
Sudah satu Minggu ini Kayra membawa Baby Devan ke kantor Erlangga atas permintaan suaminya. Kayra memang ingin menjadi istri yang baik dengan mengabdikan diri dengan mengikuti apa yang diinginkan suaminya itu, termasuk membawa Baby Devan untuk menemani Papanya di kantor.
Rumah kediaman Erlangga.
" Selamat siang, Nyonya." Atik menyapa Helen yang siang itu berkunjung ke rumah yang dihuni anak, menantu dan cucu pertamanya.
" Kayra mana, Tik? Cucu saya sedang apa?" Helen tidak tahu jika sudah satu Minggu ini memantu dan cucunya itu dibawa ke kantor oleh Erlangga.
" Nyonya Kayra sama Baby Devan ikut ke kantornya Tuan Erlangga, Nyonya." Atik memberitahukan di mana Kayra dan Baby Devan berada saat ini.
" Mereka ke kantor lagi?" Saat dua hari lalu Helen menelepon Kayra, Kayra mengatakan jika mereka sedang berada di kantor Erlangga, hingga dirinya merasa heran jika sekarang pun Kayra dan Devan ada di kantor Erlangga kembali.
" Maaf, Nyonya. Memang sudah satu Minggu ini Nyonya Kayra dan Baby Devan dibawa Tuan ke kantornya, Nyonya." Atik menjelaskan.
" Mereka ikut ke kantor Erlangga seminggu ini?" Helen terkejut mendengar laporan Atik.
" Iya, Nyonya." sahut Atik menganggukkan kepalanya.
" Lho, ada Ibu Helen?" Ibu Sari yang turun dari tangga menyapa besannya itu.
" Bu Sari, apa benar selama satu Minggu ini Kayra dan Baby Devan dibawa Erlangga ke kantornya?" Helen langsung mengkonfirmasi kebenaran cerita Atik tadi.
" Oh, benar, Bu Helen. Itu atas permintaan Nak Erlangga, katanya agar lebih bersemangat dalam bekerja karena didampingi oleh Devan dan Kayra, Bu." Ibu Sari mengiyakan apa yang ditanyakan oleh Helen.
" Ya ampun, anak itu ..." Helen mende sah mengetahui kelakuan anaknya yang menurutnya terlalu berlebihan. " Devan itu masih kecil, kasihan kalau harus ikut ke kantor. Kasihan juga Kayra, dia pasti jenuh seharian di kantor terus." Helen langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi putranya itu.
Melihat Helen nampak marah mengetahui sikap Erlangga yang membawa anak istrinya ke kantor, Ibu Sari merasa tidak enak hati karena dirinya secara tidak langsung mengadukan menantunya itu kepada Helen.
" Ck, tidak diangkat teleponnya!" Helen semakin kesal karena ponsel Erlangga tidak dapat dihubungi. Helen pun kini mencoba menghubungi Kayra.
" Assalamualaikum, Ma." Suara lembut Kayra terdengar di telinga Helen saat panggilan teleponnya terjawab.
" Waalaikumsalam ... Kayra, di mana suami kamu?" Helen langsung menanyakan keberadaan Erlangga.
" Hmmm, Mas Erlangga sedang rapat, Ma. Ada apa, Ma? Nanti kalau rapatnya sudah selesai akan Kayra suruh menghubungi Mama." Kayra tidak curiga jika Mama mertua sekaligus Tantenya itu berniat menegur Erlangga.
__ADS_1
" Kayra, kenapa kamu tidak memberitahu Mama jika Erlangga memaksa kalian untuk menemani dia di kantor? Kasihan Devan, kamu juga pasti jenuh kalau setiap hari berada di sana." Helen menegur Kayra, karena Kayra menutupi kelakuan sang suami tanpa memberitahu dirinya atau Krisna.
" Hmmm, iya, Ma. Mas Erlangga ingin selalu dekat sama Devan, makanya Mas Erlangga menyuruh kami ikut." Kayra berusaha memaklumi permintaan Erlangga.
" Tidak bisa seperti itu, Kayra! Masa kalian harus ke kantor setiap hari?! Ya sudah, Mama ke sana sekarang. Mama akan menasehati suami kamu itu agar tidak hanya memikirkan dirinya sendiri saja! Assalamualaikum ..." Helen berniat mengunjungi kantor Erlangga untuk menegur putranya itu.
" Waalaikumsalam, Ma." Kayra masih sempat membalas salam Mama mertuanya saat Helen berpamitan ingin mengakhiri percakapan teleponnya.
" Kalau begitu saya pamit akan ke kantor Erlangga dulu, Bu Sari. Assalamualaikum ..." Helen pun berpamitan kepada besannya.
" Baik, Bu Helen. Waalaikumsalam ..." balas Ibu Sari mengantar Helen sampai ke depan hingga naik ke dalam mobil yang dikendarai oleh Syamsul.
" Kita akan ke mana, Bu?" tanya Syamsul saat Helen sudah masuk ke dalam mobil kembali. Dia baru sebentar menikmati rokoknya, Helen sudah memanggilnya kembali.
" Ke kantor Bapak," sahut Helen seraya menghubungi suaminya. Dia ingin menjemput suaminya, agar ikut bersama dirinya pergi ke kantor Erlangga untuk menasehati putra mereka itu.
" Baik, Bu." Syamsul kemudian menjalankan mobil yang dikendarainya keluar dari rumah tinggal Erlangga.
" Assalamualaikum, Pa. Papa ada di kantor, kan? Pa, Mama mau jemput Papa sekarang. Kita akan ke kantor Erlangga. Anak Papa itu membuat ulah. Masa dia memaksa Kayra dan Devan untuk ikut ke kantor setiap hari? Sudah seminggu ini Erlangga membawa mereka. Dia itu egois sekali, hanya memikirkan diri sendiri, tidak kasihan terhadap anak istrinya." Helen langsung mengadukan kelakuan Erlangga kepada suaminya.
" Waalaikumsalam, Ma. Mama tahu dari mana?" tanya Krisna dari seberang.
" Tapi, kalau sekarag ini Papa tidak bisa, Ma. Satu jam ke depan Papa ada janji bertemu relasi bisnis dari Tiongkok. Mama saja yang pergi ke kantor Erlangga. Jika urusan Papa sudah selesai, Papa usahakan ke sana." Krisna menyuruh istrinya dulu yang menemui Erlangga, karena ada kesibukan yang tidak bisa Krisna tinggalkan.
" Ya sudah kalau begitu. Mama duluan ke sana, deh. Mama tutup teleponnya ya, Pa? Assalamualaikum ...."
" Waalaikumsalam ...."
Helen lalu menaruh ponselnya kembali ke dalam tasnya.
" Kita ke kantor Erlangga saja, Syamsul." Helen mengarahkan supir pribadinya itu untuk mengganti arah tujuan.
***
" Devan tidur, Sayang?" Erlangga baru selesai memimpin rapat dan langsung kembali ke ruang kerjanya untuk menemui Kayra dan Baby Devan.
__ADS_1
" Iya, Mas. Baru saja aku taruh ..." Kayra menepuk paha Baby Devan yang baru selesai menyesap ASI dalam pangkuannya.
Erlangga mendekat lalu menciumi pipi bulat Baby Devan,
" Jangan diganggu dong, Mas. Nanti bangun lagi!" tegur Kayra melihat suaminya yang terus saja mencium pipi putra pertama mereka.
" Aku gemas, Sayang." sahut Erlangga terkekeh.
" Oh ya, Mas. Tadi Mama Helen telepon, katanya Mama akan kemari." Helen teringat telepon dari Helen lalu menyampaikan kepada suaminya itu.
" Oh ya? Mama ada apa kemari, Sayang?" tanya Erlangga.
" Hmmm, mungkin Mama,kangen. sama Adek. Pas tadi Mama ke rumah ternyata Adek tidak ada." Kayra tidak ingin mengatakan jika Helen ingin menegur Erlangga.
" Sayang, apa kamu tidak melaporkan aku ke Mama?" Erlangga kini memperhatikan Kayra yang seperti menyembunyikan sesuatu. Kini dia bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke sisi tempat tidur yang diduduki istrinya itu.
" Bukan aku yang melaporkan, Mas." Tak ingin suaminya itu terus curiga, Kayra langsung menepis tuduhan suaminya itu.
" Benar bukan kamu?" Kini Erlangga menarik lengan Kayra agar istrinya itu berdiri.
" Iya, Mas. Bukan aku ...!" Kayra kembali menyangkal.
Erlangga mengulum senyuman. Tangannya kini menarik tengkuk Kayra dan merapatkan kedua kening mereka.
" Aku percaya bukan kamu pelakunya, Sayang." Erlangga lalu menautkan bibirnya dengan bibir Kayra, memberikan sentuhan manis dan lembut di bibir peach Kayra.
" Mas, sudah ...! Nanti ada Mama datang ..." Kayra segera mengakhiri aktivitas in tim mereka, karena takut Helen akan tiba-tiba muncul di ruangan itu.
*
*
*
Yuk dukung novelku TAWANAN BERUJUNG CINTA. sedikit curhat Author aja, sekarang ini regulasi di NT agak berbeda. Poin pertumbuhan. author lebih banyak diturunin daripada naik. Reward karya kontrak/pendapatan minimum/karya tamat yang biasanya berpengaruh besar untuk menaikan poin author kini dihilangkan. Biasanya sehari dapat 1 poin sekarang sehari berkurang 1 poin. Dan hampir banyak yang mengalami seperti itu. Karena itu sebagai penulis, aku mengharapkan kesediaan para readers untuk memberikan dukungan pada setiap novelku. Like, komen, gift, vote dan like sepertinya hanya itu yang bisa diandalkan author untuk menambah perolehan poinnya. Makasih yang sudah membaca selama ini, semoga kebaikan kalian dibalas berlipat² oleh SWT. Aamiin YRA 🤲🙏🙏
__ADS_1
Happy Reading❤️