
Kayra mengedikkan bahunya saat melihat Erlangga menceburkan tubuhnya ke dalam kolam renang di samping rumah Henry. Bukan hanya waktu saat ini yang sudah melewati jam sepuluh malam dan cuaca yang dingin, tapi juga karena Erlangga baru saja meneguk minuman beralkohol. Tentu saja Kayra merasa takut terjadi sesuatu pada bosnya itu.
" Mereka sudah terbiasa seperti itu." Menyadari Kayra yang terlihat cemas, Emma langsung mengucapkan kalimat yang membuat Kayra sedikit bernafas lega hingga wanita cantik itu menolehkan wajahnya ke arah Emma.
" Kau terlihat khawatir sekali terhadap Erlangga." Emma dapat melihat kecemasan di wajah cantik Kayra saat Erlangga melompat ke dalam kolam.
" Pak Erlangga atasan saya, Bu. Tentu saja saya khawatir jika terjadi sesuatu terhadap beliau." Kayra memberikan alasan yang sejujurnya.
" Maaf jika saya terkesan ingin tahu, apa sikap Erlangga seperti ini menimbulkan perasaan di hati kamu?" Sebagai seorang teman dan sebagai seorang wanita bersuami, sudah pasti Emma tidak ingin terjadi sesuatu dalam rumah tangga sahabatnya itu
" Maksud Ibu?" Kening Kayra berkerut menanggapi serius pertanyaan Emma.
" Kamu tidak mengharapkan Erlangga menyukaimu, kan? Hanya karena kalian sedekat ini hingga Erlangga membawamu keluar malam-malam." Kalimat Emma walaupun disampaikan dengan bahasa yang halus namun tetap terasa menohok di hati Kayra.
" Ibu terlalu berlebihan berpikir tentang saya!" Kalimat sanggahan keluar dari mulut Kayra. Inilah yang Kayra takutkan, Jika ada orang yang salah mengartikan kedekatannya dengan Erlangga. Seandainya Emma tahu apakah wanita itu tidak akan semakin mencurigainya?
" Syukurlah kalau dugaan saya salah." Emma menanggapi sanggahan Kayra dengan santai.
Melihat sikap Emma yang santai tanpa merasa bersalah telah menyinggungnya dengan pertanyaannya, Kayra menjadi kesal hingga dia mengambil air minum untuk membasahi tenggorokannya,
" Uhuk ... uhuk ..." Kayra tiba-tiba terbatuk dan menyemburkan air yang sebagian sudah membasahi tenggorokannya saat dia merasakan rasa yang anehdari cairan yang dia minum.
" Kamu kenapa?" Melihat Kayra terbatuk membuat Emma merasa heran. Dia melirik ke arah gelas yang telah diminum Kayra. Emma mengambil dan mencium aroma di gelas itu. Karena bentuk gelas yang sama dan sama-sama berwarna jernih rupanya Kayra salah mengambil gelas minumnya.
" Kamu salah minum?" Bola mata Emma terbelalak lebar. Dia lalu mengambil satu gelas air putih yang sebenarnya milik Kayra dan menyerahkan kepada sekretaris Erlangga itu.
" Ini minumlah! Yang kamu minum tadi minuman rum milik Erlangga."
" Hueekk ..." Mengetahui jika yang dia minum tadi adalah alkohol seketika Kayra merasakan mual hingga mengeluarkan isi perutnya.
__ADS_1
" Erlangga ...!! Sekretarismu mabuk!!" Emma panik melihat Kayra yang mengeluarkan isi dari perutnya tanpa bisa ditahan karena rasa mual yang tiba-tiba saja menyerang perut Kayra.
Erlangga yang sedang beradu kecepatan berenang dengan Henry seketika keluar dari kolam saat Emma berteriak dan melambaikan tangan ke arahnya.
" Ada apa?" Erlangga terbelalak melihat hasil pembuatan Kayra yang mengotori teras di samping rumah Henry. " Dia kenapa, Emma?" tanya Erlangga merangkulkan tangannya di pundak Kayra yang masih saja berasakan mual. Erlangga langsung menarik tissue dan mengelap keringat di wajah dan juga bibir Kayra. Bahkan dia pun membersihkan kotoran yang sedikit mengenai baju tidur Kayra.
" Dia salah mengambil minuman dan meneguk minuman milikmu." Emma menjelaskan kronologisnya sampai Kayra bisa seperti sekarang ini. Namun matanya tak lepas dari sikap Erlangga yang begitu mengkhawatirkan Kayra bahkan meladeni Kayra dengan sangat perdulinya.
" Dia mabuk?" Henry yang menyusul naik dari kolam bertanya saat melihat Kayra yang terlihat lemas setelah mengeluarkan isi di perutnya.
" Iya." Pertanyaan Henry segera dijawab Emma.
" Akhirnya dia bisa mencicipi minuman beralkohol juga." Henry justru terkekeh tanpa merasa prihatin dengan apa yang menimpa Kayra.
" Tidak boleh seperti itu, Sayang! Kasihan dia tidak terbiasa dengan minuman itu, pasti dia merasa tidak nyaman." Berbeda dengan suaminya, Emma justru merasa kasihan melihat Kayra.
" Sebaiknya aku pulang saja." Erlangga segera menuntun langkah Kayra yang tiba-tiba sempoyongan.
" Gi la, Kau!" sergah Erlangga segera berlalu dari hadapan Henry dan Emma yang memandang kepergian Erlangga dan Kayra penuh tanda tanya. Apalagi saat melihat Erlangga yang tidak sabar melihat langkah Kayra yang berjalan pelan langsung mengangkat tubuh Kayra ala bridal style.
" Sayang, apa kamu merasa ada yang aneh dengan hubungan mereka?" tanya Emma curiga.
" Apapun yang terjadi dengan mereka, semua itu bukan urusan kita. Sebaiknya kita tidak usah turut campur dengan hubungan mereka." Henry memeluk pinggang istrinya dan meminta Emma untuk tidak mengurusi masalah pribadi Erlangga dan sekretarisnya itu.
***
Kayra menyandarkan kepalanya ke sandaran jok dengan memijat pelipisnya karena rasa pusing yang tiba-tiba melandanya. Dia pun memejamkan matanya karena dunia terasa berputar-putar jika dia membuka matanya.
Sementara Erlangga mengendarai mobil mewahnya menuju rumah Kayra dengan kecepatan tinggi apalagi kondisi jalanan yang nampak lengang malam ini.
__ADS_1
Setelah mobil Erlangga sampai di gang rumah Kayra. Erlangga kembali mengangkat tubuh Kayra masih ala bridal style. Kayra sendiri seperti tidak perduli dengan apa yang dilakukan Erlangga karena saat ini dia merasakan efek minuman beralkohol terkenal itu masih terasa di tubuhnya walaupun dia sudah menguras isi perutnya.
" Astaghfirullahal adzim ...! Mbak Kayra kenapa, Tuan?" tanya Diah saat membuka pintu dan melihat Erlangga menggendong tubuh Kayra.
" Di mana kamar Kayra?" Tanpa menjawab pertanyaan Diah, Erlangga justru bertanya kamar Kayra kepada Diah.
" Sebelah ini, Tuan." Diah menunjuk dan membukakan pintu kamar Kayra.
Erlangga segera masuk dan membaringkan tubuh Kayra di atas kasur single bed berukuran 120 x 200 sentimeter.
" Tolong beri dia air putih atau su su murni." Erlangga menyuruh Diah memberi air putih atau su su yang dapat meringankan rasa mabuk yang Kayra rasakan.
" Baik, Tuan." Diah berlari ke luar kamar untuk mengambil apa yang diminta Erlangga.
Sepeninggal Diah, Erlangga memperhatikan kamar Kayra yang luasnya tidak beda jauh dengan kamar Ibu Sari. Tidak ada benda yang menempel di dinding kamar itu. Namun Erlangga melihat koper dan beberapa kardus yang sudah diikat oleh tali. Dia menduga jika semua barang-barang Kayra sudah dikemas karena lusa akan pindah.
" Ini air minumnya, Tuan. Dan ini su sunya." Diah menyerahkan botol air mineral dan su su bergambar beruang dari dalam lemari pendingin.
" Kamu berikan kepada Kayra dan tolong gantikan bajunya terlebih dahulu." Erlangga keluar kamar tidur Kayra saat meminta Diah menggantikan baju Kayra.
" Baik, Tuan." Diah sempat menjawab perintah Erlangga sebelum pria itu meninggalkan kamar Kayra.
Erlangga langsung duduk dan membaringkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu rumah kontrakan Kayra. Matanya pun mulai terasa berat apalagi tadi dia pun mengkonsumsi minuman beralkohol, hingga akhirnya matanya terlelap tanpa memperdulikan bajunya yang basah karena habis berenang.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️