
Kayra duduk termenung di tepi tempat tidur setelah Aishah meriasnya dan memakaikan kebaya brokat berwarna putih.
Kayra menarik nafas dengan berat, sebentar lagi dia akan memasuki fase terberat dalam hidupnya. Sebentar lagi bosnya itu akan menikahinya, hal yang sangat tidak diinginkannya. Saat ini dia merasa sedang berdiri di tepi jurang yang cadas dan siap untuk terjatuh ke dalamnya.
Setiap wanita ingin mempunyai pernikahan impian. Impian bukan dalam arti mewah. namun pernikahan dilandasi rasa cinta dengan orang yang dia cintai dan mencintai dirinya, bukan karena keterpaksaan.
Ceklek ...
Kayra mengarahkan pandangan saat pintu kamar dibuka, dan sosok Erlangga lah yang menggunakan setelan jas berwarna putih senada dengan kebaya yang dikenakannya masuk ke dalam kamar tempat dia menunggu.
Kayra menatap sosok Erlangga dengan sorot penuh kebencian kepada bosnya yang dia anggap egois karena hanya memikirkan keuntungan diri sendiri saja tanpa memperdulikan perasaannya.
Erlangga melangkah mendekati Kayra. Dia lalu mengulurkan tangannya ke arah Kayra meminta agar Kayra untuk berdiri, namun Kayra memalingkan wajah dan mengabaikan uluran tangan Erlangga.
" Penghulu sudah menunggu kita di luar, kita harus segera turun ke bawah," ujar Erlangga saat melihat Kayra tidak menerima uluran tangannya.
" Sebenarnya apa tujuan Bapak melakukan hal ini terhadap saya?" Kayra masih belum puas menerima alasan yang dilontarkan Erlangga terhadapnya.
" Saya ingin kamu mendampingi saya," ucap Erlangga dengan entengnya tanpa ada rasa bersalah padahal dia sudah memaksakan kehendaknya tanpa persetujuan Kayra dan juga Ibu Sari.
" Bapak sudah mempunyai pendamping, kenapa Bapak tidak meminta istri Bapak saja untuk mendampingi Bapak? Kenapa Bapak memilih wanita lain?" Air mata sudah mengembun di bola mata indah wanita cantik itu.
" Hari ini kamu akan menikah, sebaiknya jangan terlihat sedih seperti ini. Tidak mudah bagi saya bisa menjatuhkan pilihan untuk menikahi seorang wanita. Jika saya memilih kamu untuk menjadi istri saya, artinya kamu sangat beruntung." Begitu arogannya Erlangga mengatakan hal yang begitu menyakitan bagi Kayra.
Kayra mengepal tangannya karena emosi yang berkobar di dalam hatinya. Seandainya dia punya keberanian, ingin rasanya di mencabik wajah tampan pria itu dengan kuku-kuku tangannya. Begitu enaknya Erlangga mengatakan jika dirinya merasa beruntung karena dinikahi pria itu. Justru yang ada dia seperti akan merasakan neraka dengan menikahi Erlangga.
" Jika saya bisa diberikan pilihan, saya memilih tidak menjadi wanita beruntung itu," sahut Kayra sinis.
Erlangga menarik bibirnya ke atas, wajah wanita di hadapannya itu masih terlihat cantik walaupun sedang dalam keadaan kesal.
" Saya tidak ingin memberikan pilihan, karena apa yang saya lakukan adalah hal yang terbaik untuk kamu. Percayalah, saya tidak akan membuat kamu menderita dengan pernikahan ini." Tangan Erlangga menyentuh pundak Kayra hingga membuat Kayra tersentak karena tangan pria itu menyentuh kulitnya.
" Kita segera turun ke bawah, jangan membuat acara kita tertunda lebih lama." Erlangga lalu menggenggam tangan Kayra mengajak Kayra untuk turun ke bawah karena acara akad nikah akan segera dimulai.
***
Kayra memperhatikan orang-orang yang sudah menunggu dirinya di bawah. Dia mendapati Ibunya yang menatapnya dengan sendu. Kayra bisa merasakan pilu hati Ibunya tak beda dengan apa yang dia rasakan saat ini. Kayra pun melihat anak buah Bondan dan juga Diah berada di sana. Dan yang membuat Kayra tak sanggup untuk menaikan pandangan adalah kehadiran Henry dan Emma di antara orang-orang yang berkumpul ruangan tamu itu. Kayra merasa sangat malu kepada sahabat dari Erlangga. Dia sudah beranggapan jika Henry dah Emma akan menyalahkan dirinya dan menganggap dirinya yang telah menjebak dan menggoda Erlangga.
Erlangga kemudian membantu Kayra untuk duduk lebih dulu lalu dia pun duduk berhadapan dengan penghulu.
" Apa kita bisa mulai sekarang?" tanya penghulu yang juga akan menjadi wali hakim bagi Kayra, karena Karya sudah tidak punya keluarga laki-laki dari pihak Ayahnya.
" Silahkan ..." Erlangga menjawab dengan lugas.
Penghulu pun mulai memimpin prosesi ijab qobul hingga akhirnya sampai pada pembacaan kalimat sakral untuk mengikat Kayra dan Erlangga dalam satu ikatan suci pernikahan,
__ADS_1
" Saudara Erlangga Mahadika Gautama bin Krisna Mahadika Gautama, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Kayra Ainun Zahra binti Ariyanto Budiman dengan mas kawin uang tunai sebesar seratus juta rupiah dan seperangkat perhiasan emas seberat 100 gram dibayar tunai." Penghulu selaku wali hakim membacakan kalimat ijab dengan menjabat erat tangan Erlangga.
" Saya terima nikah dan kawinnya Kayra Ainun Zahra binti Ariyanto Budiman dengan mas kawin tersebut tunai!" Kalimat qobul menjawab kalimat ijab yang dibacakan oleh penghulu tadi dibalas dengan tegas oleh Erlangga dengan satu tarikan nafas.
" Sah?"
" Sah ...!!" Semua menjawab serempak.
Hati Kayra seketika mencelos, ucapan kata sah yang diucapkan banyak orang ibarat ucapan 'selamat datang di neraka' bagi Kayra. Kayra menarik nafas dengan berat saat Erlangga menyematkan cincin pernikahan di jari tangannya kemudian bergantian dia yang harus memasang cincin di jari pria yang sudah berstatus suaminya itu.
Kayra menoleh ke arah Ibu Sari sebelum memasang cincin pernikahan untuk Erlangga. Dia melihat Ibunya itu sedang menyeka air matanya. Tak kuasa dia memperhatikan kesedihan Ibunya hingga dia menatap cincin yang disodorkan Atik untuk dia pasangkan di jari Erlangga lalu melirik ke arah Erlangga yang ada di hadapannya. Dengan terpaksa akhirnya Kayra menyematkan cincin itu ke jari Erlangga walau tidak ikhlas dia melakukannya.
Saat meminta ijin dan sungkem kepada Ibunya tangis Kayra tidak dapat dibendung. Ibu dan anak itu sama-sama berpelukan dan terisak cukup lama. Berat untuk Kayra dan juga Ibu Sari untuk menerima pernikahan ini, namun mereka tidak bisa menghindari.
" Ibu hanya bisa berharap semoga Allah SWT selalu melindungimu, Nak." bisik Ibu Sari dengan suara tercekat di tenggorokan.
Setelah selesai prosesi acara ijab qobul, Kayra dan Erlangga menerima ucapan selamat dari semua yang hadir termasuk Henry dan Emma.
" Selamat atas pernikahanmu, perlakukan selayaknya Erlangga sebagai suamimu, aku yakin dia akan mempertahankanmu." Henry memberikan ucapan selamat kepada Kayra. Apa yang dikatakan Henry terlihat jelas penuh keyakinan.
" Selamat, Kayra. Saya tahu tidak mudah untuk kamu menerima kenyataan ini. Tapi saat ini status kamu adalah istri dari Erlangga. Aku harap Erlangga bisa bersikap adil terhadapmu." Kini giliran Emma yang memberikan ucapan selamat dan mengucapkan harapannya.
Ada sedikit kelegaan di hati Kayra mendengar ucapan kedua sahabat Erlangga itu. Setidaknya tidak ada kata-kata yang menyudutkannya atas statusnya saat ini sebagai istri kedua Erlangga.
" Saya mengerti perasaan Nona, tidak mudah menerima kenyataan sebagai orang ketiga dalam pernikahan orang lain. Saya pun pernah mengalami hal sama seperti Nona," Ternyata Aisyah pun pernah berada di posisi yang sama dengan Kayra.
" Mbak menikah dengan atasan Mbak?" tanya Kayra menoleh ke arah Aisyah.
" Iya, tapi bukan bos besar seperti Tuan Erlangga, Nona." ujar Aisyah seraya tersenyum.
" Tidak enak menyandang status istri kedua dari pria yang masih mempunyai istri. Pasti pandangan orang akan buruk terhadap kita, belum lagi harus menghadapi pihak keluarga dan istri Pak Erlangga." Kayra mende sah.
" Jalani saja dengan ikhlas, Nona. Semoga kebahagiaan selalu menyertai Nona," ucap Aisyah berusaha menyemangati Kayra.
" Terima kasih, Mbak." sahut Kayra tersenyum getir.
Namun obrolan mereka terjeda saat Erlangga masuk ke dalam kamar itu.
" Permisi, Tuan, Nona." Aisyah yang mengerti langsung berpamitan kepada Erlangga dan juga Kayra untuk meninggalkan pasangan pengantin baru itu.
Erlangga melepas jas tuxedo nya lalu meletakkannya di atas sofa. Setelah itu berjalan menghampiri Kayra dengan melepas kancing lengan dan kemejanya.
Sontak apa yang dilakukan Erlangga membuat Kayra menegang. Apa Erlangga ingin memintanya melakukan hubungan in tim saat ini? Itu yang ada di benaknya saat ini.
" Saya belum siap, Pak!" tegas Kayra berjalan menjauh dari Erlangga.
__ADS_1
" Ini masih pagi jelang siang. Kamu tenang saja, saya tidak akan buru-buru," sahut Erlangga melengkungkan senyumnya seraya membuka kemeja putih yang dia kenakan hingga menyisakan kaos singlet membuat otot liat Erlangga nampak jelas di hadapan Kayra.
Kayra langsung memalingkan wajahnya tak ingin melihat tubuh Erlangga. Wajahnya bahkan terlihat bersemu karena merasa malu telah mendapati pemandangan tubuh mempesona suaminya itu.
Erlangga lalu duduk di tepi tempat tidur di samping Kayra.
" Kamu dan Ibumu akan tinggal di sini nanti," ujar Erlangga.
Kayra langsung menoleh ke arah Erlangga saat Erlangga mengatakan dirinya dan juga Ibunya akan tinggal di rumah tempat mereka saat ini berada.
" Maksud Bapak apa kami akan tinggal di sini? Bukankah Bapak sudah meminta saya pindah ke tempat lain?" tanya Kayra heran, dia kesal karena Erlangga mengambil keputusan sepihak tanpa persetujuan darinya.
" Saya rasa kamu dan Ibumu akan lebih aman tinggal di sini." Sudah pasti Erlangga tidak akan membiarkan Kayra tinggal di tempat umum karena dia butuh tempat yang privacy jika dia ingin bersama Kayra.
" Lantas bagaimana dengan barang-barang saya di sana?" tanya Kayra heran dengan keputusan yang dibuat oleh Erlangga.
" Bukankah kamu sengaja meninggalkan barang-barang itu saat berusaha kabur dari saya?" Erlangga menyindir Kayra yang berusaha kabur darinya. Untung saja Bondan mempekerjakan Diah yang bisa diandalkan.
" Kau tidak perlu memikirkan soal perabotanmu, di rumah ini semuanya lebih lengkap dan lebih mahal dari nilai perabotan milikmu itu," lanjut Erlangga.
" Nanti supir yang menjemputmu kemari yang akan mengantar jemputmu ke kantor. Dia akan menjadi supir pribadimu," ucap Erlangga kembali.
" Supir pribadi?" Membayangkan dirinya mempunyai supir pribadi seperti pria misterius yang membawanya kabur membuat Kayra merinding. Dan bisa dipastikan dia tidak akan bisa pergi ke mana-mana apalagi sampai kabur.
" Kenapa harus memakai supir pribadi? Saya tidak butuh supir pribadi!" Kayra menolak diberikan supir pribadi oleh suaminya itu.
" Apa kamu lupa jika kamu saat ini adalah istri Erlangga Mahadika Gautama? Seorang CEO perusahaan terkenal di negeri ini?" Erlangga merespon protes yang dilayangkan oleh Kayra.
" Saya tidak lupa jika saya adalah istri simpanan Bapak!" Anda nada penekanan saat Kayra menyebut kata istri simpanan.
" Bagus jika kamu ingat, artinya kamu harus tahu apa saja kewajiban kamu selama menjadi seorang istri Erlangga." Erlangga membalas perkataan Kayra seraya berjalan mendekat ke arah lemari. Erlangga kemudian mengambil pakaian dari dalam lemari itu.
" Lemari ini masih kosong, isilah dengan pakaianmu. Besok belikan sekalian pakaian untukku di mall, Atik yang akan mengantarmu." Setelah Erlangga memakai pakaiannya, pria itupun lalu meninggalkan Kayra yang akhirnya termenung di kamar sendiri.
***
*
*
*
..Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1