
Helen menghampiri Ibu Sari yang baru saja turun dari tangga. Dia sungguh penasaran dengan cerita suaminya soal Ibu Sari yang kemungkinan besar adalah asisten bidan tempat Arina melahirkan bayi perempuannya.
Walaupun suami dia menyuruh agar dia tutup mulut, tidak memberitahukan kepada siapapun juga. Namun, dia merasa penasaran ingin mengetahui bagaimana Kayra bisa bersama Ibu Sari sampai saat ini.
" Bu Sari ...!" Helen menyapa Ibu Sari terlebih dahulu.
" Bu Helen?" Meskipun disapa dengan ramah oleh Helen, akan tetapi ada rasa khawatir dan canggung yang dirasakan oleh Ibu Sari dengan sikap Helen tersebut kepadanya.
" Apa itu, Bu Sari?" Helen menanyakan kertas yang sedang dipegang oleh besannya itu.
" Oh ini ... ini catatan belanja barang-barang fresh untuk menu makan Kayra tiga hari ke depan, Bu." sahut Ibu Sari menunjukkannya daftar barang-barang fresh yang harus dibeli kepada Helen. " Mau saya kasih ke Mbak Diah, supaya dibelanjakan," sambungnya kemudian.
" Boleh saya lihat catatannya?" Helen mengulurkan tangannya meminta benda yang dipegang oleh Ibu Sari. " Hanya segini saja barang yang harus dibeli, Bu Sari? Sedikit sekali? Harus banyak yang ditambah ini," lanjutnya.
" Itu hanya untuk tiga hari saja kok, Bu. Nanti gampang belanja lagi kalau persediaannya sudah mau habis, biar jangan terlalu mengendap lama di kulkas dan barangnya juga tetap segar." Ibu Sari menyampaikan alasannya kenapa tidak belanja dalam jumlah banyak.
" Ditambah saja, Bu Sari. Diah mau belanja di supermarket mana?" Helen menyarankan Ibu Sari untuk menambah barang yang harus dibeli untuk menu makan Ibu hamil.
" Di pasar tradisional saja, Bu. Karena lebih segar, lengkap dan lebih murah," ucap Ibu Sari. Dia mengukur kemampuan finasial dirinya yang selalu melakukan tawar menawar jika membeli barang di pasar tradisional.
" Di supermarket juga banyak yang segar, kok. Lagipula di supermarket itu lebih higienis, Bu Sari. Dan untuk urusan harga tidak masalah. Berapa sih memang mahalnya? Anak saya itu punya banyak uang. Hanya membeli makanan untuk Kayra saja tidak masalah berapa pun harganya." Helen yang terbiasa dengan hidup mewah tidak mempermasalahkan berapa uang yang harus dibayar oleh dirinya.
" Iya, Bu Helen." Tidak ingin terlalu lama berdebat dengan besannya itu, Ibu Sari memilih mengiyakan apa yang dikatakan oleh Mama mertua Kayra.
" Begini saja, gimana kalau kita saja yang pergi ke supermarket belanja ini semua?" Helen merencanakan sesuatu agar dia bisa bicara berdua dengan Ibu Sari. Karena dia ingin mengorek informasi dari wanita yang selama ini dianggap Kayra adalah ibu kandungnya.
" Pergi berdua?" Ibu Sari terkesiap mendengar ajakan Helen yang memintanya menemani Helen belanja kebutuhan Kayra.
" Iya, nanti kita sama-sama cari bahan-bahan makanan untuk Kayra sehari-hari," ucap Helen kembali.
" Tapi, apa Ibu Helen tidak apa-apa keluar dari rumah? Bukankah Ibu Helen masih takut dengan ancaman perempuan yang bernama Agnes itu, Bu?" Ibu Sari menyinggung soal ketakutan Helen yang membuat Helen akhirnya pindah sementara waktu di rumah yang ditempati oleh Erlangga dan Kayra saat ini.
" Nanti kita ada yang mengawasi, kok. Lagipula Erlangga sudah mengancam Agnes untuk tidak berbuat macam-macam dengan saya. Tenang saja, Bu Sari." Helen mengibas tangannya ke udara meminta Ibu Sari tidak mengkhawatirkan soal Agnes.
" Hmmm, saya sudah lama tidak masuk sepermarket, Bu. Malu saya, Bu. Takut membuat Ibu Helen malu jalan berbelanja dengan saya." Selain mengatakan hal yang sesungguhnya, sebenarnya Ibu Sari juga agak canggung dan takut ingin pergi berdua dengan besannya itu.
" Kenapa harus takut, Bu Sari? Kita tinggal datang ke sana naik lift lalu memilih bahan-bahan makanan, saya yang bayar, sudah beres," ucap Helen enteng.
" Ya sudah, saya mau ganti pakaian dulu. Ibu Sari juga siap-siap juga, ya!?" Tanpa menunggu persetujuan Ibu Sari, Helen sudah meminta besannya itu untuk melakukan prepare sebelum mereka pergi ke supermarket.
" Kenapa dibawa lagi catatan belanjaannya, Bu?" Sepeninggal Helen, Ibu Sari yang ingin kembali ke kamar bertemu Kayra yang baru keluar dari kamarnya.
" Apa ada yang lupa dicatat, Bu?" tanya Kayra kemudian.
" Bukan, Nak. Mama mertuamu mengajak Ibu berbelanja di supermarket." Ibu Sari menjelaskan kepada Kayra soal rencana Mama mertua Kayra yang ingin mengajaknya pergi berbelanja. " Bagaimana ya, Nak? Ibu takut pergi berdua saja dengan Mama mertuamu itu." Bahkan, Ibu Sari pun mengungkapkan kecemasannya kepada Kayra.
" Tidak apa-apa, Bu. Mama Helen sudah baik, kok." Walau agak terkejut saat Ibunya mengatakan jika Helen mengajak Ibunya itu pergi ke supermarket, tetapi Kayra mencoba menenangkan agar Ibu Sari tidak perlu merasa cemas.
" Ya sudah, kalau begitu Ibu ingin berganti pakaian dulu daripada Mama mertuamu menunggu Ibu terlalu lama, Kayra." Ibu Sari berpamitan karena ingin bersiap-siap.
" Iya, Bu." sahut Kayra dengan senyum terkulum di bibirnya. Tentu dia merasa senang Ibu dan Mama mertuanya itu bisa akur.
***
Wira memperlambat langkahnya saat melihat Rivaldi keluar dari lift di tower apartemen yang sama dengan milik adiknya. Apartemen milik Dirgantara Poetra Laksmana yang satu unitnya sempat dipakai Grace.
Wira memang diberitahu soal rencana yang dijalankan Erlangga dengan menyewa Grace dan Rizal untuk menjalankan misinya. Namun, Erlangga tidak memberitahu secara detail soal apartemen yang dipakai Grace untuk memperdaya Rivaldi.
Wira berjalan mendekati Rivaldi dan menyapa mantan karyawan Mahadika Gautama itu walaupun sebagai karyawan yang menyamar untuk mengorek kinerja Mahadika untuk mengembangkan perusahaannya sendiri.
__ADS_1
" Pak Rivaldi ..." sapa Wira kepada Rivaldi.
" Pak Wira?" Rivaldi terperanjat saat mendapati Wira di hadapannya.
" Pak Rivaldi tinggal di sini?" tanya Wira kemudian.
" Oh, tidak, Pak." Meskipun selalu bertentangan dengan Erlangga. Namun, Rivaldi tidak pernah bermasalah dengan Wira. Lagipula hubungan dia selama ini sangat baik dengan Wira, sehingga dia mau meladeni obrolan dengan Wira.
" Apa Anda juga tinggal di sini, Pak Wira?" Selanjutnya Rivaldi menanyakan hal yang sama terhadap Wira.
" Tidak, saya ingin bertemu adik saya yang tinggal di sini," sahut Wira.
" Adik Anda tinggal di sini? Di lantai berapa, Pak Wira?" tanya Rivaldi.
" Lantai sebelas, Pak Rivaldi." sahut Wira.
" Oh ...."
" Sekarang ini Anda bekerja di mana, Pak Rivaldi?" tanya Wira, dia berpura-pura tidak tahu jika Rivaldi adalah penyusup di kantor tempatnya bernaung saat ini.
" Hmmm, saya membantu usaha kecil-kecilan orang tua saya, Pak Wira," sahut Rivaldi.
" Oh, begitu. Sayang sekali Anda harus keluar dari kantor Mahadika, Pak Rivaldi." ujar Wira.
Rivaldi tersenyum sinis mendengar ucapan Wira dan mengucapkan kata, " Anda pasti tahu alasan bos Anda mengeluarkan saya dari kantor Mahadika, kan?" Rivaldi tidak mengetahui jika penyamarannya dia selama ini di kantor Mahadika sudah diketahui oleh Erlangga dan juga Wira. Sehingga dengan percaya diri dia menyindir mantan bosnya itu.
" Apa itu ada hubungannya dengan Kayra? Saya menyesal untuk hal itu, Pak Rivaldi." Wira tidak ingin ikut campur soal perasaan yang terjadi antara Kayra, Erlangga dan Rivaldi.
" Bos Anda benar-benar seorang pengecut, Pak Wira." umpat Rivaldi masih menaruh dendam dengan Erlangga.
Wira tersenyum tipis. Benar memang, Erlangga tidak bersaing positif dalam merebutkan Kayra dengan Rivaldi. Tapi, saat mendengar Rivaldi mengatakan jika Bosnya itu pengecut, mungkin Rivaldi sendiri tidak menyadari jika sikapnya menyusup ke perusahaan Erlangga adalah ciri-ciri tindakan seorang pengecut.
" Silahkan, Pak Wira." Rivaldi membiarkan Wira yang ingin pergi dari hadapannya.
" Adik Pak Wira tinggal di apartemen ini? Apa penyamaran Rena ada hubungannya dengan Mahadika Gautama? Suatu kebetulan sekali." Rivaldi mengusap rahangnya berpikir akan sesuatu.
***
Setelah berbelanja banyak keperluan sehari-hari untuk Kayra, Helen mengajak Ibu Sari makan siang terlebih dahulu, agar dia bisa mengobrol panjang lebar dengan Ibu mertua putranya.
" Ibu Sari mau makan apa? Western food? Chinese food? Japanese food?" Helen menawarkan beberapa menu makanan kepada Ibu Sari.
" Saya tidak makan yang aneh-aneh, Bu Helen. Kalau ada soto atau sup saja." Ditawari berbagai menu makanan bukan dari masakan Nusantara, Ibu Sari menolaknya.
" Soto atau sup?" Helen mengerutkan keningnya. " Ya sudah, kita makan soto saja. Ayo, Bu Sari." Akhirnya Helen mengajak Ibu Sari mengajak ke restoran yang menyediakan menu soto di mall tempat di belanja tadi.
" Kalau Kayra itu anak tunggal ya, Bu?" Helen mulai menyelidik ketika mereka menunggu menu makanan disajikan oleh pelayan restoran.
" Iya, Bu." sahut Ibu Sari.
" Kalau Erlangga itu punya adik perempuan. Seharusnya dua adik perempuan. Yang satu meninggal, yang satu laginya menghilang." Tanpa ditanya Helen menceritakan soal anak-anaknya.
" Menghilang?" Ibu Sari terkejut dengan ucapan Helen yang mengatakan jika anaknya menghilang.
" Iya, bukan anak kandung saya. Dia anak adik sepupu saya dengan pengasuh Erlangga dulu. Tadinya ingin saya angkat anak. Tapi, pengasuh anak saya itu pergi waktu hamil besar," lanjut cerita Helen.
" Ya Allah, kasihan sekali ..." Ibu Sari turut prihatin dengan kisah yang diceritakan oleh Helen.
" Iya, memang. Tapi, baru-baru ini suami saya mendapatkan kabar jika mantan pengasuh Erlangga itu sudah ditemukan. Sayangnya anak dari adik sepupu saya itu tidak ada." Helen memasang wajah sedih.
__ADS_1
" Tidak ada? Maksudnya bagaimana, Bu Helen." Ibu Sari semakin penasaran dengan cerita Helen.
" Saat melahirkan, pengasuh Erlangga itu menitipkan bayinya di bidan yang membantu dia melahirkan, untuk dibawa ke panti asuhan tempat dia dulu diurus dari kecil. Sayangnya, ternyata bidan itu tidak melaksanakan amanat yang diminta pengasuh Erlangga untuk membawa putrinya yang diberi nama Kania Pratiwi ke panti asuhan yang dia minta. .Sehingga pengasuh Erlangga itu tidak tahu di mana anaknya berada sekarang ini. Karena bidan tempat dia melahirkan dulu sudah meninggal." Helen semakin memperjelas ceritanya.
Deg
Bola mata Ibu Sari terbelalak saat mendengar keseluruhan cerita yang diucapkan oleh Helen. Jantungnya bahkan saat ini berdetak cukup kencang hingga dadanya seketika sesak mendengar cerita soal bayi yang dititipkan oleh Ibunya saat baru dilahirkan. Ingatan Ibu Sari seakan kembali ke beberapa waktu silam.
Flashback on
" Ya Allah, kasihan sekali kamu, Nak. Bayi cantik tapi tidak diinginkan oleh Ayahmu dan sekarang harus jauh dari Ibumu." Sari memperhatikan bayi lucu dalam gendongannya, karena dia sengaja memberikan su su formula kepada bayi tersebut.
" Sari ...."
Sari menoleh saat Bidan Eti memanggilnya. Dia lalu menaruh kembali bayi Kania ke dalam box bayi, karena bayi itu sudah tertidur pulas. Dia pun menyelimuti bayi Kania dan memasang kelambu agar tak ada nyamuk yang menyentuh kulit halus mulus sang bayi cantik itu.
" Sebentar ya, Nak. Ibu dipanggil Ibu Bidan dulu," ucap Sari kepada bayi Kania yang tertidur, lalu meninggalkan bayi Kania di ruangan bayi menemui Bidan Eti.
" Ada apa, Bu Bidan?" tanya Sari mendekati Bidan Eti.
" Sari, apa kamu pernah pergi ke Jakarta sebelumnya?" tanya Bidan Eti kepada Sari.
" Tidak pernah, Bu. Saya mah seumur hidup di Bandung saja atuh, Bu Bidan. Asli orang Bandung, dapat suami juga orang Bandung. Jadi tidak pergi jauh-jauh dari Bandung. Memangnya kenapa Bu bidan?" tanya Sari penasaran, karena Bidan Eti menanyakannya apakah dirinya pernah menginjakkan kaki di ibu kota negara Indonesia itu atau tidak.
" Kalau kamu tahu Jakarta, saya mau minta tolong kamu antarkan Kania ke panti asuhan yang diminta pasien kemarin itu, Sari." Bidan Eti mengungkapkan alasannya menanyakan hal tadi kepada Sari. " Kalau suami kamu pernah tugas ke Jakarta, kan?" tanya Bidan Eti kemudian.
" Pernah, Bu bidan. Tapi suami saya tidak tahu alamat panti asuhan itu, Lagipula suaminya saya tidak terlalu hapal jalan di Jakarta kalau tidak didampingi bosnya," ucap Sari menerangkan.
" Lalu bagaimana ya, Sari?" Bidan Eti terlihat memijit kepalanya.
" Bu bidan, kalau diijinkan, biar saya saja yang mengurus bayi itu, Bu bidan. Daripada bayi itu diurus di panti asuhan. Saya dan suami saya sudah lama mendambakan momongan, tapi belum dikasih rezeki juga. Sementara ini biarlah Kania bersama saya, Bu Bidan." Sari yang sudah jatuh hati pada bayi Kania berniat merawat bayi milik Arina itu.
" Tapi ibu dari Kania berjanji akan mengambil anaknya jika dia sudah punya pekerjaan nanti, Sari. Bagaimana kalau dia mencari ke panti asuhan tapi Kania tidak dititipkan di sana?" Bidan Eti ragu menyetujui keinginan Sari.
" Kalau tahu anaknya tidak ada di panti asuhan, pasien itu pasti akan datang kemari. Bu bidan tinggal tunjukkan saja rumah saya. Lagipula belum tentu Kania itu nantinya dijemput oleh Ibunya. Kalau ternyata Ibunya pergi begitu saja, kasihan Kania, Bu bidan," Sari mengumpamakan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi.
" Apa kamu sudah bicarakan hal ini dengan suamimu, Sari?"
" Nanti saya akan bicarakan, Bu Bidan. Siapa tahu Kania ini akan jadi pancingan agar saya juga bisa punya anak. Jadi, jika sewaktu-waktu Kania diambil oleh Ibunya, saya juga sudah punya anak sendiri." Sari yang sudah lebih dari tujuh tahun menikah dan belum diberi momongan berharap jika dengan merawat Kania, dia pun akan bisa cepat hamil.
" Aamiin, semoga saja, Sari. Saya pun ikut berharap agar kamu segera mempunyai keturunan." Bidan Eti ikut mendoakan Sari.
" Aamiin, terima kasih, Bu Bidan. Berarti saya boleh mengurus bayi Kania 'kan, Bu Bidan?" Sari senang mendapatkan lampu hijau dari Bidan Eti untuk mengurus Kania.
" Bicarakan dulu sama suami kamu. Kalau suamimu juga setuju segera laporan juga ke aparat setempat, ya!?" Bidan Eti menyarankan agar Sari mendiskusikan hal ini dengan pasangannya.
" Baik, Bu Bidan. Alhamdulillah, hatur nuhun pisan, Bu Bidan." Sari langsung mencium punggung tangan Bidan Eti sebagai ucapan terima kasihnya.
Flashback off
" Bu Sari, Bu Sari kenapa kelihatan pucat? Apa Ibu Sari sakit?" Suara Helen membuyarkan lamunan Ibu Sari yang sedang mengingat kejadian puluhan tahun silam saat dia memutuskan mengadopsi bayi Kania menjadi anaknya.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️