MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Kemarahan Erlangga


__ADS_3

Erlangga meletakkan pulpennya kembali di atas meja ketika dia mendengar bunyi ponselnya berbunyi hingga dia menghentikan niatnya yang ingin membubuhkan tanda tangan di beberapa surat yang harus dia beri tanda tangan.


Erlangga menatap layar ponselnya yang memperlihatkan foto sang istri. Dia lalu menoleh ke arah Kayra yang berdiri di depan meja kerja menunggu surat itu dia tanda tangani.


" Tunggu sebentar." Erlangga menyuruh Kayra yang sedang menunggu surat yang ditanda tangani olehnya itu menunggu sebentar karena dia ingin mengangkat telpon dari istrinya terlebih dahulu.


" Halo ..." sapa Erlangga saat panggilan masuk dari Caroline terangkat olehnya.


" Halo, Sayang. Apa kabar? Aku kangen, Sayang." suara Caroline terdengar dari ponsel Erlangga.


" Kapan kamu akan pulang, Caroline?" tanya Erlangga dengan nada dingin. Dia masih merasa kesal karena kepergian Caroline ke London.


Kayra melirik ke arah Erlangga saat mendengar bosnya itu bertanya kepada istrinya. Dia tak mendapati sikap mesra Erlangga terhadap Caroline padahal yang menelepon adalah istrinya sendiri.


" Sayang, aku minta maaf. Aku tidak bisa pulang besok karena pemotretan ini akan berlanjut di Brussel. Ini sangat mendadak sekali, Sayang." Caroline menyampaikan rencananya yang akan pergi ke ibukota dari negara Belgia itu.


" Sampai kapan kamu akan terus dengan ambisimu itu, Caroline!?" Aura kemarahan sudah mulai nampak dari suara Erlangga.


Bahkan Kayra yang saat ini ada di ruangan Erlangga pun bisa merasakan atmosfir kemarahan dan kekecewaan dari setiap kata yang terlontar dari mulut Erlangga. Kayra langsung menurunkan pandangannya. Dia bahkan tidak berani untuk menatap wajah Erlangga.


" Sayang, aku minta maaf. Tapi ini benar-benar di luar rencana. Di sana ada model dunia yang harus aku temui. Ini kesempatan emas untukku, Sayang." Caroline masih berusaha membujuk suaminya agar tidak marah terhadapnya.


" Caroline, sebaiknya kau harus segera menentukan pilihan. Karir atau pernikahanmu!?" tegas Erlangga, sepertinya kesabaran di hati pria itu sudah mulai luntur menghadapi sikap istrinya yang lebih mementingkan karir ketimbang pernikahannya.


Kayra membulatkan matanya mendegar gertakan Erlangga terhadap istrinya. Dia tidak menyangka jika keadaan rumah tangga bosnya itu ternyata tidak seharmonis yang dia perkirakan.


" Sayang kenapa ...."


Erlangga segera mematikan ponselnya hingga memutus ucapkan Caroline yang belum selesai dia dengar. Kemarahannya benar-benar tidak bisa dia kendalikan mendengar istrinya menunda kepulangannya.


Kayra masih menundukkan pandangan dengan menggigit bibirnya saat Erlangga tiba-tiba mematikan telepon dan menaruh ponselnya di atas meja dengan kasar.


Erlangga menatap Kayra yang masih berdiri di hadapannya dengan wajah menunduk.


" Kembalilah ke mejamu! Saya akan menandatangani berkas ini nanti!" ucap Erlangga menyuruh Kayra keluar dari ruangannya.

__ADS_1


" Baik, Pak." Kayra bergegas meninggalkan ruangan Erlangga secepatnya daripada dia akan kena sasaran kemarahan Erlangga saat ini.


Kayra menarik nafas lega setelah sampai di mejanya. Dia tidak pernah melihat bosnya semarah ini terhadap Caroline. Dia pun akhirnya berpikir, apa karena hal ini Helen tidak menyukai Caroline dan menginginkan Erlangga dekat dengan Agnes.


" Ya ampun, kenapa aku memikirkan tentang keluarga Pak Erlangga? Itu bukan masalahku, sebaiknya aku tidak ikut campur dengan masalah mereka," gumam Kayra memilih meneruskan kembali pekerjaannya.


***


" Sayang, halo ...?" Caroline memperhatikan layar ponselnya yang ternyata sambungan teleponnya dengan sang suami sudah terputus.


" Ada apa?" tanya Wisnu melihat Caroline terlihat lesu menatap ponselnya.


" Sepertinya aku harus kembali ke Jakarta, Wis." Tentu saja ancaman yang diucapkan Erlangga tadi sangat mengganggu pikiran Caroline.


" Kenapa? Bukankah kau sudah setuju kita akan ke Brussel besok?" tanya Wisnu heran karena keputusan Caroline yang berubah.


" Erlangga marah besar, aku tidak yakin dia akan memaafkanku kalau aku ikut ke Brussel, Wis." ucap Caroline cemas.


" Tapi aku sudah mengabari pihak di Brussel kalau kau akan datang dan ikut pemotretan di sana. Jika kamu membatalkan, ini akan mempengaruhi reputasimu di dunia model, Caroline." Wisnu menyanyangkan jika pembatalan kedatangan Caroline akan membuat reputasi Caroline buruk karena dianggap tidak profesional.


" Caroline, Erlangga itu sangat mencintaimu. Dia tidak mungkin akan berani membuat keputusan yang mengancam pernikahan kalian!" Wisnu sangat yakin jika yang dilakukan oleh Erlangga hanya gertak sambal yang tidak akan mungkin dilakukan oleh pria itu.


" Tapi Erlangga benar-benar serius mengatakannya tadi, Wis. Aku tidak mau mengambil resiko pernikahanku bermasalah karena aku bersikeras pergi ke Brussel." Caroline masih nampak ketakutan jika ancaman Erlangga akan berpengaruh buruk untuk pernikahan mereka.


" Jadi kamu tetap membatalkan rencana ke Brussel?" tanya Wisnu dengan nada kecewa


" Apa boleh buat." Caroline mengedikkan bahunya pasrah.


Wisnu mendengus kasar. " Oke, aku harap ini tidak akan mempengaruhi kepercayaan agen kepadamu karena kamu membatalkannya secara mendadak." Wisnu masih kecewa dengan keputusan Caroline. " Dan semoga di lain hari kamu masih mempunyai kesempatan bertemu dengan model-model dunia lagi." Wisnu kemudian berlalu meninggalkan Caroline sendiri.


***


Selepas melaksanakan sholat Dzuhur, Kayra segera kembali ke ruangannya dan ingin menyantap makan siang yang dia bawa dari rumah di mejanya agar dia juga bisa melanjutkan pekerjaannya. Sebelum sholat tadi dia melihat bosnya itu keluar dari ruangannya sehingga dia merasa tidak masalah makan di meja kerjanya.


Kayra membuka bekal makanannya dan menghirup aroma acar ikan yang sempat dia masak pagi tadi sebelum berangkat ke kantor. Setelah membaca doa terlebih dahulu, Kayra pun mulai menyantap makan siangnya itu sembari sesekali mengerjakan pekerjaannya di laptop.

__ADS_1


Ting


Suara pintu lift terbuka membuat Kayra terkejut apalagi saat dia melihat kehadiran Helen dan Agnes saat pintu lift terbuka.


" S-selamat siang, Ibu." Kayra segera berdiri menyapa orang tua bosnya itu.


" Erlangga ada?" tanya Helen kepada Kayra.


" Pak Erlangga baru saja keluar, Bu." jawab Kayra.


Helen menatap ke arah meja kerja Kayra di mana dia melihat wadah makan Kayra di atas meja.


" Apa di kantor ini tidak mempunyai kantin sehingga kamu harus makan di meja kerjamu?" tanya Helen bernada ketus.


" Maaf, Bu." Kayra segera membereskan wadah makannya dan berniat menyudahi makan siangnya yang baru masuk beberapa suap saja.


" Apa jadinya jika ada tamu relasi yang datang kemari dan mencium ruangan ini bau ikan?" Kalimat menyindir masih dilontarkan Helen.


" Maaf, Ibu." sesal Kayra.


" Ayo kita ke dalam, Agnes!" Helen mengajak Agnes untuk masuk ke dalam ruangan kerja Erlangga.


" Ayo, Tante." sahut Agnes dengan meninggalkan tatapan mata sinis ke arah Kayra.


Kayra mendesah. Dia lalu menaruh kembali wadah makan ke dalam bag nya. Selera makannya pun sudah hilang karena dia merasa cemas karena telah melakukan kesalahan telah makan di ruangan kerja. Dia takut Helen akan mengadukannya ke Erlangga. Karena saat ini suasana hati Erlangga sepertinya sedang tidak baik


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2