MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Mandi Bersama


__ADS_3

Kayra tersentak kaget mendengar cerita Erlangga tentang hal yang dialami oleh Caroline. Dia sampai menutup mulut dengan telapak tangannya, bahkan menitikan air mata karena merasa prihatin mengetahui kisah pilu yang dialami oleh Caroline yang diceritakan oleh Erlangga seperti yang diceritakan Caroline kepada suaminya itu.


" Astaghfirullahal adzim, kenapa bisa sampai seperti itu, Pak? Kenapa Pak Wisnu tega melakukan itu kepada Ibu Caroline?" Kayra bisa membayangkan apa yang dirasakan Caroline saat ini. Ditengah gugatan perceraian yang dilayangkan oleh Erlangga, Caroline juga Haris mengalami pele cehan dari orang kepercayaan Caroline sendiri.


Hati Kayra seakan mencelos saat mengetahui alasan pemer kosaan itu karena Caroline nekat ingin meninggalkan karirnya dan berniat kembali kepada Erlangga. Seketika rasa bersalah menggelayuti hatinya.


" Kasihan Ibu Caroline ..." Kayra kini justru terisak, karena sebagai seorang wanita dia bisa membayangkan hancur leburnya hati Caroline saat ini.


" Hei, kenapa kamu menangis, Kayra?" Erlangga mengusap air mata yang berlinang di pipi istrinya itu.


" Sebaiknya Bapak jangan menceraikan Ibu sekarang. Saat ini Ibu Caroline sedang dalam keadaan terpuruk, Pak. Ibu sudah berniat memperbaiki kesalahannya dengan meninggalkan dunia model yang beliau geluti selama ini demi Bapak." Kayra masih berusaha meluluhkan hati Erlangga yang bersikukuh dengan pendiriannya.


" Saya tidak bisa, Kayra! Saya tidak bisa membayangkan ada pria lain yang menyentuh istri saya." Erlangga tetap teguh pada pendiriannya yang akan menceraikan Caroline.


" Lalu bagaimana dengan Bapak sendiri terhadap saya? Apa Bapak pernah membayangkan bagaimana jika Ibu tahu suaminya menikahi wanita lain? Apa Bapak pernah memikirkan bagaimana perasaan Ibu saat tahu suaminya bercinta dengan wanita lain?" Kayra menganggap Erlangga terlalu egois karena tidak bisa memaafkan Caroline atas kemalangan yang menimpa wanita cantik itu.


" Apa yang terjadi dengan kita ini beda, Kayra! Kamu adalah istri saya dan saya sudah menikahi kamu!" Erlangga menyanggah dan tidak setuju tindakannya disamakan dengan apa yang dilakukan oleh Caroline dan Wisnu.


" Menikah tanpa sepengetahuan Ibu Caroline!?" Kayra memalingkan wajahnya tak ingin menatap Erlangga. " Apa itu bukan suatu pengkhianatan cinta Bapak terhadap Ibu!?" Jika dirinya berposisi sebagai Caroline, tentu saja dia akan kecewa karena dikhianati oleh suaminya sendiri.


" Saya tidak ingin membahas soal kita, Kayra!" Merasa disudutkan oleh Kayra, Erlangga langsung mengelak seraya bangkit dari duduk dan berjalan ke meja kerjanya.


" Ibu tidak mengkhianati Bapak meskipun beliau diper kosa oleh Pak Wisnu. Tidak seperti Bapak yang mengkhianati Ibu dengan menikahi saya!" Dengan sesak di dadanya seperti dihimpit beban berat Kayra masih bisa mengkritik sikap suaminya yang dia anggap tidak adil dan kurang bijak menghadapi masalah yang menimpa Caroline.


" Kembalilah ke mejamu!" perintah Erlangga, dia tidak ingin terus berdebat dengan Kayra soal Caroline.


Kayra menyeka air matanya seraya berdiri. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Kayra meninggalkan ruang kerja Erlangga. Dan yang dia tuju saat ini adalah toilet, karena dia ingin melepaskan tangisnya di sana.


***


" Kita pulang sekarang!"


Kayra menoleh ke arah Erlangga yang berjalan ke luar dari ruang kerja pria itu lalu melirik jam dinding yang menunjukkan pukul dua siang, masih terlalu dini untuk meninggalkan kantor menurutnya.


" Kau bersiaplah! Saya ingin bicara terlebih dahulu dengan Pak Wira." Erlangga melangkahkan kaki menuju ruangan Wira di depan ruangannya.


" Pak Wira, saya sudah mendapatkan info tentang pria yang membuntuti saya." Erlangga membuka pintu ruangan Wira membuat Wira yang sedang menelepon di dalam ruangannya terlihat terkejut dengan kemunculan Erlangga.


" Nanti saya sambung lagi, Pak Zainudin. Selamat siang, Pak." Wira segera menutup teleponnya begitu dia melihat Erlangga masuk dan berbicara dengannya.


" Ada apa, Pak?" Wira bangkit dari kursinya dan menghampiri Erlangga yang kini sudah duduk di sofa.


" Orang yang menyuruh memata-matai saya adalah Rivaldi. Dan Rivaldi ternyata bukan orang sembarangan. Dia itu pemilik perusahaan yang menjadi pesaing kita yang ingin berusaha merebut kerjasama kita dengan pihak Korea kemarin." Dengan sangat lengkap Elangga menjelaskan siapa sebenarnya Rivaldi, orang yang sengaja menyusup di perusahaannya dan juga orang yang berusaha mendekati Kayra.


Wira kembali terkejut bahkan lebih terkejut dari kemunculan Erlangga di ruangannya tadi.


" Maksud Bapak dia adalah penyusup yang sengaja masuk ke perusahaan Mahadika, lalu menggali informasi untuk memperkuat usahanya sendiri?" Wira menanyakan hal yang jawabannya sudah pasti dia ketahui.


" Iya, dan selama ini dia telah membodohi kita, dengan menyamar sebagai karyawan di sini. Rasanya pemecatan saya terhadap dia adalah hal yang tepat dan bukan tanpa alasan 'kan, Pak Wira? Pantas saja selama ini dia selalu menantang jika saya memberikan larangan mendekati Kayra, ternyata dia memang bukan orang biasa saja, layaknya seorang yang mempunyai jabatan sebagai supervisor." Terdengar nada geram dari kata-kata yang diucapkan Erlangga.


" Iya, Pak. Saya pun sangat terkejut mendengar berita ini." Wira memijat pelipisnya. Tentu saja tidak sampai terpikirkan olehnya jika Rivaldi adalah seorang penghianat di kantor Mahadika Gautama, dari yang dia lihat selama ini Rivaldi terlihat sebagai seorang pribadi yang humble dan berdedikasi tinggi dalam menjalankan tugasnya.


" Dan satu lagi, Pak Wira. Saya sedang mengajukan gugatan cerai dengan Caroline, awal Minggu depan akan dilaksanakan sidang pertama." Erlangga juga menjelaskan tentang rencana perceraiannya dengan Caroline.


" Anda akan bercerai dengan Ibu Caroline, Pak?" Lagi-lagi Wira dibuat terkesiap dengan ucapan-ucapan Erlangga.


" Ya, sudah tidak ada alasan untuk saya mempertahankan pernikahan saya dengan Caroline, apalagi ternyata selama ini Wisnu mengincar Caroline." Dengusan nafas berat mengakhiri kalimat Erlangga.


" Wisnu mengincar Ibu Caroline? Maksud Anda?" Wira mengerutkan keningnya, dia bertanya karena takut dia salah menafsirkan kata mengincar yang diucapkan oleh Erlangga.


Erlangga menghempas nafas dengan berat, harga dirinya sebagai seorang pria dan suami dari Caroline benar-benar merasa dile cehkan dan diinjak-injak oleh Wisnu.


" Saya rasa mungkin Wisnu lah orang yang pantas bersama Caroline, selama ini dia yang selalu antusias menaikkan pamor Caroline sebagai model top. Dan dia juga sangat mendukung perceraian saya dengan Caroline." Erlangga memutuskan tidak menceritakan yang sebenarnya soal Caroline dan Wisnu karena hal itu adalah aib menurutnya.

__ADS_1


Erlangga lalu bangkit dari sofa dan berjalan ke arah pintu. " Saya dan Kayra akan pulang sekarang, tolong Anda handle kantor ini, Pak Wira." Erlangga sempat meninggalkan pesan sebelum meninggalkan ruangan kerja Wira.


" Baik, Pak." Wira mengantar Erlangga sampai depan pintu.


" Kamu sudah selesai, Kayra?" tanya Erlangga kepada Kayra yang masih duduk di kursinya.


Kayra menganggukkan kepala merespon ucapan Erlangga lalu bangkit dan berjalan mengikuti Erlangga menuju arah lift.


***


Selama perjalanan pulang menuju rumah tinggal Kayra, wanita itu hanya diam menutup rapat bibirnya. Bahkan setiap pertanyaan yang diucapkan oleh Erlangga hanya dibalas dengan gelengan atau anggukkan kepala saja. Anggap saja sikapnya kali ini sebagai bentuk protes atas keputusan Erlangga yang tetap bersikukuh ingin bercerai dengan Caroline di saat Caroline sedang dalam keadaan terpuruk seperti saat ini.


" Apa kamu masih ingin diam seperti ini terus kepada saya?" tanya Erlangga menyindir sikap tutup mulut Kayra.


Kayra membuang pandangan ke luar jendela tak ingin menjawab pertanyaan suaminya itu.


Mandapati sikap Kayra yang terus membisu, Erlangga yang awalnya ingin membawa istrinya itu pulang ke rumah tinggal Kayra mengurungkan niatnya hingga dia melajukan mobil yang dia kendarai ke apartemen pribadinya. Dia yakin Kayra akan protes karena dia memutar arah tak melewati jalan yang biasa dilalui menuju rumah tinggal Kayra.


" Bapak mau bawa saya ke mana?!"


Benar saja dugaan Erlangga jika istrinya itu akan memprotes tindakannya, karena Kayra akhirnya berbicara walaupun dengan nada ketus.


" Malam ini kita akan menginap di apartemen," jawab Erlangga. " Kamu tidak usah khawatir, sekarang ini di apartemen sudah saya siapkan baju-baju untuk kamu, jadi jika sewaktu-waktu kita menginap di sana, kamu tidak perlu repot dengan pakaian ganti." Erlangga menjelaskan.


Kayra mendengus dengan sangat kasar. Dia merasa suaminya itu sudah bertindak curang dengan membawanya ke apartemen. Sudah pasti tidak ada orang yang bisa dia ajak berkeluh kesah di apartemen milik suaminya itu.


" Kamu adalah istri dari seorang CEO, Kayra. Kamu harus siap dibawa ke mana saja yang saya inginkan." Seringai tipis menandakan kemenangan langsung terlihat di sudut bibir pria berwajah tampan itu.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di apartemen milik Erlangga. Dan Kayra segera melangkah masuk saat Erlangga membuka pintu apartemen, namun tangan Erlangga lebih dahulu menarik pinggang ramping wanita cantik beralis lebat itu.


" Sampai kapan kamu akan menekuk wajahmu seperti ini, hemm?" Erlangga justru mendekatkan bibirnya menikmati setiap bagian wajah cantik wanita yang mulai menjadi candu untuknya.


" Tolong lepaskan, Pak." Kayra berontak mencoba melepaskan tangan Erlangga yang membelit pinggangnya.


" Saya hanya tidak setuju dengan keputusan Bapak." Kayra mengatakan alasan dia bersikap seperti itu.


Erlangga tersenyum lalu mengajak Kayra duduk di sofa ruangan tamu.


" Kenapa kamu tidak setuju dengan keputusan saya?" Erlangga menyampirkan helaian rambut panjang Kayra ke belakang telinga.


" Keputusan Bapak sangat tidak adil untuk Ibu Caroline," ucap Kayra mengatakan jika Erlangga terlalu egois dalam mengambil keputusan.


" Bukankah keputusan saya itu akan menguntungkan untukmu?"


Pertanyaan Erlangga membuat Kayra mendelik tajam ke arah suaminya itu.


" Keuntungan? Keuntungan apa yang saya dapatkan, Pak? Bersenang-senang di atas penderitaan orang lain? Saya tidak menginginkan hal itu, Pak! Saya tidak ingin menjadi orang jahat dengan berbahagia atas apa yang saya dapatkan, sementara Ibu Caroline harus bersedih dengan masalah yang beliau alami!" Dengan nada penuh emosi Kayra menentang anggapan suaminya yang menyebut jika dia diuntungkan dengan keputusan Erlangga.


" Saya tidak mungkin bersama dengan kalian berdua, Kayra. Saya harus memilih di antara kamu atau Caroline. Saya sudah memberikan kesempatan Caroline untuk berubah dan meninggalkan karirnya, namun ternyata tidak pernah dia gubris ancaman saya tentang perpisahan kami, jadi saya harus mengambil keputusan ini." Erlangga menjelaskan agar Kayra mau mengerti atas keputusan yang diambil olehnya.


" Lagipula saya berpikir jika Wisnu sebenarnya menginginkan Caroline, mungkin dia adalah orang yang tepat untuk Caroline, yang bisa memenuhi keinginnya sebagai model terkenal," lanjutnya kemudian.


" Saya membutuhkan wanita sepertimu untuk menjadi istri saya, Kayra. Hanya kamu yang bisa membuat hidup saya lebih nyaman," aku Erlangga jujur mengungkapkan apa yang dia rasakan jika dekat bersama Kayra.


" Tapi apa ini tidak terlihat kejam untuk Ibu Caroline, Pak? Saya merasa bersalah karena hal ini." Isak tangis mulai terdengar, Kayra yang memang mempunyai sikap yang sangat sensitif tentu merasa tidak tega melihat keadaan Caroline yang terpuruk.


Erlangga mengusap kepala Kayra dengan penuh perasaan, dia bisa melihat hati wanita yang berstatus sebagai istri sirinya itu begitu lembut dan sangat perasa.


" Tidak udah menyalahkan dirimu, kamu tidak bersalah dalam hal ini." Erlangga lalu medekatkan kepala Kayra agar bersandar di bahunya. Kemudian dia merangkulkan tangannya ke pundak Kayra.


***


" Jadi kamu tidak pulang malam ini, Kayra?" tanya Ibu Sari dalam ponsel Kayra saat Kayra memberitahu Ibunya jika malam ini dia tidak akan pulang ke rumah tempat tinggal pemberian Erlangga itu.

__ADS_1


" Iya, Bu. Pak Erlangga tiba-tiba membawa Kayra ke sini," ucap Kayra menjawab pertanyaan Ibu Sari.


" Ya sudah tidak apa-apa, mungkin suamimu butuh privacy berdua saja dengan kamu, Kayra." Ibu Sari memaklumi jika Erlangga butuh privacy bersama Kayra.


" Kamu sedang menelepon siapa?" Suara Erlangga terdengar di belakang Kayra.


" Hmmm, saya menghubungi Ibu untuk memberitahu kalau saya tidak pulang ke rumah hari ini." Kayra menjelaskan kepada Erlangga alasannya menelepon Ibunya.


" Kayra, sudah dulu teleponnya kalau ada suamimu, nanti kita sambung lagi saja ya, Nak!? Assalamualaikum ..." Mendengar suara Erlangga sayup terdengar di telinganya, Ibu Sari memutuskan untuk mengakhiri obrolannya di telepon dengan Kayra.


" Waalaikumsalam ..." sahut Kayra lalu mengakhiri sambungan telepon dengan Ibunya itu.


" Kamu sudah sholat Ashar, kan?" Erlangga memeluk Kayra dari belakang lalu mencium tengkuk dan ceruk leher Kayra, menggigit lemah leher putih mulus itu dengan bibirnya. Sementara tangannya membuka kancing baju yang dikenakan Kayra satu persatu.


" Kita mandi bersama ..." bisik Erlangga di telinga Kayra membuat darah di tubuh wanita itu seketika berdesir, apalagi ajakan mandi bersama yang dilakukan Erlangga.


" Mandi bersama?" Kayra terkesiap dengan ucapan suaminya itu.


" Iya, saya akan memandikan kamu," bisik Erlangga kembali sambil menggigit lemah cuping telinga Kayra.


" Tidak usah, Pak. Saya bisa mandi sendiri." Kayra menyingkirkan tangan Erlangga yang berhasil membuka Bra yang dikenakan olehnya.


" Tapi saya ingin kamu memandikan saya." Dengan perlahan Erlangga menggiring Kayra ke arah kamar mandi.


" Bukankah Bapak bisa mandi sendiri?" Kayra menggeliat karena tangan Erlangga sudah menguasai kedua puncak di bagian dadanya.


" Tapi saya ingin kamu yang melakukannya."


" Aaakkhh ...!" Kayra memekik karena kali ini tubuhnya sudah berada di antara dua lengan kokoh Erlangga.


Kemudian Erlangga menaruh tubuh Kayra di atas bathtub, lalu dia menyalakan air dan menuang sabun cair ke atas tubuh Kayra membuat Kayra terperanjat. Setelah itu Erlangga melepas pakaiannya satu persatu hingga saat ini pria itu berdiri polos tanpa mengenakan sehelai benang pun di tubuh atletisnya, bahkan senjata andalan pria itu terlihat menegang seolah siap meluncur ke targetnya.


Kayra memalingkan wajahnya merasa malu karena saat ini senjata milik suaminya itu terlihat jelas di hadapannya. Sekejap kemudian Erlangga sudah masuk ke dalam bathtub bergabung dengan Kayra dengan posisi duduk membelakangi Kayra hingga sengaja merapatkan punggungnya di dada Kayra, membuat kulit punggungnya bersentuhan dengan puncak kembar istrinya.


" Mandikan saya sampai bersih ...!" Erlangga menoleh ke belakang menyuruh Kayra agar menuruti perintahnya.


Kayra harus menelan salivanya berkali-kali saat dia mulai melakukan apa yang diminta suaminya dengan membalurkan sabun cair di tubuh liat Erlangga Bersentuhan kulit dengan suaminya itu seakan memacu adrenalinnya apalagi saat tangan Erlangga mengarahkan tangannya untuk menyentuh milik suaminya itu yang sudah menegang.


" Dipijat lebih lama di daerah itu."


Walau agak ragu, Kayra tetap melakukan apa yang diminta Erlangga.


" Aaakkhh ...!" tiba-tiba Erlangga memekik membuat Kayra terkejut.


" Saya minta kamu untuk memijat bukan untuk mencakar!" keluh Erlangga karena merasakan kuku tajam Kayra menggores kulit senjata andalannya.


" M-maaf, Pak. Saya tidak sengaja." Kayra segera meminta maaf karena kesalahannya tadi. Dia memang tidak sengaja mencederai milik Erlangga. Mungkin Kayra terlalu menghayati apa yang dikerjakannya karena sejujurnya dia membayangkan benda yang disentuhnya itu sanggup membuatnya hilang kendali saat tubuh mereka bersatu, membuat pikirannya traveling terlalu jauh.


" Kamu sengaja ingin melumpuhkan senjata saya!?" Erlangga menatap Kayra dengan mata melotot.


" Tidak, Pak. Saya tidak bermaksud seperti itu!" sanggah Kayra cepat. " Lagipula siapa suruh aku pijat itunya!? Kurang kerjaan sekali!" gerutu Kayra dengan bergumam.


" Apa kamu bilang tadi? Kamu mengeluh karena saya suruh kamu memijat milik saya ini? Asal kamu tahu, besok bukan hanya tangan kamu yang saya suruh pijat senjata saya, tapi juga mulut kamu." Erlangga menyeringai mengatakan hal tersebut membuat mata Kayra kini terbelalak lebar.


" Dasar pria me sum!" umpat Kayra dalam hati menanggapi sikap Erlangga yang sebelum menikah dengannya nampak seperti seorang pemimpin yang berwibawa, namun ternyata sekarang suaminya itu tidak lebih dari pria yang selalu berpikiran me sum.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2