MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Ancaman Erlangga


__ADS_3

Erlangga akhirnya memutuskan mengajak Krisna untuk bergabung menikmati makan siang bersama. Dia bersama Kayra dan Mamanya menjemput Krisna terlebih dahulu di kantornya, lalu menuju rumah makan yang dia pilih untuk makan siang bersama.


Keluarga besar Krisna Mahadika Gautama tampak berkumpul mengelilingi meja di sebuah private room restoran Nusantara. Beberapa menu makanan tersaji di depan meja yang mereka kelilingi.


" Apa Mamamu ini mengganggu pekerjaanmu di kantor, Lang?" tanya Krisna melempar candaan, saat mereka menikmati makanan yang tersaji.


" Tidak kok, Pa. Mama tidak mengganggu. Mama hanya sedang mengawasi pekerjaan menantunya." Erlangga menanggapi candaan Papanya. " Sayang, kau harus bekerja yang benar. Mama sedang mengawasimu. Kalau kamu tidak bekerja dengan baik, bisa-bisa kamu dipecat dari sekretaris di kantor Mahadika oleh Mama." Erlangga berkelakar menyindir Mamanya. Pasangan ayah dan anak itu terlihat kompak dalam meledek Helen.


Mendengar sindiran anak dan suaminya, Helen langsung memasang wajah garang dan mata melotot tajam.


" Kamu pikir Mama pengangguran sampai harus mengawasi orang bekerja!?" Helen pun langsung membatah apa yang dikatakan Erlangga.


" Mama itu memang tidak bekerja, kan? Mengikuti anak ke kantor, memangnya Mama pikir itu apa?" Krisna membalas bantahan dari istrinya.


" Papa tidak usah ikut-ikutan menyerang Mama, ya!" Merasa suaminya sama sekali tidak melakukan pembelaan terhadap dirinya, Helen segera memprotes. " Erlangga saja selalu membela istrinya, ini Papa yang ada justru menjatuhkan Mama!" Bahkan Helen membandingkan perlakuan Erlangga terhadap Kayra, dengan perlakuan Krisna terhadapnya.


" Kalau Erlangga membela Kayra, karena Kayra memang tidak bersalah, hanya Mama saja yang selalu menyalahkan Kayra. Jadi tidak heran jika Erlangga membela Kayra. Kalau Papa, masa Papa harus membela Mama padahal Mama itu jelas-jelas melakukan kesalahan? Kita itu harus adil dalam menilai sesuatu. Yang benar ya dibenarkan, yang salah ... walaupun dia anggota keluarga sendiri tetap harus dikatakan salah dong, Ma." Krisna menyampaikan argumentasinya, memberi penjelasan agar istrinya itu dapat mengerti.


Helen berdecak mendapatkan sindiran menohok dari sang suami. Sementara Kayra, yang namanya sejak tadi diperbincangkan hanya diam mendengarkan. Walaupun dia senang dibela oleh Papa mertuanya, tapi dia merasa tidak enak jika Mama mertuanya itu terlalu dipojokan. Dia takut jika Mama mertuanya itu akan semakin membencinya jika sikapnya dibandingkan dengan Helen. Padahal, sekarang ini adalah masa-masa yang tepat baginya bisa berdamai dengan Helen, agar bisa terjalin hubungan yang baik antara menantu dengan mertua.


" Lalu, apa setiap hari Mama akan ikut Erlangga ke kantor?" Krisna pun menanyakan kelanjutan ke depannya. Apakah Helen akan tetap mengikuti Erlangga setiap hari ke kantornya.


" Tentu saja, Mama yakin Erlangga bisa melindungi Mama dari wanita ja lang itu!" Helen tetap ingin dekat dengan Erlangga yang dirasanya bisa menjaga dirinya.


" Wanita itu 'kan yang selalu ingin Mama jodohkan dengan Erlangga. Apa Mama menolak lupa?" Krisna terkekeh, kembali dia menyindir istrinya.


" Sudahlah, Pa. Jangan menyindir Mama terus!" gerutu Helen kesal karena suaminya itu terus saja meledeknya dengan membeberkan kebo dohannya selama ini karena membela Agnes.


" Ma, aku 'kan sudah menyuruh orang berjaga di rumah. Anak buahku itu bisa diandalkan, Ma. Mama semestinya tidak perlu merasa khawatir." Erlangga mengatakan kepada Helen, jika Helen seharusnya bisa tetap tenang di rumah tanpa harus mengikuti dirinya ke kantor.


" Kamu tidak suka Mama ikut ke kantor kamu, Lang?" Dan Helen pun menjadi salah paham atas ucapan Erlangga tadi.


" Bukan tidak suka, Ma. Mama jangan salah paham seperti itu. Aku senang Mama di kantor. Siapa tahu dengan Mama di kantor, Mama bisa lebih dekat mengenal Kayra. Tapi, aku hanya kasihan dengan Mama. Apa Mama tidak capek menunggu di kantor seharian?" Tentu Erlangga mengkhawatirkan Mamanya jika harus ikut setiap hari ke kantor. Pasti akan melelahkan setiap hari menunggu berdiam diri di kantor.


" Mama hanya duduk saja di kantor, tidak mengerjakan apa-apa. Mana mungkin bisa capek!" Helen menampik diduga akan kecapean menemani Erlangga di kantor.


" Bukankah jika hanya diam dan tidak mengerjakan sesuatu akan lebih melelahkan dibanding melakukan pekerjaan, Ma?" Bagi Krisna yang sudah terbiasa sibuk dengan rutinitas di kantor, tentu pekerjaan menunggu dan tidak melakukan satu pekerjaan pun akan membuatnya mengalami kejenuhan dan sangat melelahkan.


" Hmmm, Bu, kalau Ibu berkenan, bagaimana jika Ibu sementara ini tinggal bersama kami saja? Nanti saya akan menemani Ibu. Saya yakin di tempat kami akan aman, tidak mungkin Agnes akan datang ke sana." Kayra yang sejak awal hanya diam, akhirnya ikut berbicara dan menyampaikan usulannya yang kemarin sudah dia diskusikan dengan suaminya itu.


Tawaran yang diusulkan oleh Kayra seketika membuat suami dan kedua mertuanya kini memusatkan pandangan ke arahnya.


" Sayang ..." Erlangga tidak menduga jika Kayra akan berani menyampaikan usulannya itu di depan kedua orang tuanya.


Krisna pun terlihat kaget dengan usulan menantunya. Karena dia tahu, Erlangga tidak ingin membawa Kayra dan Helen untuk tinggal satu atap. Dia pun takut, Helen akan marah saat mengetahui Kayra saat ini tinggal di rumah lama mereka.


" Ibu merasa nyaman jika bersama Mas Erlangga, kan? Mungkin akan lebih baik jika Ibu tinggal bersama kami sementara waktu sampai Ibu bisa tenang dan yakin, jika Agnes tidak akan berani berbuat buruk terhadap Ibu." Kayra mengatakan alasannya kenapa dia mengajak Mama mertuanya untuk tinggal bersama mereka.


" Ya sudah, kita sementara tinggal di rumah Erlangga dulu saja ya, Pa!?" Di luar dugaan Krisna, Erlangga dan Kayra. Helen ternyata menyetujui usulan Kayra.


" Ma, apa tidak merepotkan jika kita tinggal bersama Erlangga dan Kayra?" Krisna merasa tidak enak harus ikut tinggal bersama anak dan menantunya itu.


" Kayra sendiri yang menawarkan, kok. Lagipula Erlangga pasti tidak akan menolak jika istrinya yang meminta." Menyadari bagaimana cintanya Erlangga kepada Kayra, dia yakin jika Erlangga pun pasti tidak akan menyetujui jika dia dan suaminya tinggal bersama mereka untuk beberapa waktu.


***


Grace menjalankan mobilnya menuju cafe terdekat dari salon yang tadi dia kunjungi. Dia tidak ingin terlalu lama menunggu Rivaldi di parkiran salon, hingga membuatnya merapat ke cafe terdekat. Kebetulan saat ini waktu sudah memasuki jam makan siang, Sebelumnya dia sudah mengabari Rivaldi di mana dia sekarang berada saat ini.


Tak begitu lama Grace membuang waktu untuk menunggu Rivaldi. Karena pria itu kini sudah berada di hadapannya.

__ADS_1


" Sorry, harus membuat kamu menunggu lama," ucap Rivaldi saat tiba di hadapan Grace.


" Tidak apa-apa. Aku yang seharusnya minta maaf karena sudah mengganggu waktu kerja kamu," sahut Grace.


" Apa orang yang mengikutimu itu masih ada?" tanya Rivaldi mengedar pandangan ke seluruh sudut ruangan cafe.


" Aku tidak tahu. Mobil itu aku lihat terakhir di halaman parkir salon itu. Aku tidak buru-buru kemari, jadi tidak tahu apa mobil itu masih mengikuti atau tidak," ungkap Grace.


" Ya sudah kamu tenang saja. Jangan takut! Jika orang itu masih mengikutimu, aku akan menghadapi orang itu." Dari sikap yang ditunjukkan oleh Rivaldi, terlihat jelas jika Rivaldi sangat memperdulikan Grace.


Grace mende sah, hingga suara nafas wanita cantik itu terdengar oleh Rivaldi.


" Kalau boleh aku tahu, siapa yang membuat kamu sepeti ini, Rena?" Rivaldi merasa penasaran dengan orang yang sudah melakukan kekerasan terhadap Grace.


Grace tidak langsung menjawab pertanyaan Rivaldi. Dia menggigit bibirnya, seraya menundukkan kepala dan meremas jari tangannya. Bahasa tubuh yang dilakukan Grace, menunjukkan jika saat ini dia sedang dalam ketakutan. Sehingga Rivaldi dapat melihat kegelisahan di wajah Grace.


" Apa mantan kekasihmu itu yang melakukannya?" Melihat Grace tidak mau mengatakan siapa pelaku yang berbuat kasar, Rivaldi seketika teringat akan pria yang saat itu pernah bersikap kasar pada Grace.


Grace menatap Rivaldi, dia lalu menganggukkan kepalanya perlahan mengiyakan apa yang dikatakan Rivaldi tadi.


Dengusan nafas kasar Rivaldi terdengar ketika Grace menganggukkan kepalanya.


" Si breng sek itu menemuimu?"


" Iya. Dia memaksa agar aku kembali kepadanya," lirih Grace.


" Di mana orang itu tinggal? Dia harus diberi pelajaran agar tidak berani mendekatimu lagi!" Rivaldi terlihat geram dengan sikap pria yang dia ketahui adalah mantan kekasih Grace itu.


" Kamu mau apa? Jangan berbuat macam-macam!" Mengetahui Rivaldi mulai terpancing emosi, Grace melarang Rivaldi melakukan pembalasan kepada pria yang diduga Rivaldi, memukuli Grace.


" Tapi ba jingan itu tidak bisa dibiarkan, Rena! Dia sudah melakukan kekerasa fisik! Jika dilaporkan dia bisa terkena hukuman." geram Rivaldi kembali.


" Oke, kita tidak akan melibatkan Papamu. Biar aku yang memberi pelajaran kepada si breng sek itu!" Rahang Rivaldi terlihat tegas karena kemarahannya.


" Jangan, Aldi! A-aku tidak ingin kamu bermasalah dengan dia." Grace menyentuh pergelangan tangan Rivaldi untuk menahan Rivaldi agar tidak melakukan niatnya.


Sentuhan tangan halus di pergelangan tangan Rivaldi seketika membuat pria itu terkesiap. Bahkan Rivaldi langsung melirik tangan putih mulus Grace yang menyentuh tangannya.


" Oh, maaf ..." Grace segera menarik tangannya melihat Rivaldi terkejut dengan sikapnya tadi.


" Tidak apa-apa ..." Rivaldi langsung dibuat salah tingkah karena sentuhan tangan Grace.


" Terima kasih atas perhatian kamu, Aldi. Tapi, aku rasa sebaiknya kamu tidak usah ikut campur dengan hal ini. Aku takut kamu akan terkena imbasnya jika kamu berurusan dengan Dave." Grace berusaha meredakan amarah Rivaldi.


" Tapi, Rena ...."


" Aku akan Bandung saja. Aku ingin bersembunyi di rumah temanku di sana untuk beberapa waktu." Grace mengatakan rencananya.


" Bandung? Kamu punya kerabat di Bandung? Di daerah mana?" tanya Rivaldi penasaran. Karena dia pun berasal dari Bandung.


" Iya, aku punya teman di daerah Setia Budi. Tapi, aku sendiri belum tahu rumahnya. Aku hanya dikasih tahu alamat temanku itu," jawab Grace.


" Kapan kamu akan pergi ke Bandung?" tanya Rivaldi lagi


" Setelah dari sini aku akan meluncur ke Bandung," sahut putri dari Agatha itu.


" Dengan siapa?" Rivaldi terkesan ingin tahu.


" Sendiri saja," jawab Grace.

__ADS_1


" Biar aku antar kamu ke sana," sahut Aldi.


" Jangan, Aldi! Kamu harus bekerja, kan? Aku tidak ingin menganggu pekerjaan kamu." Grace menolak tawaran Rivaldi yang ingin mengantarnya.


" Tidak masalah, Rena. Kebetulan orang tuaku juga tinggal di sana. Jadi, aku bisa membantumu mencari alamat temanmu itu." Rivaldi begitu bersemangat ingin menemani Grace ke Bandung. Bahkan, dia bersedia menjadi pemandu jalan jika Grace kesulitan menemukan tempat tinggal temannya itu.


" Apa kamu yakin akan meninggalkan pekerjaan kamu, Aldi? Aku tidak enak jika harus mengganggu waktu kamu." Grace masih menolah tawaran Rivaldi yang ingin mengantarnya. Padahal, dia sendiri sedang memancing Rivaldi agar pria itu membawa dirinya ke tempat keluarga Rivaldi di Bandung untuk mencari tahu siapa Mama Rivaldi itu.


" Tentu saja. Kamu tidak usah mengkhawatirkan pekerjaanku. Pekerjaanku bisa aku handle dari luar." Aldi menegaskan jika tidak ada yang perlu dicemaskan Grace soal pekerjaannya itu.


" Baiklah jika kamu memang tidak keberatan. Terima kasih, Aldi. Kamu baik sekali." Grace memasang wajah terharu akan pertolongan dan perhatian Rivaldi terhadapnya.


***


Erlangga menyuruh Koko untuk membawa orang tua dan Kayra kembali ke kantor. Karena dia ingin menemui seseorang tanpa sepengetahuan Helen dan Kayra. Hanya kepada Krisna yang dia beritahu ke mana tujuan dia pergi.


" Di mana dia sekarang?" tanya Erlangga kepada Bondan melalui sambungan teleponnya.


" Dia sedang apa di tempat fitness nya, Tuan." sahut Bondan.


" Oke, saya meluncur ke sana." Erlangga segera mematikan sambungan teleponnya dengan Bondan, lalu menjalankan mobilnya ke fitness club milik Agnes yang alamatnya dikirimkan oleh Bondan.


Sekitar dua puluh menit kemudian, Erlangga sudah berada di depan fitness club milik Agnes itu berada.


Kehadiran Erlangga yang berpakaian lengkap dengan setelan blazer resmi tentu saja menarik perhatian pengunjung tempat itu yang kebanyakan sedang berolah raga.


" Ada yang bisa saya bantu, Mas?" tanya pegawai tempat fitness itu mendekat ke arah Erlangga, karena dia melihat Erlangga sedang mencari seseorang.


" Kamu karyawan di sini?" tanya Erlangga kepada pegawai fitness club.


" Iya, benar. Mas ini mencari siapa?" tanya pegawai tadi.


" Suruh bosmu itu keluar!" Kalimat tegas dan terucap dengan nada dingin terucap dari mulut Erlangga.


" Maaf, Mas ini siapa, ya? Ada keperluan apa ingin bertemu dengan Mbak Agnes?" Bukannya segera memangil Agnes, pegawai fitness club itu justru menanyakan siapa Erlangga dan tujuan Erlangga menemui Agnes.


Erlangga langsung menatap dengan sorot mata tajam pegawai fitness club yang dia anggap terlalu cerewet.


" Cepat panggil bosmu, jika tidak ingin saya jebloskan ke penjara bosmu itu!" Suara Erlangga bernada menghardik membuat pegawai fitness club itu merinding. Apalagi mendapatkan tatapan mata Erlangga setajam elang yang siap menyerang mangsanya.


Bahkan, beberapa pengunjung yang hadir di fitness club itu langsung berbisik melihat wajah Erlangga yang tak bersahabat.


" B-baik, Mas. T-tunggu sebentar." pegawai fitness club bergegas masuk ke ruangan bagian dalam club' kebugaran itu untuk memanggilkan Agnes.


" Erlangga? Astaga, kamu kemari? Ada apa, Erlangga?" Tak berapa lama tertengar suara Agnes berseru kegirangan melihat kehadiran Erlangga di tempat fitness nya. Bahkan Agnes tak segan merangkulkan tangannya di lengan kokoh Erlangga.


Erlangga dengan cepat menepis kasar tangan Agnes yang menempal di lengannya.


" Tidak perlu bermanis-manis di hadapanku, Agnes! Aku sudah muak melihat ulahmu! Pertama kamu menyebarkan fitnah terhadap. istriku! Sekarang kamu melakukan ancaman kepada Mamaku!" Jika saja yang dihadapannya saat ini bukan seorang wanita, ingin rasanya Erlangga meninju wajah Agnes.


" Aku peringatkan kau, Agnes! Menjauhlah dari keluargaku! Sekali saja kau berani menyentuh anggota keluargaku, aku tidak akan segan menjebloskanmu ke penjara!!" Ancaman mulai ditebarkan Erlangga. Membuat Agnes harus menahan nafas dan menelan salivanya. Apalagi beberapa pengunjung tempat fitness nya ada yang segera meninggalkan tempat usahanya itu saat melihat Erlangga berkata dengan nada membentak kepada Agnes, menandakan jika pria itu sedang murka.


*


*


*


Bersambung ....

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2