MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Siapa Mama Rivaldi?


__ADS_3

" Sudah selesai kencannya?"


Saat masuk dan menyalakan lampu apartemen, Grace dibuat terkejut dengan suara Rizal yang ternyata sudah berada di dalam apartemen dan duduk di sofa apartemen yang dipinjam dari Dirga.


" Apa kau biasa menyusup ke tempat orang lain, Pak Tua?" Grace yang terkejut dengan kemunculan Rizal di ruangan tersebut menyindir Rizal karena membuatnya terperanjat kaget.


" Pemilik apartemen ini adalah kawanku, lagipula aku yang meminjam apartemen ini." Rizal lalu bangkit dan mendekat ke arah Grace.


" Tuan Erlangga bilang kau tidak mengikuti arahannya, benarkah?" Pria tampan yang kini mendekati usia empat puluh tahun itu berjalan ke arah Grace.


" Bukankah jika aku pergi dari pesta itu akan lebih aman?" Grace memang memilih menjalankan rencananya sendiri, daripada mengikuti rencana yang ingin dijalankan oleh Erlangga. Dia merasa kepergian dia membawa Rivaldi dari tempat itu akan membuat penyamarannya aman.


" Lagipula aku bertemu dengan Mamaku di sana. Akan lebih berbahaya jika aku tetap berada di sana, jika Rivaldi tahu siapa sebenarnya aku." Grace menyampaikan alasannya mengapa memilih pergi. Dan untungnya saja Rivaldi mau mengikutinya, walaupun sempat ada drama bertemu dengan Agatha.


" Nyonya Agatha datang ke acara itu?" Rizal pun lupa, dia sama sekali tidak ingat jika Mama dari Grace juga merupakan pengusaha kaya raya.


" Apa kau tidak menganggap jika Mamaku itu pebisnis terkenal sehingga tidak diundang di acara tersebut?" sindir Grace.


" Iya, pebisnis terkenal, tapi mempunyai anak yang salah jalan." Rizal balik menyindir Grace karena perbuatan Grace yang hampir mencelakai keluarga David Richard.


Grace memutar bola matanya mendapatkan sindiran dari Rizal tentang kisah masa lalunya.


" Lalu apa yang terjadi saat kalian bertemu dengan Mamamu?" Rizal penasaran, bagaimana Grace bisa lolos dari Agatha.


" Aku mengenalkan Mama sebagai Tanteku kepada Rivaldi. Dan aku terpaksa memberitahu namaku, karena Mama terus saja memanggil aku Grace." Grace menceritakan bagaimana dia harus bersandiwara di hadapan Mamanya.


" Dan Rivaldi percaya?"


" Tentu saja! Kalau tidak, mungkin aku tidak akan bisa cepat sampai ke sini," ucap Grace bangga, karena kembali berhasil menipu Rivaldi.


" Kau memang hebat, tak salah menjadi anggota timku." Rizal menyeringai karena Grace ternyata cukup cerdik.


" Aku terpaksa melakukan ini daripada kau jebloskan aku ke penjara!" ketus Grace menanggapi Rizal yang tersenyum meledeknya.


" Oh ya, ada satu informasi menarik yang aku rasa perlu Pak Erlangga ketahui." Grace seketika teringat soal Arina.


" Soal apa?" tanya Rizal penasaran.


" Orang tua Rivaldi sepertinya mengenal keluarga Pak Erlangga ...."


Rizal tertawa mendengar ucapan Grace yang dianggapnya konyol.


" Bukankah acara itu memang acaranya pengusaha-pengusaha? Ada perkumpulannya, kemungkinan mereka saling kenal itu bisa saja terjadi." Rizal menyampaikan pendapatnya.


" Aku belum selesai bicara, Pak Tua!" Grace merasa kesal karena Rizal memotong ucapannya ditambah lagi tawa Rizal yang mencibirnya.

__ADS_1


" Baiklah, baiklah, teruskan bicaramu, informasi apa yang kau dapatkan?"


" Aku rasa Mama dari Rivaldi itu mengenal keluarga Pak Erlangga, bahkan Mama Rivaldi terlihat ketakutan saat melihat Mama Pak Erlangga, sampai mereka memutuskan pergi meninggalkan acara pesta itu dengan terburu-buru. Aku juga sempat mendengar Mama Rivaldi mengatakan soal anak. Sepertinya Mama Rivaldi itu takut jika orang tua Pak Erlangga menanyakan soal anak. Tapi, aku tidak tahu maksud dari perkataan Mama Rivaldi itu." Grace menjelaskan apa yang dia dengar dari percakapan antara orang tua Rivaldi. Karena dia merasa curiga saat Arina bersembunyi dari keluarga Erlangga saat ingin meninggalkan toilet memuatnya penasaran.


" Siapa nama Ibu dari Rivaldi itu?" tanya Rizal kemudian.


" Aku tidak sempat menanyakan nama Mama Rivaldi. Tapi, aku rasa hal ini ada hubungannya dengan sikap Rivaldi yang ingin menjatuhkan Pak Erlangga." Grace mengemukakan pendapatnya.


" Bisa jadi seperti itu. Aku harus melaporkan hal ini kepada Bondan, agar .Bondan menyampaikan informasi ini kepada Tuan Erlangga." Rizal kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi Bondan dan menceritakan informasi yang disampaikan oleh Grace seputar Arina.


***


Erlangga mengambil ponselnya lalu berjalan ke arah balkon rumahnya setelah Kayra terlelap dalam pelukannya. Angin malam langsung menyentuh kulit wajah pria tampan itu saat pintu balkon terbuka olehnya.


Erlangga memilih duduk di kursi ayunan yang ada di balkon kamarnya. Setelah menemani istrinya itu tidur, justru Erlangga sendiri tidak dapat tertidur. Entah kenapa? Apa yang terjadi dengan istrinya belakangan ini membuat tiba-tiba otaknya berpikir.


Perasaan Kayra seakan dekat dengan rumah yang mereka tempati saat ini, dan juga wanita paruh baya yang ditemui Kayra di toilet tempat resepsi pernikahan anak dari Pak Ronald tadi membuatnya berpikir. Tidak mungkin sesuatu terjadi jika tidak ada alasan yang jelas. Lalu apa alasan Kayra bisa merasakan hal tersebut? Hal itu terus menjadi pertanyaan di benak Erlangga.


Ddrrtt ddrrtt


Bunyi notif pesan masuk terdengar di ponsel Erlangga, membuat dia membuka pesan masuk yang ternyata berasal dari Bondan.


" Selamat malam,. Tuan. Maaf jika saya mengganggu istirahat Anda. Ada hal penting yang harus saya segera laporkan kepada Tuan." Isi pesan dari Bondan yang masuk ke ponselnya.


" Informasi apa, Pak Bondan?" Tentu saja Erlangga merasa penasaran dengan pesan masuk dari Bondan tentang informasi yang ingin disampaikan kepadanya.


" Selamat malam, Tuan. Maaf saya mengganggu." Walaupun sudah mengatakan lewat pesan, Bondan tetap memberikan salam dengan rasa hormat kembali kepada Erlangga.


" Tidak apa-apa, Pak Bondan. Info penting apa yang ingin Pak Bondan sampaikan kepada saya?" tanya Erlangga kemudian.


" Tadi Rizal baru saja menginformasikan, menurut Grace, sepertinya Ibu dari Rivaldi itu mengenal orang tua Anda, Tuan. Apalagi Ibu dari Rivaldi terlihat ketakutan saat melihat kehadiran Nyonya Helen." Bondan melaporkan apa yang dia dengar dari Rizal berdasarkan laporan yang didapat dari Grace.


" Mama Rivaldi mengenal Mama dan ketakutan saat melihat Mama? Memangnya kenapa?" Erlangga merasa heran dengan informasi yang baru saja diberikan oleh Bondan.


" Kami kurang tahu, Tuan. Tapi menurut Grace, Ibu dari Rivaldi segera meminta suaminya untuk segera meninggalkan pesta itu. Ibu dari Rivaldi mengatakan jika dia takut orang tua Tuan menanyakan soal anaknya." Bondan menjelaskan lebih lanjut.


" Menanyakan soal anaknya? Anak apa maksudnya?" Erlangga semakin dibuat tidak mengerti dengan informasi yang disampaikan oleh Bondan soal Mama dari Rivaldi.


" Kami belum menyelidiki sejauh itu, Tuan. Karena itu saya menyampaikan hal ini kepada Anda. Karena kami pikir Anda tahu soal hubungan antara Ibu Rivaldi dengan orang tua Anda, Tuan." Bondan menduga jika orang tua Erlangga sudah mengenal tentang siapa orang tua terutama Arina sebelumnya.


" Saya tidak tahu soal itu, Pak Bondan. Saya benar-benar tidak mengerti kenapa Mama Rivaldi takut dan menghindar dari orang tua saya." Erlangga merasakan ada sesuatu rahasia yang terjadi antara orang tuanya dengan orang tua Rivaldi.


" Apa Anda tahu siapa nama Mama dari Rivaldi itu, Pak Bondan?" tanya Erlangga kemudian. Dia berniat menanyakan soal hal ini kepada Papanya, mungkin Papanya tahu soal Mama dari Rivaldi ini.


" Mohon maaf, Tuan. Grace tidak sempat bertanya tentang nama Ibu dari Rivaldi." Bondan menyayangkan Grace yang tidak sempat tahu nama Ibu Rivaldi.

__ADS_1


" Ya sudah, tidak apa-apa. Tolong katakan pada Pak Rizal, agar Grace mencari tahu soal Mama dari Rivaldi itu. Saya sangat penasaran ada hubungan apa antara Mama dari Rivaldi dan orang tua saya." Rasa penasaran semakin kuat menggelayuti pikiran Erlangga soal misteri hubungan antara Mama Rivaldi dan juga kedua orang tuanya.


" Oh ya, Tuan. Menurut Grace juga, Ibu Rivaldi tadi sempat berbincang dengan Nyonya Kayra di toilet." Bondan hampir terlupa menyampaikan satu informasi lagi.


Erlangga memicingkan matanya mendengar informasi lainnya dari Bondan yang mengatakan jika Arina sempat berbicara dengan Kayra. Seketika dia ingat cerita Kayra yang mengatakan bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang membuat Kayra terpana dengan wanita paruh baya tersebut.


" Apa jangan-jangan wanita yang berbicara dengan Kayra itu adalah Mama dari Rivaldi?" gumam Erlangga dalam hati.


" Hmmm, apa Grace tahu apa yang dibicarakan oleh mereka, Pak Bondan?" tanya Erlangga semakin penasaran.


" Sepertinya tidak, Tuan. Karena Rizal tidak bercerita apa-apa soal itu."


" Baiklah, Pak Bondan. Terima untuk informasinya. Teruskan penyelidikannya dan tetap berhati-hati." Erlangga berniat mengakhiri percakapannya dan berpesan agar Bondan dan Rizal berserta anak buahnya tidak gegabah dalam bertindak.


Erlangga memijat pelipisnya setelah menutup panggilan telepon dengan Bondan. Dia benar-benar penasaran dengan Mama Rivaldi. Siapa sebenarnya Mama Rivaldi? Apa yang membuat Mama Rivaldi takut bertemu dengan orang tuanya? Lalu siapa anak yang dimaksud itu? Dan, kenapa orang tuanya akan menanyakan anak kepada Mama Rivaldi? Lalu, ada apa dengan Kayra? Kenapa Kayra merasa dekat dengan Mama Rivaldi? Apa Kayra dan Mama Rivaldi sebelumnya saling kenal?Pertanyaan-pertanyaan seperti begitu membuat kepalanya semakin pusing.


***


" Sayang, kamu tunggu di sini saja, jangan ke mana-mana, ya!?" Erlangga yang baru keluar dari ruangan kerjanya berjalan menghampiri Kayra yang duduk di meja kerja sekretaris.


" Mas mau ke mana?" Kayra bangkit dari duduk saat melihat suaminya itu berpamitan dengannya.


" Aku dan Papa ada janji bertemu dengan klien, Sayang." Erlangga terpaksa berbohong kepada Kayra agar istrinya itu tidak ikut pergi ke kantor Krisna, karena Erlangga kepada perlu untuk membicarakan soal Mama Rivaldi kepada Papanya itu. Erlangga yakin, dia akan mendapatkan petunjuk dari Papanya itu.


" Kamu jangan pergi-pergi dari kantor ini." Erlangga mengecup kening Kayra. " Gita, kamu jaga Kayra. Jangan sampai dia kabur dari tempat ini!" Erlangga memperingatkan Gita agar menjaga Kayra.


" Baik, Pak." Gita langsung menjawab dengan cepat.


" Apa Mas akan lama dengan Papa?" tanya Kayra kemudian.


" Tidak, sebelum makan siang aku akan kembali," jawab Erlangga.


" Ya sudah, hati-hati ya, Mas."


Setelah mendapat ijin dari Kayra, Erlangga pun kemudian meninggalkan Kayra di kantornya untuk menuju kantor Papanya.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2