MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Suami Idaman


__ADS_3

Sabtu pagi ini, Kayra berziarah ke makam Danny. pria yang merupakan ayah biologisnya. Tidak hanya ditemani oleh Erlangga, tapi juga oleh Krisna dan Helen. Sementara Arina yang sudah kembali ke Bandung tidak dapat ikut berziarah ke makam pria yang pernah menghamilinya itu.


Mungkin Arina belum siap untuk berziarah ke makam Danny, atau mungkin juga karena menjaga perasaan sang suami. Namun, baik Kayra ataupun Erlangga dapat memaklumi keputusan Arina tersebut.


Kayra duduk berjongkok di depan pusara Danny walau dengan sedikit kesusahan karena perutnya yang membuncit. Dia menatap nanar makam Papanya itu.


" Om, maaf aku baru mengunjungi makam Om. Aku kemari bersama adik sepupuku, anak Om, yang kini menjadi istriku. Jika Om masih hidup, mungkin Om akan menyesal telah menyia-nyiakan anak hasil perbuatan Om dulu." Kayra menoleh ke arah suaminya yang sedang berbicara di depan makam Danny yang merupakan adik sepupu dari Helen.


" Lihatlah anak Om sekarang ini. Dia menjadi wanita yang hebat, wanita yang penuh kasih sayang, wanita yang penyabar, wanita yang tulus dan bijaksana. Wanita yang bisa membuat orang tuanya merasa bangga memiliki anak seperti dia. Bahkan dia bisa memaafkan dan mendoakan Om meskipun Om tidak mengakui kehadirannya di dunia ini." Erlangga sepertinya terbawa emosi meskipun yang diajak bicara hanya batu nisan.


" Mas, jangan seperti itu. Kita datang kemari untuk mendoakan Papa agar dilapangkan kuburnya, diampuni segala dosanya dan diterima amal ibadahnya." Melihat suaminya berbicara seperti itu, Kayra menepuk pundak sang suami agar tidak terus mengeluarkan kalimat yang menyesalkan perbuatan Danny dulu terhadap Arina dan dirinya saat masih dalam perut Arina.


" Maafkan aku, Sayang. Aku belum bisa bersikap seiklas dirimu." Erlangga merangkulkan tangannya di pundak Kayra dan mengecup pelipis istrinya itu.


" Kayra, Papa sangat berterima kasih kamu bisa memaafkan adik ipar Papa ini atas kesalahan yang dilakukan dulu terhadapmu dan juga Mamamu, Nak." Krisna yang duduk berseberangan dengan Kayra pun merasa bersyukur menantunya itu bisa dengan ikhlas memaafkan Danny, bahkan mau mengakui Danny sebagai Papanya.


" Papa Danny sudah tidak ada, Pa. Untuk apa membencinya? Jika memang dulu Papa Danny tidak mau mengakui aku sebagai anaknya dan memperlakukan Mama dengan buruk, sebaiknya kita mendoakan agar kesalahan dan dosa Papaku di masa hidupnya bisa dimaafkan dan diampuni." Dengan kalimat yang bijak Kayra menyebutkan alasannya bisa bersikap ikhlas. " Lagipula jika menanamkan rasa hormat kepada orang tua, Insya Allah anak-anak kami kelak bisa menerima ajaran itu dengan baik, Pa. Mereka akan mencontoh perbuatan baik yang mereka lihat dari orang tuanya sehari-hari," sambungnya kemudian.


" Masya Allah, sungguh hatimu luar biasa, Nak. Beruntung Erlangga mempunyai istri sepertimu dan kami pun beruntung mempunyai menantu seperti kamu, Kayra." Krisna mengungkapkan rasa kagumnya pada sikap Kayra, sikap yang hampir sulit ditemukan pada wanita mana pun.


" Ah, Papa terlalu berlebihan memuji aku." Kayra tersipu malu dipuji oleh mertuanya itu.


" Semoga nanti kamu punya banyak anak ya, Kayra. Biar Mama punya banyak cucu yang sholeh dan sholehah ..." celetuk Helen tiba-tiba.


" Ya ampun si Mama. Ini saja Kayra belum melahirkan sudah minta yang banyak." Krisna memprotes istrinya, membuat Kayra dan Erlangga saling pandang lalu tersenyum.


" Memangnya Papa tidak ingin punya banyak cucu?" Helen menanggapi protes dari sang suami.


" Sebaiknya kita pulang sekarang, Pa, Ma." Melihat kedua orang tuanya berdebat, Erlangga mengajak Helen dan Krisna untuk segera pulang daripada mereka berdua terus berdebat di tempat umum.


" Ayo, Sayang ..." Erlangga membantu Kayra berdiri.

__ADS_1


" Pa, Kayra pulang dulu. Lain waktu, Kayra akan berziarah lagi ke makam Papa ini," ucap Kayra sebelum meninggalkan makam Papanya.


***


" Mas, Mama Arina meminta kita untuk main ke Bandung sebelum aku melahirkan. Mas ada waktu senggang kapan?" tanya Kayra saat memasangkan dasi di kerah kemeja suaminya yang hendak berangkat ke kantor.


" Kita nanti akan menginap dua hari di sana," lanjut Kayra menanti jawaban dari sang suami.


" Kita menginap? Apa di sana akan ada Rivaldi?" tanya Erlangga dengan khawatir.


" Mas, kenapa masih mencemaskan Pak Aldi, sih?" Dia itu sekarang Kakak tiriku, artinya kakak ipar Mas juga, kan?" Kayra terkekeh membayangkan persaingan suaminya dengan Rivaldi yang dulu memperebutkan dirinya. Kayra masih menyebut Rivaldi dengan sebutan Pak, karena dia sendiri belum pernah bertemu kembali dengan pria itu setelah tahu jika mereka itu bersaudara tiri.


" Seandainya ada pilihan lain, aku tidak ingin mempunyai kakak ipar dia." Erlangga seakan tidak senang dengan hubungannya bersama Rivaldi saat ini.


" Jangan begitu dong, Mas. Kasihan nanti anak kita, melihat Papanya dan Om nya saling bermusuhan." Kayra menasehati agar Erlangga tidak menyimpan kebencian terhadap Erlangga.


" Aku tidak membayangkan jika kau menikah dengan Rivaldi. Istriku ternyata adik tiriku." Erlangga meledek Kayra.


Erlangga melihat istrinya yang tertawa dengan riangnya. Istrinya itu benar-benar tidak terbebani dengan masa lalu dan asal usulnya.


Tangan Erlangga kini mengusap kepala Kayra dengan tatapan terus mengarah kepada wajah cantik sang istri.


" Aku senang melihat kamu tertawa bahagia seperti ini, Sayang." ucap Erlangga kemudian.


Perkataan Erlangga membuat Kayra menghentikan tawanya. Namun dia langsung melingkarkan tangannya ke perut sang suami dan menenggelamkan wajahnya di dada suaminya.


" Tentu saja aku bahagia, Mas. Mas selalu membuat aku bahagia dan selalu berusaha agar aku tidak bersedih," ucap Kayra kemudian.


" Aku akan berusaha membuatmu bahagia, Kayra. Aku pernah berjanji jika aku akan melindungimu dan menyayangimu. Ternyata aku sudah mengucapkan itu sejak aku kecil, saat kamu masih berada di perut Mamamu." Erlangga memang tidak menyangka jika bayi di perut pengasuhnya itu adalah jodohnya, belahan jiwanya.


Dulu dia bahkan sering menciumi dan mengelus perut Arina saat itu. Dan kehangatannya yang tersalurkan dari sentuhannya itu begitu kuat, hingga saat pertama kali berjumpa dengan Kayra saat wanita itu dewasa, dia sudah dibuat kagum oleh sosok Kayra.

__ADS_1


" Apa Mas pernah menyangka jika akan menikah denganku?" Kayra menarik tubuhnya dari pelukan sang suami.


" Tentu saja tidak! Siapa yang pernah menduga jika aku akan menikah dengan bayi di perut Ibu Arina. Tapi aku memang sudah menyayangimu sejak kamu masih dalam kandungan Mamamu, Sayang." Erlangga mencubit pipi Kayra yang sudah mulai terlihat chubby, membuat Kayra terkekeh.


" Sekarang aku bertanya padamu, apa kamu pernah menyangka akan menikah dengan pria tampan dan seorang bos sepertiku ini?" tanya Erlangga berseloroh.


" Tidak, aku tidak pernah bermimpi sejauh itu," aku Kayra jujur. " Aku ini hanya wanita biasa yang dididik dengan cara hidup yang sederhana. Jadi aku tidak pernah sampai berangan-angan ingin menjadi seorang istri dari pengusaha kaya raya seperti Mas," lanjutnya.


" Memangnya kamu menginginkan suami seperti apa sebelumnya, hemm?" Erlangga menaikkan dagu Kayra dengan jarinya.


" Aku ingin mempunyai suami yang baik, sayang dan tanggung jawab terhadap keluarga. Yang seiman dan bisa menjadi imamku, menuntunku mengarungi mahligai rumah tangga yang sakinah mawadah warohmah," ungkap Kayra kemudian.


" Apa aku sudah masuk ke dalam kriteria suami yang kamu idamkan, Sayang?" Erlangga bertanya karena merasa jika dia belum menjadi sosok yang mendekati sempurna seperti yang disebutkan oleh istrinya.


" Insya Allah, Mas. Mudah-mudahan ke depannya Mas bisa menjadi sosok yang terbaik untuk aku dan anak-anak kita," harap Kayra kembali.


" Aamiin, Sayang." Erlangga memberikan kecupan manis di bibir Kayra.


" Iiihh, sudah deh, Mas. Mas mau ke kantor. Nanti keburu siang." Kayra menyuruh suaminya untuk segera berangkat ke kantor karena waktu sudah jam sembilan pagi.


Kayra lalu mengambil tas kerja sang suami dan ingin ikut mengantar sampai ke teras rumah.


" Kemarikan tasnya, Sayang. Biar aku saja yang bawa." Erlangga mengambil tas kerjanya yang dipegang oleh Kayra. Karena dia tidak tega istrinya yang sedang hamil besar itu mengangkat tas kerjanya. Setelah itu mereka pun berjalan keluar kamar mereka.


*


*


*


Bersambung ....

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2