
Krisna merasa kaget saat Erlangga mengatakan akan pergi bulan madu bersama Kayra ke Italia padahal urusan perceraian Erlangga dengan istri pertamanya belum final. Dan kini Krisna mengarahkan pandangan kepada Kayra seakan ingin meminta jawaban dari menantu keduanya itu.
" Ini bukan kemauan Kayra, Pa. Semua ini aku yang merencanakan." Merasa jika Papanya sedang menatap dengan penuh selidik kepada Kayra, Erlangga segera memberi klarifikasi agar Papanya itu tidak menyalahkan Kayra dalam hal ini.
Erlangga lalu bangkit dan duduk di bahu kursi yang diduduki Kayra lalu merangkulkan tangannya di pundak Kayra. " Kayra justru menentang rencana aku ini, Pa. Karena dia juga merasa tidak enak harus bersenang-senang di tengah konflik rumah tangga aku dan Caroline yang belum selesai." Erlangga kembali memberi penegasan agar Krisna tidak berpikir negatif terhadap istrinya itu.
" Kamu tahu jika waktu yang kamu pilih untuk berbulan madu tidaklah tepat, kenapa kamu tetap memaksakan kehendakmu, Erlangga?" Krisna menyesali keputusan Erlangga yang selalu mementingkan sikap egonya.
" Karena aku ingin Kayra secepatnya hamil, Pa. Aku ingin segera mempunyai anak, Papa juga pasti ingin segera mempunyai cucu, kan? Karena itu aku mengajak Kayra pergi berbulan madu agar kami punya banyak waktu untuk bersama dan tidak dibebani dengan masalah pekerjaan." Erlangga beralasan jika tidak ada yang salah dengan keputusannya, apalagi saat ini Kayra sudah berstatus istrinya walaupun belum dia legalkan secara hukum negara.
Krisna menghela nafas, sejak dulu keinginan anaknya itu tidak pernah bisa ditentang jika sudah menginginkan sesuatu.
" Papa tidak bisa banyak bicara soal rencana kepergian kalian ini, karena kalian memberitahu Papa secara mendadak. Tapi Papa harap di lain waktu, jika kamu ingin mengambil keputusan, kamu jangan hanya memikirkan diri sendiri saja, Lang. Kamu juga harus memikirkan Kayra, apakah dia nyaman dengan keputusan yang kamu ambil atau tidak? Apalagi kamu dan Kayra tidak akan berada di kantor dalam jangka waktu yang bersamaan. Itu pasti akan menimbulkan pertanyaan di kalangan karyawan kantormu." Krisna memberikan pandangan agar anaknya itu tidak bertindak sesuai keinginannya saja.
" Kayra sudah diatur jadwal cuti, Pa. Lagipula aku rasa tidak akan ada yang curiga jika aku dan Kayra pergi bersama." Dengan penuh keyakinan Erlangga mengatakan jika tidak akan ada yang curiga dengan kepergiannya kali ini bersama Kayra.
Mendengar jawaban dari putranya, Krisna hanya bisa menggelengkan kepala saja. Dia justru merasa kasihan melihat Kayra yang terlihat serba salah dan terpaksa mengikuti apa yang dinginkan oleh Erlangga.
" Kayra, saya minta maaf jika tindakan Erlangga selalu membuat kamu repot. Saya harap kamu selalu sabar dalam menghadapi suamimu ini." Sambil menyindir putranya, Krisna meminta maaf serta meminta pengertian kepada menantunya itu.
" I-iya, Pak." sahut Kayra tak tahu harus menjawab. dengan kalimat apa selain ucapan itu.
" Papa tidak usah khawatir, Kayra itu adalah wanita paling sabar dan pengertian di dunia ini, karena itu aku memperistrinya, Pa." Erlangga lalu memberikan kecupan di pipi Kayra berulang-ulang tanpa memperdulikan keberadaan Papanya di antara mereka.
Kayra sontak terkesiap dengan ulah Erlangga yang menciuminya bertubi-tubi. Dengan menampakkan wajah malu Kayra menoleh ke arah Krisna, di mana pria paruh baya itu hanya sanggup menggelengkan kepalanya saja melihat putranya yang berulah seperti remaja yang sedang kasmaran mabuk kepayang.
***
Sore ini Kayra dan Erlangga akan terbang ke Torino, estimasi perjalanan yang akan mereka tempuh sekitar hampir dua puluh dua jam untuk tiba di kota Torino. Sudah dapat dibayangkan oleh Kayra bagaimana melelahkannya melakukan perjalanan hampir sehari semalam.
" Bu, Kayra pamit dulu, ya!? Doakan Kayra agar selamat sampai tujuan dan kembali ke Jakarta dengan selamat." Walau tidak memiliki fobia pada ketinggian namun ketakutan menaiki pesawat masih dirasakan Kayra hingga tangannya terasa dingin dan jantungnya berdegup kencang.
" Iya, Nak. Ibu doakan semoga perjalanan kalian lancar dan selamat sampai tujuan. Kamu akan berada di negeri orang, jaga kesehatan kamu selama di sana." Ibu Sari mengusap kepala saat Kayra menundukkan kepala mencium punggung tangannya.
" Iya, Bu. Aamiin ..." Kayra menyahuti.
" Kami pergi dulu ya, Bu!?" Giliran Erlangga yang berpamitan kepada Ibu mertuanya itu.
" Iya, Nak Erlangga. Ibu titip Kayra, dia belum pernah berpergian jauh sampai ke luar negeri. Jangan ditinggal sendirian di sana, Ibu takut nanti Kayra hilang di sana." Ibu Sari cemas jika sampai Kayra dan Erlangga terpisah di Italia sana.
" Saya akan menjaga Kayra, Bu. Ibu tidak perlu khawatir." Erlangga berusaha menenangkan Ibu Sari agar tidak usah mencemaskan Kayra selama bersama dirinya.
" Kami berangkat sekarang ya, Bu!?" Erlangga melingkarkan lengannya di pundak Kayra mengajak istrinya itu untuk segera pergi karena jadwal pesawat yang akan membawa mereka dari Jakarta ke Turin sekitar pukul enam sore.
" Kayra pergi dulu, Bu. Assalamualaikum ..." Kayra mengucapkan salam berpamitan kepada Ibu Sari.
" Waalaikumsalam ... hati-hati selama kalian di sana." Ibu Sari berpesan.
" Iya, Bu." Secara bersamaan Kayra dan Erlangga menjawab ucapan Ibu Sari lalu berjalan menuju mobil yang akan membawa mereka ke bandara Soekarno-Hatta.
__ADS_1
" Mbak, saya titip Ibu, ya!? Tolong jaga Ibu saya baik-baik." Kayra sempat berpesan kepada ART di rumah tinggalnya agar menjaga Ibu Sari dengan baik karena dia akan meninggalkan Ibunya itu selama satu Minggu.
" Baik, Nyonya." Para ART di rumahnya menjawab dengan kompak sebelum Kayra memasuki mobil milik Erlangga yang dikendarai oleh Koko menuju bandara.
***
Tak putus-putus Kayra berdoa dalam hati saat pesawat akan lepas landas. Dia memejamkan mata hingga menahan nafasnya beberapa saat. Untung saja masker yang dia kenakan menutupi wajah pucatnya karena dilanda ketakutan yang teramat sangat.
Menyadari Kayra yang sedang merasakan ketegangan, Erlangga segera menggenggam tangan istrinya yang terasa dingin lalu menyuruh Kayra menyandarkan kepalanya di bahu Erlangga.
Delapan jam perjalanan udara dari Cengkareng, kini pesawat yang membawa Kayra dan Erlangga menuju Italia transit di Abu Dhabi. Selama hampir tiga jam waktu yang digunakan untuk transit, pesawat itu akhirnya terbang menuju tempat transit ke dua di bandara internasional Leonardo da Vinci di kota Roma, Italia.
Enam jam lebih perjalanan dari Abu Dhabi menuju kota Roma akhirnya Kayra dan Erlangga tiba juga di ibu kota Italia itu sekitar pukul 05.50 pagi waktu Roma.
" Benvenuta nella città eterna, Signora Erlangga Mahadika Gautama." Erlangga tersenyum memperhatikan Kayra yang mengedar pandangan di seputar bandara saat turun dari pesawat karena jadwal transit sebelum terbang kembali ke Turin memakan waktu tiga jam lebih. Mereka akan melanjutkan perjalanan ke kota Turin dengan pesawat yang berbeda walaupun masih dengan maskapai penerbangan yang sama.
Kayra menoleh ke arah Erlangga yang merangkul pinggangnya. " Bapak bicara apa tadi?" Kayra tidak paham kalimat yang diucapkan oleh Erlangga.
" Selamat datang di kota abadi, Nyonya Erlangga." Dengan memberikan kecupan di kening Kayra, Erlangga menyebutkan arti kalimat yang diucapkannya.
" Morning kiss ..." Erlangga lalu menciumi seluruh wajah Kayra.
" Pak, malu dilihat orang ..." Melihat Erlangga yang dengan cueknya mencium wajahnya di muka umum, Kayra langsung protes.
" Di sini bukan di Jakarta, jadi kamu santai saja. Di sini tidak akan ada orang yang memperhatikan kita," sahut Erlangga terkekeh.
" Tidak, perjalanan kita belum berakhir. Kita akan terbang ke Turin dengan pesawat yang berbeda pukul sembilan nanti. Makanya kita membawa barang-barang kita karena akan ganti pesawat.
" Terbang lagi? Apa lama perjalanan sampai kota itu, Pak?" Kayra tampak frustasi karena merasakan perjalanan yang dia lalui tidak juga tiba di tempat tujuan.
" Tidak selama dari Jakarta ke Abu Dhabi atau dari Abu Dhabi ke Roma. Estimasi penerbangan hanya sekitar satu jam lima belas menit saja." Erlangga menerangkan berapa durasi yang akan mereka lalui untuk bisa sampai di kota Turin.
" Saya ingin sholat dulu, Pak. Apa di sini waktu sholatnya sama?" Kayra bertanya karena dia tahu waktu sholat di tempat yang berbeda jauh dari Jakarta dengan perbedaan waktu sekitar tujuh jam.
Erlangga lalu mengecek dengan ponselnya dan mendapatkan informasi waktu Shubuh di kota Roma hari ini adalah pukul 05.24 pagi sementara sekarang sudah mendekati jam enam pagi.
" Iya, sekarang sudah masuk waktu Shubuh. Ya sudah, kita sholat saja dulu setelah itu kita cari makan untuk sarapan." Erlangga mengajak Kayra untuk mencari tempat sholat yang untungnya disediakan sebuah ruangan khusus untuk sholat di bandara Fiumicino itu.
Setelah tiga setengah jam waktu transit kedua, akhirnya mereka kembali terbang menuju Turin. Membutuhkan waktu sekitar satu jam lebih akhirnya mereka sampai di tempat tujuan mereka pukul 10.25 waktu setempat.
Erlangga segera memesan taksi yang akan membawa mereka ke hotel. Dia sudah mengkonfirmasi kepada pihak hotel untuk meminta early check-in agar dia bisa masuk ke dalam kamar hotel sebelum waktu check-in yang ditetapkan oleh hotel tempat dia menginap.
" Kita menginap di sini berapa hari, Pak?" tanya Kayra setelah mereka sampai di kamar yang dipesan oleh Erlangga.
" Kita hanya satu malam di sini, karena besok kita akan ke Venezia, kita akan habiskan bulan madu kita di sana. Dan nanti malam kita akan datang ke pameran mobil klasik." Kedua tangan Erlangga menyentuh pinggul Kayra dari belakang dan mulai memainkan bibirnya di ceruk leher dan tengkuk Kayra.
" Pak, kita baru sampai dan kepala saya pusing sekali." Kayra mencoba melepaskan diri dari suaminya karena Erlangga seolah tidak mau perduli jika saat ini dia merasa lelah, pusing dan juga mengantuk.
" Kamu istirahat saja kalau begitu." Kedua lengan Erlangga mengangkat tubuh Kayra lalu menaruh di atas tempat tidur. " Kamu tidurlah sebentar sebelum kita makan siang jika kamu merasa lelah." Erlangga lalu menutupi tubuh Kayra dengan selimut tebal.
__ADS_1
" Bapak mau ke mana?" tanya Kayra karena suaminya itu tidak ikut bergabung dengannya di tempat tidur.
" Kenapa? Kamu tidak ingin jauh dari saya?" Erlangga menyunggingkan senyuman mendengar Kayra sepertinya takut sekali dia tinggalkan. Dia lalu melangkah ke arah pintu ingin mengunci pintu.
" Bapak tidak akan meninggalkan saya sendirian di sini, kan?" Kayra semakin khawatir jika Erlangga benar-benar meninggalkan dirinya.
" Saya memang ingin meninggalkan kamu sendirian di sini." Terbersit ide usil Erlangga untuk mengerjai Kayra karena dia merasakan kekhawatiran Kayra. Dia kemudian membuka dan keluar dari kamar.
" Pak, Bapak jangan bercanda!" Kayra bergegas bangkit mengikuti Erlangga. Tentu saja diancam akan ditinggalkan sendirian di hotel membuatnya ketakutan.
Saat mengetahui Kayra menyusulnya, Erlangga kembali masuk ke dalam kamar dan memeluk tubuh Kayra.
" Kamu benar-benar takut kehilangan saya, Kayra?" Dengan seringai tipis di sudut bibirnya Erlangga masih saja menggoda Kayra yang terlihat tegang karena ketakutan.
" Bapak ini bercandanya tidak lucu!" Kayra spontan memukul lengan Erlangga karena pria itu sengaja mempermainkannya. Wanita itu justru kini merajuk mencoba melerai pelukan suaminya.
Erlangga tergelak melihat Kayra yang merajuk. Dia kembali mengangkat tubuh Kayra lalu membaringkan tubuh itu kembali ke atas tempat tidur, dia pun akhirnya ikut bergabung berbaring di samping sang istri.
" Kita tidur saja, saya juga merasa letih sekali terutama pundak saya kerena terlalu lama menyangga kepalamu." Erlangga terkekeh lalu melingkarkan tangannya dan memeluk istrinya untuk mengistirahatkan tubuhnya beberapa saat.
Sementara itu di waktu yang sama namun di hotel yang berbeda Caroline membuka pintu saat terdengar bel kamar hotelnya berbunyi. Dia mendapati Wisnu yang mengajaknya ke acara pameran mobil klasik yang digelar di kota Turin. Tujuan sebenarnya Wisnu mengajaknya ke sana adalah untuk bertemu dengan pemilik dari pabrikan asal Jerman yang akan meluncurkan mobil sport terbaru. Menurut kabar yang didapat Wisnu, pemilik dari perusahaan otomotif itu akan hadir pada acara pameran mobil klasik di Italia.
" Kenapa kamu belum berganti pakaian? Kita akan bertemu dengan Mr. Schiffer siang ini." Mendapati Caroline yang masih mengenakan pakaian santai, Wisnu segera menyuruh Caroline mengganti pakaiannya.
" Kenapa tidak kamu sendiri saja yang datang? Aku 'kan sudah katakan jika aku sudah tidak berminat dengan iklan atau apapun yang berhubungan dengan model!" tegas Caroline dengan melipat tangan di dadanya.
" Kamu jangan seperti anak kecil, Caroline! Kita sudah jauh-jauh pergi kemari dan kamu tidak ingin bertemu dengan mereka!?" Wisnu mendorong pintu kamar Caroline, dia lalu menarik lengan Caroline hingga tubuh wanita itu ikut tertarik ke dalam.
" Kamu mau apa, Wisnu?!" Caroline mencoba melepaskan tangan Wisnu yang menempel di lengannya.
" Cepat ganti pakaianmu dan berhiaslah! Kamu harus tampil secantik mungkin agar mereka mau memakaimu untuk iklan itu!" Wisnu lalu berjalan ke arah lemari untuk memilih pakaian yang akan dikenakan oleh Caroline bertemu dengan pemilik perusahaan mobil sport itu.
" Kenapa kamu memaksaku seperti ini, Wisnu?!" Caroline merasa kesal karena Wisnu kini semakin semena-mena terhadapnya
" Karena aku ingin mewujudkan keinginanmu, Caroline! Aku ingin kau menjadi salah satu top model dunia!" ujar Wisnu menegaskan apa yang dilakukan karena dia ingin membuat karir Caroline sebagai model semakin bersinar.
" Kalau kamu menjadi top model dunia, semua ada di dalam genggamanmu, Caroline." Wisnu mengusap wajah cantik Caroline namun Caroline segera memalingkan wajahnya.
" Cepat ganti pakaianmu, setengah jam lagi aku tunggu kamu di lobby," bisik Wisnu kemudian berjalan meninggalkan kamar Caroline, membuat wanita cantik itu mendengus kesal karena tindakan Wisnu yang terlalu mengatur dirinya sekarang ini.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1