
Erlangga tengah serius memperhatikan presentasi dari manager divisi marketing terkait rencana pengembangan pemasaran produk dari perusahaan Mahadika Gautama. Karena kebetulan pihak Mahadika sendiri mendapatkan kesempatan memasarkan produknya di wilayah Asia Tenggara. Tentu saja hal tersebut tidak ingin disia-siakan begitu saja oleh Erlangga untuk mengembangkan sayapnya dan memperkokoh usahanya.
Ddrrtt ddrrtt
Erlangga merasakan ponselnya bergetar di balik blazernya. Dia merogoh saku blazer untuk mengintip siapa yang menghubunginya saat ini.
Erlangga mendapatkan nama Ibu Sari yang muncul di layar ponselnya. Seketika keningnya berkerut dan menimbulkan pertanyaan di benaknya. Ada apa Ibu mertuanya itu menelepon dirinya saat ini? Apakah ada sesuatu yang penting? Karena Ibu mertuanya itu jarang sekali menghubungi nomer ponselnya.
Erlangga lalu bangkit dari duduknya, membuat semua peserta rapat menoleh ke arah Erlangga.
" Ada apa, Pak Erlangga?" tanya Wira yang duduk di sebelah Erlangga.
" Saya permisi sebentar." Erlangga lantas berlalu meninggalkan ruang rapat untuk menerima panggilan telepon Ibu mertuanya tersebut.
" Assalamualaikum, ada apa, Bu?" tanya Erlangga saat mengangkat panggilan telepon masuk dari Ibu Sari.
" Waalaikumsalam, Nak. Apa Nak Erlangga sedang sibuk?" tanya Ibu Sari dari telepon Erlangga.
" Saya sedang memimpin rapat. Ada apa, Bu?" tanya Erlangga penasaran. Sebenarnya dia memikirkan istrinya. Dia takut terjadi sesuatu dengan Kayra, karena tidak biasanya Ibu Sari sampai meneleponnya.
" Maaf jika Ibu mengganggu kesibukan Nak Erlangga. Tapi, Kayra ...."
" Kayra kenapa, Bu? Ada apa dengan Kayra?" Tepat dugaan Erlangga jika Ibu mertuanya itu menghubungi karena ada sesuatu dengan Kayra.
" Kayra ... dia menangis dan mengurung diri di kamar, Nak."
" Kayra menangis? Mengurung diri di kamar? Kenapa Kayra sampai seperti itu, Bu?" Kecemasan semakin menyeruak di hati Erlangga mendengar kabar yang disampaikan oleh Ibu Sari.
" Sebaiknya Nak Erlangga pulang saja, nanti Ibu ceritakan di rumah." Sebenarnya Ibu Sari tidak enak menyuruh Erlangga meninggalkan pekerjaannya. Tapi, apa yang dialami Kayra membuatnya terpaksa meminta menantunya itu untuk kembali ke rumah.
" Baik, Bu. Saya akan segera pulang. Assalamualaikum ...."
" Waalaikumsalam, hati-hati di jalan, Nak." Sebelum Erlangga menutup panggilan teleponnya, Ibu Sari masih sempat menjawab salam yang diucapkan oleh Erlangga.
Erlangga lalu masuk kembali ke dalam ruang rapat dan meminta Wira untuk melanjutkan memimpin rapat. Sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan kantor dengan perasaan kacau.
Sementara itu di rumah kediaman Erlangga. Ibu Sari dan Arina masih berdiri di depan pintu kamar Kayra dan masih mencoba membujuk Kayra untuk membukakan pintunya.
__ADS_1
" Mbak, apa tidak ada kunci cadangan?" tanya Arina kepada Atik yang masih menemaninya di depan kamar Kayra.
" Sebentar saya tanyakan ke Bi Jumi atau Bi Onah dulu ya, Bu." Atik lalu bergegas ke lantai bawah untuk mencari Bi Jumi atau Bi Onah.
Tak lama kemudian Atik kembali naik ke atas. Namun sepertinya tidak membawakan hasil yang diinginkan.
" Ibu Jumi bilang kunci cadangan yang pegang Tuan Erlangga, dan sepertinya tidak bisa dibuka jika kuncinya menggantung dari dalam." Atik menjelaskan apa yang dia dengar dari ART lama rumah itu.
" Kita tunggu Nak Erlangga saja kalau begitu," ucap Arina.
Di dalam kamarnya sendiri, Kayra sedang terisak seraya merenungi nasibnya. Dia tidak menduga jika ada rahasia besar yang tidak dia ketahui selama ini.
Kenyataan yang dia dengar jika dia bukanlah anak kandung dari Ibu Sari dan Pak Ariyanto. Apalagi saat dia mengetahui jika Arina dan Danny lah orang tua yang sesungguhnya membuat dia sangat syok.
Yang dia dengar dari suaminya jika Danny tidak ingin bertanggung jawab dengan kehamilan Arina dan Arina sendiri menitipkannya ketika dia masih bayi. Di mana saat itu, bagi seorang bayi baru lahir kehangatan dan kasih sayang seorang ibu kandung juga ASI sang Ibu sangatlah dibutuhkan. Karena itulah dia merasa jika kehadirannya di dunia ini sangat tidak diinginkan oleh kedua orang tuanya. Itulah yang membuat Kayra merasa sedih dan terpukul.
Kayra merasa semua orang sengaja merahasiakan hal ini kepadanya. Dia merasa sangat bo doh, tidak mengetahui rahasia itu, padahal semua orang termasuk suaminya pasti tahu soal ini. Dan hati Kayra terasa sulit untuk menerima kenyataan ini.
***
Lebih dari setengah jam, mobil yang dikendarai Erlangga akhirnya sampai di rumahnya dan masuk ke halaman parkir dengan laju yang kencang. Erlangga bergegas keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah.
" Bagaimana Kayra, Bu?" tanya Erlangga kepada Ibu Sari dan Arina yang masih setia menunggu di depan kamar Kayra dan Erlangga.
" Kayra, Sayang! Buka pintunya, Sayang!" Erlangga mengetuk pintu kamarnya dan memanggil nama istrinya.
Beberapa kali Erlangga mengetuk dan memanggil namanya, namun Kayra tidak juga membukakan pintu kamar.
" Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Erlangga penuh selidik meminta penjelasan dari kedua orang ibu mertuanya itu.
Ibu Sari dan Arina saling pandang. Mereka sama-sama merasa takut jika Erlangga akan marah, karena merekalah yang membuat Kayra seperti ini.
" Maafkan Ibu, Lang. Hmmm, sepertinya Kayra tidak sengaja mendengar percakapan kami tentang kenyataan yang sebenarnya." Suara Arina terdengar pelan penuh penyesalan.
" Maksud Ibu? Kayra tahu jika dia ...." Erlangga tidak melanjutkan kalimatnya, tapi dia berlari masuk ke dalam ruangan kerja yang berada di sisi sebelah kiri kamarnya.
" Elang, kamu mau apa?" Arina dan Ibu Sari yang mengikuti Erlangga terkejut saat Erlangga menaiki tembok pagar balkon ruang kerjanya
__ADS_1
" Aku akan melompat ke sana." Erlangga menunjuk arah balkon kamarnya sendiri. Dia bertekad ingin melompat ke balkon kamarnya yang berjarak satu meter dari balkon ruang kerjanya.
" Hati-hati, Nak!" Ibu Sari menasehati Erlangga, karena dia takut tindakan Erlangga dapat membahayakan keselamatan menantunya itu.
Buugghh
" Aakkhh ...!
" Astaghfirullahal adzim!!" pekik Arina dan Ibu Sari saat melihat Erlangga terpeleset, mendarat di tepi tembok balkon kamar tidak sempurna dan membuat Erlangga terjatuh. Untung saja Erlangga terjatuh di teras balkon kamarnya, bukan jatuh ke lantai bawah.
" Kamu tidak apa-apa, Nak?"
" Elang, kamu baik-baik saja?"
Baik Ibu Sari dan Arina sama-sama mengkhawatirkan Erlangga.
" Tidak apa-apa, Bu." Erlangga bangkit seraya memegangi pinggangnya.
Sesampainya Erlangga di balkon kamarnya, dia segera menuju pintu balkon.
" Kayra, ini aku. Buka pintunya dulu, Sayang!" Erlangga kembali mengetuk pintu dan mengintip ke dalam kamar. Dari balik gordyn dia bisa melihat istrinya itu sedang berbaring di atas tempat tidur dengan bahu terguncang yang menandakan jika istrinya itu sedang menangis.
" Sayang, buka pintunya!" Erlangga terus mengetuk pintu kamar balkon.
Tidak mendapatkan respon dari sang istri, Erlangga lalu mengambil meja di teras balkon. Dia berniat memecah pintu kamar balkon agar dia dapat masuk ke dalam kamarnya.
Brrraakk braaakkk brraakkk
Prranngg
Setelah ketiga kalinya hantaman meja ke pintu kaca balkon, akhirnya kaca balkon itu pecah, karena Erlangga menghantamnya dengan sekuat tenaga.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️