MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Lupakan Ambisimu!


__ADS_3

" Selamat pagi, Tuan." Melihat kemunculan Erlangga dari pintu, Atik segera menghampiri dan menyapa majikannya itu. Atik merasa terkejut dengan kedatangan Erlangga pagi ini.


" Di mana, Kayra?" tanya Erlangga kepada Atik yang menyambutnya


" Nyonya sedang di dapur, Tuan. Saya sudah melarang Nyonya untuk memasak, tapi Nyonya memaksa." Atik takut Erlangga akan marah dan menyalahkannya karena dirinya membiarkan Kayra bergelut dengan perabotan dapur padahal Kayra adalah istri dari majikannya.


" Tidak apa-apa. Saya yang meminta dia memasak untuk saya." Erlangga melangkahkan kaki menuju arah dapur dengan Atik yang berjalan mengekorinya.


Erlangga melihat Kayra yang sedang memasukan makanan ke dalam wadah bekal. Seulas senyuman terkulum di bibirnya. Dia senang melihat Kayra yang dengan cepat menuruti apa yang diinginkannya. Erlangga menoleh ke belakang karena dia menyadari Atik mengikuti langkahnya. Dengan gerakan tangannya Erlangga menyuruh Atik untuk pergi menjauh dan tidak mengganggu dia dan Kayra. Dan Atik pun dengan cepat menuruti apa yang diminta Erlangga. Setelah Atik menjauh, Erlangga lalu berjalan perlahan dengan mengendap agar Kayra tidak menyadari kedatangannya.


Kayra memejamkan matanya saat penciumannya merasakan aroma maskulin yang sudah terbiasa singgah di indra penciuamannya. Dia langsung mengerjapkan matanya karena merasa berhalusinasi dengan kehadiran Erlangga hanya karena dia mencium parfum yang selalu dikenakan Erlangga. Namun Kayra tersentak kaget saat tiba-tiba dia merasakan sebuah tangan melingkar bahkan kini memeluk erat pinggangnya, dan aroma maskulin yang dia hirup tadi kini benar-benar terasa nyata masuk ke dalam rongga hidungnya.


" Apa yang kamu masak?" bisik Erlangga yang memeluk Kayra dari belakang.


" B-bapak?" Kayra tercengang dengan kehadiran Erlangga pagi itu di tempatnya.


" B-bapak ada di sini?" Seakan tak percaya dengan kehadiran Erlangga, Kayra terus mengerjapkan matanya.


" Memang yang kamu lihat siapa yang ada di dekatmu ini?" Erlangga lalu memberikan kecupan di pipi Kayra.


" Kamu masak apa? Hmmm, aroma sangat menggugah selera, rasanya perut saya menjadi lapar." Erlangga menarik kursi yang ada di meja makan lalu mendudukkinya.


" Bapak ada apa pagi-pagi kemari?" Kayra masih merasa heran dengan kedatangan Erlangga pagi ini.


" Saya ingin sarapan denganmu. Cepatlah, rasanya saya sudah terlalu lapar. Kamu ajaklah Ibumu untuk sarapan bersama." Erlangga seakan tidak sabar untuk menyantap makanan yang sudah dimasak oleh Kayra.


" Mbak ...!" Erlangga berteriak memanggil ART di rumah itu.


" Saya, Tuan." Atik yang tidak jauh dari dapur langsung berlari saat Erlangga memanggil siapapun yang ada di dekat dapur.


" Panggilkan Ibu Sari untuk sarapan pagi bersama." Erlangga memerintah Atik untuk memanggilkan Ibu mertuanya untuk menyantap sarapan pagi bersama.


" Baik, Tuan." Dengan berlari kecil Atik mengikuti perintah Erlangga memanggil ibu Sari untuk sarapan.


Kayra yang masih terkejut dengan kedatangan Erlangga segera mengambilkan piring untuk sarapan dirinya, Erlangga dan juga Ibunya.


" Apa kamu masak sendiri?" tanya Erlangga memperhatikan masakan yang terhidang di meja makan.


" Iya, Pak." sahut Kayra. " Apa Bapak suka makanan ini?" tanya Kayra karena dia takut Erlangga tidak menyukai menu makanan yang dia masak.


" Sepertinya saya akan suka apapun yang kamu masak," sahut Erlangga dengan tersenyum bahagia. Inilah yang sebenarnya dia inginkan, mempunyai istri yang bisa mengurus dan melayaninya selayaknya seorang istri kepada suaminya.


" Tuan? Tuan ada di sini?" Ibu Sari yang sudah sampai di ruang makan terlihat kaget dengan kehadiran Erlangga yang sudah duduk menghadap meja makan.


" Ibu, mari kita sarapan dulu." Erlangga minta Ibu mertuanya untuk ikut bergabung dengannya.


Ibu Sari menoleh ke arah Kayra, dia ingin mendapat jawaban dari anaknya kenapa Erlangga bisa ada di rumah itu sepagi ini, padahal semalam pria itu sudah berpamitan pulang kepadanya.


" Tuan sejak kapan ada di sini?" tanya Ibu Sari heran.


" Ibu, panggil saja nama saya, tidak usah pakai sebutan Tuan. Saya ini menantu Ibu, rasanya tidak pantas Ibu memanggil saya dengan sebutan itu." Mendengar Ibu mertuanya masih saja memanggilnya dengan sebutan Tuan, Erlangga meminta agar Ibu Sari berhenti memanggilnya dengan sebutan itu.


" Tapi saya tidak terbiasa." Ibu Sari merasa jika dirinya masih kurang pantas menjadi Ibu mertua seorang bos kaya raya seperti Erlangga.


" Ibu harus membiasakan diri, agar anak Ibu juga terbiasa tidak memanggil saya dengan sebutan 'Bapak' jika di luar kantor." Erlangga sengaja menyindir Kayra yang masih saja memanggilnya dengan formal meskipun tidak berada di lingkungan kantor dan di luar jam kerja.


Kayra langsung mendelik saat Erlangga menyindirnya, apalagi saat dilihatnya pria itu sedang mengulum senyuman meledeknya.


" Baiklah, Nak." Ibu Sari memilih sebutan Nak kepada Erlangga seperti dia memanggil Kayra.


" Apa Ibu yang mengajarkan Kayra memasak? Saya pernah mencoba masakannya dan ternyata enak. Saya sangat suka masakan Kayra, Bu." Erlangga memuji keahlian Kayra dalam hal memasak.


" Iya, Kayra memang senang membantu Ibu di dapur sejak remaja. Bukan hanya pekerjaan di dapur, dia memang senang membantu pekerjaan Ibu di rumah." Tidak bermaksud membanggakan Kayra di depan Erlangga tapi memang seperti itulah kenyataannya, hingga Ibu Sari mengatakan bagaimana sebenarnya Kayra yang rajin membantunya mengerjakan pekerjaan rumah sehari-hari.


" Berarti saya sangat beruntung bisa mendapatkan Kayra." Erlangga kembali mengembangkan senyuman, memang nampak aura kebahagian di wajah tampan pria itu.


Perkataan Erlangga membuat Kayra dan Ibunya saling berpandangan. Mereka tidak beranggapan menjadi istri simpanan Erlangga bukanlah suatu keberuntungan menurut Kayra.


" Saya hanya berharap agar Kayra tidak menderita dengan pernikahan ini, Nak Erlangga" Ibu Sari berharap agar posisi Kayra sebagai istri siri Erlangga tidak membuat putrinya menderita. Bukan menderita dalam hal materi, tapi karena tekanan batin jika harus mendapatkan penolakan dari keluarga Erlangga jika status Kayra suatu hari diketahui oleh keluarga Erlangga.


" Saya menjamin Kayra tidak akan menderita, Bu. Saya tidak akan membiarkan orang mengusik Kayra, meskipun itu keluarga saya sendiri." Erlangga meyakinkan Ibu Sari agar tidak khawatir dan percaya kepadanya jika dia akan mampu melindungi Kayra.

__ADS_1


***


Setelah menjalankan sholat Dzuhur, Kayra segera menyiapkan makan siang untuk Erlangga dengan bekal yang dia masak dari rumah. Dia menuju ruang dapur khusus untuk petinggi kantor yang biasa dilayani oleh Ibu Nina.


" Bu, saya minta piring sendok sama gelas untuk Pak Erlangga." Kayra meminta bantuan Ibu Nani untuk menyiapkan peralatan makan untuk Erlangga.


" Bapak sudah pesan makanannya, Mbak?" tanya Ibu Nani karena jika Erlangga tidak makan di luar kantor, maka dialah yang memesankan makanan untuk Erlangga di kantin kantor.


" Bapak sudah beli makanan di luar, Bu." Tidak mungkin Kayra mengatakan jika Erlangga akan makan dengan makanan yang dibawa olehnya hingga dia harus berbohong terhadap Ibu Nani.


Setelah mengambilkan peralatan makan untuk Erlangga dan juga untuk dirinya, Kayra kembali ke tempatnya dan mengambil wadah bekal makanan yang berisi nasi, lauk dan juga buah yang dia bawa dari rumah di mejanya lalu masuk ke ruang kerja Erlangga.


Kayra menata peralatan makan dan juga makanan di atas meja makan. Setelah Wira yang sejak tadi berbincang dengan Erlangga berpamitan untuk makan siang di luar kantor. Kayra kemudian mengambilkan nasi untuk Erlangga.


" Tambah lagi nasinya, tumis tunanya kasih yang banyak." Karena tadi pagi dia sudah mencoba tumis tuna buncis buatan Kayra ternyata memang lezat membuat Erlangga meminta Kayra menambah porsi makanan untuknya.


Ddrrtt ddrrtt


Suara ponsel Erlangga berdering saat Erlangga hendak menyuapkan makanan ke mulutnya. Erlangga melirik ponsel yang ada di meja kerjanya, namun dia tidak berniat mengambil ponsel itu hingga bunyi dering telepon itu mati.


Tak lama berselang, ponsel Erlangga kembali berbunyi tapi Erlangga masih saja mengacuhkannya, membuat Kayra berdiri ingin mengambilkan ponsel itu dan menyerahkannya kepada Erlangga.


" Biarkan saja!" Melihat Kayra hendak mengambil ponsel, Erlangga melarang Kayra dan menyuruh Kayra kembali duduk untuk melanjutkan makannya.


" Kalau telepon itu penting bagaimana, Pak?" Kayra merasa Erlangga perlu melihat siapa yang menelepon saat ini. Dia tetap melangkah menuju meja kerja Erlangga untuk melihat siapa yang menghubungi Erlangga.


Kayra melihat nama Wira yang muncul di layar ponsel Erlangga. Dia langsung menunjukkan ponsel itu kepada Erlangga.


" Pak Wira yang telepon, Pak." ujar Kayra memberitahukan siapa yang menghubungi Erlangga.


" Bawakan kemari ...!" Erlangga meminta Kayra menyerahkan ponselnya.


" Ada apa, Pak Wira?" Erlangga segera mengangkat panggilan telepon dari Wira, karena Wira belum lama keluar dari kantor tapi tiba-tiba assistennya itu meneleponnya, hingga dia berpikir ada hal penting yang ingin disampaikan oleh Wira.


" Maaf saya mengganggu makan siang Anda, Pak Erlangga. Saya hanya ingin memberitahu jika tadi saya melihat mobil Ibu Caroline masuk ke pekarangan kantor. Sepertinya Ibu Caroline akan menemui Anda, Pak."


Bola mata Erlangga membulat saat Wira mengatakan melihat mobil Caroline yang ada di pekarangan gedung perkantorannya.


" Oke, terima kasih atas infonya, Pak Wira." Erlangga segera mematikan panggilan telepon dari Wira kemudian bangkit dari duduknya


" Ada Caroline kemari," ucap Erlangga segera bangkit dan menarik tissue untuk mengelap mulutnya.


Kayra terkesiap mendengar Caroline ada di kantor itu. Dengan cepat Kayra segera membereskan bekal makannya yang ada di meja makan ruangan Erlangga karena dia takut ketahuan Caroline jika dia makan satu meja dengan Erlangga.


" Kamu bersembunyilah di kamar itu." Erlangga menunjuk kamar istirahatnya. Dia juga membantu membawakan wadah bekal makan milik Kayra dan membawa ke kamar.


" Habiskan makananmu dan tunggulah di sini. Tutup pintunya dan jangan membuka pintu sebelum saya panggil, oke!?" Perintah Erlangga menyuruh Kayra bersembunyi di dalam kamarnya.


" Saya tidak mau menunggu di sini, saya sebaiknya keluar saja, Pak." Kayra berlari ke luar ruangan kerja Erlangga dan meninggalkan wadah bekal makanannya di kamar istirahat Erlangga.


" Apa suami saya ada, Kayra?" Saat Kayra keluar dari ruangan Erlangga, Caroline sudah menyambut di depan pintu bersama seorang pria tampan di sebelahnya.


" Hmmm, a-ada, Bu. Bapak sedang makan di dalam." Sebisa mungkin Kayra berusaha untuk tidak gugup berhadapan dengan Carolone, padahal saat ini degup jantungnya berpacu sangat kuat, karena merasa kaget Caroline sudah berada tepat di hadapannya saat ini.


" Kenapa muka kamu pucat seperti itu? Apa kamu sakit lagi?" tanya Caroline kembali.


" Ah, tidak, Bu. Saya hanya kaget saja tadi." Kayra masih memegangi dadanya.


" Oh ..." Caroline kemudian masuk ke dalam ruangan Erlangga. Sementara Wisnu yang datang bersama Caroline terus memandang Kayra dengan lekat.


" Maaf, apa ada yang salah dengan saya, Pak?" Merasa diperhatikan Wisnu tanpa kedip membuat Kayra memperhatikan tubuhnya sendiri sambil mencari apa ada yang aneh dengan dirinya.


" Kamu sekretaris Erlangga?" tanya Wisnu memandangi Kayra dari ujung rambut sampai ke bawah.


" I-iya, Pak." sahut Kayra sedikit gugup karena diperhatikan seperti itu oleh Wisnu.


" Cantik ..." ucap Wisnu menarik satu sudut bibirnya ke atas.


Kening Kayra berkerut mendengar ucapan Wisnu, namun dia tidak ingin termakan pujian Wisnu.


" Apa kamu berminat menjadi model?" tanya Wisnu kepada Kayra.

__ADS_1


" Tidak, Pak." bantah Kayra dengan cepat.


" Ah, sayang sekali. Padahal kamu sangat cocok jika menjadi model," ujar Wisnu.


" Maaf, Pak. Saya tidak berbakat dengan dunia model." Kayra memberi jawaban agar Wisnu tidak terja menawarinya.


" Saya bisa mengajarimu menjadi model. Walaupun postur tubuh kamu tidak setinggi Caroline, tapi kamu tidak kalah cantik dari Caroline." Wisnu membujuk Kayra agar mau menjadi model.


Kayra berniat kembali ke tempatnya, dia tidak ingin meladeni omongan teman pria Caroline yang sedang mencoba mempengaruhinya.


" Tidak, Sayang! Aku tidak ingin kita berpisah! Aku tidak ingin mengakhiri pernikahan ini!"


Suara teriakan Caroline terdengar dari dalam ruang kerja Erlangga yang tak tertutup, membuat Kayra menghentikan langkahnya dengan hati berdebar-debar dan jantung berdetak kencang mendengar kata-kata yang terucap dari mulut Caroline yang menolak untuk berpisah.


Saat Caroline masuk ke dalam ruangan kerja Erlangga ...


" Hai, Sayang ... kenapa tadi pagi kamu tidak membangunkanku waktu berangkat ke kantor?" tanya Caroline sambil menarik kursi makan dan mendudukinya. " Kau makan apa, Sayang?" Caroline memperhatikan Erlangga yang terlihat lahap menyantap makanan.


" Ada apa kamu kemari, Caroline?" tanya Erlangga.


" Sayang, aku ingin memberitahu kamu kalau aku mendapatkan tawaran untuk menjadi model iklan kosmetik terkenal dari Jerman. Rencananya iklan itu akan ditayangkan di seluruh benua Asia." Dengan sangat bangga Caroline menceritakan tawaran kerja yang diterimanya.


Erlangga melirik dan memperhatikan wajah istrinya yang menampakkan wajah bahagia.


" Dan apa hubungannya kedatanganmu kemari dengan tawaran iklan itu?" Sepertinya Erlangga sudah bisa menebak akan kemana arah pembicaraan Caroline.


" Besok aku harus ke Jerman untuk membicarakan soal tawaran iklan itu, Sayang." Caroline mengatakan rencananya yang akan pergi menemui pihak Advertising dan perusahaan kosmetik di Jerman yang akan memilihnya menjadi model iklan kosmetik tersebut.


Erlangga meletakkan sendok dan garpunya saat mendengar Caroline mengatakan jika wanita yang masih berstatus istri sahnya berencana pergi ke Jerman.


" Sampai kapan kamu akan terus mengejar ambisimu itu, Caroline?" Erlangga bahkan bangkit dari duduknya. Setiap kali Caroline meminta ijin untuk mengejar karirnya, selalu saja perdebatan terjadi di antara pasangan suami istri itu.


" Sayang, ini kesempatan emas untukku." Caroline mencoba membujuk Erlangga.


" Kesempatan emas, kesempatan terbaik ... berapa kali kamu selalu mengunakan alasan itu untuk ambisimu itu!?" geram Erlangga, sepertinya dia sudah kesal dengan setiap alasan yang diberikan Caroline yang membuat istrinya itu jarang ada menemaninya di rumah.


" Tapi ini benar-benar iklan penting untuk karirku, Sayang." Caroline membela dirinya jika memang apa yang ada di depannya adalah kesempatan terbaik untuk melambungkan namanya sebagai model kelas dunia.


" Kita tidak bisa terus seperti ini, Caroline. Sebaiknya kita pikirkan lagi apa kita masih bisa bertahan dengan pernikahan kita ini!?" Erlangga sepertinya sudah pesimis dengan nasib pernikahannya dengan Caroline.


" Sayang, jangan bicara seperti itu!" Caroline tentu tidak suka dengan kalimat yang diucapkan oleh suaminya.


" Kamu selalu memprioritaskan karirmu, Caroline! Apa kurangnya aku? Apa hartaku tidak cukup memuaskanmu sampai kamu harus bekerja?" ketus Erlangga.


" Sayang, ini bukan soal materi. Ini soal keinginanku, cita-citaku untuk menjadi model terkenal." Caroline menepis anggapan Erlangga yang menyangka dirinya hanya mengejar materi.


" Lalu untuk apa kamu menikah jika karir lebih penting untukmu, Caroline?" tanya Erlangga bernada menyindir.


" Aku menikah karena aku mencintaimu, Sayang. Saat kamu mengajakku menikah, bukankah kamu sudah berjanji jika kamu tidak akan menghalangiku mengejar karirku sebagai seorang model? Kenapa sekarang kamu selalu menyalahkanku kalau aku pergi karena pekerjaanku? Kenapa kamu selalu mempermasalahkan hal ini terus-menerus?" Caroline menganggap jika Erlangga terlalu egois karena tidak bisa mengerti keinginannya.


" Jika itu yang masih saja kau pertahankan, aku rasa tidak ada alasan lagi untuk kita tetap berada dalam pernikahan ini, Caroline! Sebaiknya kita akhiri saja pernikahan kita ini!" tegas Erlangga menatap tajam ke arah istrinya yang selalu menentang dirinya dan tidak pernah mengubris larangannya.


Caroline terbelalak mendengar ucapan Erlangga yang berniat mengakhiri pernikahan dengannya.


" Tidak, Sayang! Aku tidak ingin kita berpisah! Aku tidak ingin mengakhiri pernikahan ini!" teriak Caroline dengan air mata mulai mengalir di pipinya.


" Apa kamu mau melupakan ambisimu dan meninggalkan karirmu sebagai model?" Erlangga menantang Caroline untuk meninggalkan apa yang dirintis wanita itu sejak remaja.


" Kau terlalu egois, Erlangga!" Suara Wisnu dari arah pintu terdengar dengan nada geram. Saat mendengar teriakan Caroline, Wisnu yang sedang berbincang dengan Kayra langsung masuk ke dalam ruang kerja suami dari Caroline.


" Kau tidak usah ikut campur, Wisnu!" Erlangga menatap dengan sorot mata bak elang kelaparan yang siap menerkam mangsanya. Dia tidak suka dengan kemunculan Wisnu karena dia menganggap jika Wisnu lah yang selalu mempengaruhi Caroline terus mengejar ambisinya sebagai model.


" Aku berhak ikut campur karena Caroline adalah modelku. Dia terikat kontrak dengan sebuah agensi dan tidak bisa begitu saja menghentikan kontrak kerja itu." Tidak ingin kehilangan Caroline sebagai model andalannya, Wisnu berusaha mempertahankan Caroline.


Apa yang dikatakan Wisnu semakin membuat Erlangga semakin meradang, dia merasa ditantang oleh manager istrinya itu. Harga dirinya sebagai laki-laki dan sebagai seorang suami merasa diremehkan oleh Wisnu dan juga Caroline. Tangannya bahkan sudah mengepal dan siap melayangkan tinju ke wajah manager dari istrinya itu.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2