MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Undangan Ke Bandung


__ADS_3

Wira mendengarkan dengan serius perkataan Erlangga yang menceritakan tentang orang yang memata-matainya. Dia pun merasa heran saat mengetahui ternyata orang yang menyuruh membuntuti Erlangga ternyata tangan kanan pengusaha yang dia duga adalah orang yang sama yang berniat merebut kerjasama dengan pihak dari Korea.


" Apa Pak Bondan masih belum mengetahui siapa bos dari Jimmy?" tanya Wira.


" Pak Bondan bersama temannya masih terus menyelidiki untuk mengungkap siapa orang yang sedang bermain-main dengan saya." Ada nada kesal di suara Erlangga menceritakan soal orang yang sedang bersaing dengan tidak sehat dengannya.


" Orang itu sepertinya sangat licik. Kita harus waspada dengan mereka," sahut Wira memperingatkan Erlangga agar tetap berhati-hati dalam mengambil tindakan.


" Nanti kita bahas di rapat soal pesaing baru kita ini, Pak Wira." Mengingat siang nanti akan diadakan rapat dengan kepala divisi yang ada di kantor Mahadika Gautama, Erlangga berniat mengungkap tentang pesaing yang memang sengaja menantang perusahaan milik Erlangga itu.


" Baik, Pak."


" Tolong Anda jelaskan kepada peserta rapat nanti." Erlangga meminta Wira yang menjelaskan soal pesaing baru itu saat rapat nanti.


***


Kayra menyiapkan beberapa data yang akan diperlukan untuk meeting siang ini dengan pimpinan Seperti biasa, dia akan menemani Erlangga yang akan memimpin rapat siang ini.


" Kayra, apa Pak Erlangga sudah siap untuk meeting?" tanya Wira yang berjalan ke luar dari ruangan kerjanya.


" Belum, Pak. Nanti saya panggilan sebentar, Pak." sahut Kayra.


" Ya sudah saya ke ruang meeting lebih dulu, ya!?" Wira berpamitan ingin pergi ke ruang meeting mendahului Erlangga.


" Baik, Pak. Nanti saya sampaikan ke Pak Erlangga." ujar Kayra kembali.


Kayra tetap menjalankan profesinya sebagai sekretaris Erlagga walaupun status dirinya adalah istri dari bos di perusahaan itu.


Tentu saja sikap profesional dan rendah hati Kayra membuat Wira menggelengkan kepala seraya tersenyum sembari melangkahkan kaki menuju lift untuk naik ke lantai atas di mana ruangan meeting berada.


Sedangkan Kayra langsung menghampiri ruang kerja Erlangga untuk memberitahu Erlangga agar segera menuju ruang meeting karena meeting akan dimulai sebentar lagi.


Tok tok tok


" Permisi, Pak. Meeting sebentar lagi akan segera dimulai." Kayra memberitahu Erlangga yang masih serius dengan beberapa dokumen di meja kerjanya.


" Tunggulah sebentar." Erlangga tidak menolehkan pandangan sama sekali ke arah Kayra yang bicara kepadanya. Sepertinya dokumen di tangannya lebih penting dari kemunculan Kayra di ruangannya.


Kayra mendengus halus lalu berjalan ke luar dari ruangan Erlangga karena mendapatkan kalimat tegas Erlangga tadi. Dia lalu kembali melangkah ke meja kerjanya sembari menunggu Erlangga menyelesaikan pekerjaannya, hingga sepuluh menit terlewatkan namun Erlangga masih belum keluar dari ruangannya.


Ddrrtt ddrrtt


Suara ponsel Kayra berbunyi dan terlihat panggilan masuk dari Wira. Dia menduga jika Wira dan para peserta meeting sudah menunggu kehadiran Erlangga di sana.


" Halo, Pak?" Kayra menjawab panggilan masuk dari Wira.


" Apa Pak Erlangga masih belum selesai, Kayra?" tanya Wira.


" Hmmm, iya, Pak. Tadi saya sudah memberitahu Pak Erlangga tapi sepertinya Pak Erlangga sedang sangat sibuk, Pak." ungkap Kayra melihat bagaimana Erlangga seakan mengacuhkannya. Tidak seperti biasanya, Erlangga selalu mencari kesempatan untuk menyentuhnya jika dia masuk ke dalam ruang kerja suaminya itu.


" Tolong kamu beritahu Pak Erlangga lagi, Kayra." Wira meminta Kayra mengingatkan lagi Erlangga soal jadwal meeting Erlangga dengan para direksi karena sebelumnya Erlangga mengatakan akan ada hal yang disampaikan dalam rapat kali ini.


" Baik, Pak. Nanti saya coba kasih tahu Pak Erlangga kembali."


" Oke, terima kasih, Kayra."


" Sama-sama, Pak Wira."


" Apa data-data untuk meeting kali ini sudah kamu persiapkan, Kayra?"


Baru saja Kayra mematikan sambungan telepon dengan Wira, Erlangga sudah muncul keluar dari ruangan kerjanya.


" Sudah, Pak." Kayra segera memasukan ponselnya ke dalam saku blazer lalu mengambil beberapa dokumen materi yang akan dibahas dalam rapat nanti.


Kayra menghampiri Erlangga lalu bersama suaminya itu menuju lantai sepuluh di mana rapat dilaksanakan.


***


Sekitar satu jam pembahasan soal materi rapat berlangsung. Kayra ikut mencatat poin-poin penting yang dibahas dalam meeting kali ini.


" Kita harus bekerja lebih maksimal, karena kita mendapatkan pesaing baru yang ingin mengambil beberapa klien perusahaan Mahadika. Mereka berani menawarkan kontrak kerjasama dengan nilai lebih tinggi dari nilai yang kita tawarkan dengan tujuan agar relasi bisnis kita mengalihkan kerjasama yang selama ini diserahkan kepada perusahaan kita kepada mereka." Wira lalu menyampaikan penemuan yang dia dapatkan dari pertemuannya kemarin dengan pihak perusahaan dari Korea.

__ADS_1


Sementara Wira menyampaikan soal adanya pesaing baru yang akan menjadi rival mereka ke depannya, Erlangga justru melirik ke arah Kayra yang duduk di samping kirinya. Sejak tadi berjalan dengannya menuju ruang rapat wanita itu tidak banyak bersuara dan hanya terdiam.


Senyuman tipis samar terlihat di sudut bibir Erlangga lalu menurunkan tangan kirinya ke bawah meja. Dengan isengnya tangan kiri pria itu menyentuh paha Kayra mengusap paha Kayra yang tertutup pakaiannya.


Kayra membelalakkan matanya saat dia merasakan kenakalan tangan Erlangga yang saat ini sedang mengusap pahanya hingga tangan Erlangga kini menyentuh sebagian kulit mulus paha Kayra.


Kayra tersiap dengan tindakan me sum Erlangga di ruang rapat, dia tidak bisa membayangkan jika tindakan Erlangga diketahui peserta rapat yang merupakan para kepala-kepala divisi yang berkumpul di ruangan itu.


Kayra pun segera menurunkan tangan kanannya untuk menyingkirkan tangan kiri Erlangga yang masih mengusap pahanya. Namun bukannya menyingkir, Erlangga malah menggenggam tangan Kayra yang berusaha menyingkirkan tangannya.


Sontak apa yang dilakukan Erlangga kembali membuat bola mata Kayra membulat sempurna. Dia rasa tindakan Erlangga saat ini sudah kelewatan hingga akhirnya dia mencengkramkan kuku-kuku tajamnya ke tangan nakal Erlangga membuat CEO Mahadika Gautama itu meringis kesakitan.


" Aaakkhh ...!!" pekik Erlangga menaikan tangan kirinya dan mengibaskan tangannya ke udara.


" Ada apa, Pak?" tanya beberapa orang yang ada di ruangan itu memusatkan perhatian kepada Erlangga.


Kayra sendiri yang melakukan penganiayaan terhadap Erlangga tersentak kaget karena dia tidak menduga Erlangga akan berteriak kencang hingga membuat semua orang yang ada di sana memusatkan pandangan kepada Erlangga.


" Apa di ruangan ini tidak pernah dibersihkan?" Erlangga seketika berdiri dari kursinya. " Ada bintang kecil yang menggigit tangan saya." Erlangga mengusap tangannya yang terkena cakaran kuku-kuku Kayra.


Kayra sampai menggigit bibirnya mendapati reaksi konyol Erlangga saat ini. Benar-benar tidak menampakan seorang bos yang berwibawa menurutnya.


" Binatang apa, Pak?" Pak Hendro langsung mendekat ke arah Erlangga merasa khawatir, karena untuk urusan membersihkan ruangan yang dilakukan oleh tenaga cleaning service berada dalam salah satu divisi yang dia pimpin.


" Coba Anda suruh orang dari bagian cleaning service membersihkan setiap furniture dan ruangan lebih hati-hati. Saya tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi." Erlangga berniat meninggalkan ruang rapat. " Pak Wira, Anda saja yang melanjutkan memimpin rapat," perintah Erlangga kemudian.


" Baik, Pak." sahut Wira dengan cepat.


Setelah mendapatkan jawaban Wira, Erlangga bergegas meninggalkan ruangan rapat disusul dengan Kayra yang segera merapihkan berkas-berkas yang tadi dia siapkan.


" Permisi, Pak." Kayra sedikit berlari mengikuti langkah Erlangga karena dia tahu jika Erlangga sangat kesal dengan tindakannya tadi.


Benar saja, ketika sampai di dalam lift, Erlangga langsung mendorong tubuh Kayra dan menyudutkannya di dinding lift dengan tubuh Erlangga yang mengurungnya.


" Berani sekali kamu bersikap kasar kepada suamimu!" desis Erlangga di telinga Kayra dengan tubuh menghimpit tubuh Kayra.


Ting


Bunyi pintu lift terbuka tak membuat Kayra terbebas dari hukuman Erlangga. Pria itu kini menarik tubuh Kayra dengan lengannya yang melingkar di pinggang Kayra. dan membawa Kayra ke ruangan kerjanya.


" Pak jangan di sini, saya tidak mau!!" Kayra berontak tak ingin melayani Erlangga di kantor, bukan hanya karena dia takut akan ada yang datang tapi dia juga tidak ingin bercinta dengan Erlangga di ranjang yang sama dengan yang digunakan Erlangga saat bercinta dengan Caroline beberapa waktu lalu.


" Kamu menolak melayani suamimu, hmmm?" Tangan Erlangga mengusap wajah cantik Kayra.


" Ini adalah ranjang untuk Bapak dan Ibu Caroline saat berhubungan suami istri." Dada Kayra turun naik seakan dia tidak rela harus melakukannya di tempat yang sama dengan Caroline saat bercinta dengan Erlangga.


Seakan mengerti dengan alasan yang diberikan Kayra, Erlangga langsung bangkit dan menggandeng tangan Kayra membawanya ke luar dari kamar.


Erlangga kini mengarahkan Kayra untuk duduk di atas pangkuan dan menghadap ke arahnya.


" Kita lakukan di sini saja," ucapnya kemudian.


" Saya tidak mau, Pak! Saya takut nanti ada yang melihat." Kayra tetap keberatan melakukan hubungan in tim di kantor.


" Tidak ada yang melihat, pintunya sudah saya kunci." Erlangga meminta Kayra untuk tidak khawatir karena dia sudah mengantisipasi.


" Tapi, Pak ...."


" Jangan banyak beralasan!" Erlangga langsung menarik tengkuk Kayra hingga dia bisa merasakan bibir semanis madu yang sudah mulai menjadi candu untuknya.


Kayra sudah tidak dapat melakukan penolakan lagi, karena saat ini apa yang diinginkan oleh Erlangga mutlak harus dituruti olehnya.


Erlangga mulai melepas blazer yang dikenakan oleh Kayra. Membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakan sekretaris yang juga istri sirinya itu dan mengeluarkan isi dari Bra yang dikenakan oleh Kayra. Setelah merasa cukup membuat Kayra mende sah berkali-kali dengan permainan di dada wanita itu, kini Erlangga mulai menaikan rok bawah Kayra dan menurunkan pakaian dalam Kayra. Dia sendiri melonggarkan ikat pinggang dan membuka resleting celananya. Tak butuh waktu lama Erlangga kemudian menghujamkan senjatanya ke inti Kayra dan terus melakukan hentakan-hentakan yang membuat mulut Kayra berkali-kali mengeluarkan suara-suara sebagai tanda rasa nikmat yang dia rasakan saat itu atas penyatuan yang mereka lakukan di ruangan kerja Erlangga siang itu.


***


Kayra memperhatikan layar ponselnya yang menampilkan deretan nomer cantik tidak dia kenal yang saat ini sedang menghubunginya. Dan walaupun Kayra tidak mengenal nomer ponsel yang meneleponnya itu namun dia tetap mengangkat panggilan telepon tersebut.


" Halo, Assalamualikum ..." sapa Kayra kepada penelepon yang tidak dia ketahui siapa orangnya.


" Waalaikumsalam, ini nomernya Kayra Ainun bukan, ya?" Suara wanita terdengar dari seberang menyebut nama Kayra, namun Kayra masih belum mengenali siapa pemilik suara itu .

__ADS_1


" Iya, benar. Maaf ini dengan siapa, ya?" Merasa asing dengan suara yang terdengar di ponselnya, Kayra segera menanyakan kepada si penelepon.


" Ini aku, Kay. Laila, teman SMA kamu dulu. Kamu masih ingat, tidak?" Orang di ponsel Kayra itu menyebutkan namanya, dan ternyata adalah teman sekolah Kayra di Bandung.


" Oh, Hai, La. Apa kabar? Ada apa, La? Kamu dapat nomer aku dari mana?" Kayra terlihat begitu senang bisa berkomunikasi kembali dengan teman lamanya.


" Alhamdulillah aku baik, Kay. Aku dapat nomer ponsel kamu dari tetangga rumah kamu. Kemarin aku datang ke sana, aku turut prihatin atas kebakaran rumah kamu ya, Kay." Sepertinya teman Kayra itu sudah mengunjungi rumah Kayra di Bandung.


" Iya, sedang diuji sama yang Kuasa, La. Alhamdulillah Ibu aku masih bisa selamat dan kebakarannya tidak sampai menjalar ke tetangga sebelah." Kayra masih bersyukur kebakaran itu tidak terlalu berakibat fatal untuk orang tua dan tetangga di sekitar rumahnya.


" Lalu sekarang kamu tinggal di Jakarta, Kay?" tanya Laila kembali.


" Aku memang sudah lima tahun ini bekerja di Jakarta, La. Jadi aku memang tinggal di sini. Karena kebakaran kemarin jadi aku bawa Ibu kemari." Kayra menjelaskan. " Oh ya, ada apa, La? Kamu cari aku sampai ke rumah?" tanya Kayra bertanya apa yang menyebabkan temannya itu sampai mencari dirinya ke rumahnya di Bandung dan meminta nomer ponselnya.


" Aku mau antar undangan buat kamu, Kay." Laila menjelaskan maksud dan tujuannya mencari alamat rumah Kayra.


" Undangan apa, La? Pernikahan?" tebak Kayra.


" Iya, Kay." Laila mengiyakan.


" Siapa yang menikah? Kamu, La?" Kayra kembali menebak siapa yang akan menikah.


" Iya, Kay. Kamu datang, ya!?" Laila berharap Kayra akan datang ke acara pernikahannya.


" Kapan acaranya?" tanya Kayra kemudian.


" Akhir Minggu ini." sahut Laila.


" Insya Allah aku usahakan datang ke sana, La. Kasih tahu saja alamatnya." Laila menyebutkan kapan acara pernikahannya itu dilaksanakan.


" Oke, nanti aku kirim alamatnya, Kay. Oh ya, kamu sendiri bagaimana, Kay? Kamu sudah menikah atau belum?" Tiba-tiba Laila menanyakan bagaimana status Kayra saat ini.


Pertanyaan Laila sontak membuat Kayra terdiam. Dia bingung harus menjawab apa. Jika dia katakan belum, nyatanya dia memang sudah menikah. Jika dia berkata sudah, dia masih tidak ingin pernikahannya itu diketahui banyak orang apalagi jika orang itu tahu suaminya adalah orang kaya raya yang sangat terpandang.


" Hmmm ... doakan saja, La." Hanya itu jawaban yang bisa diberikan Kayra. Kayra memang tidak berani berharap banyak akan pernikahannya dengan Erlangga.


" Sudah ada calonnya ya, Kay? Dapat orang mana?" tanya Laila kembali.


" Hmmm, orang Jakarta juga, La. Kamu sendiri dapat orang mana calon suaminya?" Tak ingin Laila mengorek tentang dirinya, Kayra sengaja mengalihkan pertanyaan.


" Dapat orang Bandung juga, Kay. Tetangga dekat rumah, kok."


" Oh, syukurlah kalau begitu. Tidak jauh-jauh jodoh kamu ya, La." ujar Kayra.


" Iya, Kay. Alhamdulillah ... Oh ya, kamu sedang kerja sekarang, Kay?" tanya Laila kemudian.


" Iya, La. Ini sedang di kantor."


" Kamu kerja di mana memangnya, Kay?"


" Di perusahaan suku cadang, La."


" Di bagian apanya, Kay?"


" Aku sekretaris bos, La."


" Hahh?? Sekretaris? Oh ya sudah kalau begitu aku tutup dulu teleponnya, Kay. Aku takut ganggu kamu kerja. Gampang nanti kita sambung lagi obrolan kita. Assalamualaikum ..." Mengetahui posisi Kayra sebagai seorang sekretaris, Laila langsung berinisiatif mengakhiri percakapannya di telepon karena dia tidak ingin membuat Kayra mendapat masalah karena mengobrol saat waktu kerja.


" Oke, La. Waalaikumsalam ..." Kayra segera mematikan teleponnya. Dia lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya. Hatinya seakan mencelos mendengar Laila tadi menanyakan statusnya saat ini. Dia juga bisa membayangkan betapa bahagianya Laila yang akan menghadapi hari pernikahan dengan orang yang dicintai wanita itu, tidak seperti dirinya yang selalu dilanda kecemasan dengan pernikahannya dengan Erlangga.


Kayra teringat akan undangan Laila, dia ingin sekali hadir di acara pernikahan teman sekolahnya itu, namun dia tidak tahu apakah dia bisa hadir di sana, karena pasti takan mudah mendapatkan ijin dari Erlangga. Dia pun tidak yakin apakah Erlangga akan memberikan ijin kepadanya. Karena dia tahu bagaimana perlakuan Erlangga sekarang ini kepadanya.


*


*


*


Bersambung ...


Yang belum mampir di novel terbaru, silahkan mampir ya, Kak. Makasih🙏

__ADS_1



Happy Reading❤️


__ADS_2