
" Assalamualaikum, Tante Gita." sapa Kayra saat muncul dari lift khusus di lantai ruangan kerja Erlangga berada.
" Waalaikumsalam ... halo, Baby Devan." Gita langsung bangkit dan menghampiri Kayra yang sedang menggendong Baby Devan.
" Papanya Devan ada, Mbak Gita?" tanya Kayra kemudian.
" Pak Erlangga masih rapat di ruang atas, Bu." sahut Gita.
" Oh, belum selesai meeting nya?" tanya Kayra kembali.
" Iya, Bu. Ibu habis dari mana?" tanya Gita. Sejak ketahuan dan ditegur oleh orang tua Erlangga, jika Kayra dan Baby Devan selalu dibawa Erlangga pergi ke kantornya. Erlangga memang sudah tidak pernah memaksa Kayra untuk ikut ke kantor lagi. Hanya sekali waktu saja Kayra yang datang membawa bayinya itu bertemu Papanya di kantor. Seperti siang ini. Setelah membawa Baby Devan imunisasi, Kayra membawa putranya itu ke kantor sang suami.
" Habis bawa Devan imunisasi, Mbak." sahut Kayra.
" Ke rumah sakit?" tanya Gita.
" Iya, Mbak."
" Saya pikir, dokternya yang dibawa ke rumah, Bu. Biasanya istri-istri bos 'kan begitu,," celetuk Gita terkekeh.
" Mbak Gita tahu, kan? Sejak menikah dengan suami saya kehidupan saya tidak sebebas saat menjadi rakyat biasa. Makanya saya memanfaatkan ini untuk bisa pergi keluar. Ya, walaupun tetap saja ujung-ujungnya dikasih ultimatum jangan mampir ke mana-mana, dan disuruh langsung ke kantor ini." Kayra memutar bola matanya. Namun dibarengi dengan tawa kecil menceritakan suka dukanya menjadi istri seorang bos besar.
" Ya sudah, nikmati saja, Bu. Banyak wanita yang memimpikan menjadi istri bos. Apalagi seperti Pak Erlangga. Sudah tampan, baik lagi." Gita memuji bosnya itu.
" Iya, saya juga bersyukur mendapatkan suami seperti Papanya Devan, Mbak Gita. Bukan karena status dia sebagai seorang bos. Tapi, karena suami saya itu benar-benar sosok suami yang penyayang dan penuh perhatian." Kayra tak menampik betapa beruntungnya dia mendapatkan suami seperti Erlangga. Benar-benar memberikan rasa nyaman terhadapnya.
Ting
Suara pintu lift terbuka dan sosok pria tampan nan gagah terlihat keluar dari lift.
" Sayang, kamu sudah sampai?" tanya Erlangga saat melihat istrinya sedang berbincang dengan Gita.
" Mas ..." Kayra menoleh ke arah sang suami. " Adek, itu Papa." Kayra menunjuk ke arah Erlangga agar Baby Devan mengikuti arah pandangnya.
" Anak Papa sudah selesai imunisasinya?" Erlangga mengambil Baby Devan dari tangan Kayra. " Tadi adek nangis tidak waktu disuntik?" tanya Erlangga kepada putranya seraya berjalan masuk ke dalam ruangannya disusul oleh Kayra di belakangnya.
__ADS_1
" Menangis sebentar, Papa." Kayra yang mewakili Baby Devan menjawab pertanyaan Erlangga.
" Hebat anak Papa, Nangisnya cuma sebentar, ya?" Erlangga menciumi pipi Baby Devan.
" Mamanya perlu Papa cium juga tidak?" Erlangga menoleh ke arah Kayra yang mengikuti langkahnya.
" Memangnya Papanya Adek bisa tahan kalau sehari tidak cium Mama ya, Dek?" Kayra menyindir sang suami. Apa yang dikatakan Kayra memang benar. Mana tahan Erlangga tidak menyentuh istrinya, walaupun hanya berupa peluk dan cium.
Erlangga terkekeh lalu merangkul pundak Kayra dan memberikan kecupan di pipi wanita cantik itu.
" Kamu belum makan, kan? Kita makan saja dulu." ucap Erlangga berjalan ke arah sofa dan mendudukkan tubuhnya dengan Baby Devan berada di atas pangkuannya.
" Mas mau makan apa? Aku suruh Bu Nina pesankan di kantin, ya?" Kayra ingin keluar memberitahu Bu Nina untuk memesankan makanan untuknya dan suaminya.
" Suruh Gita saja yang pesankan makanan ke Bu Nina. Aku ingin makan sayuran," sahut Erlangga.
" Sayur sop?" tanya Kayra kembali.
" Yang tumis saja, Sayang. Jangan yang berkuah. Sekalian Adek sudah makan belum?"
" Tadi sebelum imunisasi sudah makan, kok. Paling nanti dikasih biskuit atau buah saja." Kayra kemudian melangkah kembali ke luar ruang kerja Erlangga untuk menyuruh Gita memesankan makanan.
" Mbak Gita, tolong suruh Bu Nina pesankan makanan untuk kami." Kayra langsung meminta bantuan Gita untuk menghubungi Ibu Nani di lantai delapan. Satu lantai di bawah lantai CEO.
" Pesankan tumis sayur saja, Mbak. Atau capcay goreng saja sama rolade ya, Mbak. Minta krupuk udang sekalian. " Kayra menyebutkan pesanan makanannya.
" Untuk ibu dan Pak Erlangga, kan?" tanya Gita.
" Iya, Mbak. Makasih ya, Mbak Gita." Kayra kembali masuk ke dalam ruangan kerja suaminya.
" Baik, Bu." sahut Gita. " Halo, Bu Nina. Bu, tolong pesankan makan siang untuk Pak bos dan Bu bos. Minta capcay goreng, rolade sama krupuk udang." Gita lalu melakukan pembiaran telepon dengan Bu Nina.
***
Gita memperhatikan wanita tinggi semampai yang keluar dari lift. Wanita cantik itu sudah pasti dia kenal. Dia adalah Caroline, mantan istri dari Erlangga.
" Apa Erlangga ada?" tanya Caroline pada Gita yang masih tak berkedip menatapnya.
" Oh, hmmm ... a-ada, Bu." Gita langsung bangkit dan bergegas ke arah ruangan Erlangga.
__ADS_1
Tok tok tok
" Maaf, Pak. Bu. Ada tamu di luar." Gita nampak gugup menyampaikan informasi tentang kedatangan seseorang yang mungkin tak terduga oleh Kayra maupun Erlangga.
" Tamu siapa, Gita? Hari ini saya tidak ada jadwal bertemu dengan klien, kan?" tanya Erlangga teringat jika hari ini dia tidak ada jadwal bertemu dengan klien.
" Hai, Erlangga ..." Belum sempat Gita menjawab pertanyaan Erlangga, Caroline sudah muncul di belakang Gita.
" Caroline??" Erlangga yang menghabiskan waktu di kantor dengan bermain-main dengan putranya di sofa seketika bangkit karena merasa terkejut.
" Bu Caroline?" Kayra pun sama terkejutnya seperti sang suami. Dia lalu menggendong Baby Devan.
Caroline pun melirik ke arah Kayra kemudian ke arah Baby Devan. Tak dapat dipungkiri jika dirinya masih belum bisa memaafkan Kayra yang telah merebut Erlangga darinya.
" Ada apa kau kemari, Caroline?" Tanpa sempat mempersilakan Caroline duduk, Erlangga langsung bertanya kepada Caroline.
" Kau tenang saja, Erlangga. Aku datang kemari bukan ingin membuat keributan apalagi ingin merebutmu dari istri keduamu itu. Karena aku bukan tipe wanita yang menginginkan pria beristri menjadi suamiku." Sindiran ketus langsung dilontarkan Caroline terhadap Kaura.
Kayra langsung menurunkan pandangan menanggapi sindiran dari mantan istri pertama Erlangga itu.
" Aku hanya ingin memberikan undangan pernikahan ini. Semoga kau bisa datang." Caroline menyerahkan sebuah undangan berwarna rose gold kepada Erlangga.
Erlangga menerima undangan yang disodorkan Caroline kepadanya. Dia membaca nama. Caroline dan Wisnu yang tercetak dalam undangan itu.
" Kalian akan menikah?" tanyanya kemudian.
" Tentu saja, dia adalah sosok pria yang selalu menemaniku dan mendukungku sampai aku mengapai karirku.. Seperti itulah pria yang aku idamkan untuk menjadi suami. Mendukungku tidak lewat janji manis. Tapi, dari sikapnya." Caroline kembali menyindir. Dan kini Erlangga lah yang disindir oleh Caroline.
*
*
*
Bersambung ....
Sabar ya nungguin bonchap di sini, coz masih garap yang on going kejar²an. Dukung Novel lainnya juga ya, makasih
__ADS_1
Happy Reading❤️