MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Ancaman Agnes


__ADS_3

Helen berjalan mengendap keluar dari rumahnya setelah dia mendapatkan kabar dari Rizal, jika saat ini Agnes tengah mengundang Vito berkunjung ke apartemennya.


Rasa penasaran Helen terhadap tuduhan orang yang pernah dijumpainya di restoran beberapa waktu lalu, yang mengatakan jika Agnes sering tidur dengan pria lain membuatnya ingin mengetahui langsung fakta tersebut. Hingga akhirnya, dia memutuskan pergi ke apartemen milik wanita yang semula ingin sekali dia jadikan menantunya itu.


" Bi Inah, suruh Syamsul siapkan mobil!" Helen langsung memberi perintah kepada Bi Inah sesampainya di lantai bawah.


" Nyonya mau pergi?" tanya Bi Inah heran. Karena tidak seperti biasanya Helen keluar malam.


" Iya, cepat! Nanti keburu suami saya tahu!" Helen yang tak ingin Krisna mengetahui kepergiaannya, menyuruh Bi Inah cepat bergerak dan tidak banyak bertanya.


" Baik, Nyonya." Walaupun heran karena Helen ingin pergi secara sembunyi-sembunyi, tapi Bi Inah menuruti apa yang diminta oleh istri majikannya itu.


" Kita mau ke mana, Nyonya?" Setelah Helen berada di dalam mobil yang siap dikendarai Samsul, supirnya itu menanyakan ke mana tujuan Helen akan pergi.


" Kita ke apartemen Agnes." Helen menyuruh Syamsul membawanya ke apartemen milik Agnes. Sesuai kabar yang diinformasikan oleh Rizal, jika Agnes mengundang Vito ke tempat wanita itu.


" Baik, Nyonya." Tanpa banyak bertanya lagi, Syamsul segera menjalankan mobil menuju tempat yang dimaksud oleh Helen.


Sementara itu di apartemen Agnes. Wanita itu sedang berusaha menaklukkan Vito agar Vito tertarik dengannya.


" Kita mengobrol di balkon, yuk! View nya bagus kalau melihat Jakarta malam hari dari sana." Agnes mengajak Vito ke balkon yang ada di kamarnya. Dia bahkan tanpa segan menarik tangan Vito untuk mengikutinya.


" I-ini kamar, Agnes. Kenapa masuk-masuk ke sini?" Vito tidak menyangka jika Agnes seagresif ini terhadap dirinya, padahal dia terhitung baru dikenal Agnes. Tapi, Agnes tampak tidak ragu membawanya ke ruangan pribadinya.


" Kita mau lihat pandangan kota Jakarta malam hari dari balkon, Vit. Atau, kau ingin tidur di sini?" Senyuman menggoda mulai dilakukan Agnes demi memikat Vito.


" Oh, tidak, tidak ...!" Vito menolak tawaran Agnes soal tidur di kamar Agnes.


" Ayo!" Agnes kembali menarik tangan Vito untuk segera ke balkon.


Benar apa yang dikatakan Agnes. View kota Jakarta malam hari terlihat indah dari arah balon kamar Agnes. Gemerlap kilau lampu-lampu LED yang terpasang di gedung-gedung pencakar langit sangat memanjakan mata setiap orang yang melihatnya.


" Indah sekali 'kan view di sini?" ucap Agnes berharap Vito menyukai suasana dari arah balkon kamarnya itu.


" Iya memang indah sekali," sahut Vito setuju dengan ucapan Agnes.


" Menikmati suasana di sini, apalagi bersama pasangan pasti sangat menyenangkan sekali, kan?" Agnes sengaja memancing Vito bereaksi dengan ucapannya itu.


Vito menoleh ke arah Agnes yang sedang mengulumkan senyuman menggoda. Vito hanya membalas kaku senyuman Agnes itu.


" Kamu mau minum apa, Vito?" tanya Agnes.


" Tidak usah, tadi saya 'kan sudah minum di cafe." Vito menolak tawaran Agnes.


" Tunggu sebentar, ya!?" Agnes lalu masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Vito yang masih berdiri di tepi balkon dan menikmati gemerlapnya suasana malam kota metropolitan itu.


Beberapa menit kemudian, Vito tersentak kaget saat sebuah tepukan halus menyentuh pundaknya, hingga membuatnya menolehkan wajah.


" A-Agnes?" Vito tercengang melihat penampilan Agnes saat ini. Agnes yang tadi menggunakan dress, kini hanya memakai lingerie berwarna beige dengan kimono mini setengah paha yang memperlihatkan keindahan tubuh wanita cantik itu, Sungguh pemandangan di hadapan matanya membuat Vito harus menelan salivanya.


" K-kamu?" Kata-kata Vito terhenti saat jari telunjuk Agnes menyentuh bibir pria tampan itu.


" Sssttt ... kita nikmati malam indah di sini." Agnes melingkarkan tangannya di leher Vito. Bahkan dia menarik tengkuk Vito hingga wajahnya hampir tanpa jarak dengan wajah Vito.


" T-tapi ...."


Vito tak kuasa menahan Agnes yang kini sudah melepas blazer miliknya. Termasuk saat tangan berkuku lentik Agnes melucuti kancing kemeja dan melepas kaos singlet Vito. Agnes bagaikan wanita kelaparan yang butuh bersentuhan dengan lawan jenisnya.


" Apa yang kamu lakukan Agnes?" Walaupun bertanya, Vito tak menolak apa yang Agnes lakukan kepadanya.


" Kita bersenang-senang malam ini." Agnes langsung menempelkan bibirnya hingga menyentuh bibir Vito.


Vito terperanjat, dia sama sekali tidak menyangka jika Agnes akan seagresif ini. Namun, dia tak menolak saat Agnes terus saja melahap bibirnya walau dia meladeninya dengan kaku.


Tanpa melepas pagutannya, Agnes menggiring Vito yang bertelan jang dada masuk ke dalam kamarnya, sampai akhirnya mereka berdua terjatuh di atas tempat tidur.


Agnes berada di atas tubuh Vito. Dia melepas kimono lingerie nya dan membuangnya ke sembarang tempat. Dia mengikat rambutnya yang tergurai panjang.

__ADS_1


Apa yang dilakukan benar-benar membuat Vito hampir kehilangan akal sehatnya. Bukannya dia tidak pernah mengenal wanita. Tapi, dia tidak pernah bertemu wanita seagresif Agnes seperti sekarang ini.


Agnes kini mulai menciumi tubuh atletis Vito dari leher, dada, bahkan dia memainkan lidahnya di pu ting milik Vito membuat Vito memejamkan matanya. Walau menikmati, tapi dia harus tetap menjaga kesadarannya.


" Agnes?" Vito kembali terkejut saat Agnes melepas sabuk yang masih melilit celana panjang Vito.


" Ssstt, nikmati saja ..." Dengan begitu lihai Agnes melepas ikat pinggang Vito dan menurunkan resleting celana panjang pria itu.


Teett


Belum sempat Agnes membuka harta paling berharga milik Vito, tiba-tiba terdengar bunyi bel pintu apartemen Agnes berbunyi.


" Si al! Mengganggu saja!" umpat Agnes karena dia merasa orang yang menekan bel apartemennya itu telah mengganggu aktivitasnya.


" Kita lanjutkan nanti." Agnes lalu bangkit mengambil lalu memakai kimono mininya kembali. Dia kemudian berjalan ke luar kamar untuk mencari tahu siapa orang yang sudah datang di saat yang tidak tepat itu.


" Tante?" Saat pintu apartemen dibuka, betapa terkejutnya Agnes saat melihat sosok Helen berdiri di depan pintu apartemennya. Apalagi saat Helen tiba-tiba menerobos masuk meskipun belum mendapatkan ijin darinya.


" A-ada apa Tante kemari?" Agnes melirik ke arah kamarnya, berharap Vito tidak keluar dari dalam kamar.


Helen tak menjawab pertanyaan Agnes. Mama dari Erlangga itu justru sibuk memperhatikan Agnes yang mengenakan pakaian tidur sek si dan menggoda. Tingkah gugup Agnes semakin menambah kecurigaannya atas info yang diberikan Rizal, bahwa Agnes membawa laki-laki ke apartemennya memang benar.


" Sedang apa kamu, Agnes?" tanya Helen penuh selidik. Pandangannya pun kemudian terarah ke kamar Agnes yang terbuka.


" A-aku baru saja mau tidur, Tan." Agnes berjalan cepat ke arah kamarnya berniat menutup pintu, agar Helen tidak tahu ada pria lain di kamarnya itu.


" Agnes, apa kita bisa lanjutkan yang tadi?"


Belum sempat Agnes sampai ke pintu, Vito sudah lebih dulu muncul dari arah pintu hanya menggunakan CD nya saja.


" Ya Tuhan ...!!" pekik Helen kencang seraya memalingkan wajahnya mendapati Vito yang hampir telan jang keluar dari kamar Agnes.


" Oh, maaf, Tante." Vito kembali masuk ke dalam kamar Agnes untuk memakai pakaiannya kembali.


" Siapa dia, Agnes? Apa yang kamu lakukan dengan pria itu?!" geram Helen melihat sendiri bagaimana kelakuan be jat Agnes selama ini tanpa sepengetahuannya.


" Agnes, Tante ini siapa? Apa dia Mama kamu?" Vito kembali keluar dari kamar Agnes sambil memakai kemejanya dan menjalankan kembali sandiwaranya.


" Hai, Tante. Saya Vito. Saya teman kencan Agnes ..." Bahkan kini Vito mengulurkan tangannya ke arah Helen seakan memperkenalkan dirinya.


" Jadi ini yang kamu lakukan selama ini, Agnes?! Ternyata laki-laki yang pernah Tante temui di restoran itu benar. Kamu senang membawa pria untuk menemanimu tidur. Dasar wanita ja lang!" Helen benar-benar kesal karena merasa tertipu dengan sikap manis Agnes selama ini. Bahkan sebuah tamparan langsung mengenai pipi Agnes.


" Tante??" Agnes kaget saat Helen menamparnya, dia tidak menyangka jika hal itu sampai dilakukan oleh wanita paruh baya yang selama ini bersekutu dengannya.


" Tante menyesal selama ini sudah menjodohkan Erlangga denganmu, Agnes! Kamu benar-benar wanita murahan! Tidak punya harga diri!!" geram Helen tak puas terus mencari Agnes.


" Tante akan laporkan kelakuan be jatmu ini ke orang tuamu, Agnes!" Helen berniat mengadukan kebiasaan buruk Agnes kepada orang tua Agnes.


" Tante jangan macam-macam!!" Agnes mencengkram kencang lengan Helen dengan mata melotot tajam. " Kalau Tante berani mengadukan hal ini ke orang tuaku, aku tidak segan-segan menghabisi nyawa Tante!!" Agnes justru balik mengancam Helen.


Baik Helen maupun Vito sama-sama tersentak kaget dengan ucapan Agnes. Terlebih Vito yang tidak menyangka Agnes akan bersikap kasar kepada orang yang lebih tua.


" Kamu berani mengancam Tante, Agnes?!" Helen terlihat geram karena Agnes kembali bersikap kasar kepadanya.


" Jika Tante berani melaporkan ke orang tuaku, aku tidak hanya mengancam, tapi melakukan apa yang aku katakan tadi!" ketus Agnes, dia lalu mendorong tubuh Helen, hingga membuat Helen hampir terjerembab jatuh jika Vito tidak menangkap tubuh Helen.


" Agnes, kenapa kamu bersikap kasar seperti ini kepada orang yang lebih tua?" Vito menyesalkan sikap kasar Agnes kepada Helen.


" Biarkan saja, Vito! Kamu tidak usah menolong wanita tua ini!" Agnes menarik tangan Helen dan membawanya ke arah pintu. " Keluar dari sini, dasar tua bangka tidak berguna!!" Agnes mengusir Helen secara paksa.


" Keterlaluan kamu, Agnes!! Tante tidak terima penghinaan kamu ini!" Helen berteriak dari luar apartemen Agnes, saat Agnes menutup pintu apartemennya dengan cukup kasar.


" Dasar ja lang! Menyesal selama ini Tante mendukungmu, Agnes!!" Helen masih berteriak mengumpat Agnes yang sudah tidak memperdulikannya.


***


Erlangga tersenyum melihat baby bump yang sudah mulai nampak di perut Kayra, saat wanita itu sedang mengenakan pakaiannya. Sekarang ini, wanitanya itu sudah tak malu lagi jika memakai pakaian setelah mandi di hadapannya.

__ADS_1


Erlangga mendekat ke arah Kayra lalu memeluk tubuh istrinya dari belakang. Erlangga mengecup puncak kepala Kayra cukup lama.


" Kamu cantik sekali, Sayang. Apalagi dengan perut buncitmu ini." Tangan Erlangga kini mengusap perut Kayra.


" Perutku sudah mulai berlihat buncit, tubuhku juga sebentar lagi melar. Apa Mas masih mau kalau aku sudah tidak cantik lagi?" tanya Kayra insecure.


" Tentu tidak, Sayang. Mau seperti apapun bentuk tubuhmu, kau tetaplah cantik di mataku ini." Sebuah kecupan di pipi Kayra dihadiahkan Erlangga kepada istri cantiknya itu.


Kayra terkekeh mendengar ucapannya sang suami yang baru saja merayunya dengan kata-kata manis.


" Kenapa kamu tertawa, hmm? Kamu menertawakanku?" Erlangga bahkan menggigit pipi Kayra hingga Kayra menjerit.


" Aaawww ...!" Kanapa pipiku digigit, Mas?" Kayra mengusap pipinya yang bekas di gigit Erlangga.


" Karena kamu menggemaskan, Kayra." Erlangga mempererat pelukannya di tubuh sang istri.


Ddrrtt ddrrtt


Suara telepon masuk di ponsel Erlangga membuat Kayra dan Erlangga menoleh ke arah ponsel yang selalu Erlangga letakkan di atas nakas.


" Pak Bondan itu, Mas." Kayra meledek Erlangga, karena suaminya itu sering sekali dia lihat menerima telepon dari anak buahnya itu.


" Ada kabar apa Pak Bondan pagi-pagi telepon?" Erlangga lalu berjalan ke arah nakas untuk mengambil ponselnya.


" Mama?" Kening Erlangga berkerut saat melihat namanya yang terlihat di layar ponselnya itu.


" Ada apa Mama meneleponku pagi-pagi?" Erlangga bertanya heran seraya menoleh ke arah istrinya.


" Coba saja diterima, Mas. Siapa tahu penting." Kayra menyuruh suaminya agar segera mengangkat panggilan telepon Mama dari suaminya.


" Assalamualaikum, ada apa, Ma?" sapa Erlangga saat mengangkat panggilan telepon Helen.


" Waalaikumsalam ..." Helen sedikit terkejut mendengar salam yang diucapkan Erlangga kepadanya. " Erlangga, kamu harus tolong Mama. Agnes mengancam akan membunuh Mama, Lang." Helen mengadukan apa yang diucapkan Agnes yang mengancam akan menghabisi nyawa dirinya.


" Apa??" Erlangga terkejut mendengar kabar yang disampaikan oleh Mamanya tadi.


Kayra langsung menoleh ke arah Erlangga saat merasakan nada suara suaminya terdengar kaget.


" Kenapa Agnes ingin membunuh Mama?" tanya Erlangga serius.


Mata Kayra kini membulat saat mendengar suaminya mengatakan jika Agnes ingin membunuh Helen. Dia pun langsung berjalan menghampiri suaminya dan memegang lengan suaminya dengan ketakutan.


" Iya, Lang. Agnes mengancam akan menghabisi nyawa Mama. Kamu harus bantu Mama, Lang. Kamu harus melindungi Mama, Erlangga." Helen berkata dengan nada ketakutan dan panik.


" Kenapa Agnes bisa mengancam Mama seperti itu? Apa yang sudah Mama lakukan sehingga Agnes mengancam ingin menghabisi nyawa Mama?" Walaupun Erlangga sempat mendengar dari Bondan soal Helen yang menyewa Rizal untuk membuntuti wanita kesayangan Mamanya itu. Namun, Erlangga tidak mengira jika Agnes sampai mengancam akan melakukan tindakan kriminal dengan memberikan ancaman menakutkan pada Helen.


Erlangga pun pasti tidak akan tinggal diam jika sampai Agnes mencelakai anggota keluarganya, meskipun selama ini hubungan dia dan Mamanya itu tidaklah baik.


" Karena Mama bilang akan mengadukan kelakuan be jat Agnes ke orang tuanya, Lang." Helen sudah tidak perduli Erlangga akan menyindirnya. Yang dia pikirkan saat ini adalah keselamatan nyawanya. Dan dia yakin jika putranya itu pasti bisa melindunginya.


" Kelakuan be jat? Maksud Mama apa?" Erlangga berlagak tidak mengetahui maksud Mamanya, karena Mamanya itu tidak tahu jika dia sudah mendapatkan informasi dari Bondan seputar Helen menyewa seorang detektif untuk menyelidiki Agnes karena Agnes diduga senang melakukan hubungan in tim dengan banyak pria.


" Erlangga, Mama benar-benar menyesal. Mama selama ini memaksa kamu untuk menikah dengan Agnes, karena Mama tidak tahu kelakuan buruk dia selama ini, Lang. Dia itu tidak beda jauh dengan wanita ja lang. Mama tidak membayangkan jika sampai Agnes menjadi istrimu, dia pasti akan membuat keluarga kita malu. Dia bisa membuat nama baik keluarga kita tercoreng." Kata-kata yang terucap dari mulut Helen terdengar penuh dengan pengesalan.


" Sekarang Mama tahu, kan? Kenapa aku selama ini menolak Mama jodohkan dengan dia?" Erlangga senang Mamanya itu sudah dapat melihat bagaimana sifat asli Agnes.


" Iya, Mama benar-benar menyesal, Erlangga." Kini Helen terdengar tersedu.


" Ya sudah, Mama tenang saja. Agnes masih dalam pantauan orang-orangku, Ma. Dan nanti aku akan suruh Bondan menempatkan orang yang akan menjaga Mama agar Agnes tidak bisa menyentuh Mama." pungkas Erlangga kemudian.


*


*


*


Bersambung ....

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2