
Sambil menunggu masuk ibadah sholat Isya, Kayra dan Erlangga duduk berbincang di sofa malas kamar Erlangga di rumah Krisna seraya menonton acara televisi.
Kayra bermanja-manja dalam pelukan Erlangga, merasakan aroma maskulin sang suami yang menyeruak masuk ke dalam rongga hidungnya yang selalu membuat dirinya merasa nyaman berada dalam dekapan pria tampan berstatus suaminya itu.
" Oh ya, Mas. Apa benar nanti kita akan berkunjung ke rumah keluarga Ibu Arina dan menginap di sana?" tanya Kayra teringat akan tawaran Nugraha.
" Iya, nanti kapan-kapan, ya!? Aku cari waktu senggang agar bisa berkunjung ke Bandung." Erlangga menyahuti. " Oh ya, Sayang. Kamu belum tahu satu hal yang sangat penting," ucap Erlangga membuat kening Kayra berkerut.
" Apa itu, Mas?" tanya Kayra penasaran.
" Pak Nugraha itu ternyata Papa dari Rivaldi, pria yang menyukaimu dulu." Erlangga menginformasikan siapa Nugraha yang sebenarnya.
" Hahh?? Serius, Mas?" Kayra tercengang mendapat fakta tentang sosok Nugraha.
"Berarti Mas dengan Pak Aldi itu saudara sepupu?" Kayra salah menanggapi.
" Kenapa aku malah saudara sama dia?" Erlangga memprotes, tak senang disebut saudara sepupu dengan Rivaldi.
" Kan Mas sendiri yang cerita kalau Ibu Arina itu hamil anak Om nya Mas. Mas ini gimana, sih? Belum tua saja sudah pikun," cubit Kayra.
" Hei, siapa yang pikun!?" Erlangga menarik cuping hidung Kayra, karena istrinya itu mengatakan dirinya pikun, membuat Kayra terkekeh seraya mengusap hidungnya.
" Aku memang pernah bilang jika Ibu Arina itu mengandung anak dari Om aku. Tapi bayi Ibu Arina itu perempuan bukan laki-laki. Lagipula tidak mungkin anak Ibu Arina setua Rivaldi," tepis Erlangga.
" Memang Pak Rivaldi umur berapa, Mas? Pak Rivaldi kelihatannya belum terlalu tua kok, Mas. Masih terlihat tampan begitu," ujar Kayra tanpa sadar memuji penampilan Rivaldi yang selalu tampil charming dan membuat banyak wanita mengaguminya, meskipun dia tidak termasuk di antara wanita-wanita itu.
" Berani sekali kamu memuji pria lain tampan di depan suamimu sendiri!" Erlangga langsung menatap tajam Kayra karena ucapan Kayra tadi.
" Maaf, Mas." Kayra menyeringai seraya menutup mulutnya. " Tapi, biarpun Pak Aldi tampan, aku tidak menyukainya kok, Mas." lanjutnya dengan terkikik.
" Sekali lagi kamu mengatakan hal itu tentang dia, aku akan memberi hukuman padamu!" ancam Erlangga menpererat rangkulannya di pundak Kayra.
" Ampun, Mas." Melihat suaminya marah, Kayra memohon ampun, walaupun dia tahu suaminya itu tidak akan benar-benar menghukumnya.
" Kamu benar-benar menyakiti perasaanku, Sayang." keluh Erlangga mendramatisir dengan memasang wajah sedih.
" Maaf, Mas. Aku 'kan mengatakan hal yang sebenarnya. Kalau aku bilang Pak Aldi itu tidak tampan berarti mataku tidak normal, kan?"
" Kayra!" Erlangga kembali melotot membuat Kayra memeluk pinggang suaminya dan menyandarkan kepalanya di bahu Erlangga semakin erat.
" Tapi Mas itu pria paling tampan di antara pria-pria tampan yang ada, kok." Kayra berusaha meredakan emosi suaminya.
" Benarkah?" Rasanya senang Kayra memujinya seperti itu.
__ADS_1
" Iya, karena Mas bisa membuat aku jatuh cinta sama Mas," aku Kayra jujur.
Erlangga menoleh ke arah sang istri, sepertinya ini pertama kali istrinya itu mengungkapkan perasaan terhadap dirinya.
" Benarkah kamu sudah jatuh cinta kepadaku, Sayang?" Kalimat menyejukkan yang keluar dari mulut Kayra membuat Erlangga serasa terbang melayang.
" Aku selalu kangen Mas kalau Mas tidak ada di dekatku. Aku senang kalau kalau Mas peluk aku. Aku suka mencium aroma tubuh Mas. Apa itu bisa definisi kata jatuh cinta?" tanya Kayra menatap suaminya.
" Itu bukan definisi jatuh cinta, Sayang."
" Lalu?"
" Itu kode jika kamu ingin berhubungan in tim denganku." Erlangga mengangkat tubuh Kayra dengan kedua lengannya.
" Mas, Ya Allah, kita belum sholat Isya. Jangan macam-macam, deh!" Kayra menolak saat sang suami membawanya ke tempat tidur.
" Sebentar saja, Sayang."
" Aku tidak mau mandi lagi, Mas. Nanti saja kalau sudah Isya," tolak Kayra lagi karena mereka belum melaksanakan sholat Isya.
Erlangga menjatuhkan tubuhnya di samping Kayra setelah dia merebahkan tubuh Kayra di atas tempat tidur. Dia pun tidak ingin memaksa karena ada kewajiban yang tidak bisa mereka tinggalkan.
" Oh ya, Mas. Lalu anaknya Ibu Arina bagaimana? Kenapa tadi tidak diajak kemari?" tanya Kayra kembali membahas soal Arina.
" Anak Ibu Arina itu tidak tinggal bersama Ibu Arina sejak lahir." Erlangga menyangga kepala dengan tangannya seraya merubah posisi tidurnya menghadap Kayra.
" Maksud, Mas?" Kayra pun menoleh ke arah Erlangga dengan menautkan kedua alisnya hingga menimbulkan guratan di dahinya.
" Ibu Arina menitipkan anaknya kepada Bidan yang membantunya persalinan, Sayang." Erlangga merapihkan beberapa helaian rambut Kayra. " Dia meminta bantuan Ibu bidan untuk menitipkan anak itu di panti asuhan tempat Ibu Arina dulu dibesarkan." Erlangga mulai bercerita.
" Ya Allah, Ibu Arina menaruh anaknya di panti asuhan? Ibu Arina tidak ingin merawat anaknya sendiri?" Kayra terkejut ketika suaminya menjelaskan tentang anak dari Arina. Melihat sikap Arina yang sangat lembut, rasanya tidak percaya jika wanita itu tega menaruh anaknya di panti asuhan.
" Bukan seperti itu, Sayang." sanggah Erlangga cepat. " Ibu Arina meminta bidan agar bayinya dititipkan ke panti asuhan, supaya bisa diambil kembali oleh Ibu Arina, setelah dia mendapatkan pekerjaan dan mempunyai uang untuk membesarkan anaknya itu," sambungnya menerangkan.
" Lalu kenapa sekarang anaknya itu tidak bersama Ibu Arina? Padahal suami Ibu Arina itu pengusaha, kan?" Selama berbincang setelah acara pengajian siang tadi, Erlangga sempat cerita tentang profesi Nugraha. Apalagi saat dia tahu jika Nugraha adalah Papa dari Rivaldi yang dia tahu seorang pengusaha garment ternama.
" Karena bayi perempuan Ibu Arina itu tidak pernah dititipkan di panti asuhan," jawaban Erlangga membuat Kayra semakin serius mendengarkan.
" Lalu anak Ibu Arina itu di mana sekarang, Mas?"
" Setelah melahirkan, Ibu Arina bertemu dengan Pak Nugraha. Ibu Arina sempat menjadi pengasuh saat Rivaldi kecil lalu diperistri oleh Pak Nugraha satu tahun kemudian. Setelah menikah, Ibu Arina mencari anaknya di panti asuhan, namun ternyata anak itu tidak pernah dititipkan di sana."
" Ya Allah, lalu di mana bayi Ibu Arina, Mas? Apa ada di bidan yang menolong Ibu Arina saat melahirkan?" tanya Kayra bertambah penasaran.
__ADS_1
" Tidak, bidan itu tidak merawat bayi Bu Arina."
" Ya Allah ..." Bola mata Kayra seketika mengembun begitu mendengar cerita suaminya tentang Arina.
" Ibu Arina selama ini berusaha mencari anaknya yang hilang, namun tidak juga bertemu. Makanya Ibu Arina sangat terharu melihat kamu tadi. Karena usia anak Ibu Arina seumuran denganmu." Erlangga menjelaskan sejelas mungkin kisah tentang Arina agar dimengerti oleh Kayra.
Kayra tertegun, pantas saja dia melihat Arina tak pernah putus memperhatikannya. Rupanya Arina teringat akan anaknya saat melihat dirinya.
" Kasihan sekali Ibu Arina, Mas. Semoga saja anaknya itu sekarang masih hidup dan bisa dipertemukan kembali dengan Ibu Arina," ucap Kayra mendoakan yang terbaik untuk Arina.
Erlangga menatap tanpa berkedip wajah istrinya. Dia tertegun melihat betapa lembut perasaan Kayra. Tidak ada sedikitpun menyalahkan Arina atas apa yang terjadi. Setidaknya itu adalah hal positif jika nanti Kayra sampai tahu jika anak yang sedang mereka perbincangkan adalah Kayra sendiri.
" Oh ya, Mas. Kenapa Mas tidak meminta bantuan Pak Bondan untuk mencari anak Ibu Arina itu? Dia 'kan adik sepupu Mas juga." Kini Kayra pun memiringkan tubuhnya berhadapan dengan Erlangga.
" Tentu saja aku akan mencarinya, Sayang. Dia adik sepupuku, sudah pasti aku akan mencari keberadaannya."
Kayra terdiam sejenak dengan mata menatap ke arah suaminya, lalu bertanya, " Kalau Mas sudah menemukan adik sepupu Mas, Mas pasti akan menyayangi dia, kan?"
" Tentu saja, sudah bertahun-tahun tidak bertemu, sudah pasti aku akan menggantikan waktu yang selama ini terbuang tanpanya!" tegas Erlangga. " Aku pernah berjanji akan menjaganya. Aku harus akan menunaikan janjiku itu," lanjut Erlangga.
" Mas nanti akan lebih sayang mana? Aku atau adik sepupu Mas?" tanya Kayra tiba-tiba.
" Sayang, jangan suruh aku memilih seperti itu, dong! Kamu ataupun adik sepupuku itu sangat penting untukku." Erlangga sengaja menggoda istrinya yang terlihat mulai dihinggapi rasa cemburu.
" Tapi aku 'kan istri Mas, aku sedang mengandung anak Mas. Apa Mas tidak lebih mengutamakan aku?" Kayra memberengut. Hormon kehamilannya ini menimbulkan sifat buruk dalam hati Kayra. Dia mudah cemburu dan tidak ingin Erlangga memperhatikan wanita lain selain dirinya.
" Iya, tapi jangan suruh aku memilih seperti itu. Kamu penting buat aku, begitu juga adik sepupuku. Apalagi aku sudah berjanji untuk memberikan kasih sayang kepadanya." Erlangga menahan senyumnya melihat istrinya yang saat ini sedang memberengut.
" Begitu saja marah ..." Erlangga menarik kembali hidung istrinya. Bedanya kali ini Kayra nampak kesal tidak seperti pertama kali Erlangga melakukan itu kepadanya, dia justru terkekeh.
" Aku hanya bercanda, Sayang. Jika kamu memberi pilihan seperti itu, tentu saja yang akan aku utamakan adalah wanita bernama Kayra Ainun Zahra, istriku tersayang dan calon ibu dari anak-anakku." Tak tahan melihat istrinya merajuk, Erlangga lalu mengatakan kata-kata yang membuat Kayra tersenyum senang.
*
*
*
Bersambung ...
Kalo merasa sekarang ini lebih sedikit bab nya, karena aku memang berencana menamatkan novel ini, dan sedang mempersiapkan Novel baru. Jangan lupa nanti disimpan di favorit ya, kasih like, komen, ulasan, gift dan vote. Karena akan ada Give Away yang beda dari biasanya. Jadi jangan lupa tgl 10 Desember ini akan dirilis novel barunya. Makasih🙏
__ADS_1
Happy Reading ❤️