
Kayra menarik tubuhnya, menjauh dari dekapan Erlangga, ketika pemciumannya menangkap aroma lain dari pakaian yang saat ini dikenakan oleh sang suami.
Aroma yang menguar saat ini, yang terhirup olehnya bukan hanya aroma maskulin yang biasa dipakai oleh Erlangga. Namun, penciumannya menangkap ada aroma lain yang lebih feminim yang biasanya digunakan oleh kaum wanita
Dengan menaruh tangan di kedua pinggangnya dan tatapan penuh curiga Kayra langsung mengintrogasi suaminya yang baru saja sampai di rumah. Kayra bahkan tidak memperdulikan rasa penat yang sedang dirasakan oleh Erlangga, akibat mengendarai mobil sendiri dari Bandung.
" Habis bertemu dengan siapa tadi?" Nada ketus terdengar dalam pertanyaan Kayra kepada Erlangga.
Tentu pertanyaan Kayra ditambah dengan gestur tubuh istrinya itu membuat Erlangga mengeryitkan keningnya.
" Bertemu dengan siapa?" Justru Erlangga mengulang pertanyaan sang istri, seakan tidak menyadari jika istrinya sedang dibakar api cemburu.
" Iya! Mas habis dari mana? Dan habis bertemu dengan siapa?" ketus Kayra lagi.
" Aku habis bertemu klien di luar kota, Sayang." jawab Erlangga, tak ingin membuat istrinya curiga. Namun, dia tidak menyadari jika saat ini istrinya itu sedang mencurigainya dalam hal berbeda.
" Tanpa berpamitan pada istri? Tanpa mengabari istri? Kenapa? Apa ada sesuatu yang disembunyikan dari istri?" Kayra seperti menjelma sosok lain dengan bicara ketus dan penuh emosi.
Seandainya saja yang dihadapi Erlangga saat ini bukan istri tercintanya, mungkin Erlangga akan murka. Dilanda rasa lelah, belum lagi dia harus memikirkan rencana yang tepat agar bisa mempertemukan Kayra dan Arina tanpa istrinya itu curiga. Kini dia sudah disambut dengan tak bersahabat oleh sang istri.
" Maaf, Sayang. Tapi pertemuannya ini mendadak dan penting sekali." Erlangga mencoba menjelaskan, kenapa dia tidak memberitahu Kayra soal kepergiannya ke Bandung, walaupun tidak sejujurnya.
" Penting sekali, ya?! Apa kliennya itu wanita? Sampai ponselnya saja tidak bisa dihubungi. Takut diganggu sama istri!?" Sudah seperti penyidik Kayra mengintrogasi suaminya.
Erlangga tersenyum, tidak biasa-biasanya istrinya itu marah-marah seperti ini. Namun, dia justru merasa senang, karena saat ini Kayra sedang dalam mode cemburu. Yang menandakan istrinya begitu mencintainya dan takut dia berpaling.
" Tidak, Sayang. Aku bertemu dengan klien pria." tepis Erlangga.
" Hmmm ..." Kayra mengambil tas kerja dari tangan suaminya. Dia lalu membukanya. Karena suaminya selalu membawa parfum di tas kerjanya.
Kayra menemukan parfum milik suaminya di tas, lalu menyemprotkan parfum itu ke pergelangan tangannya untuk dia hirup aromanya.
__ADS_1
" Ini masih sama kok, wanginya," ucap Kayra menunjuk botol parfum itu ke suaminya.
" Tentu saja masih sama. Itu parfum yang biasa aku pakai," sahut Erlangga.
" Lalu, kenapa di baju Mas itu ada aroma parfum lain? Parfum wanita!" Kayra menyebutkan apa yang membuatnya kesal.
Mata Erlangga terbelalak mengetahui amarah istrinya berasal dari aroma lain di baju yang dipakai olehnya. Erlangga langsung mengendus kemeja yang dia pakai. Memang dirasakan ada wangi parfum lain melekat di baju yang dia kenakan itu. Dan Erlangga sendiri tahu siapa pemilik Aroma wewangian itu.
Erlangga memang sempat beberapa kali memeluk Arina. Tentu saja, bukan hanya Arina dulu adalah pengasuhnya. Namun juga karena Arina adalah ibu kandung Kayra yang berarti dia berkewajiban menganggap Arina sebagai orang tuanya sendiri.
Erlangga tidak menyangka jika hal ini malah jadi perkara, karena ternyata istrinya menyadari hal tersebut.
" Oh, ini mungkin parfum istri dari klien aku tadi." Jawaban sejujurnya dari Erlangga, namun justru membuat Kayra membelalakkan matanya.
" Kok parfum istri klien Mas bisa sampai menempel di kemaja Mas? Memangnya Mas habis apa dengan istri klien Mas itu?" Kayra justru semakin meradang mendengar jawaban jujur dari Erlangga.
" Sayang, kamu jangan cemburu seperti itu, dong!" Melihat istrinya semakin curiga, Erlangga merangkulkan tangannya di pundak sang istri, mencoba mencari alasan yang tepat agar istrinya bisa menerima alasan yang diberikan olehnya.
" Istri klien aku itu berusia separuh baya mungkin lebih cocok jadi Mama kamu malah. Mana mungkin aku berbuat macam-macam dengan beliau." Erlangga menyeringai. Dia tidak tahan melihat wajah cantik istrinya yang sedang memberengut dengan mencebikkan bibirnya.
" I-iya, sih. Waktu berpamitan tadi kami berpelukan," aku Erlangga jujur. " Tapi kami berpelukan bukan karena hal negatif, Sayang. Kami berpelukan karena ... karena istri klien aku itu menganggap aku seperti anaknya sendiri." Erlangga tidak tahu, apakah kali ini istrinya itu akan percaya kepadanya atau tidak.
" Menganggap anak? Apa dia punya anak perempuan? Jangan-jangan dia ingin menjodohkan anak perempuannya dengan Mas!" Kayra membulatkan matanya. Dia takut istri dari klien suaminya itu seperti Helen dulu yang ingin nenjodohkan Agnes dengan Erlangga.
" Iya, kamu benar, Sayang. Klien aku itu memang punya anak perempuan. Dan anak perempuannya itu sangat cantik sekali." Tentu saja anak perempuan yang dimaksud Erlangga adalah Kayra. Tanggung melihat istrinya marah karena cemburu, Erlangga justru semakin menggoda Kayra.
" Oh, jadi pergi diam-diam ke Bandung dan mematikan ponselnya itu karena ada wanita cantik anak dari klien Mas itu, iya!?" Bola mata Kayra seketika mengembun saat suaminya mengagumi kecantikan wanita lain.
Seketika itu, Kayra merasa jika saat ini karma sedang mendekatinya. Walaupun bukan karena keinginannya, dia merebut Erlangga dari Caroline. Dan saat ini, sepertinya dia harus berbesar hati menerima kenyataan jika suaminya itu akan berselingkuh darinya.
" Mas benar-benar keterlaluan." Tangis yang sejak tadi ditahan akhirnya pecah juga. Kayra lalu berlari ke arah tempat tidur dan menutup tubuh hingga kepala dengan terisak. Dia merasa ini tidak adil untuknya. Dia dipaksa untuk dinikahi, setelah dia berusaha menerima dan menjadi istri yang baik, dia justru akan dikhianati.
__ADS_1
Erlangga tersentak karena telah membuat istrinya itu menangis. Dia merasa jika dia telah keterlaluan membuat istrinya bersedih. Dengan cepat akhirnya dia menghampiri istrinya yang berbaring ditutupi selimut sampai kepala.
" Sayang, kamu jangan salah paham. Aku hanya bercanda, kok. Tidak ada wanita cantik di dunia ini selain istriku dan Mamaku." Erlangga memeluk tubuh Kayra dari belakang, menarik selimut yang menutupi kepala lalu menghujanj kecupan kepada sang istri.
" Aku tidak akan berpaling darimu, Sayang. Percayalah ..." Erlangga merapihkan rambut yang menutupi wajah Kayra lalu membisikkan kalimat untuk meyakinkan istrinya.
" Kamu adalah wanita yang sanggup membuat aku mencintai dengan begitu dalam. Kamu adalah sumber kebahagiaanku, Kayra. Dan aku sangat mencintaimu Yakinlah, hanya kamu wanita yang aku idamkan dalam hidupku saat ini dan selamanya." Masih mencoba meredakan amarah istrinya, Erlangga mencoba mengucapkan kalimat-kalimat yang sanggup melunturkan kemarahan istrinya.
" Apa Mas tidak berbohong?" Kayra menghentikan tangisnya dengan menoleh ke arah suaminya.
" Tentu saja aku bicara yang sejujurnya, Kayra. Hidupku berubah lebih damai dan tenang sejak bersamamu. Memangnya apa lagi yang harus aku cari?!" Erlangga menegaskan jika dia bicara sejujurnya.
" Aku takut Mas meninggalkan aku ..." Kayra memutar tubuhnya dan memeluk tubuh suaminya.
" Aku tidak akan meninggalkanmu, Sayang." Erlangga mengecup bibir ranum yang tadi mencebik.
" Tapi aku tidak suka wanginya! Mas ganti baju dulu, sana!" Kayra mendorong tubuh suaminya hingga menjauh.
Apa yang dilakukan Kayra tentu membuat Erlangga terkekeh. Erlangga pun lalu bangkit dari tempat tidur. Dia melepas kancing kemeja lalu melangkah ke arah kamar mandi untuk mencuci mukanya. Sementara Kayra langsung bergegas ke arah lemari untuk menyiapkan pakaian tidur untuk suaminya.
*
*
*
Bersambung ...
GA dini hari tadi pukul 00.00 WIB udah ditutup ya! Dan ini 10 pemenang yg berhak mendapatkan pulsa @50K. Silahkan dm nomer HP masing2.
Selamat untuk para pemenang, dan terima kasih untuk semua yg udah mendukung. Sampai jumpa di GA² novel lainnya, ya. 🙏🙏
__ADS_1
Happy Reading❤️