MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Nyonya Erlangga Mahadika Gautama


__ADS_3

Erlangga memperhatikan wajah Kayra yang sedang tertidur dalam pelukannya. Setelah gagal melakukan percintaan sore tadi karena dia merasakan cakaran kuku tajam di senjatanya, Kayra memang terlepas dari rencana Erlangga yang ingin melakukan aktivitas suami istri di dalam kamar mandi.


Bukan Erlangga namanya jika tidak menyelesaikan keinginannya karena malam harinya selepas menjalankan ibadah sholat Isya, Erlangga sudah menggiring Kayra ke atas tempat tidur dan menuntaskan keinginan bercinta dengan wanita yang sanggup memberikan kepuasan kepadanya sebagai seorang suami.


Erlangga tersenyum dengan jari tangan memainkan anak rambut hitam Kayra.


" Saya tidak tahu kenapa saya begitu menginginkan kamu, Kayra. Mungkin karena kamu cantik dan sangat baik. Hatimu tulus, begitu perduli kepada orang lain. Tidak mementingkan dirimu sendiri dan sangat rendah hati. Dan saya tidak menyesal telah menikahimu." Erlangga lalu memberikan sebuah kecupan cukup lama ke kening wanita yang sangat kelelahan setelah meladeni naf sunya yang sangat tinggi.


Ddrrtt ddrrtt


Erlangga menoleh ke arah ponsel di atas nakas saat ponselnya itu berbunyi. Erlangga ingin mengabaikan panggilan telepon tersebut namun panggilan telepon tersebut berdering sampai dua kali hingga akhirnya dia mengecek siapa orang yang menghubunginya tengah malam begini.


Mata Erlangga menyipit saat dia mendapati nama Mama Ivone di layar ponselnya itu. Mama Ivone adalah Mama dari Caroline, dan Erlangga menduga jika Mama Ivone ingin membahas masalah gugatan cerainya terhadap Caroline. Mungkin saja Mama Ivone diperintah oleh Caroline untuk membujuk dirinya agar membatalkan gugatan perceraian tersebut.


Erlangga bangkit dengan membawa ponsel di tangannya berjalan ke luar balkon, karena dia tidak ingin mengganggu tidur Kayra, apalagi jika Kayra tahu jika Mama dari Caroline lah yang meneleponnya, bisa jadi wanita itu akan menjadi kepikiran.


" Halo?" Setelah beberapa saat akhirnya Erlangga mengangkat panggilan masuk di ponselnya tersebut.


" Erlangga, Caroline ... hiks ..." ucapan Mana Ivone dibarengi dengan tangisan.


" Ada apa, Ma? Kenapa dengan Caroline?" Seketika rasa khawatir menyeruak di hati Erlangga mendengar Mama Ivone menangis. Dia menduga jika Wisnu berulah lagi sekarang ini.


" Caroline, Erlangga. Dia ... hiks ... Caroline mencoba melakukan tindakan bunuh diri, Dia mencoba memotong urat nadi di pergelangan tangannya hiks ..." Tangis Mama Ivone kembali terdengar kencang di telinga Erlangga.


" Apa??? Caroline mencoba bunuh diri??" Erlagga tersentak kaget mendengar berita yang di sampaikan oleh Mama Ivone.


" Iya, Erlangga. Sepertinya gugatan perceraian itu membuat Caroline tertekan hingga nekat melakukan hal ini."


Erlangga menghela nafas panjang saat Mama Ivone mengatakan jika penyebab Caroline berniat mengakhiri hidupnya karena wanita itu merasa frustasi dengan perceraian yang diajukan dirinya. " Sekarang Caroline ada di mana?" tanyanya kemudian.


" Sekarang Caroline sedang di tangani dokter, kami sekarang ini berada di rumah sakit xx." Mama Ivone menyebutkan nama rumah sakit tempat Caroline di rawat.


" Lalu bagaimana keadaan Caroline, Ma?"


" Dia mengeluarkan banyak darah dari pergelangan tangannya, urat nadinya hampir terputus, Erlangga. Hiks ... hiks ...."


Erlangga mengusap kasar wajahnya berkali-kali. Dia sama sekali tidak menyangka jika Caroline akan bertindak senekat dan sebodoh itu dengan mencoba mengakhiri hidupnya.


" Erlangga, apa kamu bisa temui kami di rumah sakit ini? Mama ingin bicara denganmu," pinta Mama Ivone penuh harap agar Erlangga mau datang ke rumah sakit Caroline dirawat.


" Baik, Ma. Aku akan segera ke sana." Setelah menyetujui akan datang ke rumah sakit di mana Caroline mendapatkan perawatan dokter, Erlangga segera mematikan sambungan teleponnya dan kembali masuk ke dalam kamar. Dia meletakan kembali ponselnya di atas nakas dan memakai pakaian serta jaket tebal.


Erlangga memperhatikan Kayra yang terlelap karena kelelahan. Dia mendekat dan menepuk pelan pipi Kayra, berniat berpamitan sebelum pergi agar wanita cantik itu tidak kehilangannya saat terbangun nanti.


" Kayra ... Kayra ..." Erlangga membangunkan Kayra dengan berbisik dan menepuk halus pipi mulus istrinya itu, bahkan pria itu menciumi wajah Kayra agar istrinya terbangun.


" Oouugghh ..." Kayra menggeliat, namun bukannya membuka mata namun Kayra justru memutar posisi tidurnya hingga membelakangi dirinya.


Melihat Kayra yang nampak pulas membuat Erlangga merasa tidak tega membangunkan istrinya itu. Akhirnya dia memilih meninggalkan Kayra di apartemennya sendirian.


***


Erlangga memperhatikan wanita yang dulu begitu dia cintai, satu-satunya wanita yang dia cintai sebagai seorang pria dewasa. Wanita itu kini terkulai lemah di atas brankar. Erlangga melirik pergelangan tangan Caroline yang sudah berbalut kain perban, sungguh membuatnya merasa miris dan tidak menyangka jika istrinya itu nekat melakukan tindakan konyol seperti ini.


" Kenapa kamu senekat ini, Caroline?" gumam Erlangga mengusap wajah yang terlihat pucat namun tetap terlihat cantik walaupun tanpa sentuhan make up.

__ADS_1


" Seandainya dari awal kamu mau mendengarkanku, mungkin tidak akan seperti ini kejadiannya, Caroline." Ada sesal di hati Erlangga karena sebagai seorang suami dia tidak bisa membuat Caroline patuh kepadanya dan menjalani kondratnya sebagai seorang istri yang melayani suaminya dengan baik.


" Erlangga, Mama ingin bicara denganmu sebentar." Suara Mama Ivone terdengar dari arah pintu ruangan.


Erlangga bangkit dari kursi yang dia duduki di samping brankar Caroline kemudian dia mendekati Mama Ivone berjalan ke luar ruangan.


" Ada apa, Ma?" tanya Erlangga setelah dia duduk di sofa di samping kursi yang diduduki oleh Mama Ivone.


" Erlangga, Mama mohon sama kamu, tolong gugurkan gugatan cerai terhadap Caroline. Dia sangat terpukul dengan rencana perceraian kalian. ini, Nak." Mama Ivone langsung terisak.


" Mama tahu, Caroline memang salah, dia terlalu sibuk mengejar karirnya, tapi apa itu tidak bisa diperbaiki? Berilah kesempatan kepada Caroline, Erlangga. dia sangat mencintaimu, dan kamu juga sangat mencintai dia, kan? Mama yakin Caroline akan bisa berubah setelah ini. Jadi Mama mohon, tolong cabut kembali gugatanmu itu, Erlangga." Mama Ivone terus berharap agar Erlangga bisa berubah pikiran dan membatalkan rencana mengakhiri pernikahannya.


Erlangga menghempas nafas dengan berat, dia yakin jika Mama Ivone belum tahu soal Wisnu, hingga menganggap tindakan Caroline ini hanya karena tindakannya yang mengajukan gugatan perceraian.


" Apa Caroline pernah cerita masalah yang dia hadapi dengan Wisnu, Ma?" Sebenarnya Erlangga tidak tega membuka aib yang sudah terjadi pada Caroline, namun Erlangga harus membela diri agar dirinya tidak disalahkan sepenuhnya sebagai penyebab Caroline ingin mengakhiri hidupnya oleh keluarga Caroline.


" Masalah dengan Wisnu? Masalah apa?"


Tepat seperti dugaan Erlangga, ternyata Mama Ivone memang belum mengetahui soal pemer kosaan yang dilakukan oleh Wisnu kepada Caroline.


" Wisnu pernah memper kosa Caroline, Ma." Erlangga terpaksa menceritakan kejadian yang sebenarnya menimpa Caroline.


" Ya Tuhan ...!" Mama Ivone tersentak hingga dia membelalak dan kembali menangis mengetahui fakta menyakitkan yang terjadi pada putri sulungnya.


" Dari mana kamu mengetahui hal itu, Erlangga?" Mama Ivone berharap apa yang diucapkan itu tidaklah benar. Dia lebih dulu mengenal Wisnu sebelum dia mengenal Erlangga. Dia sangat tahu bagaimana Wisnu yang selama ini sangat mendukung karir putrinya. Lalu bagaimana mungkin pria itu tega mele cehkan Caroline? Itu yang menjadi pertanyaan Mama Ivone.


" Caroline yang cerita sendiri kepadaku, Ma. Dan hal itu dibenarkan oleh Wisnu." Erlangga nampak geram saat mengucapkan kalimat terakhirnya.


" Ya Tuhan ..." Mama Ivone menangis dengan menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya.


" Selama ini aku selalu melarang Caroline untuk terus menggeluti karirnya namun dia selalu menentang apa yang aku ucapkan, Ma. Aku memutuskan untuk berpisah karena kami sudah tidak sejalan. Kami bersikeras dengan sikap dan keinginan kami masing-masing yang bertentangan. Perpisahan kami adalah jalan terbaik karena setiap kali bertemu selalu saja ada pertengkaran di antara kami." Erlangga menuturkan alasannya memilih berpisah dari Caroline.


***


Kayra mengerjapkan matanya, tangannya meraba sisi bagian kanannya, terasa rata dan tidak dia rasakan keberadaan suaminya di sana selain selimut lembut yang menyentuh tangannya. Kayra menoleh ke samping, dan memang tidak dia temui Erlangga di sampingnya itu.


Kayra bangkit dari tidurnya dan melilit tubuh polosnya dengan selimut kemudian berjalan mencari keberadaan suaminya saat ini. Kayra mengintip ke luar balkon karena gorden jendela balkon kamar apartemen itu tidak tertutup, namun tidak dia temui suaminya di sana.


Kayra lalu melangkah ke arah kamar mandi dan mendekatkan daun telinganya ke pintu kamar mandi untuk menangkap adakah suara gemercik air di dalam yang akan menandakan ada orang di kamar mandi itu. Dia lalu membuka handle pintu dan membuka pintu perlahan namun tetap tak ditemui Erlangga di kamar mandi.


Kayra segera melepas selimut yang melilit tubuhnya dan mengganti pakaian untuk keluar kamar mencari Erlangga. Sementara saat ini jam di dinding menunjukkan pukul dua dini hari.


" Pak ...!" Kayra memanggil Erlangga karena di ruangan tamu, ruang tengah dan dapur tak juga dia temui Erlangga.


Kayra mencoba membuka pintu apartemen namun pintu itu terkunci dan dia tidak tahu bagaiman cara membuka pintunya itu.


Kayra bergegas kembali masuk ke dalam kamar untuk menghubungi Erlangga dan menanyakan di mana suaminya berada saat ini. Dan setelah sampai di kamar Kayra pun segera menghubungi Erlangga dengan ponselnya.


" Halo, Bapak di mana?" Kayra segera bertanya kepada Erlangga saat panggilan ponselnya tersambung.


" Kamu sudah bangun, Kayra?" tanya suara Erlangga di telinga Kayra.


" Iya, Bapak ada di mana sekarang?" Kayra tidak mengerti kenapa Erlangga meninggalkan dirinya sendiri di apartemen pria itu.


" Saya sedang berada di rumah sakit," sahut Erlangga.

__ADS_1


" Di rumah sakit? Siapa yang sakit, Pak?" Kayra terkesiap saat mengetahui suaminya itu kini berada di rumah sakit dan dia merasa penasaran siapa kenapa suaminya itu ada di sana.


" Caroline, dia melakukan percobaan bunuh diri." Pada akhirnya Erlangga menceritakan apa yang terjadi pada Caroline agar Kayra bisa memahami alasan dia meninggalkan Kayra di apartemennya.


" Astaghfirullahal adzim ...! Lalu bagaimana dengan Ibu, Pak?" Kayra terperanjat mendengar kabar mengenai Caroline.


" Caroline sudah ditangani oleh dokter. Untung saja dia masih bisa terselamatkan." Erlangga menjelaskan bagaimana kondisi Caroline saat ini.


" Ya Allah, ini pasti karena Ibu Caroline merasa sedih dengan masalah yang beliau hadapi, Pak." Kayra sudah dapat menduga jika perceraian dan pele cehan yang dialami Caroline berpengaruh besar atas tindakan Caroline ingin mengakhiri hidupnya.


" Sebentar lagi saya akan kembali sebaiknya kamu kembali beristirahat, Kayra." Erlangga menyuruh Kayra untuk kembali beristirahat.


" Sebaiknya Bapak menemani Ibu Caroline saja. Beliau pasti membutuhkan kehadiran Bapak di sana." Kayra meminta Erlangga untuk tidak meninggalkan Caroline karena kehadiran Erlangga sangat dibutuhkan oleh Caroline daripada dirinya.


" Di sini sudah ada orang tua Caroline, mereka yang akan menemani Caroline di rumah sakit." Erlangga menjelaskan jika dia tidak akan menunggu Caroline.


" Tapi kehadiran Bapak di sana pasti sangat dibutuhkan oleh Ibu Caroline, Pak." Kayra tidak ingin bersikap egois dan lebih merelakan suaminya menemani Caroline. Karena bagaimanapun juga saat ini Caroline masih berstatus istri dari Erlangga.


" Lagipula saat ini Ibu Caroline masih berstatus istri Bapak, jadi Bapak semestinya mendampingi Ibu Caroline," ujar Kayra. Tak sedikitpun rasa iri dirasakannya karena dia tidak pernah merasa jika Erlangga adalah miliknya seorang. Dia sangat menyadari siapa dirinya, hingga menyarankan Erlangga agar tidak usah pulang menemuinya.


" Kita lihat saja nanti, sebaiknya kamu kembali tidur, jangan memikirkan soal Caroline! Dia akan baik-baik saja. Aku tutup teleponnya sekarang."


Setelah mengucapkan kalimatnya Erlangga segera mematikan sambungan teleponnya dengan Kayra.


Kayra mende sah, lalu menaruh ponselnya di atas tempat tidur. Sejujurnya apa yang terjadi dengan Caroline membuat hatinya gelisah. Dia tidak tahu akan seperti apa kelanjutan pernikahannya dengan Erlangga setelah ini. Tindakan percobaan bunuh diri Caroline menandakan jika wanita itu tidak akan mudah menerima perceraiannya dengan Erlangga.


" Ya Allah, berdosakah hamba dengan apa yang terjadi dengan Ibu Caroline? Semua ini bukan keinginan hamba ..." lirih Kayra memejamkan mata hingga cairan bening menetes di pipinya karena dia merasa jika dia mempunyai andil besar dalam perceraian Erlangga. Mungkin jika Erlangga tidak menikahinya, Erlangga tidak akan mengajukan perceraian terhadap Caroline.


***


" Hahh? Yang benar, Tante? Sepertinya si model itu mulai stres karena akan diceraikan oleh Erlangga ya, Tan?" Agnes yang pagi ini mendapat informasi dari Helen tentang rencana bunuh diri Caroline tentu merasa bahagia mendengar kabar saingannya itu tengah terkulai berbaring di rumah sakit.


" Bisa jadi, Nes. Mungkin selama ini dia berpikir karena Erlangga terlalu mencintainya sehingga dia bisa bersikap seenaknya saja. Dia meremehkan nama besar Mahadika Gautama." Helen yang memang selalu bertentangan dengan Caroline tentu senang jika anaknya sampai bercerai dengan Caroline.


" Tapi, apa tindakan Caroline itu tidak akan mempengaruhi niat Erlangga untuk bercerai, Tan? Bisa saja Caroline melakukan hal ini agar Erlangga membatalkan niatnya itu, Tante." Agnes curiga jika itu adalah trik yang digunakan oleh Caroline untuk menggagalkan perceraiannya.


" Tante tidak akan membiarkan hal itu terjadi, Agnes! Sangat memalukan seorang istri Erlangga melakukan percobaan bunuh diri. Itu hanya akan mencemarkan nama baik Mahadika Gautama jika hal ini sampai tersebar ke publik." Helen pasti akan semaksimal mungkin membantu usaha Erlangga untuk membuat anaknya itu bercerai dengan Caroline.


" Aku harap Erlangga cepat bercerai, Tante. Dan aku harap Erlangga juga bisa menerima aku," harap Agnes.


" Erlangga pasti akan menerimamu, Agnes. Saat ini hatinya masih ditutupi kekecewaan terhadap Caroline, dia mungkin membutuhkan waktu untuk move on agar bisa melupakan istrinya itu. Dan kamu harus lebih aktif agar Erlangga lambat laun jatuh ke dalam pelukanmu." Helen terus mendukung Agnes untuk terus berupaya lebih keras mendapatkan hati putranya yang selama ini dipenuhi dengan nama Caroline.


" Baik, Tante. Aku akan berusaha lebih maksimal setelah Erlangga resmi bercerai nanti." Agnes bertekad akan lebih intens mendekati Erlangga kalau perlu dia harus sedikit nekat karena Erlangga selama ini terkesan dingin dan acuh kepadanya


" Ya sudah kalau begitu Tante tutup dulu teleponnya." Helen berniat mengakhiri obrolannya di telepon dengan Agnes.


" Oke deh, Tan. Bye, Tante ..." Agnes pun segera mematikan sambungan teleponnya dengan Helen.


" Hahahaha ... sepertinya sebentar lagi akan ada yang berubah menjadi gi la, dan aku ... akulah yang akan menggantikan tahtamu sebagai Nyonya Erlangga Mahadika Gautama, Caroline!" Agnes tertawa senang memandangi dirinya di depan cermin yang ada di dalam kamarnya.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy reading ❤️


__ADS_2