MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Hasil DNA


__ADS_3

Ketika makan malam, Ibu Sari tidak ikut bergabung bersama anggota keluarga yang lain. Sepertinya ketakutan dan rasa bersalah begitu kuat menghantui diri Ibu Sari, atas apa yang telah dilakukannya dulu, saat menyembunyikan Kayra dari ibu kandungnya.


" Ibu mana, Sayang?" Tak melihat keberadaan Ibu mertuanya, Erlangga bertanya kepada sang istri ketika mereka bersiap menyantap makan malam.


" Ibu?" Kayra menoleh ke arah kursi yang biasa ditempati oleh Ibu Sari. Memang tidak nampak ibunya di sana. Tidak biasanya ibunya itu tidak bergabung untuk makan bersama.


" Mbak Atik, tolong panggilkan Ibu saya di kamar, ya!?" Kayra meminta tolong kepada Atik untuk memanggilkan orang tuanya itu.


" Baik, Nyonya." Atik bergegas ke kamar Ibu Sari yang pindah ke lantai atas sejak Krisna dan Helen menetap di rumah itu beberapa hari ini.


Sementara Helen menduga Ibu Sari tidak ikut makan malam, karena kisah soal Arina yang diceritakan olehnya.


" Ibu Sari minta maaf tidak bisa bergabung makan malam bersama, Nyonya. Beliau sedang tidak enak badan katanya." Setelah beberapa saat menunggu, Atik kembali muncul dengan memberitahukan apa yang dipesankan oleh Ibu Sari kepadanya.


" Tidak enak badan? Ibu saya sakit, Mbak?" Kayra seketika bangkit dari kursinya.


" Sayang, hati-hati!" Erlangga menahan istrinya yang hendak meninggalkan meja makan dengan terburu-buru.


" Mas, Pa, Ma, Kayra mau menemui Ibu dulu." Kayra minta ijin kepada suami dan kedua mertuanya karena dia mengkhawatirkan Ibunya.


" Pelan-pelan, jangan berlari!" Erlangga memperingatkan agar istrinya itu tidak berlari menuju kamar Ibunya di lantai atas.


" Iya, Mas." ucap Kayra berjalan meninggalkan ruangan makan untuk menemui Ibunya.


" Ibu, Ibu kenapa? Ibu sakit apa?" Dengan membuka pintu kamar ibunya, Kayra menanyakan apa yang terjadi dengan sang ibu. Saat ini, dia melihat ibunya sedang berbaring.


" Ibu hanya sedikit pusing saja, Nak." Ibu Sari bangkit dan terduduk.


" Ibu sudah minum obat belum? Makan dulu kalau mau minum obat, Bu." Punggung tangan Kayra menyentuh kening Ibu Sari yang terasa hangat.


" Ibu sudah minum obat," sahut Ibu Sari.


" Bu, apa Ibu yakin hanya pusing saja? Bukan karena tadi pergi dengan Mama?" Kayra masih menganggap jika keadaan ibunya saat ini ada hubungannya dengan kepergian Ibunya itu dengan Mama mertuanya.


" Tidak, Nak. Kamu jangan berburuk sangka terhadap Mama mertuamu ini. Beliau sudah bersikap baik terhadap Ibu dan kamu." Ibu Sari menasehati Kayra agar selalu berbaik sangka terhadap Helen.


" Tapi, ibu harus makan dulu. Sedikit juga tidak apa-apa, yang penting masuk makanan ke perut ibu." Kayra ingin Ibunya menyantap makanan lebih dulu sebelum beristirahat.


" Perut Ibu masih kenyang, Nak. Sepertinya Ibu hanya butuh beristirahat saja agar besok sakitnya sudah reda." Ibu Sari menolak permintaan Kayra.


" Ya sudah, kalau begitu Ibu istirahat saja ..." Kayra akhirnya memilih meninggalkan Ibunya untuk beristirahat.


***


" Mas, siang tadi Ibu pergi berbelanja dengan Mama." Setelah makan malam dan kembali ke kamar, Kayra menceritakan apa yang terjadi dengan Ibu dan Mama mertuanya.


" Oh ya? Tumben sekali Mama mau pergi berbelanja." Mengingat Mamanya jarang mengurusi urusan dapur, tentu Erlangga terkejut dengan cerita Kayra.


" Iya, Mas. Mama mengajak Ibu membeli kebutuhan untuk keperluan aku sehari-hari." Kayra kembali menjelaskan.


" Hmmm, lain sekarang, ya? Yang sudah disayang Mama mertua ..." Erlangga meledek Kayra menanggapi perubahan sikap Mamanya terhadap Kayra.


" Alhamdulillah, aku senang rasanya ..." Kayra justru tidak menganggap Erlangga sedang menyindirnya. " Tapi ...."


" Tapi kenapa, Sayang?" Erlangga penasaran karena Kayra menjeda kalimatnya.


" Aku merasa Ibu bersikap aneh sejak pulang belanja siang tadi, Mas." Kayra mengatakan apa yang sedang mengganggu pikirannya saat ini.


" Maksudmu, ada sesuatu yang dilakukan Mama terhadap Ibumu sampai membuat Ibu bersikap aneh?" Mendengar cerita Kayra, Erlangga dengan cepat dapat menarik kesimpulan. Karena Erlangga sudah mendapat informasi dari Krisna jika Mamanya sudah tahu soal Arina dan Kayra.


" Entahlah, Mas. Tapi, Ibu tidak mau terbuka terhadapku." Kayra mende sah.


" Ya sudah, kamu jangan memikirkan hal itu. Ibu juga bilang hanya pusing saja, kan? Mungkin karena Ibu kecapean harus berpergian." Tak ingin membuat Kayra gelisah, Erlangga mencoba mengatakan jika apa yang dialami Ibu Sari adalah hal yang biasa terjadi dengan orang tua jika habis melakukan aktivitas apalagi berbelanja di mall yang luas.

__ADS_1


" Iya, Mas." ucap Kayra.


" Aku rasa Mama sudah berusaha memperbaiki sikapnya. Aku minta kamu jangan berprasangka buruk terhadap Mama, Sayang." Tangan Erlangga memainkan anak rambut istrinya.


" Maaf, Mas." Kayra menyampaikan permintaan maafnya karena sempat memikirkan penyebab perubahan sikap Ibu Sari karena Mama mertuanya.


***


Tangan Erlangga memegang erat surat hasil DNA yang baru saja dia terimanya selepas istirahat makan siang. Tepat seperti dugaannya, ternyata sampel rambut Arina dan Kayra yang diserahkan untuk dilakukan test DNA menunjukkan jika Kayra memang positif darah daging Arina.


Erlangga menghela nafas yang begitu berat. Sementara tatapan matanya terus memandangi hasil test itu. Dia lalu meraih ponselnya untuk menghubungi Krisna.


" Assalamualaikum, Pa. Pa, aku sudah menerima hasil DNA nya." Ketika panggilan teleponnya terangkat, Erlangga langsung mengatakan soal hasil DNA kepada Papanya itu.


" Waalaikumsalam ... hasil DNA sudah keluar? Lalu bagaimana hasilnya, Lang?" tanya Krisna penasaran.


" Seperti yang aku duga sebelumnya, Pa. Kayra memang Kania Pratiwi, putri dari Sus Rina dan Om Danny,"' ucap Erlangga dengan nada berat.


Hembusan nafas Krisna langsung terdengar di telinga Erlangga saat dia menyampaikan berita itu kepada Krisna.


" Lalu apa langkah kamu selanjutnya, Lang?" tanya Krisna.


" Aku akan bicara dengan Ibu mertuaku, Pa. Tapi, aku khawatir, karena Kayra mengatakan Ibu Sari kemarin sempat pergi berbelanja dengan Mama. Sepulang dari belanja, sikap Ibu Sari berubah. Aku khawatir ada sesuatu yang dikatakan Mama soal Sus Rina yang membuat Ibu Sari merasa takut dan cemas." Sepertinya Erlangga mengetahui apa yang sedang dirasakan Ibu mertuanya.


" Kalau begitu kamu harus hati-hati menyampaikan hal ini kepada Ibu mertuamu, Nak." Krisna menyarankan agar Erlangga bicara dengan Ibu Sari dalam waktu yang tepat.


" Papa harus bicara sama Mama, agar Mama tidak banyak bicara soal Sus Rina. Aku takut ulah Mama itu akan membuat Ibu Sari tidak nyaman, dan aku susah mempunyai kesempatan bicara dengan ibu mertuaku, Pa." Erlangga memang perlu bicara empat mata dengan Ibu mertuanya. Karena dia harus mencari tahu bagaimana Kayra bisa diasuh oleh Ibu Sari, bukannya diserahkan ke panti asuhan sesuai dengan permintaan Arina. Dan juga, Ibu Sari tidak pernah terbuka kepadanya tentang status Kayra yang bukan anak kandung Ibu Sari.


" Baiklah, nanti Papa akan menasehati Mamamu," sahut Krisna.


" Aku ingin masalah ini terselesaikan dengan baik, tanpa menyakiti hati siapapun juga. Karena itu aku harus mendapat penjelasan dari Ibu Sari, agar aku bisa memberikan alasan yang tepat kepada Sus Rina, kenapa Kayra tidak dititipkan di panti asuhan." Bagi Erlangga, Ibu Sari dan Arina sama-sama orang penting dalam kehidupan Kayra. Walaupun Ibu Sari hanya ibu angkat yang mengasuh Kayra sejak lahir. Namun, Ibu Sari merawat dan mendidik


Kayra dengan sangat baik. Begitu pula dengan Arina. Meskipun dia meninggalkan anaknya saat masih bayi. dia tidak pernah berniat membuang Kayra walaupun bayi itu terlahir di luar pernikahan.


" Apa kamu ingin mengatakan hal ini secepatnya kepada Arina, Lang?" tanya Krisna.


" Tapi, memang harus dengan syarat, Pa. Aku akan memberitahu dan mempertemukan mereka. Namun, aku tidak ingin Arina mengakui Kayra adalah anaknya, sampai Kayra siap menerima kenyataan tentang siapa dirinya." Erlangga tetap berusaha menjaga agar kondisi psikologis istrinya tidak terganggu dengan masalah ini. Setidaknya dia menunggu sampai istrinya itu melahirkan dengan selamat.


" Baiklah, Papa setuju denganmu, Lang. Lalu kapan kamu akan menemui Arina?" tanya Krisna kembali. " Apa kamu butuh Papa temani?" Krisna menawarkan diri.


" Jangan dulu, Pa. Aku ingin bertemu lebih dahulu dengan suami Sus Rina. Bagaimanapun juga saat ini Sus Rina sudah mempunyai suami dan suaminya itu bukan orang biasa. Kita tidak bisa seenaknya saja bertemu atau membawa Sus Rina untuk bertemu dengan Kayra." Erlangga memperhitungkan segala sesuatunya dengan matang.


" Oke, oke ... Papa paham maksudmu, Lang." Krisna pun menyetujui rencana Erlangga yang ingin bertemu dengan Nugraha Wijaya, suami dari Arina. " Lang ...."


" Ya, Pa?"


" Papa bangga terhadapmu, Nak. Kamu sekarang menjadi pribadi yang lebih baik dan bijak." Melihat sikap bijaksana yang kini mulai tumbuh dalam diri putranya, Krisna tidak ragu mengatakan rasa bangganya terhadap Erlangga.


" Semua ini karena Papa yang mengajariku." Tak ingin menampik dan mengesampingkan peran orang tuanya, Erlangga tetap mengutamakan peran sang Papa dalam membentuk karakternya.


" Dan pastinya aura positif yang ditularkan oleh istrimu, Lang." Krisna merasa justru Kayra lah yang banyak mempengaruhi perubahan sikap Erlangga yang awalnya arogan menjadi lebih bijaksana.


Erlangga terkekeh mendengar Papanya memuji Kayra. " Hati-hati bicaranya, Pa. Jika Mama mendengar Papa menyebut nama Kayra yang telah membuat aku berubah, bisa-bisa istri Papa itu merajuk lagi, karena merasa tidak berperan apa-apa." Erlangga berseloroh, dan langsung disahuti oleh tawa Krisna dari seberang. Sehingga percakapan yang awalnya serius jadi lebih santai dengan tawa renyah antara ayah dan anak itu.


***


" Ma, Papa mau bicara sebentar." Saat hendak beristirahat, Krisna mengajak Helen berbincang terlebih dahulu.


" Ada apa, Pa?" tanya Helen mengurungkan niatnya yang hendak membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


" Ma, Mama sudah berjanji tidak akan mengatakan pada siapa pun tentang Kayra dan Arina, kan?" Krisna duduk di sisi tempat tidur dan menyandarkan punggungnya di sandaran headboard tempat tidurnya.


" Iya, Pa. Mama tidak bilang sama siapa-siapa, kok." sahut Helen, merasa dia tidak mengingkari janjinya.

__ADS_1


" Apa Mama yakin tidak bicara apa-apa kepada Ibu Sari?" tanya Krisna bernada penuh selidik.


" Kenapa Papa tanya seperti itu?" Kali ini Helen yang bertanya curiga.


" Kayra bilang Mama pergi dengan Ibunya. Dan Ibunya itu langsung menunjukkan sikap aneh sejak pulang dari pergi dengan Mama." Krisna mengatakan apa yang disampaikan Erlangga padanya.


" Kayra bicara seperti itu?" Helen terbelalak ketika suaminya mendapatkan informasi itu.


" Apa Kayra mencurigai Mama berbuat jahat terhadap Ibunya?" Helen merasa kecewa mengetahui Kayra mencurigainya.


" Bukan seperti itu, Ma. Papa rasa kekhawatiran Kayra adalah suatu hal yang wajar jika mengingat sikap Mama yang dulu. Dia sangat menyayangi Ibunya, tentu saja Kayra akan merasa khawatir ketika ada seseorang yang mengusik ketenangan hati ibunya." Krisna menjelaskan agar Helen pun tidak jadi salah paham terhadap menantu mereka.


" Mama hanya bercerita tentang Arina kepada Ibu Sari. Mama hanya penasaran saja dengan reaksinya saat Mama cerita tentang Arina. Dan ternyata Ibu Sari terlihat kaget waktu Mama cerita. Rasa-rasanya Kayra memang benar bukan anak kandung Ibu Sari deh, Pa." Akhirnya Helen jujur mengatakan apa yang sudah dilakukannya terhadap besannya.


Krisna menghempas nafas menanggapi pengakuan sang istri.


" Kayra memang bukan anak Ibu Sari tapi anak Arina," ucap Krisna kemudian.


" Hasil DNA nya sudah keluar, Pa?" Helen tercengang mendengar Krisna mengatakan jika Kayra benar anak Arina.


" Iya, siang tadi Erlangga mendapatkan hasil test DNA itu," sahut Krisna. " Karena itu, Papa harap, Mama tidak menyinggung lagi soal masalah ini yang membuat Ibu Sari menjadi tidak nyaman. Karena Erlangga butuh penjelasan dari Ibu mertuanya. Tidak akan mudah untuk Ibu Sari menceritakan hal yang sudah puluhan tahun disembunyikan olehnya. Sebab itu, Erlangga butuh waktu yang tepat dengan kondisi Ibu Sari yang tenang dan tidak tertekan," lanjut Krisna menjelaskan.


" Mama bisa 'kan cukup tahu saja, tanpa harus bertindak dan berkata macam-macam? Ini akan berpengaruh pada cucu kita, Ma. Jika Ibu Sari merasa tertekan, itu akan membuat Kayra sedih dan sudah pasti akan mengganggu kesehatan calon cucu kita di perut Kayra." Kembali Krisna berusaha membuat istrinya mengerti agar tidak banyak ikut campur dalam masalah ini.


" Apapun alasan Ibu Sari menyembunyikan status Kayra, kita tetap harus menghargainya. Setidaknya selama ini Kayra dirawat dengan sangat baik, bahkan menjadi seorang wanita baik, santun dan penuh rasa hormat kepada orang tua. Papa rasa selama ini Ibu Sari dan suaminya telah menanamkan hal positif dalam diri Kayra sehingga dia tumbuh menjadi seorang wanita yang istimewa dan menjadi istri kesayangan putra kita," sambung Krisna kembali.


" Iya, Pa." Helen menyetujui apa yang dikatakan Krisna. " Oh ya, Pa. Mama ingin sekali bertemu dengan Arina, deh." Helen tiba-tiba berkeinginan bertemu dengan mantan pengasuh Erlangga dulu.


" Mama mesti sabar jika ingin bertemu dengan Arina. Kita menunggu arahan dari Erlangga. Jangan gegabah, karena hal itu akan mengacaukan segalanya." Krisna memperingatkan istrinya.


" Mama hanya ingin bertemu saja kok, Pa. Tidak akan menyinggung soal Kayra."


" Ada hal yang tidak Mama ketahui soal siapa keluarga suami Arina," ungkap Krisna lagi.


" Memangnya kenapa dengan suaminya Arina itu, Pa?" tanya Helen dibuat penasaran dengan ucapan suaminya.


" Arina itu mempunyai anak tiri, dan anak tirinya itu menyukai Kayra." Krisna pun lalu menceritakan dengan lengkap akan sosok Rivaldi. Dari Rivaldi menyusup ke perusahaan Erlangga hingga akhirnya putranya itu menyewa Rizal dan Grace, sehingga terkuaklah sebuah rahasia besar yang tidak pernah terduga sebelumnya oleh mereka.


" Ya ampun, kok Mama tidak tahu hal itu selama ini sih, Pa? Kalau ada orang yang ingin menjatuhkan perusahaan Mahadika dan pelakunya adalah anak tiri dari Arina sendiri?" Helen terperanjat setelah mendengar cerita suaminya tentang Rivaldi.


" Mama tidak tahu, karena selama ini Mama terlalu sibuk merencanakan Agnes untuk berjodoh dengan Erlangga." Krisna menyindir Helen, membuat istrinya itu mencebik.


" Oh ya, Pa. Kalau anak tiri Arina itu berusaha menjatuhkan perusahaan Erlangga, apa itu karena Arina ingin membalas dendam atas perbuatan Danny dulu, Pa?" Tiba-tiba saja Helen terpikirkan akan hal tersebut.


" Mama berpikir Arina ingin membalas dendam terhadap kita?" Krisna terkesiap mendengar dugaan istrinya.


" Bisa saja itu terjadi 'kan, Pa?"


" Papa rasa tidak, Ma. Arina bukan tipe wanita pendendam. Papa dan Erlangga sendiri sudah berjumpa dengan dia. Jika memang apa yang dilakukan Rivaldi pada perusahaan Erlangga itu menyangkut rasa sakit hati terhadap Danny, itu pasti bukan karena pengaruh Arina." Krisna menyampaikan pendapatnya menepis dugaan sang istri soal kemungkinan balas dendam Arina karena rasa sakit hati terhadap adik sepupu istrinya itu.


*


*


*


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Jika bertanya apa boleh menikah dengan sepupu? Yang aku tahu, dalam Islam, sepupu itu termasuk orang yang boleh dinikahkan. Lagipula karena Kayra terlahir di luar nikah, dia mengikuti nasab ibunya bukan ayahnya. Jadi hubungan dengan keluarga ayahnya tidak kuat. Jika ada kesalahan mohon untuk dikoreksi, makasih 🙏


Happy Reading❤️


__ADS_2