
Erlangga menoleh ke arah ponselnya menunggu kabar dari Grace yang akan mengabari kapan Grace akan membawa Arina keluar dari rumah keluarga Nugraha Wijaya.
Saat ini Erlangga bersama Papanya sudah berada di Bandung. Mereka berdua ditemani supir pribadi Krisna yang membawa mobil, karena perjalanan mereka cukup jauh.
" Sebaiknya kita cari makan dulu sambil menunggu mereka, Lang." Krisna menyarankan agar mereka mengisi perut terlebih dahulu.
" Iya, Pa." Erlangga menyetujui permintaan Krisna.
" Kita cari restoran dekat mall yang ingin dituju Grace. Nanti suruh Grace membawa Arina ke restoran tempat kita makan siang, agar kita bisa bertemu dengan Arina," lanjut Krisna memberikan perintahnya.
" Baik, Pa." Erlangga segera menghubungi nomer Grace, untuk memberitahukan keberadaan posisinya kepada Grace.
Satu jam kemudian ...
Grace yang membawa Arina keluar dari rumah Arina kini sedang berada di kasir setelah memilih beberapa potong pakaian. Dia tidak ingin berlama-lama di sana, karena takut jika Erlangga terlalu lama menunggunya di rumah makan.
" Kita sekalian makan siang ya, Tante?!" Setelah menyelesaikan pembayaran, Grace mengajak Arina makan siang terlebih dahulu.
" Boleh, mau makan di mana?" tanya Arina menyetujui.
" Tadi dekat mall sini ada restoran. Kita makan di sana saja yuk, Tan." Grace memilih restoran di mana Erlangga sudah berada di sana.
" Hmmm, boleh. Kita ke sana sekarang?" tanya Arina.
" Iya, Tante." Grace pun menyahuti.
Grace dan Arina pun lalu melangkah keluar dari mall menuju arah parkir untuk menuju tempat makan yang dituju.
" Tante pesan apa?" tanya Grace saat memilih menu makanan di rumah makan khas Sunda.
" Saya pesan paket nasi liwet saja. Minumnya teh tawar hangat," ucap Arina menyerahkan buku menu kepada pelayan restoran.
" Baik, Ibu." sahut pelayan restoran.
" Nasi liwet enak ya, Tan?" tanya Grace yang memang belum pernah merasakan menu makanan yang dipesan Arina.
" Kamu belum pernah mencoba?" tanya Arina.
" Belum, Tan." sahut Grace seraya menggelengkan kepalanya.
" Coba pesan saja kalau mau merasakan. Enak, kok." Arina menyarankan Grace memesan makanan yang dia pesan.
__ADS_1
" Boleh, Tante. Saya samakan saja pesanannya ya, Mbak. Minumnya orange juice." Grace pun ikut memesan makanan yang sama dengan Arina.
" Baik Teh." sahut pelayan restoran sebelum akhirnya meninggalkan mereka berdua.
" Tante pernah makan di sini sebelumnya?" tanya Grace berbasa-basi sambil menunggu kemunculan Erlangga.
" Pernah beberapa kali sama keluarga. Dan memang makanan di sini cukup enak, makanya kelihatan ramai pengunjung, kan!?" ujar Arina menjawab pertanyaan Grace.
" Iya, Tante." Grace mengedar pandangannya. Memang cukup ramai orang yang sedang menikmati makan siang di restoran tersebut. Dan di antara banyaknya pengunjung, dia mencari di mana keberadaan Erlangga saat ini.
Ddrrtt ddrrtt
Grace langsung mengambil ponselnya saat benda pipih itu berbunyi. Dia melihat sebuah pesan masuk dari Erlangga.
" Saya berada di belakang kamu. Bersiaplah melakukan apa yang saya perintahkan."
Itu pesan yang dikirim Erlangga ke ponsel milik Grace. Erlangga memang meminta Bondan menanyakan nomer telepon Grace kepada Rizal, karena dia ingin memantau secara langsung penyamaran Grace terhadap Arina.
" Oke." Grace menjawab singkat pesan Erlangga. Mungkin karena dia pun setara dengan Erlangga, sama-sama anak pengusaha kaya raya, sehingga dia membalas pesan Erlangga pun singkat tak ada tambahan kata Tuan ataupun Pak.
Setelah menjawab pesan Erlangga, Grace membuka kamera ponselnya dan menggunakan kamera depan untuk mengetahui pergerakan Erlangga yang akan mendekat ke arahnya. Dia ingin semuanya berjalan secara normal dan tidak sengaja.
" Kamu tahu, Rena. Tante itu tidak pernah pergi makan di luar seperti ini selain sama keluarga Tante sendiri." Arina bercerita kepada Grace tentang kebiasaannya yang tidak pernah keluar pergi makan di luar rumah terkecuali dengan anggota keluarganya sendiri.
" Iya, tapi Tante berharap kamu bukan lagi orang lain buat Tante ke depannya." Arina sepertinya berharap sekali jika Rivaldi bisa berjodoh dengan Grace.
Grace hanya mengulum senyuman menanggapi perkataan Arina. Sementara pandangan matanya terus mengarah ke layar ponselnya yang melihat sosok Erlangga dan Krisna yang sedang berjalan melangkah ke arahnya.
Saat kedua ayah dan anak itu hampir mendekat ke arahnya, Grace lalu menaruh ponselnya ke dalam tas.
" Tante, aku ijin ke toilet dulu sebentar, ya!?" Grace meminta ijin dan bangkit dari duduknya.
" Oh, silahkan, Rena." sahut Arina.
Buugghh
Saat Grace hendak melangkah dan memutar tubuhnya, Grace sengaja menabrakkan diri ke Erlangga yang sudah mendekatinya.
" Eh, sorry ..." ucap Grace langsung meminta maaf, seakan dia merasa bersalah telah menabrak tanpa sengaja Erlangga.
" Hati-hati jika berjalan," ujar Erlangga.
__ADS_1
" Iya, maaf." sahut Grace.
Sementara Arina yang melihat sosok Erlangga di hadapannya langsung mengeryitkan keningnya. Walau sepintar melihat Erlangga di depan toilet kemarin, tapi ingatannya masih jelas mengingat jika pria yang ditabrak Grace adalah Erlangga.
" Kamu tidak apa-apa, Nak?"
Dan kemunculan sosok di samping Erlangga membuat wajah Arina menjadi memucat, karena dia sangat mengenal sosok pria di samping Erlangga tersebut. Apalagi saat sosok Krisna kini menatap ke arahnya.
" Arina? Kamu Arina, kan?" tanya Krisna menatap penuh selidik ke arah Arina.
Arina seketika gugup saat Krisna mengenalinya. Ketakutan jika Krisna menanyakan bayi yang pernah dia kandung membuat keringat dingin langsung terasa di telapak tangannya.
" Papa kenal Ibu ini?" Erlangga bertanya kepada Papanya.
" Tentu saja, Lang. Apa kamu tidak ingat dengan Sus Rina, pengasuhmu dulu?" tanya Krisna.
" Sus Rina?" Kali ini Erlangga menatap Arina, baby sitter yang mengasuhnya saat dia kenal.
" Ya ampun, ini benar Sus Rina?" Erlangga mendekati Arina yang langsung berdiri saat Erlangga mendekatinya.
" Sus Rina apa kabar? Lama tidak bertemu Sus Rina." Erlangga bahkan memeluk tubuh Arina. Tentu saja kedekatannya dengan Arina saat dirinya masih kecil masih membekas. di hati Erlangga, sehingga tanpa ada rekayasa dia memeluk tubuh mantan pengasuhnya dulu.
Arina seakan membeku berada dalam pelukan Erlangga. Ketika menjadi pengasuh Erlangga, dia sangat mengasihi Erlangga kecil. Kerinduannya pada bocah yang diasuhnya dulu hari ini terobati. Namun, ketakutannya akan pertanyaan Krisna membuatnya hanya diam tak membalas pelukan Erlangga. Hanya air matanya saja yang mengalir di pipinya.
" Arina, apakah ini anakmu yang kamu kandung dulu?" tanya Krisna menoleh ke arah Grace yang masih berada di sana.
" Hmmm, bukan Om. Saya bukan anak Tante Arina," tepis Grace berpura-pura tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
" Bukan? Lalu di mana anakmu itu sekarang, Arina?" Kembali Krisna menatap penuh selidik ke arah Arina.
Deg
Jantung Arina berdetak kencang saat pertanyaan yang menakutkan itu akhirnya keluar dari mulut Krisna. Karena sejujurnya dia sendiri tidak tahu keberadaan bayi perempuan yang dia lahirkan sekitar dua puluh enam tahun lalu itu. dia sendiri tidak tahu apakah putrinya itu masih hidup atau sudah meninggal.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️