MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Mulutmu Selalu Menampik


__ADS_3

" Tidak, Pa! Aku tidak setuju dengan keputusan Papa! Kayra akan tetap di sini dan menjadi sekretarisku!" tegas Erlangga menentang keputusan Papanya yang ingin memindah tugaskan Kayra dari perusahaan yang dia pimpin.


" Tapi apa yang kamu lakukan terhadap Kayra itu tidak sepantasnya, Erlangga! Dia itu sekretarismu, tidak seharusnya dia menemani kamu seperti tadi. Atau jangan-jangan ..." Krisna menatap curiga putranya cukup lama, kemudian dia memandang Kayra.


" Kayra, sebaiknya kamu tinggalkan kami berdua." Krisna meminta Kayra untuk meninggalkan dia dan Erlangga berdua di ruangan Erlangga.


" Baik, Pak." Dengan langkah berat Kayra meninggalkan ruangan Erlangga kembali ke tempatnya. Sebenarnya dia sendiri merasa kecewa akan kesalahpahaman yang terjadi. Dia ingin semuanya menjadi clear agar dia tidak disalahkan.


" Erlangga, katakan pada Papa, apa sebenarnya kamu menyukai sekretarismu itu?" Tatapan mata menyelidik kini Krisna arahkan kepada putranya itu.


Erlangga mengerutkan keningnya mendengar tuduhan Krisna kepadanya.


" Apa maksud Papa? Aku ini sudah menikah, Pa. Mana mungkin aku menyukai wanita lain!" Bantahan langsung diucapkan oleh Erlangga.


" Kau sadar jika kau sudah menikah, tapi kau lupa kalau kau sudah membawa wanita lain tidur bersamamu? Erlangga, Papa tahu rumah tanggamu dengan Caroline tidak berjalan seperti yang kamu harapkan, tapi tidak seperti ini juga cara pelampiasannya. Apa kamu tidak kasihan melihat Kayra menangis seperti tadi?" Krisna mencoba menasehati Erlangga agar dia tidak memainkan api yang akan menimbulkan percikan dalam rumah tangganya bersama Caroline. Krisna akhirnya sadar, dia sendiri pun merasa kasihan kepada Kayra karena telah menjadi korban kelakuan putranya.


" Bukankah Papa yang membuat Kayra ketakutan dan menangis?" Erlangga justru melempar kesalahan kepada Papanya.


" Kamu menyalahkan Papa atas ulah kamu sendiri Erlangga?" Sambil menggelengkan kepala Krisna benar-benar tidak menyangka dengan sanggahan yang diucapkan putranya tadi.


" Apapun yang Papa lihat tadi, semua itu tidak seperti yang Papa pikirkan!" Erlangga kembali menegaskan jika dirinya tidak menjalin hubungan terlarang dengan Kayra.


" Oh ya, ada apa Papa datang kemari?" Erlangga baru menanyakan apa yang menyebabkan Papanya itu datang ke kantornya.


" Sebaiknya kita bicarakan nanti saja, Papa terlalu pusing dengan kelakuan kamu, Erlangga. Besok siang temui Papa di kantor Papa." Sepertinya Krisna sudah kehilangan semangat untuk menceritakan apa yang membuat dirinya datang ke kantor Erlangga siang ini. Krisna bahkan melangkahkan kakinya meninggalkan ruang kerja Erlangga.


Saat keluar dari ruangan Erlangga, Krisna tidak menemukan Kayra di mejanya karena saat keluar dari ruangan Erlangga langsung berlari ke dalam toilet untuk melepaskan tangisnya.


Selepas Krisna turun menggunakan lift khusus executive perusahaan, Kayra pun keluar dari toilet. Bersamaan itu juga Erlangga keluar dari ruangannya, hingga mereka berdua saling berpandangan.


" Masuklah ke ruangan saya!" Erlangga lalu menyuruh Kayra masuk ke dalam ruangannya. Namun Kayra nampak ragu untuk melangkahkan kakinya ke dalam ruangan bosnya itu.

__ADS_1


" Masuklah, kita harus bicarakan hal ini!" Erlangga kembali mengulang perintahnya karena Kayra tak cepat mengikuti apa yang dia minta.


Akhirnya Kayra mengikuti apa yang diperintahkan Erlangga kepadanya.


" Kamu tidak perlu memikirkan apa yang dikatakan Papa saya. Kamu tidak akan pindah dari sini."


Kayra mendengus pelan, dia pikir Erlangga akan meminta maaf atas perbuatannya yang telah membuat dirinya terpojok seperti saat ini, namun Erlangga justru lebih memikirkan soal rencana pindah tugas dirinya.


" Saya tidak masalah jika Pak Krisna ingin memutasi saya dari sini, Pak." Mungkin pilihan yang diberikan Krisna lebih baik bagi Kayra daripada dia harus berhadapan dengan atasan seperti Erlangga, yang kadang memberi perintah tak sewajarnya kepada dirinya.


" Tidak ada yang bisa memindahkan kamu dari sini Kayra, termasuk Papa saya!" Erlangga dengan cepat menangkis ucapan Kayra.


" Tapi, Pak. Sejujurnya ... saya juga tidak merasa nyaman dengan sikap Bapak terhadap saya belakangan ini. Ini yang saya takutkan, setelah Pak Wira, sekarang Pak Krisna sendiri yang memergokin sikap Bapak yang seperti ini terhadap saya." Kayra akhirnya mengeluarkan apa yang menjadi beban pikirannya tentang sikap Erlangga.


Erlangga mengusap kasar wajahnya. Dia sendiri tidak mengerti mengapa sikapnya terhadap Kayra berubah, dia begitu perhatian dan seakan butuh akan kehadiran sosok Kayra. Apalagi sikap Kayra yang lembut dan tidak pernah membantah apa yang diperintahkan olehnya.


" Saya juga tidak ingin dicap jelek sebagai wanita yang ingin merusak rumah tangga Bapak dan Ibu Caroline." Kayra menundukkan kepalanya. Sungguh sakit hatinya jika dia dituding sebagai penghancur rumah tangga orang lain apalagi saat ini dia tahu hubungan Erlangga dan istrinya tidak berjalan baik-baik saja.


" Saya membutuhkan kamu ..." lanjut Erlangga dengan nada memohon.


" Pasti akan ada banyak karyawan yang bisa membantu Bapak walaupun saya tidak di sini lagi Pak."


" Saya tegaskan, kamu akan tetap bersama saya, tidak akan pindah ke mana-mana!" Melihat Kayra yang ingin mengikuti saran Papanya, Erlangga seakan meradang hingga berkata dengan nada yang sedikit menyentak hingga membuat Kayra kaget.


" Kembali ke mejamu dan jangan sekali lagi menentang perintah saya!" Perintah bernada ancaman kembali keluar dari mulut Erlangga membuat Kayra keluar dari ruang kerja Erlangga tanpa bicara sepatah katakan, suatu hal yang jarang dia lakukan karena biasanya dia selalu berpamitan jika meninggalkan ruang kerja bosnya itu.


***


Erlangga meneguk wine lalu mengusap kasar wajahnya. Sementara pandangan matanya menatap lampu warna warni yang berasal dari gedung-gedung pencakar langit di sekeliling dia berada saat ini.


" Aku rasa sebaiknya kau nikahi saja sekretarismu itu, Lang!"

__ADS_1


Erlangga menoleh ke arah Henry yang duduk di sebelahnya. Setelah jam kerja berakhir, Erlangga mengajak Henry bertemu dan dia menceritakan kepada sahabatnya itu soal kejadian siang tadi di kamar istirahatnya bersama Kayra.


" Apa kau sudah gi la??" Erlangga menganggap ucapan Henry hanya ungkapan konyol semata.


" Yang gila itu kamu, Lang! Hahaha ..." Tawa kencang langsung terdengar dari mulut Henry.


" Kau membutuhkan Kayra di dekatmu, bukan hanya sebagai sekretaris, tapi layaknya seperti pendampingmu, Lang. Kau membawa Kayra menemanimu malam hari, dan kau meminta Kayra menemanimu tidur di kamar, bukankah seharusnya itu pekerjaan istrimu?" Henry menyeringai dengan melepaskan kalimat sindiran.


" Jadi menurutku sebaiknya kau nikahi saja sekretarismu itu," lanjut Henry.


" Aku ini sudah menikah, mana mungkin aku menikahi Kayra!" Adalah hal yang mustahil menurut Erlangga jika dia harus menikahi Kayra, karena dia mempunyai istri dan dia juga sangat mencintai istrinya.


" Segala sesuatu mungkin saja bisa terjadi, Lang. Kau ini seorang CEO, pengusaha kaya raya, bukan hal yang aneh jika kau punya dua istri, bukan hanya dua ... tiga, empat atau selusin pun bisa kau lakukan jika kau mau." Henry berkelakar.


" Aku tidak mungkin mengkhianati Caroline." Erlangga tetap menepis saran dari Henry karena dia merasa jika dia tidak bisa membagi cintanya kepada wanita lain.


" Mempunyai istri lebih dari satu itu tidak harus ada cinta, yang penting kau bisa menyalurkan has ratmu sebagai pria normal. Sementara istri pertamamu sibuk mengejar karirnya, istri keduamu selalu setia dan siap melayanimu kapanpun kau mau. Lagipula sekretarismu itu cantik, tak kalah dengan Caroline, daripada kau hanya ditemani namun tidak bisa dimiliki, lebih baik kau nikahi agar bisa kau nikmati."


" Itu saran gi la, Hen!"


" Mulutmu selalu menampik namun alam bawah sadarmu selalu mencari sekretarismu itu." Henry bangkit dan menepuk pundak Erlangga.


" Selamat menikmati kegalauanmu, Bos! Pikirkan saranku baik-baik. Aku balik dulu, Emma pasti menungguku." Henry lalu berlalu meninggalkan Erlangga yang semakin bingung memikirkan saran yang diberikan Henry kepadanya.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2