Pak." Sekretaris Rivaldi kembali kelutar dan mempersilahkan Jimmy untuk masuk ke dalam ruangan Rivaldi.


" Siang, bos. Apa saya mengganggu Bos?" tanya Jimmy ketika sampai di dalam ruangan Rivaldi.


" Ada informasi apa yang bisa kamu sampaikan kepada saya, Jimmy?" tanya Rivaldi menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya.


" Saya mendapatkan informasi jika Pak Erlangga saat ini ternyata sedang menjalani sidang perceraian dengan istrinya, Bos."


" Perceraian?" Rivaldi mendengarkan serius berita yang disampaikan Jimmy kepadanya.


" Benar, namun sepertinya mereka mencoba menutupi hal ini agar tidak diketahui publik." Jimmy kembali menjelaskan soal berita perceraian Erlangga dengan istrinya.


" Apa Bos tidak curiga jika sikap posesif Pak Erlangga kepada sekretarisnya itu ada hubungannya dengan perceraian ini, Bos?" tanya Jimmy kemudian menyampaikan kecurigaannya.


" Tapi Kayra bukan tipe wanita yang suka menggoda pria yang sudah mempunyai istri, Jimmy. Karena itulah saya menginginkan dia. Rasanya tidak mungkin jika mereka mempunyai hubungan khusus." Rivaldi menepis tuduhan jika Kayra menjalin hubungan spesial dengan Erlangga.


" Ada temuan soal mobil yang dipakai Nona Kayra yang belum Bos ketahui."


" Oh ya, bagaimana? Apa sudah dapat info soal mobil yang pernah dipakai untuk mengantar Kayra?"


" Mobil itu terdaftar atas nama Nona Kayra Ainun Zahra sendiri, Bos."


" Mobil atas nama Kayra? Artinya mobil itu memang milik Kayra?"


" Benar, Bos. Kemungkinannya hanya dua. Nona Kayra memang mempunyai hubungan khusus dengan orang yang kaya raya atau Nona Kayra sendiri adalah orang kaya raya yang menyamar sebagai orang biasa seperti yang bos lakukan selama ini untuk mencari informasi atas perusahaan Mahadika," ucap Jimmy mengucapkan pendapatnya.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2