MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Seperti Seorang Ratu


__ADS_3

Kayra membaca beberapa artikel soal kehamilan dari majalah-majalah yang dibelikan oleh Diah atas perintah Erlangga. Begitu besarnya harapan Erlangga untuk mempunyai anak hingga dia menyiapkan semua kebutuhan yang diperlukan oleh wanita hamil untuk istrinya, termasuk majalah yang dapat memberikan informasi seputar kehamilan.


" Kayra, diminum dulu ini su sunya." Erlangga masuk ke dalam kamar dengan membawa segelas su su ibu hamil rasa coklat untuk istrinya.


Kayra menaruh majalah yang sedang dia pegang lalu menerima gelas su su hamil yang disodorkan oleh Erlangga kepadanya.


" Terima kasih, Mas." sahutnya lalu meneguk su su hamil itu sampai tak tersisa.


" Adik bayi jangan rewel di perut Mama, ya?!" Erlangga mengelus perut Kayra yang masih belum terlihat buncit.


" Adik bayi tidak rewel kok, Pa." Kayra meladeni ulah suaminya yang berbicara pada janin di perut Kayra itu.


" Oh iya, adik bayi pintar makanya tidak rewel, yang rewel itu Mama, ya?" Erlangga melirik istrinya sambil menyindir sang istri karena belakangan ini bersikap rewel dan sering mengaturnya.


Kayra menolehkan pandangan ke arah Erlangga dengan kening berkerut.


" Aku rewel, Mas?" Tidak menyadari perubahan sikapnya yang sekarang, Kayra justru bertanya dengan nada heran atas protes yang dilayangkan oleh suaminya itu.


Erlangga menaruh gelas bekas minum Kayra di atas nakas lalu duduk di samping istrinya itu seraya melingkarkan tangannya memeluk tubuh sang istri.


" Bukan hanya rewel, tapi senang membandel dan melawan perintah suami," ucap Erlangga, tak lupa mengakhiri ucapannya dengan kecupan singkat di pipi istri kesayangannya.


" Hahh? Benarkah, Mas? Aku melawan suami?" tanyanya menatap sang suami seraya memegangi pipinya.


" Iya, kamu sering tidak mau menuruti apa yang aku katakan dan maunya menentang apa yang aku perintahkan." Erlangga memasang wajah galak dengan melebarkan bola matanya menatap Kayra.


" Itu pasti karena bawaan hamil, Mas. Tidak mungkin aku melawan Mas, selama ini aku 'kan selalu mengikuti dan menuruti apa yang Mas mau ..." Kayra menyandarkan tubuhnya di bahu Erlangga yang sedang memeluknya.


" Jadi aku harus menyalahkan calon bayi kita?" Erlangga membelai lembut wajah cantik Kayra.


" Jangan menyalahkan bayi kita ini dong, Mas. Tapi Mas yang harus mengerti, seperti inilah ibu hamil." Kayra terkikik geli mengatakan hal tersebut, dia sudah membayangkan betapa menderitanya Erlangga jika dia tiba-tiba mengalami ngidam yang aneh-aneh.


" Hmmm, oke, oke ... aku akan memaklumi ngidamnya Ibu hamil. Semoga saja bayi kita ini gidamnya selalu ingin dikunjungi sama Papanya." Kali ini Erlangga yang terkekeh seraya mengeringkan matanya menggoda sang istri.


Kayra melirik ke arah suaminya dengan bola mata membulat membuat Erlangga tertawa kencang karena berhasil membuat istrinya itu langsung bereaksi.


" Aku bercanda, Sayang. Aku tidak mungkin membuat kamu kelelahan meladeni permainanku." Erlangga begitu memang begitu menyayangi calon anaknya yang kini masih berada di perut Kayra. Dia menyadari dengan kehamilan Kayra, istrinya itu tidak akan maksimal meladeni naf su bi rahinya itu.


" Mas, apa kita masih lama pindah ke tempat yang baru?" Kayra kembali menyandarkan kepalanya ke bahu sang suami lalu menanyakan kapan mereka akan pindah ke rumah lama orang tua Erlangga yang sudah lama tidak dihuni oleh keluarga Erlangga.


" Kamu sepertinya tidak sabar sekali ingin pindah ke sana, Kayra?" Erlangga mengeratkan pelukannya terhadap Kayra. " Kenapa?"

__ADS_1


" Mungkin keinginan calon anak Mas di perutku ini, Mas." Kayra membalas asal pertanyaan sang suami, seraya mengusap perutnya.


" Hmmm, pintar sekali kamu menjawab ..." Erlangga menghujani pipi Kayra hingga mereka berdua menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.


" Aku bahagia sekali menikah denganmu, Kayra. Mungkin Papa benar, aku tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini sebelumnya," ucap Erlangga mengungkapkan apa yang benar-benar dia rasakan.


" Memangnya dulu waktu menikah dengan Ibu Caroline, Mas tidak merasakan bahagia?" Kayra tidak percaya jika Erlangga mengatakan jika Erlangga baru merasakan kebahagiaan berumah tangga seperti dengannya saat ini, karena dia tahu Erlangga begitu mencintai Caroline sebelumnya.


" Mungkin bahagia yang aku rasakan saat dengan Caroline berbeda dengan kebahagiaan yang aku rasakan bersama denganmu. Sekarang ini kebahagiaan yang aku rasakan lebih nyata, karena aku mempunyai istri yang mau menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dan juga mau mengandung anakku. Aku bahagia karena kamu memperhatikanku, memperlakukan seperti seorang suami yang seutuhnya." Erlangga menjelaskan arti ucapannya tadi.


" Kamu sendiri bagaimana, Kayra? Apa kamu bahagia menjadi istriku?" Kini Erlangga menanyakan bagaimana perasaan Kayra setelah menjadi istrinya.


Kayra tak langsung menjawab, dia membutuhkan waktu beberapa detik untuk menjawab pertanyaan suaminya itu.


" Hmmm, aku bingung, Mas."


" Bingung? Kenapa?" tanya Erlangga heran.


" Sejujurnya, aku tidak menyangka ada di dalam posisi seperti sekarang ini, menjadi istri Mas, istri sah dari bos aku sendiri. Suatu hal yang tidak pernah terlintas dalam benakku," aku Kayra sejujurnya.


" Lalu, apa kamu bahagia menjalaninya?" tanya Erlangga penasaran.


" Awalnya aku merasa seperti terjerembab ke dalam neraka, Mas." Kayra menahan tawanya mengingat betapa tersiksa batinnya dipaksa harus menikahi bosnya itu.


" Mas 'kan tanya bagaimana perasaan aku? Awalnya memang itulah yang aku rasakan, Mas. Siapa juga yang mau menjadi istri muda? Menjadi istri mudanya seorang CEO yang mempunyai istri, orang pasti akan menganggap aku hanya perempuan penggoda, sekretaris yang memanfaatkan kedekatannya dengan bosnya." Kayra menceritakan sejujurnya.


" Lalu bagaimana sekarang?"


" Sekarang aku lebih bahagia, Mas. Karena aku merasakan Mas begitu perhatian terhadapku, Mas terlihat sayang kepadaku ...."


" Terlihat? Hanya terlihat di mata saja? Memangnya kamu tidak dapat merasakan dengan hatimu?" Erlangga memprotes karena menganggap Kayra tidak dapat merasakan ketulusannya.


" Tidak seperti itu kok, Mas. Aku juga merasakan ketulusan Mas untukku." Kayra langsung mengklarifikasi ucapannya agar suaminya itu tidak salah paham.


" Aku merasa diperlakukan seperti seorang ratu oleh Mas. Aku benar-benar merasa terharu, merasa dicintai oleh Mas seperti itu," ujar Kayra sejujurnya.


" Benarkah?" tanya Erlangga merasa bangga istrinya mengakui ketulusannya.


" Iya, Mas. Aku tidak tahu mengapa Mas bersikeras ingin memperistriku saat itu." Kayra memang sebelumnya tidak mengerti dengan keputusan Erlangga yang ingin memperistrinya.


" Karena kamu wanita yang penuh ketulusan ..." jawab Erlangga cepat. " Aku juga tidak tahu kenapa aku merasa begitu dekat denganmu, kamu seperti menghipnotisku, Kayra." ujar Erlangga kemudian.

__ADS_1


" Terima kasih, Mas." Kayra melingkarkan tangannya ke dada suaminya.


" Sama-sama, Sayang. Aku juga berterima kasih karena kamu mau menjadi istri yang baik untukku." Erlangga mengecup kening Kayra.


" Sekarang kamu tidurlah, jangan tidur larut ..." Erlangga menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua. Mereka pun beristirahat dengan tubuh saling berpelukan seakan tidak ingin dipisahkan.


***


" Halo, bos. Ada berita penting yang mesti bos ketahui tentang bos dari Mahadika Gautama."


Bobby menghentikan langkahnya saat mendengar Jimmy menyebut Mahadika Gautama dengan seseorang di telepon pemilik club boxing tersebut. Sebenarnya dia ingin berbicara dengan Jimmy soal event yang akan mereka adakan. Namun, perbincangan Jimmy di telepon membuatnya Bobby mengurungkan niatnya masuk ke ruangan Jimmy. Bobby bahkan mempertajam pendengarannya karena penasaran kenapa Jimmy menyebut nama perusahaan milik orang yang sedang dia selidiki terkait misi yang sedang dia kerjakan atas permintaan Agnes. Dia pun merasa penasaran apa hubungan Jimmy dengan bos dari perusahaan besar Mahadika Gautama tersebut.


" Berita apa, Jim?" Sementara Rivaldi, orang yang dihubungi oleh Jimmy langsung menjawab saat Jimmy mengatakan ada info seputar Erlangga yang harus didengar olehnya.


" Menurut kabar terbaru yang didapat, kabarnya Erlangga baru saja bercerai sengan istrinya, Bos." Jimmy pun menyampaikan informasi yang didapatnya kepada Rivaldi.


" Erlangga bercerai dengan istrinya?" Suara Rivaldi terdengar tersentak kaget mengetahui info yang dia dengar dari Jimmy, karena selama dia menyusup di kantor Mahadika Gautama, Erlangga dan Caroline dikenal sebagai pasangannya yang sangat serasi, bahkan tidak pernah terdengar selentingan negatif tentang pernikahan Erlangga dan istrinya.


" Benar, Bos. Hmmm, apa bos tidak curiga jika perceraian Pak Erlangga ini ada hubungannya dengan pernikahan rahasia Nona Kayra?"


Bobby kembali terkesiap saat mendengar Jimmy pun menyebut nama Kayra. Bobby tidak tahu siapa orang yang dihubungi oleh Jimmy, dan juga tidak tahu apa yang diucapkan orang di telepon Jimmy, dia hanya penasaran kenapa Jimmy pun sepertinya sedang menyelidiki soal Erlangga dan Kayra.


" Saya rasa suami Nona Kayra itu adalah Pak Erlangga, Bos. Perceraian Pak Erlangga dengan istrinya dan juga perlakuan Pak Erlangga yang 'mencurigakan' terhadap Nona Kayra semakin menguatkan dugaan saya itu." Jimmy menyampaikan analisanya.


Dari teleponnya, Jimmy dapat mendengar dengusan nafas kasar Rivaldi, menandakan bosnya itu sedang dalam mode kesal mendengar dugaan jika Erlangga adalah suami dari wanita yang disukai Rivaldi.


" Kayra bukan tipe wanita seperti itu ..." Rivaldi mencoba menyangkal dugaan Jimmy yang menurut nalarnya memang masuk akal.


" Mungkin Nona Kayra memang tidak seperti, bisa saja itu karena Pak Erlangga memaksa Nona Kayra. Bos sendiri mengatakan jika Nona Kayra seperti ketakutan dan tidak nyaman dengan sikap bosnya yang terlalu posesif, kan? Sangat tidak layak perhatian Pak Erlangga selalu bos selama ini terhadap Nona Kayra." Kembali Jimmy menyampaikan pendapatnya.


" Si al!" umpat Rivaldi dengan penuh emosi.


" Apa yang akan bos rencanakan selanjutnya, Bos?" tanya Jimmy, karena dia tahu Rivaldi tidak akan tinggal diam.


" Kayra harus menjadi milikku, Jimmy! Bagaimanapun caranya, aku harus mendapatkan Kayra dari tangan Erlangga!" tegas Rivaldi dengan geram.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ....


Happy Reading❤️


__ADS_2