
Erlangga terheran saat Kayra menghentikan langkahnya seakan ragu untuk melangkah masuk ke dalam rumah peninggalan orang tuanya yang akan dijadikan tempat tinggalnya untuk bersembunyi dari 'kejaran' Rivaldi, karena pria itu sepertinya masih sangat penasaran dengan Kayra, apalagi saat ini Rivaldi sudah mengetahui jika Kayra sedang hamil.
Erlangga menoleh ke arah Kayra, dilihatnya istrinya itu sedang memejamkan mata seraya menghela nafas dalam-dalam.
" Ada apa, Sayang?" tanya pria itu kemudian.
Kayra terkesiap dari ketertegunannya saat mendengar suara Erlangga penuh tanda tanya.
" Ah, tidak apa-apa, Mas." sahut Kayra menjawab pertanyaan sang suami seraya tersenyum.
" Apa kamu tidak suka tempat ini?" tanya Erlangga penasaran meminta pendapat istrinya, dia takut Kayra merasa tidak cocok dengan rumah yang akan mereka huni nanti.
" Suka, Mas. Aku suka sekali tempat ini," jawab Kayra cepat. Entah mengapa dia tiba-tiba saja merasakan menyatu dengan lingkungan rumah yang akan dia huni bersama Erlangga dan juga ibunya, padahal dia merasa belum pernah ke rumah itu sebelumnya.
" Syukurlah kalau kamu suka. Ayo, kita lihat kamar yang akan kita pakai nanti." Erlangga lalu mengajak Kayra menuju kamar yang berada di lantai atas yang akan mereka tempati jika pindah ke rumah itu.
" Rencananya nanti aku akan pasang lift di situ" Erlangga menunjuk sisi bagian kiri ruang tamu. " Jadi kamu tidak capek harus naik turun tangga," lanjutnya menjelaskan rencananya.
Kayra mengulum senyuman karena suaminya itu sungguh sangat memperdulikannya sampai berencana memasang lift agar dirinya tidak usah capek menaiki dan menuruni anak tangga.
" Kita kapan pindah ke sini, Mas?" Sepertinya Kayra begitu antusias ingin segera menempati rumah itu, bukan karena rumah yang akan dia tempati lebih bagus dari tempat tinggalnya dulu, tapi karena dia merasa nyaman dan seakan menyatu dengan rumah itu.
" Kamu terlihat bersemangat sekali pindah ke sini, Sayang? Erlangga heran menanggapi istrinya yang begitu bersemangat karena dia pikir Kayra akan menolak tinggal di rumah milik Papanya itu.
" Entahlah, Mas. Tapi aku senang sekali rasanya, aku sendiri tidak mengerti kenapa? Tapi rumah ini benar-benar membuat aku merasa nyaman, serasa kayak aku pernah tinggal di tempat ini sebelumnya." Kayra mengatakan apa yang dia rasakan dengan rumah itu. Rumah itu seolah membuatnya jatuh hati dan membuatnya ingin segera menetap di rumah milik Krisna, Papa mertuanya.
" Benarkah? Jangan-jangan kamu dulu pernah tinggal di rumah ini ..." Erlangga terkekeh meledek istrinya itu.
__ADS_1
" Tidak mungkin, Mas. Aku sejak kecil tinggal di Bandung, tidak mungkin tinggal di sini." tepis Kayra merasa tidak mungkin dirinya tinggal di rumah sebesar itu.
" Hahaha ... mungkin kamu ini reinkarnasi penghuni rumah ini sebelumnya?" Masih senang Erlangga menggoda Kayra.
" Mas, iihh ... jangan bicara yang mistis-mistis, deh!" Kayra mencubit lengan sang suami membuat Erlangga semakin gemas menggoda istri cantiknya. Dia lalu merangkulkan kembali tangannya di pundak Kayra lalu mengecup pipi dan kening Kayra.
Sungguh, yang Kayra rasakan saat ini seperti bunga-bunga bermekaran di hatinya, seandainya saja pernikahannya dengan Erlangga terjadi bukan karena dalam keadaan terpaksa, dan Erlangga bukan berstatus suami wanita lain, mungkin dia merasa seperti wanita paling berbahagia di dunia ini.
" Ini akan jadi kamar kita ..." Erlangga membuka kamar berukuran besar, mungkin dua kali lipat dari kamar di rumah sebelumnya.
Kayra tidak mengerti kenapa jantungnya berdegup lebih kencang saat memasuki kamar yang disebut Erlangga akan menjadi kamarnya nanti.
" Ini adalah kamar utama, dulu ini kamar Papa sama Mama," Erlangga memperhatikan Kayra yang tertegun, sama seperti pertama kali masuk ke dalam ruangan tamu, apalagi saat Kayra memegangi dadanya sendiri.
" Kenapa, Sayang?" Erlangga khawatir terjadi sesuatu pada Kayra.
" Ah, tidak apa-apa, Mas." sanggah Kayra namun pandangan mata Kayra yang mengedar ke setiap sudut ruangan kamar itu membuat Erlangga curiga.
" Tentu saja aku sampai tertegun, Mas. Rumah ini sangat besar dan mewah, aku seperti mimpi bisa tinggal di rumah sebesar ini." Kali ini Kayra berusaha menyamarkan apa yang dia rasakan sebenarnya.
Kayra lalu melangkah masuk menyambangi sudut demi sudut ruangan kamar tersebut termasuk bagian kamar mandi dan juga balkon.
" Kapan kita akan pindah ke sini, Mas?" tanya Kayra memutar tubuhnya dan bersandar di pagar balkon kamar itu.
" Kemungkinan satu Minggu ke depan karena ada beberapa ruangan yang mesti di renovasi, termasuk di kamar ini, aku ingin beberapa furniture kita ganti agar disesuaikan dengan model masa kini." Erlangga menjelaskan jika dia ingin beberapa ruangan di rumah itu di make over terlebih dahulu sebelum mereka tempati.
" Kamu sepertinya sudah tidak sabar sekali untuk pindah ke sini?" Erlangga mendekat bahkan mengunci tubuh Kayra yang bersandar di pagar balkon dengan melingkarkan tangannya di pinggang Kayra lalu mulai mencumbu istrinya itu.
__ADS_1
" Mas, ya ampun ... nanti di lihat orang!" Kayra. menjauhkan tubuh suaminya, dia bahkan menoleh ke bawah takut ada orang yang memperhatikan mereka.
" Di sini aman, Kayra. Kamu lihat sendiri, kan? Di bawah itu taman dan banyak pepohonan tinggi, tidak ada yang akan mengintip kita," ujar Erlangga.
Kayra memang tidak melihat ada orang di bawah taman itu, namun Kayra tetap tidak ingin bermesraan di ruang terbuka seperti balkon kamar apalagi di waktu siang bolong.
" Tapi jangan di sini, Mas." tolak Kayra.
" Berarti di dalam kamar kamu mau?" seringai langsung terlukis tipis di sudut bibir pria tampan itu.
" Tapi tidak sekarang juga." Kayra tetap menolak.
" Kenapa? Bukankah kemarin justru kamu yang menginginkannya?" tanya Erlangga mempertanyakan penolakan Kayra padahal beberapa waktu lalu, justru Kayra lah yang meminta dirinya untuk disentuh.
Rona merah di wajah Kayra terlihat jelas saat Erlangga menyinggung soal malam panas saat dirinya berga irah ingin disentuh suaminya itu.
" Sudah, jangan ingatkan hal itu lagi, Mas." Kayra menutup wajah dengan telapak tangannya karena merasa malu dirinya yang berinisiatif terlebih dahulu meminta berhubungan in tim.
" Aku senang jika kamu memintanya terlebih dulu, Kayra." Erlangga mengurai tangan Kayra yang menutupi wajah cantik istrinya. " Karena aku merasa sangat dibutuhkan olehmu." Senyuman nakal langsung tersunging membuat Kayra terbelalak karena dia merasa jika Erlangga benar-benar sedang meledeknya.
" Sudah ah, Mas!" Kayra mendorong tubuh Erlangga lalu bergegas masuk ke dalam kamar, dia tidak ingin terperangkap oleh jebakan suaminya yang sering membuatnya terbuai dengan sentuhan yang kadang membuatnya ikut terhanyut dalam permainan sang suami.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy reading❤️