
Kayra sama sekali tidak memperdulikan suara ketukan pintu ataupun suara Arina juga Ibu Sari yang memanggil namanya, meminta dia untuk membukakan pintu kamar. Termasuk saat dia pun mendengar suara Erlangga di luar kamarnya. Sampai tak lama kemudian Kayra mendengar suara Erlangga berpindah ke arah balkon dengan mengetuk pintu kaca balkon.
Rasa syok, sedih dan kecewa bercampur menjadi satu. Dia merasa telah dibohongi termasuk oleh sang suami sendiri, yang dia yakin sudah tahu tentang siapa dirinya yang sebenarnya.
" Kayra, ini aku. Buka pintunya dulu, Sayang!"
Suara sang suami yang selama ini terutama di saat kehamilannya begitu dirindukannya, kali ini tidak diperdulikannya. Karena dia sangat kecewa dan marah pada suaminya itu.
Brrraakk
Kayra tersetak saat mendengar benturan keras di pintu balkon. Hingga akhirnya dia menolehkan pandangan ke arah balkon itu.
Brraaakkk brraakkk
Belum surut keterkejutannya, kini suara benturan kembali terdengar. Dia melihat suaminya itu sedang menghantamkan meja ke arah pintu balkon.
Prranng
Tak lama suara pecahan kaca membuat Kayra langsung bangkit dari tempat tidurnya hendak melangkah ke arah pintu balkon.
" Astaghfirullahal adzim, Mas ..." Dengan memegangi perutnya dia turun dari tempat tidur.
" Jangan mendekat, Sayang! Banyak pecahan kaca!" Erlangga yang berhasil membuka pintu setelah melepas slot yang mengunci pintu balkon langsung berlari menghampiri dan memeluk istrinya itu dengan erat.
" Mas ..." Kayra tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Dia hanya mampu menangis di dada dalam dekapan suami tercintanya.
Erlangga mengusap punggung Kayra seraya menciumi pucuk kepala Kayra berkali-kali. Melihat istrinya terpukul seperti ini, tentu saja membuat Erlangga merasa bersalah.
" Sayang, sudah jangan menangis." Erlangga meminta Kayra menghentikan tangisannya.
" Aku bukan anak Ibu, Mas. Aku ini ... aku ini anak haram ..." Kayra terisak kencang merasakan kesedihan yang mendalam.
" Sssttt ... jangan bicara seperti itu, Sayang. Kau bukan anak haram! Kau adalah istriku, Kayra." Erlangga berusaha menenangkan Kayra.
" Mas sudah tahu, kan? Selama ini Mas sudah tahu siapa aku, kan? Kenapa Mas tega menyembunyikan hal ini kepadaku, Mas?" Kayra masih kecewa dengan suaminya yang menyembunyikan tentang fakta mengenai dirinya.
Erlangga mengangkat tubuh Kayra dengan kedua lengannya lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia melepas sepatunya terlebih dahulu lalu bergabung bersama Kayra dengan posisi miring dan tangan menyangga kepalanya.
__ADS_1
Erlangga merasa bersalah melihat mata sembab sang istri karena terlalu banyak menangis.
" Sayang, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membohongimu. Aku juga tidak menduga tentang hal ini sebelumnya. Aku mulai curiga saat kamu merasakan keanehan ketika kamu datang ke rumah ini dan pertama kali bertemu ibu Arina." Dengan mengusap air mata di wajah Kayra, Erlangga memceritakan bagaimana akhirnya dia mengetahui tentang siapa Kayra yang sebenarnya.
" Aku juga tidak bermaksud menyembunyikan semua ini darimu, Sayang." Tangan Erlangga kini membelai kepala Kayra. " Inilah yang aku takutkan. Kamu belum siap menerima kenyataan ini dan ini akan berpengaruh pada kesehatan bayi kita, Sayang." Erlangga pun menjelaskan alasannya tidak segera memberitahu Kayra.
" Aku sedih, Mas. Orang tuaku tidak menginginkan kehadiranku di dunia ini. Papa aku tidak mau mengakuiku. Sedangkan Mama, Mama menyerahkan aku kepada orang lain." Kayra merasa kedua orang tua aslinya membencinya sehingga tidak ada yang mau mengurusnya.
Erlangga menarik nafasnya. Dia tak bisa punya pembelaan atas Om nya.
" Sayang, aku minta maaf atas perbuatan Om Danny hingga membuat kamu terlahir ke dunia ini. Aku pun mengutuk perbuatan Om ku itu. Tapi untuk Ibu Arina Mamamu, Ibu Arina tidak pernah bermaksud membuang kamu, Sayang. Aku pernah cerita padamu, bagaimana Ibu Arina mencari keberadaan anaknya yang hilang. Itu artinya Mama kamu sangat menyayangimu, Kayra." Erlangga tidak ingin Kayra berkecil hati karena hal ini. Dan mengatakan jika Arina, ibu kandung Kayra begitu menyayangi Kayra.
" Kamu harus tahu, Kayra? Siapapun dirimu, tidak akan mengurangi rasa cintaku kepadamu. Bahkan saat ini rasa cintaku semakin menumpuk padamu," Erlangga mengecup mata Kayra yang sembab penuh kelembutan.
Erlangga lalu mengangkat kepala Kayra dan membiarkan kepala Kayra berbantalkan lengannya.
" Kami semua sangat menyanyangimu, Kayra. Aku, Ibumu, Mamamu, Papa Nugraha, Mama Helen dan Papa Krisna."
" Jangan berkecil hati karena masa lalumu, tapi bersyukurlah jika saat ini kamu didekatkan oleh orang-orang yang mencintai dan menyayangimu." Erlangga menciumi seluruh wajah Kayra bertubi-tubi.
" Sekarang kamu istirahatlah, Sayang. Aku akan menemanimu." Erlangga mengeratkan pelukan pada tubuh Kayra, seolah menyalurkan rasa damai dan ketenangan bagi Kayra.
Perlahan Erlangga mengganti lengannya dengan bantal sebagai penyanggah kepala Kayra. Dia pun menyelimuti tubuh sang istri hingga sebagai leher.
Erlangga mengusap kepala Kayra dan mengecup kening istrinya itu dengan sepenuh hati.
" Maafkan aku, Sayang. Kamu harus mengetahuinya secepat ini," ucapnya dengan nada menyesal.
Setelah memastikan istrinya itu sudah benar-benar terlelap Erlangga lalu beranjak ke arah pintu kamar.
" Bagaimana, Nak?"
" Kayra gimana, Lang?"
Ibu Sari dan Arina yang sejak tadi menunggu langsung menodong Erlangga dengan pertanyaan.
Erlangga menatap kedua ibu mertuanya itu secara bergantian.
__ADS_1
" Atik, Diah, tolong bersihkan pecahan kaca di pintu balkon. Jangan sampai berisik! Setelah itu suruh Pak Koko hubungi orang untuk mengganti kaca yang pecah." Erlangga memberi perintah kepada ART nya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan kedua Ibu mertuanya yang penasaran tentang Kayra.
" Kita bicara di ruang kerja saja." Erlangga mengajak Arina dan Ibu Sari untuk berbicara di ruang kerjanya.
" Sebenarnya apa yang terjadi sampai Kayra mengetahui soal itu, Bu?" Kini Erlangga menuntut penjelasan dari Ibu Sari dan Arina.
" Ini semua gara-gara Ibu, Lang."
" Ini salah Ibu, Nak."
Arina dan Ibu Sari sama-sama merasa bersalah dan bertanggungjawab atas kejadian yang menimpa Kayra.
" Bagaimana Kayra bisa sampai tahu?" tanya Erlangga lagi.
" Itu karena Ibu mengajak bicara Ibu Sari di kamar. Ibu membicarakan soal Kayra, tiba-tiba Kayra masuk kamar dan mendengar obrolan kami tentang Kayra yang bukan anak kandung Ibu Sari." Arina menjelaskan bagaimana Kayra akhirnya bisa tahu dan membuat Kayra menangis hingga mengunci diri di kamar.
Erlangga menarik nafas cukup panjang lalu menghempasnya perlahan.
" Inilah yang aku takutkan jika Kayra tahu sekarang-sekarang ini, Bu. Dia sangat syok dan terpukul. Dia bahkan menganggap jika orang tua kandungnya tidak menginginkannya karena merasa dibuang."
" Ibu tidak seperti itu, Lang! Ibu menyanyangi Kayra." Arina seketika menangis mendengar cerita Erlangga soal anggapan Kayra yang merasa jika Kayra tidak diinginkan oleh orang tuanya.
" Aku sudah menjelaskan itu, Bu. Semoga Kayra bisa menerima dan mengerti. Sekarang ini dia sedang istirahat. Nanti aku akan bicara setelah dia merasa tenang," tutur Erlangga kemudian.
" Sementara ini jangan paksakan apa yang belum bisa Kayra terima, Bu. Beri dia waktu, pasti tidak akan mudah baginya menerima semua ini secara mendadak." Erlangga meminta kepada kedua mertuanya terutama Arina untuk tidak memberi penjelasan apapun kepada Kayra. Karena dia ingin Kayra tenang terlebih dahulu.
" Baik, Lang." Arina mengerti apa yang dimaksud oleh Erlangga.
Setelah berbicara dengan Arina dan Ibu Sari, Erlangga pun kembali ke kamarnya untuk menemani Kayra. Melihat Kayra seperti ini, rasanya Erlangga tidak akan tega berada jauh dari istri tercintanya itu.
*
*
*
Bersambung ..
__ADS_1
Happy Reading❤️